Velyn Love

Velyn Love
Pulang ke rumah bunda


__ADS_3

Velyn melangkahkan kakinya ke ruang tunggu dimana Nino dirawat. Tadinya ia ingin pulang saja daripada menjadi bahan olokan maupun mendapat perkataan tidak menyenangkan dari suaminya. Namun hatinya merasa tidak tenang saat mengingat anak itu.


Panggilan mama dan ciuman di wajahnya kala Nino begitu membutuhkan Velyn. Ia takut jika Nino mencari keberadaannya. Bukankah Velyn begitu jahat dan tega jika meninggalkan putranya dirumah sakit dan hanya bisa diam dirumah. Tidak! status Velyn adalah istri sah Valdo meskipun hanya diatas kontrak, itu juga berarti dia adalah ibu tiri Nino.


Velyn meremas kemejanya kuat-kuat, ia hendak bangkit dan mengintip dari balik pintu kaca, namun urung. Velyn benar-benar gelisah saat ini, memikirkan bagaimana keadaan Nino. Anak yang jelas-jelas bukan anak kandungnya, namun bisa membuat hatinya lega setelah perdebatan maupun perbuatan Valdo yang tak menyenangkan padanya.


Pintu ruangan terbuka, pandangan Velyn beralih menatap pria yang kini menatapnya dengan tatapan dingin seraya mimik wajahnya yang begitu penuh dengan kebencian.


"Ngapain kamu masih disini?" tanya pria itu membuat Velyn hanya bisa menahan diri agar tidak sakit hati lagi pada pria dihadapannya ini.


"Aku, aku khawatir sama Nino" Valdo memutar bola matanya. Ia menarik lengan Velyn hingga gadis itu bangkit dan meringis kesakitan akibat remasan keras dari lengannya.


"Sakit kak!" rintih Velyn seraya mencoba untuk memberontak, namun Valdo malah semakin keras mencengkeram erat lengan Velyn.


"Kamu denger ya sekali lagi. Nino itu bukan anak kamu!. Nino darah daging aku dan Lisa, kamu jangan coba-coba buat nyakitin dia dengan cara ngedeketin dia. Kalau kamu bikin Nino kenapa-kenapa, aku yang bakal bikin kamu sama keluarga kamu menderita!" ucapan tegas serta kebencian di mata Valdo membuat Velyn bertanya. Valdo bahkan mendorong tubuh Velyn membuatnya hampir ambruk jika ia tak bisa menyeimbangkan gerakannya.


Velyn mengusap pelan lengannya, ia masih menatap Valdo dengan pandangan berkaca. Valdo membalikkan tubuhnya, hendak masuk kedalam ruangan. Namun belum sempat ia masuk kedalam, pandangannya melirik sedikit kearah istrinya yang kini masih menunduk.


"Pergi dari sini! aku nggak mau liat wajah kamu lagi!. Kita cuma nikah kontrak kan, kamu bebas kok mau kemanapun, nggak perlu pulang juga boleh" ujar Valdo setelah itu masuk kedalam ruangan Nino kembali.


Velyn memegang dadanya kuat-kuat, sebenarnya apa yang terjadi pada Valdo?. Kemarin tingkahnya masih baik-baik saja. Padahal Velyn tidak berbuat salah maupun menyinggungnya. Malah seharusnya Velyn yang marah, karena Valdo membuat keputusan pernikahan yang kejam dan mempermainkan hidupnya.


Cukup, Velyn tidak ingin menangis lagi. Ajakannya pada Valdo tadi untuk memenuhi undangan makan malam keluarganya ia urungkan. Toh kalau dikatakan pasti Valdo tidak akan mau datang, atau malah semakin marah.

__ADS_1


***


Pembawa sial! nggak perlu pulang. Entah mengapa perkataan Valdo itu terus terngiang-ngiang dikepalanya. Dan sialnya menjadi pedang yang menghunus jantung Velyn. Benar-benar sakit ketika mengingatnya.


Velyn kini tengah menaiki sebuah taksi, matanya memerah menahan air mata yang ingin ia tumpahkan sejak tadi.


Kenapa Velyn bisa-bisanya terjebak dalam masalah ini. Hubungan yang sebelumnya terjalin baik dengan bayangan menyenangkan kini berubah menjadi sisi berbeda dengan mimpi buruk menyeramkan.


Pandangan Velyn menatap pada jalanan, gedung-gedung bertingkat disisi jalan merupakan pemandangan yang membuat hatinya sedikit lega. Setidaknya tidak mendengar perkataan Valdo maupun melihat amarahnya yang tanpa alasan padanya.


Setelah beberapa menit menaiki taksi, kini Velyn sudah sampai tepat di depan gerbang rumahnya. Gadis itu buru-buru memberikan ongkos pada sang supir taksi.


Ia memberanikan diri untuk kembali, entah apa yang harus ia katakan pada bunda dan ayahnya ketika Valdo tidak akan datang kemari. Tapi setidaknya ketika Velyn bertemu mereka hatinya akan sedikit merasa lega.


Ceklek


"Velyn sayang" suara bundanya yang begitu lembut membuat Velyn tersenyum, Velyn memeluk bundanya erat-erat seolah ia tidak pernah bertemu dengannya bertahun-tahun saja.


"Velyn kangen banget sama bunda"


"Sayangnya bunda, baru beberapa hari nikah aja kamu udah kangen gini sama bunda. Oh ya, mana suami kamu?" tanya Malia yang kini menelisik halaman rumahnya yang tampak sepi. Bahkan mobil hitam Valdo juga tidak terlihat sama sekali.


Velyn terdiam sesaat, memikirkan alasan yang tepat untuk diberikan pada bundanya. Tidak mungkin kan Velyn memberitahu pada bundanya jika Nino tadi pagi kecelakaan, dan mengakibatkan Valdo marah besar. Tidak! Velyn tidak bisa membiarkan bundanya tau perihal masalah yang ia hadapi.

__ADS_1


"Kak Valdo ada urusan mendadak ma, dia malam ini mau ketemu klien katanya"


"Nggak cuti ya?"


"Cuti sih, tapi katanya ini penting jadi malam ini nggak bisa kesini dulu" senyuman Velyn membuat bundanya lega. Malia kira ada masalah apa.


"Nak, gimana kamu selama tinggal berdua sama suami? nggak ada masalah kan?" tanya Malia yang kini menggandeng lengan Velyn untuk berjalan masuk kedalam rumah seraya bertanya perihal hubungan keduanya. Mengingat terakhir kali pernikahan mereka, Malia jadi sedikit khawatir tentang putrinya. Apalagi hubungan ini didasari oleh sebuah perjodohan.


"Nggak ada kok bun, kan bunda sendiri liat sebelum aku nikah sama kak Valdo dia kaya apa. Kak Valdo baik kok, perhatian juga sama aku" kata Velyn seraya tersenyum dan duduk di ruang makan bersama bundanya yang kini masih memegang jemari putrinya erat-erat.


Mendengar hal itu perasaan lega dirasakan oleh Malia. Setidaknya keputusannya untuk menjodohkan Velyn bukanlah suatu hal yang salah.


"Bunda, ayah gimana? ada perkembangan?" tanya Velyn yang kini menatap Malia yang tiba-tiba menampilkan mimik wajah sedikit muram.


"Ayah nggak mau berhenti kerja nak, meskipun ada papa mertua kamu yang bantu. Tapi bunda tetep khawatir. Penyakit ayah udah parah sayang, stadium empat. Ayah nggak mau kemoterapi" Velyn menatap bundanya dengan hati yang bergetar. Suara lirih Malia berubah menjadi tangisan pilu, namun sedetik kemudian ia mulai tersenyum.


"Bun, jangan khawatir, kita pasti bisa ngelewatin ini. Ayah pasti sembuh, kalo perlu kita cari aja dokter terbaik di seluruh dunia"


"Itu yang bunda inginkan, tapi cuma Tuhan yang tahu gimana akhirnya"


"Maksud bunda?"


"Setidaknya kalo ayah udah pergi, bunda masih punya kalian yang selalu ada buat bunda" entah mengapa Velyn merasa sangat bersalah mendengar kata-kata terakhir bundanya. Seandainya bundanya tau bagaimana keadaannya saat ini, entah akan seperti apa kesedihan yang akan diterima bundanya nanti.

__ADS_1


Bunda memeluk Velyn yang kini diam-diam mengeluarkan air matanya. Merasakan kehangatan pelukan dari bundanya sebelum akhirnya ia berakhir seperti keadaan sang ayah.


__ADS_2