Velyn Love

Velyn Love
Tidak sama


__ADS_3

Langkah kaki bunda semakin kencang kala ia melangkah melewati koridor rumah sakit yang sedikit sepi, melihat jam sudah hampir Maghrib. Mata bunda berkaca kala ia hampir masuk kedalam ruangan namun ditahan seketika oleh pria yang kini menarik lengan bunda.


"Bunda, bunda tenang dulu, papa masih belum bisa dijenguk" kata Rega dengan lembut membuat bundanya menunduk seraya mengeluarkan air matanya yang sejak tadi ia tahan.


"Gimana bunda bisa tenang Rega, ayah kamu sekarang kondisinya sudah parah. Gimana bunda jelasin ke Velyn, tadi Velyn pulang, dia nanyain keadaan ayah. Perasaan bunda sakit nak tiap kali melihat Velyn apalagi mendengar suaranya. Gimana kalau Velyn tau keadaan ayahmu?" Rega segera merengkuh bundanya. Apapun yang terjadi, ayah harus sembuh, dan Rega akan melakukan apapun demi kesembuhan ayah.


"Ayah pasti sembuh bunda, sekarang kita bilang aja ke Velyn kalau aku dan ayah lagi dinas ke luar negeri, jangan sampai Velyn tau kalau sebenarnya ayah akan dirujuk ke Singapura" kata Rega seraya melepaskan pelukannya dari bunda. Membawa ayah ke luar negeri adalah pilihan yang tepat saat ini. Ditambah lagi perlengkapan dan juga teknologi disana jauh lebih maju.


Namun sayangnya, tidak ada yang boleh memberitahu Velyn tentang hal ini. Mereka takut Velyn akan bertindak gegabah. Mereka takut jika nanti Velyn akan kecewa, lebih baik dirahasiakan saja seperti perintah ayah yang sebelumnya pernah berpesan pada Rega dan bunda.


"Tapi, bunda juga ingin ikut nak. Bunda pengen tau gimana perkembangan ayahmu"


"Bunda tenang aja, Rega pasti bakal jagain ayah kok. Rega bakal ngabarin bunda kalau terjadi sesuatu sama ayah, yang penting sekarang bunda disini aja dulu. Bunda harus bersikap biasa kalau nanti ketemu Velyn" bunda mengangguk lemah. Wanita itu kemudian duduk diruang tunggu seraya menyeka air matanya yang masih berlinang.


***


Velyn memasuki kamarnya yang amat sepi, namun masih tetap saja rapi seperti biasanya. Gadis itu duduk dimeja belajarnya dengan buku-buku yang bertumpuk disana. Velyn meraih frame yang terpampang jelas dirinya dengan Valdo bersua foto sebelum hari pernikahan tiba. Foto prewedding yang kala itu hubungan mereka masih baik-baik saja tidak seperti saat ini.

__ADS_1


Velyn benar-benar ingat akan kelembutan Valdo, setiap senyuman dan juga perhatian itu seperti hilang saat seharusnya mereka sama-sama terbuka.


Velyn tersenyum getir, entah siapa disini yang seharusnya tidak beruntung menikah dengan siapa?. Mungkin Velyn bodoh masih saja menyimpan perasaan terdalamnya dengan Valdo. Pria yang jelas-jelas tidak pernah mencintainya. Pria pengecut yang hanya bisa memanfaatkan Velyn, dan dengan bodohnya Velyn masih bisa saja menutupi aibnya.


Velyn meletakkan foto itu kembali, tubuhnya terasa berat dan lelah ketika mengingat kejadian-kejadian kemarin hari. Ingatan Velyn berputar kala ia masuk rumah sakit dan Valdo memberikan perhatian untuknya. Saat itu Valdo benar-benar seperti dirinya sebelum menikah, tapi siapa sangka jika hal itu hanyalah akting yang biasa Valdo lakukan seperti sebelumnya.


Velyn merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Banyak sekali masalah yang terjadi, belum lagi penyakitnya yang sudah menggerogoti tubuh lemahnya. Velyn terlelap, ia memejamkan matanya untuk sejenak menghilangkan penat yang ia rasakan.


***


"Udah bangun Lyn?" tanya bunda yang melangkah mendekat seraya membawakan dadar jagung untuk diletakkan didepan mata Velyn. Velyn hanya mengangguk, ia tersenyum pada bundanya yang kini telah usai memasak dan melepaskan apronnya.


"Makan yuk, semalam kamu belum makan loh" kata bunda membuat Velyn menatap seisi ruangan yang begitu sepi. Biasanya Rega selalu membuat keributan tapi ini berbeda, kakaknya satu itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Kak Rega mana bun? papa?" bunda meringis mendengarnya. Lalu kemudian mengambil nasi dari tempatnya seraya tersenyum pada Velyn dengan tenang. Bagaimanapun juga Velyn tidak boleh tau keberadaan kakak dan ayahnya yang kini tengah berobat ke luar negeri.


"Mereka tadi malam berangkat ke Singapura, dinas sama klien disana" Velyn membulatkan matanya, kenapa tidak ada yang memberitahunya. Bahkan kini Velyn seperti orang bodoh saja. Padahal ia amat merindukan papa dan juga kak Rega. Sayangnya belum sempat bertemu namun mereka sudah pergi jauh.

__ADS_1


"Kenapa kemarin bunda nggak bilang? aku kan juga kangen sama ayah dan kak Rega. Mereka juga gitu, nggak pamitan sama aku dulu" protes Velyn seraya meraih bakwan didepan matanya sambil sesekali mengucek matanya yang masih terasa ngantuk. Bunda hanya menggeleng melihat tingkah putrinya satu ini. Kalau saja bukan karena rahasia ini harus dijaga, mungkin bunda akan memarahi Velyn karena tingkahnya yang sembarangan mengambil makanan dihadapannya tanpa mencuci tangan dahulu.


"Tadi malam itu bunda juga dapat kabar mendadak, ayah sama kak Rega juga belum sempat pamit sama bunda" Velyn memanyunkan bibirnya. Benar-benar menyebalkan sekali, Velyn ingin kepulangannya menjadi momen kebersamaan namun akhirnya ia hanya berakhir ditinggal oleh ayah dan kakaknya.


"Tapi bunda, nggak biasanya ayah kaya gitu. Bunda juga gitu, ayah kan lagi sakit, masa diizinin buat kerja dan dinas ke luar negeri"


"Sudah! kamu mau makan atau cuma mau protes aja! kalau kamu nggak bisa menerima resiko kerjaan ayah, kamu nggak perlu ngomel-ngomel kayak gitu!" suara bunda yang meninggi membuat Velyn membelalak dibuatnya. Terlihat sekali wajah bunda yang emosi dan kini bangkit dari meja makannya seraya pergi menuju kamar membuat Velyn mengernyit.


Kenapa? apa yang salah dari perkataannya? bunda bahkan tidak seperti biasanya. Bundanya tidak pernah berkata kasar, yang ada bunda selalu bersikap lembut dan memberikan pengertian pada Velyn jika pemikirannya bertolak belakang dengan bunda. Tapi kali ini berbeda, bunda bahkan meninggalkan Velyn makan sendirian di ruang makan. Jangankan makan, Velyn juga merasa jengah. Ia merasa tidak bersalah, rasanya ada benda tajam yang menghunus jantungnya.


Velyn bangkit, ia rasa kehadirannya seperti tidak diharapkan oleh bundanya. Tidak tau kenapa, tapi semenjak menikah baru kali ini bunda berubah. Velyn berdecak, ia melangkah masuk kedalam kamarnya seraya meringkuk lagi diatas kasur.


Selama bertahun-tahun, bundanya tidak pernah berkata sekasar itu. Namun kali ini berbeda, Velyn merasa sakit mengingat kejadian sepele tadi yang membuat hatinya terguncang. Mata Velyn berkaca, ia menangis tanpa suara. Niatnya yang tadi hendak memeluk bundanya dan menyalurkan perasaan rindu kini ia urungkan.


Velyn bangkit saat ia merasakan darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Gadis itu buru-buru mengambil tisu dan membersihkannya semampu yang ia bisa. Namun sayangnya, mata Velyn begitu berat, tubuhnya seakan melayang.


"Velyn, maafin bunda nak. Tolong buka pintunya" samar-samar ia mendengar suara bunda yang berada dibalik pintu. Namun belum sempat Velyn bangkit dan berdiri, tiba-tiba saja pandangannya kabur, meninggalkan kegelapan yang membuat kesadarannya hilang.

__ADS_1


__ADS_2