
Mega kini keluar dari kamarnya setelah ia selesai berdandan. Rambut yang ia curly dan jepit rambut yang diberikan Rega tempo hari membuatnya semakin tampil manis. Dengan mini dress selutut berwarna putih ia siap bertemu dengan Rega yang mengajaknya kencan seharian ini.
Mega menghela nafas, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk berniat keluar rumah. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang. Mega sedikit terkejut, namun ia segera membuang nafas beratnya saat ia ketahui bahwa orang tersebut adalah mama.
"Mau kemana?"
"Aku ada janjian sama temen ma" tatapan mata mama membuat Mega mengernyit, ia menangkap wajah khawatir yang tersirat dari dalam ekspresi dingin wanita itu.
"Kenapa ma?"
"Nggak apa-apa, memangnya kamu nggak ada sesuatu yang pengen kamu bicarakan ke mama?" Mega menelan salivanya, rasa gugupnya sudah tidak dapat ditutupi lagi walau hanya dengan menggeleng seperti saat ini. Mama menaikkan sebelah alisnya, wanita itu kemudian membuang nafas dan menarik lengan Mega lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Sini, mama mau ngomong sebentar"
"Ma? ada apa?" mama termenung, wanita itu seperti menunggu sesuatu yang tidak Mega mengerti. Namun Mega hanya diam seperti tak bisa mengatakan apapun juga. Ia sendiri juga bingung serta gelisah dengan gerangan apa yang membuat mamanya seperti tertekan akan sesuatu dalam bungkamnya.
"Mama tanya sekali lagi? apa kamu nggak ada sesuatu yang mau dijelaskan ke mama?"
"Maksud mama soal aku yang nggak pulang tiga hari kemarin?" mama masih terdiam membisu, membuat Mega sendiri bingung dan frustasi. Kegugupan yang tadinya ia khawatirkan kini berubah menjadi kekesalan dalam lubuk hatinya yang terdalam. Bisa-bisa ia terlambat janjian dengan Rega jika mamanya terus menahannya seperti ini.
"Ma, aku buru-buru ma. Aku udah ada janji, mama sebenarnya mau ngomong apa sih?" tanya Mega sedikit kesal karena mama tak kunjung berucap sepatah katapun semenjak tadi.
"Mama-"
"Calista, jangan bohong sama mama!"
"Mak-maksud mama apa?" tanya Mega dengan pupilnya yang bergetar. Ia sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang mama katakan. Namun ia berpikir sejenak kalau saja mamanya mengetahui sesuatu antara dirinya dengan Rega. Bisa gawat kalau mama tahu hilangnya dirinya tiga hari lalu adalah karena ia menginap di apartemen pria itu.
"Ma? jangan main teka-teki dong. Calista juga bingung harus ngomong apa, kalau mama kaya gini. Memangnya Calista bohong soal apa sama mama?" mama memegang lengan Mega dengan jemari yang bergetar, wajah termenung namun dengan tatapan kosong. Mega semakin tak mengerti, namun yang pasti wajah cantiknya kini berubah pucat pasi karena mama masih berdiam mematung seraya menunjukkan matanya yang berkaca-kaca.
"Mama!"
"Sampai kapan kamu nyembunyiin semuanya dari mama? kamu kira mama bakal diam aja dan pura-pura nggak tau?"
"Mak-maksud mama apa?" Mega menelan salivanya seraya menatap mamanya yang kini menitikkan air mata. Sejujurnya Mega ketakutan tentang apa yang mamanya ketahui darinya, terlebih wajah mama yang kecewa serta isakan yang membuat dada Mega semakin sesak.
"Mama please jangan kaya gini. Kalau ada apa-apa mama ngomong dong" mohon Mega dengan air matanya yang hendak menetes. Bagaimana Mega tidak frustasi jika mamanya membuat dirinya semakin bingung dan takut. Apalagi sikap mama yang seolah tau sesuatu akan perbuatan Mega membuat wanita itu semakin tersiksa oleh batinnya sendiri.
"Sejak kapan kamu diancam oleh Devan?!" Mega terdiam seraya membulatkan matanya. Ia melirik mama yang tengah di landa amarah dalam lubuk hatinya. Terlihat jelas mama murka, kesal juga kecewa, bahkan semalam mama masih amat senang Devan membicarakan tentang pernikahan mereka yang dipercepat.
"Ma?-"
"Kenapa kamu nggak cerita sama mama nak? kenapa kamu nyimpan semuanya sendiri?. Kamu pikir mama nggak denger apa yang dikatakan Devan semalam ke kamu?. Mama nunggu kamu ngomong Lista, tapi kenapa kamu tetap bungkam?" Mega menitikkan air matanya menatap mama yang kini terisak. Ia sama sekali tak berkedip saat mamanya menangis dan mengungkapkan kekecewaannya pada dirinya.
"Bu-bukan gitu ma. Aku cuma-"
"Kamu takut mama nggak bakal percaya sama kamu? atau kamu takut dengan ancaman Devan?. Sayang, mama ini ibu kandung kamu nak, apapun yang kamu bilang mama pasti bakal percaya" mama kemudian memeluk Mega yang ikut terisak dalam dekapan mama. Dalam sekejap rasa tenang mengalir dalam diri Mega yang sebelumnya sempat bingung dan amat ketakutan dalam lingkup kesendiriannya. Namun ketakutan itu mulai runtuh saat mama mengetahui semuanya lebih awal daripada dirinya.
Mama Indri menceritakan saat wanita setengah baya itu pergi ke mall untuk mengikuti acara arisan bersama teman-temannya. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan sosok pria yang amat ia kenal, siapa lagi kalau bukan Devan. Namun anehnya saat itu Devan tengah berjalan bersama seorang wanita yang memeluk lengannya. Padahal seingat Indri, Devan tidak memiliki saudara perempuan maupun sepupu yang seperti wanita itu. Setelah Indri menyelidikinya, ia baru tahu percakapan mereka sangatlah tidak wajar sebagai seorang teman atau bahkan saudara. Hal itulah yang membuat Indri curiga kalau sebenarnya dalang dibalik hilangnya Mega adalah Devan sendiri.
Saat diwaktu yang sama Devan yang seharusnya pergi dengan Mega malah pergi dengan wanita lain yang memanggilnya sayang. Serta setelah kejadian itu, Mega menghilang secara tiba-tiba. Saat itu Indri hanya bisa berdoa agar Mega cepat pulang dan menceritakan apapun yang terjadi padanya dan sekaligus membongkar kedok Devan yang bermain dibelakang Mega. Namun harapan Indri tak kunjung menjadi kenyataan saat Mega benar-benar menghilang tanpa bisa dihubungi serta tak dapat dilacak keberadaannya.
Indri menjadi semakin sedih dan terpukul, baginya kembalinya putrinya adalah hal yang selalu ia tunggu tatkala mendengar suara bel berbunyi dari balik pintu rumah besar itu. Namun harapannya tak kunjung menjadi sebuah kenyataan.
Pun Mega menceritakan apa yang sebenarnya yang terjadi, tidak ada yang ia tutup-tutupi kecuali siapa orang yang menyelamatkannya dan bagaimana ia bisa pulang dengan keadaan selamat. Mega tidak bisa menceritakan hal tersebut pada mamanya, yang pastinya akan menjadi sebuah pukulan besar bagi mama jikalau Mega nekat untuk mengatakannya.
__ADS_1
Sejujurnya mama sudah mendengar pembicaraan Mega dengan Devan semalam. Bahkan betapa hancurnya Indri ketika mengetahui anaknya di ancam dan dibuat mainan oleh pria tak bertanggungjawab seperti Devan.
"Maafin Lista ma, Lista janji nggak bakal ngelakuin itu lagi. Lista salah ma, Lista" tangis Mega pecah membuat mama semakin mengeratkan pelukannya dalam dekapan seorang ibu yang lebih sakit mendengar semua kenyataan pahit yang dialami oleh putrinya. Kenyataan bahwa putrinya sendiri depresi dan memilih untuk bunuh diri. Indri mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tidak ada orang yang menyelamatkan putrinya di waktu yang tepat. Mungkin saja, Indri akan menyesal seumur hidup karena telah menjodohkannya dengan laki-laki yang tidak bertanggungjawab seperti Devan.
"Buat mama itu nggak penting lagi nak, yang penting kamu udah kembali. Mama nggak akan biarin
kamu menderita sayang. Mama yang harusnya minta maaf karena telah jodohin kamu sama pria seperti Devan. Maafin mama ya sayang."
Setelah semuanya terungkap, kini tiada alasan lagi bagi Mega untuk khawatir. Padahal sebelumnya ia ingin menceritakan semuanya pada Rega dan ingin meminta bantuan padanya, namun siapa sangka hal itu malah tidak perlu, karena mamanya sendiri yang datang dan memeluknya dengan erat. Bayang-bayang kebersamaannya bersama Rega sudah ada didepan mata, rasanya Mega sudah tidak sabar untuk menemui kekasihnya satu itu dan memeluknya dengan erat.
Mega keluar dari rumah besarnya, ia hendak memesan taksi online karena sudah janjian bertemu Rega di hotel. Namun ia menghentikan gerakan jarinya saat mobil berwarna hitam berhenti didepan matanya dengan kaca mobil yang terbuka, memperlihatkan pria berkaos putih dengan kerah sampai leher dan berkacamata. Tampan, mungkin itu adalah hal yang sudah biasa bagi Rega tapi tidak untuk Mega yang menatap pria itu penuh kekaguman.
"Sayang, kamu telat setengah jam" ujarnya membuat Mega tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil lalu memeluk lengan pria itu sesampainya di dalam.
"Maaf ya, ada hal penting yang aku obrolin sama mama"
"Oh ya? hal penting apa?" tanya Rega dengan tatapannya yang menjurus pada wanita didepannya. Jemari yang menyentuh bibir mungil Mega membuat mata wanita itu terpejam dalam kehangatan sikap Rega padanya.
"Rega" Rega yang hendak mengecup bibir tipisnya dihadang oleh wanita itu. Ia masih sadar betul keberadaan mereka yang berada di kompleks perumahan, dan tak mungkin juga mereka melakukan hal itu di depan rumahnya sendiri.
"Jadi, hal penting apa sampai aku harus nungguin lama. Ada hukumannya loh kalau kamu nggak nepati janji" Rega menunjukkan smirknya, ia kemudian meraih pucuk rambut Mega dan menciumnya. Wangi bunga mawar menyeruak kedalam indera penciumannya. Wangi yang sangat membuat Rega tergugah sampai ingin membuat pria itu menindih tubuhnya ditempat. Namun ia juga tidak ingin membuat mereka dalam masalah.
"Ga-"
"Nanti aja, kita ke hotel sekarang" ujar Rega dan segera menaikkan perseneling nya. Rega kemudian menginjak gas mobilnya untuk keluar dari perumahan itu segera. Mega hanya menggeleng dan menyandarkan punggungnya. Ia masih menggenggam jemari Rega yang membuat hatinya tambah berbunga dengan apa yang ia alami hari ini.
Sepanjang perjalanan Mega hanya bungkam tanpa mengatakan apapun. Ia takut momen mereka tidak tepat dan membuat Rega sedikit termakan emosi oleh ceritanya. Kali ini Mega akan membuat pria itu merasakan kesenangan dulu sebelum ia menceritakan masalahnya.
Setengah jam berlalu, dan kini keduanya sudah berada di hotel tempat Rega memesan kamar untuk mereka berdua. Mega menunggu di sofa seraya melirik beberapa orang yang berlalu lalang dihadapannya. Namun matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tidak asing baginya. Wanita itu hanya menggeleng seraya membuang nafas, ia segera berlari kearah Rega dan menggandeng lengannya. Jangan sampai orang yang ia lihat dilihat pula oleh mata Rega, atau kalau tidak bisa menimbulkan masalah nantinya.
"Iya sebentar sayang"
"Kalau begitu, kamar no 147 atas nama bapak Rega. Ini kuncinya"
"Terimakasih" ujar Rega membuat resepsionis itu mengangguk dan tersenyum. Pun begitu dengan Rega, namun berbeda dengan Mega yang tersenyum kaku seraya menarik lengan pria itu dengan segera.
"Sabar sayang" bisik Rega membuat tengkuk Mega meremang. Meskipun sejujurnya ia juga ingin, namun ada yang lebih harus ia hindari daripada sekedar keinginannya. Namun ketika didalam lift pun, Rega dengan sengaja menjahilinya, jemarinya dengan nakal mencubit bokong sintal miliknya.
"Rega, jangan gitu dong. Kamu nggak takut kita kelihatan di CCTV?" Rega yang awalnya melirik CCTV diatasnya kini beralih melepaskan jas yang ia kenakan. Rega mengangkat jasnya, lalu menutupi tubuh keduanya tepat dibawah sorotan kamera. Mega mengerutkan dahinya seraya menatap tepat diatasnya, bagaimana Rega menutupi tubuh mereka. Pandangannya kemudian beralih, menangkap wajah Rega yang sudah mendekat kearah wajahnya. Mega hanya mampu menutup mata sembari menikmati ciuman singkat yang Rega berikan.
Suara lift pun berdenting menandakan bahwa mereka telah sampai dilantai yang hendak mereka tuju. Kini wanita itu buru-buru menjauh dari tubuh Rega dan mendorong tubuh pria yang kini hanya mampu tersenyum nakal seraya terkekeh ringan.
Mega kemudian berjalan duluan seraya memanyunkan bibirnya. Ia sampai tidak habis pikir jika Rega akan senekat itu menciumnya ditempat umum. Kalau saja ada orang yang masuk tadi, bagaimana?. Rega kemudian menarik lengan wanitanya, hingga membuat Mega terjebak didinding serta dalam himpitan pria yang kini semakin mendekatkan wajahnya.
"Kamu marah ya?" bisik Rega yang membuat wanita itu hanya mampu menunduk malu dan menghela nafasnya. Debaran jantungnya tak bisa dibohongi lagi, meskipun mereka berdua telah sering melakukan hal lebih, namun baik Mega maupun Rega tidak dapat menyembunyikan perasaan mereka yang sama-sama membuncah.
"Maafin aku ya, habis kamu sih cantik banget" bisik Rega lagi membuat wanita itu tersipu.
"Jangan mulai Rega! aku tuh serius tau. Bisa nggak sih, kamu lihat sikon dulu. Kalau tadi ada yang masuk gimana? apalagi ditempat umum loh. Kamu itu-"
"Sttt, kita masuk yuk! nanti aja marahnya. Sekarang kita pacaran dulu aja" Rega segera menggendong tubuh wanita itu ala bridal style, hal itu tentu membuat Mega terkejut hingga berteriak dan memukul dada bidang Rega.
"Rega lepasin. Aku bisa jalan sendiri!" Rega kemudian masuk kedalam kamar tanpa memperdulikan kata-kata Mega yang memohon padanya. Ia lalu menjatuhkan tubuh wanita itu tanpa pikir panjang, membuat Mega terkejut sekali lagi. Rega kemudian melemparkan jaketnya disusul kaos putihnya. Pria itu kemudian merayap keatas ranjang dan menarik tengkuk Mega yang terdiam terpaku menatap dada bidangnya.
Ciuman Rega mendarat sempurna tepat dibibir wanita yang amat dicintainya. Begitu dalam sampai tanpa sadar kini wanita itu tidak lagi memakai sehelai benangpun. Rega kemudian menyatukan tubuh mereka, seraya membelai dan mengecup puncak kepala Mega dengan lembut.
__ADS_1
"Re... Rega. Aku-"
"Heum?" Mega akhirnya berteriak kencang memanggil nama pria itu. Pada akhirnya kini keduanya pun ambruk tak berkutik dalam permainan yang mereka mulai sendiri.
"Makasih ya sayang" Mega mengangguk, ia menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Wanita itu tenggelam dalam pelukan hangat pria tampan itu seraya menyatukan wajah mereka.
"Aku cinta kamu Rega" bisiknya, membuat Rega menarik pinggang wanitanya hingga keduanya kini sudah tidak berjarak seperti sebelumnya.
"Aku juga cinta kamu Mega. Aku bakal buat kamu bahagia, aku janji" Mega mengangguk, ia kemudian beralih menindih tubuh pria itu membuat Rega tersenyum puas.
"Sebelum aku cerita, aku mau buat kamu seneng dulu"
"Ide bagus. Kalau gitu aku pasrah, kamu lakuin sesuka kamu" Mega kemudian tersenyum dan mengecup pipi Rega, ia kemudian mulai menyatukan keduanya kembali. Permainan Mega begitu liar hingga membuat Rega sendiri beberapa kali mengalami pelepasan. Pria itu sama sekali tidak tahu tentang bakat wanitanya yang kini tidak henti-hentinya mempermainkan dirinya.
Rega kemudian bangkit, ia mengecup bibir wanita itu dengan penuh kelembutan dan sangat amat hati-hati. Tampaknya Rega ingin menyatakan seluruh isi hatinya lewat ciuman tulusnya saat ini.
Saat ini mereka telah berada dibawah guyuran shower. Jemari Mega memeluk tengkuk Rega meski dingin menerpa tubuh mereka. Mega yang menunduk seraya memeluk tubuhnya sendiri membuat pria dihadapannya menaikkan dagu wanita itu dan mendaratkan ciumannya lagi, Rega memeluk tubuh Mega untuk memberikan kehangatan.
"Rega, ah!" Rega menyatukan tubuh mereka lagi dan menghimpit tubuh Mega didinding. Mereka melakukan lagi meski air masih terus berjatuhan dengan deras di atas mereka. Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi dan saling memakai kimono untuk menutupi mereka masing-masing.
Mega ambruk di atas kasur, tubuhnya lemas dan lelah karena permainan mereka seolah
tiada akhir kali ini. Mega berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Padahal rambutnya masih basah tertutup oleh handuk yang melilit rambut basahnya.
"Mey? kok langsung tidur sih? nggak jadi cerita?"
"Enggak dulu deh, aku capek" Rega segera melepaskan kimononya ia menyusul Mega untuk berbaring disampingnya. Rega mencium kening kekasihnya itu, yang hanya dibalas senyuman. Rega paham bagaimana lelahnya wanita yang kini berbaring dengan mata terpejam dihadapannya. Rasanya Rega ingin cepat-cepat melihat wajah teduh Mega setiap kali ia bangun dari tidurnya juga melihat senyumnya saat ia usai pulang dalam bekerja.
Ia juga mendambakan anak yang lucu dari wanita itu, bayangan bahagia seolah berada didepan mata jika Mega ada disampingnya. Kenangan masa lalu yang begitu indah serta masa depan yang telah mereka tata dan rencanakan akan segera terlaksana sebentar lagi. Rega mengusap kepala wanita itu dan memeluknya dalam dekapan
"Ga, maafin aku ya" gumam Mega tanpa sadar dengan matanya yang terpejam. Lelaki itupun tersenyum lalu semakin mempererat pelukannya meski tubuhnya tak tertutupi oleh sehelai benangpun.
Brakkk!
Suara gebrakan pintu kamar membuat keduanya terkejut. Mega terbangun dari tidurnya tatapan mereka mengarah pada kedua orang yang menatap mereka penuh amarah. Mega mengerutkan dahinya seraya menatap Rega yang kini tak kalah kesalnya karena hak privasi mereka tidak dihargai.
"Tante lihat kan?! anak tante sendiri berbuat apa?. Dari awal saya sudah menyelidiki mereka berdua, dan ternyata mereka memiliki hubungan terlarang. Saya sudah ikhlas tante, saya bersedia nerima Lista apa adanya. Tapi-"
"Hey! siapa lo yang berani-beraninya masuk tanpa izin ha?!" teriak Rega tak kalah garang, membuat Devan membulatkan matanya seraya menatap Rega tak kalah berapi-api. Mama Indri hanya mampu terdiam tanpa kata menatap putrinya yang kini diam membisu, menunduk dan menutup tubuhnya dalam selimut putih diatas ranjang itu. Mata Mega yang awalnya terpejam dan amat berat, kini seperti tersambar petir disiang bolong. Apalagi saat matanya dengan mama Indri bertemu, ia lebih memilih untuk membuang muka.
"Aku calon suami Calista" teriak Devan dengan amarahnya yang menggebu. Rega menatap tajam Devan yabg tidak tahu malu itu. Ia benar-benar tidak habis pikir Mega akan dijodohkan dengan pria itu. Tampangnya saja yang lumayan, tapi sifat dan sikapnya tidak mencerminkan penampilannya.
"Dasar cowok gila!"
"Cukup!. Devan! Rega! saya cuma mau anak saya, kalau kalian mau bertengkar silahkan, tapi jangan bawa anak saya. Apalagi kamu Rega! punya hak apa kamu menodai anak saya haaa! Tante kecewa sama kamu!" ujar mama berkaca-kaca membuat Calista hanya mampu menitikkan air matanya. Rega menatap wanitanya, ia menghapus jejak air mata Mega dan menyentuh pundaknya. Mungkin saja apa yang hendak Mega ceritakan ada hubungannya dengan peristiwa ini
"Mey, kamu belum cerita ke mama kamu?" bisik Rega membuat Mega hanya mampu terdiam dan terisak.
"Jangan sentuh anak saya Rega! kamu menjauh dari Calista!" senyuman penuh kemenangan terukir diwajah Devan yang kini hanya mampu terdiam seraya menatap Rega dengan penuh kepuasan.
"Tapi tante-"
"Calista ayo pulang!" terlihat Rega hendak menjelaskan sesuatu, namun Mega menggeleng seraya menyentuh punggung jemari Rega yang menyentuh jemarinya dalam selimut tebal itu.
"Ma, maafin Lista. Sebenarnya, Lista sudah menikah, dengan Rega" ujar Mega membuat mata mama Indri dan Devan membulat. Entah apa yang akan dilakukan oleh mamanya kali ini, tapi sejujurnya Mega amat takut untuk mengakui hal tersebut. Ia takut apa yang akan dipikirkan mamanya tidak seperti apa yang menjadi angannya. Sehingga ia lebih memilih untuk bungkam daripada jujur. Lagipula mereka hanya menikah siri, berjaga-jaga kalau saja terjadi sesuatu nantinya meskipun keduanya sudah berniat untuk menikah secara hukum setelah mama Indri menyetujui hubungan mereka.
__ADS_1