Velyn Love

Velyn Love
Rumah sakit


__ADS_3

Sebuah usapan lembut diberikan Velyn pada pria kecil yang kini tengah tertidur pulas dibangsal tempat Nino dirawat. Meskipun luka di kening Nino tidak terlalu parah, tapi Velyn masih saja tidak tega. Ia ikut berbaring seraya mengelus dahi Nino yang baru saja di jahit.


Suara terbukanya pintu membuat gadis itu tersentak, ia buru-buru bangkit dan menatap Valdo yang kini tampak khawatir seraya berlari kearahnya. Velyn hendak mengatakan sesuatu, namun urung kala Valdo mendorong tubuhnya untuk menjauh membuat gadis itu menelan ludahnya kasar.


"Nino sayang, kamu pasti kuat nak" ujarnya seraya mengecup puncak kepala Nino dengan lembut. Namun sedetik kemudian Valdo mengalihkan pandangan tajamnya kearah Velyn yang kini mengerutkan kening hendak memberikan penjelasan.


"Kak, Nino-"


"Sini, ikut aku!" Valdo menarik lengan Velyn keluar ruangan. Rahangnya mengeras dengan matanya yang mendelik seperti hendak memakan mangsanya. Velyn agak terkejut dengan perlakuan kasar Valdo yang kini menghempaskan tangannya seraya menatap tajam dirinya yang kini hanya bisa menunduk seraya menahan air mata.


"Kalo kamu nggak bisa jagain anak ku, nggak usah kamu deket-deket dia! gara-gara kamu Nino kaya gini? atau kamu sengaja bikin dia jatuh terus mau ambil kesempatan buat narik perhatian aku?!. Dasar pembawa sial!" Velyn mendongak, air matanya meleleh begitu saja kala Valdo mengatakan hal kejam padanya. Bahkan Valdo kini sama sekali tidak menggubris maupun memperdulikan air mata Velyn yang sudah terjatuh karenanya.


Valdo masuk kembali keruangan itu, sedangkan Velyn kini berlutut seraya menutup mulutnya tak percaya. Pembawa sial? bahkan baru pertamakali ini Velyn mendengarnya dari mulut seseorang yang mengatakan hal demikian padanya. Padahal Valdo belum mendengar sesuatu darinya, ia belum menjelaskan apa yang telah terjadi.


Hati Velyn terasa seperti dicabik-cabik, sakit sekali. Gadis itu kini bangkit, ia menyeka air matanya seraya melangkahkan kakinya kearah toilet.


Pikirannya menerawang, mengingat sebelum hari pernikahan mereka. Dan sebelum wanita itu muncul dari balik kebahagiaan yang hampir Velyn tata. Bahkan Velyn tidak menyangka jika perasaan Valdo padanya hanyalah sebuah kepura-puraan agar harta warisan Gaisan dapat menjadi milik Nino seutuhnya.


Velyn hanya sebuah pion, pengganti yang tidak berarti bahkan menjadi sosok yang dibenci. Langkah gontai gadis itu kini akhirnya berakhir di toilet rumah sakit. Velyn memejamkan matanya seraya menahan isakan kala dirinya duduk diatas dudukan kloset yang tertutup.

__ADS_1


Velyn hanya ingin menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Membahagiakan dan memenuhi keinginan orang yang ia sayangi termasuk Valdo sebelum ia pergi dari dunia. Mungkin Velyn bodoh, mencintai orang yang seharusnya ia benci. Tapi, siapa sangka perasaannya harus sedalam ini pada Valdo. Ia sendiri tidak memilih untuk menyimpan perasaan itu.


Velyn mencoba untuk menenangkan hatinya, ia menyeka air matanya seraya mencoba untuk kuat. Tangannya gemetar hebat, dadanya seperti dipenuhi belati yang menghunus jantungnya.


Setelah keadaannya mulai membaik, Velyn kemudian keluar dari dalam toilet, ia menatap pantulan wajahnya pada cermin didepan wastafel yang berjejer setelah ia keluar dari toilet tersebut. Gadis itu menyalakan air seraya membasuh muka dengan kasar.


Namun tiba-tiba saja sebelum ia mendongak, sebuah darah segar menetes, membuatnya buru-buru mendongak, menatap wajahnya yang kini tampak pucat dan terlihat darah segar keluar dari dalam lubang hidungnya.


Velyn buru-buru mengambil tisu dari dalam tasnya, mengelap tetesan darah itu secepatnya. Belum sempat sepenuhnya hidung Velyn bersih dari noda merah itu, suara dering ponselnya membuat Velyn buru-buru mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Bun-bunda, kenapa tumben banget telfon?" gumam Velyn yang kini tanpa basa-basi mengangkat panggilan itu. Bagaimanapun keadaannya, ia tak ingin bunda khawatir padanya.


"Kamu kenapa nak? sakit ya? kok suaranya kaya gitu?" Velyn tersenyum mendengar pertanyaan bundanya. Sekuat apapun Velyn menutupinya, ternyata tetap tidak bisa menyembunyikannya dari ikatan batin seorang ibu. Rasanya ia ingin menumpahkan saja segala derita yang ia rasakan saat ini. Memeluk bundanya dan menangis dipangkuan Malia.


Tapi itu tidak mungkin, Velyn tidak ingin membuka aib suaminya maupun memberitahu masalah penyakit yang ia derita selama ini. Velyn menyeka air matanya, gadis itu menarik nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya perlahan.


"Aku agak flu bun, jadi suara ku kaya gini. Bunda apa kabar?"


"Kamu yakin nak? mau bunda jenguk aja?"

__ADS_1


"Nggak perlu bun, aku bakal pulang malam ini. Kangen sama ayah sama bunda dan kak Rega" ujar Velyn seraya mencoba untuk tersenyum dan menutupi suara sumbanganya.


Mendengar bundanya yang begitu khawatir Velyn jadi tidak tega. Membayangkan bagaimana terlukanya bunda saat mengetahui putrinya mengalami hal sama yang diderita oleh ayahnya. Bagaimana nanti jika ia akan meninggalkan bundanya pergi untuk selamanya? Velyn benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu. Namun setidaknya masih ada Rega yang menemani bunda.


"Kalo gitu ajak suami kamu sekalian, kita makan malam sama-sama ya" Velyn membulatkan matanya kala bunda membujuknya untuk membawa Valdo ke rumah. Rasa lega yang baru saja ia rasakan tatkala mendengar bundanya bicara lembut, kini seolah berganti dengan keraguan dan ketakutan dalam benaknya.


Ingin menolak, tapi Velyn ragu untuk memberikan alasan apa yang harus ia katakan. Tidak mungkin kan jika Velyn mengatakan kalau Valdo lembur. Bisa-bisa nanti bundanya curiga. Karena sebelumnya Valdo pernah bilang akan mengambil cuti selama seminggu setelah mereka menikah.


"Lyn? kok diam?" Velyn mendongak, memejamkan matanya seraya menghela nafas.


"Iya bun, nanti Velyn bakal kasih tau kak Valdo ya" setelah percakapan basa-basi itu kini Velyn mematikan panggilannya. Otaknya masih berfikir dengan keras agar bisa mengatakan pada Valdo jika mereka di undang oleh bunda untuk makan malam.


Velyn melangkah gontai keluar dari dalam toilet. Ia memutuskan untuk pulang saja, lagipula Valdo juga sudah mengusirnya. Meskipun hati Velyn masih begitu khawatir dengan Nino, tapi mendengar penuturan dari dokter jika Nino hanya luka ringan saja mungkin ia juga akan pulang setelah ini.


Namun setelah beberapa langkah ia berjalan, Velyn baru teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Menggesernya perlahan dan hendak menelfon seseorang dari sebrang sana.


"Halo pa, aku ada dirumah sakit sekarang. Boleh nggak aku jenguk perempuan yang kemarin kita tabrak? aku pengen minta maaf. Aku khawatir banget sama dia" ujar Velyn pada papanya disebrang sana yang kini mengerutkan keningnya.


"Udah keluar? sejak kapan? kenapa papa nggak bilang ke aku kemarin?"

__ADS_1


__ADS_2