
"Maafin mama sayang, mama sayang sama Nino sama papa, tapi mama nggak bisa terus-terusan ada buat kalian."
Tangis Velyn pecah saat ia mengingat lagi bagaimana bahagianya keluarga kecil mereka. Keluarga kecil yang membuat hati Velyn tenang ketika memilikinya. Saat ini Velyn menghapus jejak air matanya, ia melangkah menuju kamar mandi di dalam kamar Nino.
Rasanya sedikit pening dikepalanya membuat wanita itu ingin sedikit membasahi wajahnya. Ketika Velyn mencipratkan air diwajahnya, tiba-tiba saja dirinya merasa ingin tersedak. Dan betul saja, Velyn terbatuk cukup keras seraya mengeluarkan dahak darah dari dalam mulutnya. Velyn mengernyit, ia segera menatap pantulan dirinya yang kini terlihat mengalir darah segar dari hidung maupun mulutnya secara bersamaan.
Mata Velyn membulat, ia buru-buru meraih tisu dan segera membersihkan darah yang ada diwajahnya. Kini tubuh Velyn mendadak lemas, entah karena darah yang banyak keluar atau karena ia terkejut.
Velyn berjongkok lemas, pada saat ini rasanya ia benar-benar putus asa sekali. Seharusnya Velyn sudah harus kontrol dalam bulan ini, mengingat tugas kampusnya yang begitu banyak dan menumpuk membuatnya lupa untuk tidak kerumah sakit awal bulan kemarin.
***
Keesokan harinya Velyn memutuskan untuk datang ke rumah sakit sebelum jam kuliah sorenya mulai. Hari ini adalah hari penentuan dimana mahasiswa ditempatkan magang. Begitupun juga Velyn, ia tak mau memikirkan tentang Valdo terlebih dahulu. Fokusnya kini hanya pada tugas prakteknya satu ini.
Rasanya ia sudah tidak sabar untuk dipanggil oleh dokter spesialis yang sudah menjadi langganannya itu. Meskipun jam kuliah Velyn masih dua jam dari sekarang, entah mengapa ia ingin segera menyelesaikannya saja, dan buru-buru keluar dari tempat yang penuh dengan bau obat-obatan. Velyn benar-benar tidak menyukainya.
"Nyonya Velyn, silahkan masuk" suara seorang wanita tiba-tiba memanggilnya dari arah dalam setelah wanita itu membuka pintu. Membuat kekhawatiran Velyn kini terjawab sudah.
Velyn tersenyum, ia buru-buru bangkit dan mengikuti perawat tadi yang mengintruksikan agar dirinya mengikuti langkahnya.
Setelah pemeriksaan selesai dan dokter juga berhasil mengambil sampel darah Velyn, kini dokter itu menatap Velyn dengan pandangan gusar. Pria paruh baya itu tampak membetulkan kacamatanya seraya menjelaskan hasil laporan dari berkas dihadapannya yang ia terima setelah Velyn melalui proses pemeriksaan barusan.
"Dok? jadi gimana?" Velyn merasa semakin khawatir akan lirikan mata dokter itu yang begitu tajam padanya.
"Velyn, kamu harus kemoterapi. Kalau tidak maka penyakit kamu akan semakin menyebar. Saat ini stadium di dalam kanker kamu masih belum ganas dan perlu dijinakkan terlebih dahulu untuk mengurangi resikonya" Velyn menghela nafasnya. Berapa kali ia harus mengatakan bahwa Velyn tidak akan mengikuti kemoterapi itu. Menurutnya itu adalah hal yang percuma.
__ADS_1
Pengobatan yang dilakukan hanya untuk memperpanjang usia dari pasien, bukan menjamin kesembuhan dari pasien itu sendiri.
"Berapa persen kemungkinan saya akan sembuh dok?" pertanyaan Velyn membuat dokter hanya mampu terdiam dengan pandangannya yang suram itu. Mengingat perkembangan dalam penyakit Velyn cepat menyebar.
"Kamu bisa lewati ini semua Velyn, saya yakin. Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Tuhan pasti juga ingin kamu berusaha melalui kami" Velyn menggeleng, berapa banyak orang dengan kanker yang Velyn jumpai, ia sampai tak dapat menghitung, mereka hanya berakhir tragis dengan kesempatan hidup kecil.
Kali ini Velyn tidak ingin mengambil tindakan, bukan karena dia tidak ingin sembuh. Tapi karena Velyn tidak ingin melakukan hal yang percuma.
"Mungkin hidup saya sudah ditakdirkan untuk begini dok. Keputusan saya sudah bulat, saya tidak ingin menjalani pengobatan itu."
***
"Lyn, lo udah liat papan pengumuman belum?" Velyn yang masih berkutat dengan buku yang ia baca kini beralih menjawab Dira yang terlihat antusias itu.
"Pengumuman apa?" tanya Velyn cuek tanpa mau mengalihkan pandangannya dari buku novel yang sempat ia beli beberapa hari lalu.
"Hari ini kan hari penempatan magang. Lo lupa ya?" tanya Dira lagi yang kini semakin kesal dengan tingkah Velyn yang tidak ada sedikitpun penasaran itu.
"Iya, gue tau. Terus?"
"Ya masa lo nggak penasaran sih lo mau ditempatin di perusahaan mana. Ayo dong kita liat bareng-bareng" bujukan Dira membuat Velyn menaikkan pandangannya seraya menatap malas pada Dira.
"Pasti masih rame, gue males tau. Nanti aja" tukas Velyn seraya melanjutkan acara membacanya lagi tanpa mau diganggu. Sebenarnya Dira ingin segera menuju papan pengumuman, tapi ia juga tidak mau berdesakan, kalaupun terpaksa ia juga harus punya teman kalau saja nanti dia dihimpit oleh beberapa mahasiswa agar dirinya bisa selamat nantinya kalaupun dirinya kehabisan nafas oleh sesaknya lautan mahasiswa.
"Lagian, lo tuh harusnya belajar yang rajin biar nanti waktu magang dapet nilai bagus. Dimana pun tempat kita magang nanti, mau sebagus apapun kita ditempatin. Kalau atasan nggak puas sama kerjaan kita, gimana kita bisa lulus" omel Velyn dengan tatapan menasihati pada temannya satu ini. Dira hanya bisa menghela nafasnya. Meskipun apa yang dikatakan Velyn memang benar, tapi ia juga tak ingin gila belajar seperti dia.
__ADS_1
Belajar kalau tidak santai rasanya juga tidak asik menurutnya. Tapi apa kata Velyn benar juga. Jika mereka tetap memaksa untuk melihat papan pengumuman sekarang, pastilah tidak ada gunanya juga. Yang ada mereka hanya bisa kembali lagi dengan pandangan yang kecewa karena pasti banyak sekali mahasiswa yang berkerumun.
"Iya, iya nyai. Lo itu emang ratunya ngomel ya, kaya emak gue aja lo" Velyn hanya meringis mendengar kekesalan dari temannya satu ini.
Belum sempat Velyn fokus pada bacaannya lagi tiba-tiba saja seseorang datang dari luar kelas dengan nafas yang terengah-engah. Terlihat dari nafasnya yang memburu, Cristyn baru saja berlari kearah kelas membuat dua perempuan yang saling pandang itu ikut mengernyitkan keningnya.
"Heh! lo berdua" ceracau Cristyn sambil mendekat kearah meja Dira dan Velyn.
"Apa sih Cris? ngomong tul pelan-pelan, ambil nafas dalam-dalam, kebiasaan lo!" tukas Dira dengan kesal seraya memutar bola matanya. Pasalnya ditengah ekspresi paniknya Cristyn, Dira sebenarnya juga amat penasaran.
"Lo sama Velyn masuk perusahaan besar, perusahaan IT" Velyn dan Dira saling melirik satu sama lain. Velyn terlihat cuek seraya memutar bola matanya. Berbeda dengan Dira yang kini menutup mulutnya seolah tak percaya. Pandangannya bahkan kini menatap keatas seraya memanjatkan doa.
Velyn sendiri ia tak mau ambil pusing. Niatnya dari awal adalah mengembangkan ilmu yang ia dapat dan ia pelajari. Bukan tak perduli, tapi dimana pun perusahaannya pastinya ia akan melakukan yang terbaik.
"Ya ampun! gue seneng banget. Akhirnya gue masuk perusahaan besar juga. Lyn, lo gimana?"
"Biasa aja tuh" ucap Velyn santai membuat temannya satu itu kini beralih menatap Cristyn. Percuma juga bicara pada Velyn. Tidak ada gunanya, yang ada nanti Dira malah naik darah saking emosinya.
"Perusahaannya namanya apa? terus deket nggak sama rumah gue?" tanya Dira dengan semangat pada Cristyn yang kali ini juga ikut senang. Pasalnya bukan hanya Dira dan Velyn, tapi juga dirinya yang masuk.
"I-technology, yang itu loh perusahaan terkenal-"
"Lo bilang apa tadi Cris!" Velyn bangkit dengan nafasnya yang memburu. Ia menatap tajam pada Cristyn yang mengerutkan keningnya pada Velyn. Begitupun Dira yang terlihat heran dengan tingkah laku teman anehnya satu itu.
"Jangan norak deh, jangan lo pikir sebelumnya lo belum pernah denger I-technology group."
__ADS_1
Velyn terduduk lemas, matanya mengerjab beberapa kali seraya menghela nafasnya yang tiba-tiba memburu.