Velyn Love

Velyn Love
Kedatangan Valdo


__ADS_3

Tangan bunda bergetar dengan bulir air mata yang keluar dari sudut matanya. Ia menyesal, menyesal sekali telah membentak Velyn tadi. Bahkan gadis itu sampai enggan untuk menjawab maupun membukakan pintu sekalipun bunda mengetuknya beberapakali.


Bunda terlanjur emosi, ditengah kekhawatirannya Velyn membuat bunda hilang kesadaran sampai keceplosan seperti tadi. Bunda memilih untuk menghindar dulu saja, ia tidak mau mengganggu Velyn. Ketika nanti Velyn mau keluar kamar, maka bunda akan meminta maaf dan bicara baik-baik padanya.


Sedangkan Velyn, kini dirinya tengah terbaring di kamarnya. Ia tak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya.


***


Setelah tiga jam berlalu, kini kesadaran Velyn pun kembali. Pening di kepalanya membuat gadis itu segera bangkit dan menyadari apa yang baru saja terjadi. Ingatannya kembali saat Velyn masuk ke kamarnya dan menangis. Velyn melihat sprei putihnya yang sedikit terkena noda darah. Gadis itu meraih ponselnya diatas nakas, memberikan sedikit udara pada matanya agar bisa melihat keramaian dunia dengan membuka pesan WhatsApp di ponselnya.


Velyn mengernyit, pelajaran tambahan akan masuk satu jam lagi. Itu artinya ia harus bersiap-siap untuk kembali ke kampus hari ini. Mata Velyn menerawang seisi ruangan, ia kemudian bangkit dan berjalan meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi di dalam kamarnya.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, kini Velyn siap untuk merias wajahnya. Wajahnya amat pucat dengan bibirnya yang sedikit membiru. Itu sudah biasa bagi Velyn, ditambah lagi rambutnya yang dulu lebat kini semakin lama semakin tipis karena rontok saat ia menyisir rambutnya setiap hari.


Velyn keluar dari kamarnya, riasan tipis sepertinya tepat untuk menutupi wajahnya yang amat pucat itu. Velyn memakai setelan kaos dan jaket jeans serta rok span yang biasa ia kenakan.


Enggan rasanya ia menemui bundanya yang kini entah berada dimana. Gadis itu buru-buru turun dengan mengendap-endap. Rasanya baru pertamakali ini Velyn dan bunda perang dingin dan sama-sama menghindar.


Velyn tidak nyaman, tapi apa yang harus ia lakukan. Pikirannya menampik untuk minta maaf terlebih dahulu karena memang dirinya tidak bersalah. Berulangkali Velyn menyaring kata-katanya yang tadi ia ucapkan sebelum bundanya bicara, tapi apa yang Velyn katakan tidak ada yang menyinggung bunda.


Setelah ini, mungkin Velyn akan pergi saja dari rumah ini. Ia merasa tak enak hati jika bundanya marah lagi padanya. Apalagi sekarang posisi Velyn sudah bersuami. Takutnya nanti bunda pasti juga akan salah paham padanya.

__ADS_1


Velyn menunggu grab car yang telah ia pesan lima menit lalu. Rasanya perutnya amat lapar sekali mengingat pagi ini ia belum sarapan. Velyn memegangi perutnya dan waktu di arlojinya sudah menunjukkan pukul 11.30. Sejak malam memang Velyn belum makan sama sekali. Tapi kali ini ia tak mau memperdulikan itu.


Hanya menunggu beberapa menit saja, sampai lah grab car yang tadi ia pesan. Buru-buru Velyn masuk kedalam seraya meraih ponsel yang berada di tasnya.


Velyn mengecek saldo rekening dari internet banking melalui ponselnya. Rasanya tubuhnya gemetar hendak melihat berapa uang yang tersisa pada bulan ini. Namun rasanya ia lega ketika mendapati nominalnya masih lumayan untuk membayar sewa kos nanti.


Velyn ingin mandiri kali ini. Meskipun Valdo juga sudah mengusirnya, Oca juga sudah tidak lagi menganggapnya bahkan bunda yang tiba-tiba marah padanya, tapi Velyn ingin berjuang sendiri. Toh semakin ia menjauh, orang-orang itu takkan kecewa dengan apa yang Velyn alami.


Velyn menggenggam erat ponselnya, ia sudah bertekad untuk menghindari Valdo dulu dan meminta cerai secepatnya. Dalam jangka waktu satu tahun, mungkin Velyn bisa lebih santai dan tenang dalam menghadapi penyakitnya. Velyn tidak mau diganggu, ia ingin bekerja sendiri dan menjadi wanita karir. Menjadi wanita sukses dimasa mudanya.


Awalnya Velyn mengira menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang begitu menyenangkan. Tapi ketika ia merasa gagal, itu rasanya sudah tidak perlu. Orang yang dicintai dan mencintainya, tidak akan pernah sanggup untuk membayangkan hidup bersama Velyn. Setidaknya gadis itu punya pencapaian dalam hidup sebelum Tuhan merenggut nyawanya.


***


Suara ketukan pintu membuat bunda yang semula menonton televisi kini bangkit dan berjalan menuju pintu depan. Tumben sekali malam-malam begini ada yang bertamu. Apalagi Velyn juga belum pulang sampai jam segini.


Bunda sebenarnya tau jika Velyn berangkat ke kampus tadi siang. Tapi memang sengaja bunda tidak menegurnya karena takut jika mereka akan berdebat lagi nantinya.


"Iya!" teriak bunda kala suara ketukan itu kembali berbunyi nyaring.


Tak lama kemudian bunda membukakan pintu dan tersenyum saat pria yang tidak disangkanya itu datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Valdo" namun sedetik kemudian senyuman sumringah itu berubah menjadi pertanyaan dibenaknya kala ia mengingat perkataan Velyn soal pekerjaan Valdo yang harus diselesaikan di luar kota.


"Malam bunda" kata Valdo seraya tersenyum dan bersalaman pada bunda yang kini menyambutnya dan mempersilahkan untuk masuk kedalam.


"Aduh, Velyn nya masih ngampus, mungkin bentar lagi dia tiba" perkataan bundanya membuat Valdo mengernyit seraya tersenyum. Bunda mempersilahkan Valdo masuk dan meninggalkan Valdo untuk duduk di ruang tamu.


"Kamu duduk bentar ya, bunda bikinin minum dulu" Valdo hanya tersenyum dan menaruh bungkusan berisi martabak yang ia beli di jalanan tadi untuk mertuanya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat kebimbangan menyelimutinya, mencari Velyn kesana kemari, kini Valdo menemukan jawaban atas ketakutan yang ia hadapi dua hari ini. Valdo takut untuk mengunjungi rumah mertuanya jika keadaannya berbalik dengan pikirannya. Takut jika keberadaan Velyn ternyata tidak ada disini. Namun senyuman mengembang Valdo seperti tidak bisa terhentikan kala bunda mengatakan bahwa Velyn akan segera tiba dari kegiatan kampusnya.


Syukurlah, kini Valdo bisa bernafas lega ketika mendengar Velyn ternyata baik-baik saja. Ia sampai harus cuti seharian untuk mencari Velyn dan bolak-balik ke kantor polisi untuk membuat laporan.


"Valdo, istri kamu bilang kamu ada dinas ke luar kota kok tiba-tiba kemari?" pertanyaan bunda yang datang membawa nampan berisi kue kering dan secangkir kopi membuat Valdo hanya bisa mengulas senyum seraya menaikkan sebelah alisnya.


Ternyata ini alasan Velyn agar bisa tinggal dirumah orangtuanya. Valdo sudah sangat lega jika Velyn tidak menceritakan kebenarannya terhadap bunda.


"Ah, i iya bunda, Valdo memang ada urusan diluar kota. Tapi udah selesai kok makanya mau kasih kejutan buat Velyn" bunda mengulas senyum. Kekhawatirannya tadi yang melanda hatinya kini hilang begitu saja melihat Valdo yang ternyata begitu baik pada putrinya.


Ia hanya berharap semoga pilihan ayah tidak salah menjodohkan Velyn dengan pria ini.


"Oh iya bunda, ini Valdo bawain martabak"

__ADS_1


"Kalo kesini nggak perlu repot-repot gitu ah, kaya orang lain aja. Bunda ini kan juga bunda kamu" meskipun bunda berkata demikian, namun sebagai menantu Valdo juga tidak akan datang dengan tangan kosong. Rasanya ia juga ingin menyenangkan mertuanya.


"Nggak apa-apa kok bunda, Valdo nggak repot juga. Jarang-jarang Valdo kemari kalau bukan karena Velyn"


__ADS_2