
Mata Velyn terbuka tatkala dirinya menangkap berkas-berkas cahaya yang menyorot pada indera penglihatannya. Ia masih sedikit terasa pening kala dirinya tersadar akan keadaannya yang ia yakini bukan dikamarnya maupun kamar Oca.
Ingatannya kembali, menelisik setiap memori mencekam yang hampir menodainya. Velyn buru-buru bangun dan ia menemukan seorang pria yang tertidur disamping ranjangnya. Pria yang duduk serta kepalanya yang berada disebelah tangan kanan Velyn.
Ini memang bukan rumah sakit, tapi kamar ini begitu luas dan mewah. Sedangkan pria yang tengah tertidur dengan wajahnya yang bersimpuh tertutupi seketika membuat Velyn bingung dibuatnya. Semalam ia yakin hampir saja ditabrak, namun dirinya buru-buru pingsan sebelum mengetahui apa yang terjadi setelahnya.
Namun dilihat dari tubuhnya yang kini masih memakai baju lengkap yang ia kenakan seperti kemarin membuatnya yakin bahwa pria yang kini meringkuk disampingnya itu adalah pria baik-baik.
Velyn tiba-tiba tergagap kala melihat pria itu menggeliat, menatap Velyn dengan senyuman. Dan ia yakini pria itu tak asing untuknya. Pria yang kini memejamkan matanya dan mengerjabkannya beberapa kali, adalah sosok yang menghiburnya tempo hari.
"Udah bangun?" tanya Adrian membuat Velyn tertegun seketika kala melihat pria tampan ini tersenyum padanya. Adrian memang tampan, tapi menurutnya tak bisa mengalahkan ketampanan Valdo suaminya.
"I-ini dimana? aku kenapa? kenapa bisa kamu?-" Adrian menggeleng seraya menyentuh bibir Velyn menggunakan satu telunjuknya. Pria itu merenggangkan tubuhnya seraya menguap dan mengembalikan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali.
"Tenang aja, preman-preman itu udah aku laporin ke polisi. Tadi malam aku yang hampir nabrak kamu, tapi untungnya mobil aku nggak ngebut. Lagian ngapain sih kamu jalan sendirian malem-malem? bahaya tau" peringatan Adrian membuat Velyn menunduk mengingat malam itu. Malam yang hampir membuat mahkotanya hilang, namun ia sangat amat bersyukur karena adanya Adrian.
Mata Velyn memanas, berkaca seraya tak berani menatap Adrian yang kini masih tampak menguap. Tanpa sadar air mata Velyn terjatuh, ia terisak mengingat kejadian pilu yang hampir menimpanya.
"Makasih, kamu udah nyelametin aku tadi malam. Aku bener-bener nggak tau gimana nasib aku kalau nggak ada kamu Yan" Adrian menatap Velyn dengan tatapan iba. Melihat Velyn menangis seperti ini membuatnya tak tega.
__ADS_1
"Udah jangan nangis gitu, yang penting sekarang kan kamu baik-baik aja" Velyn mencoba mengusap pelan air matanya. Ia mengangguk seraya tersenyum pada pria yang kini tersenyum hangat padanya.
Padahal semalam Velyn bingung hendak tidur dimana. Suami yang membencinya, sahabat yang sudah amat kecewa padanya. Kalau Velyn kembali ke rumah orangtuanya, mungkin saja akan muncul banyak pertanyaan nanti. Sekaligus masalah besar dalam rumah tangganya.
"Lyn? sarapan yuk? dari kemarin kamu pasti belum makan kan? nanti setelah sarapan aku bakal anterin kamu pulang" Velyn membeku. Pulang? pulang kemana? rasanya ia ingin memilih jadi gelandangan saja saat orang-orang tidak bisa menerimanya. Rasanya Velyn ingin segera mati saja daripada harus tersiksa dalam kehidupan yang amat mengecewakannya.
"Kamu kenapa Lyn? kamu nggak mau pulang?" Velyn hanya terdiam, ia meremas selimutnya erat-erat. Bukannya tidak mau, tapi ia sendiri juga bingung dimana rumahnya?, kemana ia harus kembali. Sedangkan ia tak seharusnya menumpang dan merepotkan Adrian. Orang yang jelas-jelas tidak ia kenal.
"Masalah kamu kayanya berat banget ya? kamu bisa kok cerita ke aku. Kita temenan kan?" tanya Adrian membuat Velyn kini menoleh pria itu dengan tatapan sendu. Sedangkan Adrian tersenyum lembut padanya. Membuat Velyn tak bisa mengatakan apa-apa.
"Lyn, maafin aku kalo aku lancang. Tapi obat yang ada di tas kamu itu obat kanker kan?" Velyn membulatkan matanya. Ia menatap Adrian dengan matanya yang membelalak. Bagaimana orang lain bisa tau akan keadaannya? dan kini malah Adrian. Velyn menggeleng, matanya kembali memanas mengingat penyakitnya itu.
Kebetulan malam itu Adrian juga memanggil seorang dokter dan menanyakannya. Bahkan Adrian sempat tidak percaya dengan keadaan dan penyakit yang diderita oleh Velyn seberat ini. Velyn yang ia kenal pernah menangis dan mencoba untuk menyerah itu ternyata punya masalah seberat ini.
Maksud Adrian bukan apa-apa, ia hanya sebatas membantu. Sekaligus ingin mendengarkan apa yang Velyn rasakan. Membantunya dan menopangnya saat orang lain tidak bisa menjadi sandaran untuknya. Entah mengapa sejak pertama kali mereka bertemu, Adrian selalu terbayang akan sosok Velyn dan mendadak perduli padanya.
***
Setelah Adrian membujuk Velyn untuk sarapan, Velyn juga sudah tampak cantik ketika memakai gaun putih yang Adrian berikan. Adrian tidak punya pilihan, dirumahnya ia hanya mempunyai gaun putih itu. Maklum saja, tidak ada wanita yang pernah menginap ditempatnya kecuali wanita malam yang memang sengaja ia undang untuk memenuhi hasratnya.
__ADS_1
Rumah Adrian cukup luas dan besar, bahkan Velyn tak menyangka jika pria muda ini ternyata kaya raya dan punya banyak cabang bisnis dimana-mana.
Velyn kini tengah duduk bersantai di ayunan taman rumah Adrian, sedangkan Adrian ia yang semula mengintip Velyn dari dalam rumah kini melangkah mendekat, lalu kemudian ia duduk disamping Velyn yang kini terlihat memperhatikan dirinya.
"Kalau ada bintang jatuh, kamu mau buat harapan apa?" tanya Adrian tiba-tiba membuat dahi Velyn mengernyit. Velyn sedikit terkekeh mendengar pertanyaan dari Adrian barusan.
"Ini kan siang Yan, mana ada bintang jatuh"
"Bintang itu selalu ada kok, mau siang ataupun malam. Kita nggak bisa lihat aja, karena cahayanya kalah sama cahaya matahari" Velyn menahan tawanya. Adrian ini terlihat kekanak-kanakan sekali. Padahal membuat harapan saat bintang jatuh itu hanyalah mitos bukan?.
"Kenapa ketawa?"
"Kamu masih percaya aja sama yang gitu-gituan" Adrian menghela nafasnya. Ia menatap senyum Velyn, senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya diwajah cantiknya. Sebelumnya hanya ada sendu dimatanya, hanya ada air mata yang menghiasi pipinya. Namun kini, entah mengapa Adrian merasa bangga membuat keadaan Velyn lebih baik daripada sebelumnya.
"Aku dulu udah pernah punya harapan, harapan sederhana yang selalu aku minta dalam setiap doa. Tapi sayangnya, Tuhan tidak berkenan buat ngasih harapan sederhana itu ke aku" lanjut Velyn membuat lamunan Adrian buyar dan menatapnya dengan pandangan penuh arti.
"Kamu bisa cerita kok, aku nggak bakalan ngasih tau siapapun. Aku janji, demi Tuhan!" Velyn mengernyit mendengar apa yang dikatakan Adrian barusan. Sepertinya Adrian terlalu banyak melihatnya menangis, tidak ada salahnya juga bercerita.
Meskipun Adrian adalah orang asing, tidak menutup kemungkinan kalau rahasianya akan terjaga. Namun setidaknya itu bisa membuat hati Velyn lega.
__ADS_1
Velyn menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya percuma juga ditutupi dari pria satu ini. Apalagi Adrian terlanjur mengetahui penyakitnya dari obat yang ia konsumsi. Sekalipun Velyn berbohong itu tidak akan membuat Adrian percaya sama sekali.