Velyn Love

Velyn Love
Masih cinta


__ADS_3

"Dia udah punya pilihan Ga, lagian bahagia gue itu bisa liat orang yang gue suka bahagia itu udah cukup kok" Rega terkekeh, benar-benar temannya satu ini kalau masalah perasaan ia selalu lembut dari dulu. Jika saja dulu ia mengenalkannya pada Velyn, mungkin saja dengan ketampanan Andra adiknya bisa memuat kebahagiaan yang sesungguhnya.


Velyn masih terdiam, ia menatap dalam-dalam mata Andra yang kini menyipit seraya tersenyum berbincang dengan kakaknya. Entah mengapa keberadaannya seperti angin lalu saja bagi pria yang kini tersenyum seolah tiada beban itu.


'Aku nggak bahagia Ndra, asal kamu tau, orang yang paling aku cinta itu kamu"


"Jadi, lo udah move on nih? kok gue jadi penasaran sih siapa dewi mitologi yang pernah lo ceritain itu? kira-kira gue kenal nggak? hem elo sih kelamaan, diembat orang kan jadinya" celetuk Rega membuat Andra menghentikan semburat senyumnya. Pria itu sedikit melirik Velyn yang kini menunduk seraya membisu tanpa kata.


"Tenang aja, gue udah move on kok. Sekarang mama gue cuma pengen gue cari yang serius, jadi gue nggak mau terpaku sama cinta monyet" dada Velyn begitu sesak mendengarnya. Ternyata memang benar Andra sudah melupakannya, mungkin harapan dan juga keinginan Velyn terkubur sudah.


Mata Velyn berkaca, hendak mengeluarkan air mata yang sejak tadi ia tahan. Velyn meremas baju rajut yang ia kenakan, menahan rasa kecewa yang menjadi satu dihatinya.


"Bagus dong kalo gitu" timpal Rega membuat pria itu tersenyum seraya melirik Velyn yang kini hanya terdiam membisu tanpa bersuara itu.


"Kayanya gue harus cabut dulu, lagi ada janjian soalnya" Velyn mengangkat pandangannya, menatap Andra yang kini bangkit dan menyalami Rega. Velyn ingin sekali menarik lengan pria itu jika saja ada kesempatan. Rasanya ia ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka berpisah dan Velyn menata kehidupan barunya.


Mata Velyn menerawang, masih menatap punggung Andra yang kian menjauh dari pandangannya. Ia buru-buru bangkit, dan mengejar Andra.


"Kak Rega, bentar ya. Ada urusan soal kuliah yang mau aku sampein ke pak Andra, kaka tunggu disini" ujar gadis itu membuat dahi Rega mengernyit. Sejak kapan Velyn bersikap seperti ini? ia sampai tergopoh-gopoh mengejar langkah Andra. Padahal sejak tadi Velyn hanya terdiam seraya menunduk mendengar nostalgia dan cerita dari Andra.

__ADS_1


Velyn tak perduli lagi, entah apa yang difikirkan oleh Andra nantinya yang penting maksud hatinya tersampaikan saat ini juga.


"Andra!" suara familiar itu membuat mata Andra membulat. Kini dirinya yang hendak keluar dari mall terdiam mematung seraya memejamkan matanya erat-erat.


"Kenapa kamu panggil saya kaya gitu? kamu nggak pernah diajari sopan santun ya kalo ngomong sama dosen sendiri" kata Andra datar seraya membalikkan tubuhnya menghadap Velyn yang kini menatap lekat mata pria yang beberapa langkah dari pijakan kakinya.


Untung saja saat ini begitu sepi, beberapa orang terlihat berlalu lalang tanpa menggubris keduanya.


Velyn melangkah mendekat, matanya masih berkaca, enggan mengeluarkan air mata yang sedari tadi hendak meledak saja. Ia bahkan tak menyangka jika Andra sudah seberubah ini padanya. Bahkan kata-kata Andra begitu jelas tadi, seolah mengatakan bahwa hubungan mereka saat ini tidak lebih dari seorang mahasiswa dan dosen saja.


"Aku nggak perduli kamu mau ngomong apa Ndra, aku cuma mau berterimakasih sama kamu, makasih buat cinta kamu yang tulus ke aku" Velyn menunduk, ia terisak seraya menghapus air matanya. Mata Andra masih datar seperti tadi, enggan menatap Velyn namun sama hancurnya perasaannya.


Velyn yang melihat itu hanya bisa tersenyum getir seraya menyeka air matanya. Hatinya begitu sakit, sakit sekali. Velyn memang tak tau apa yang berada difikiran Andra saat ini, mungkin saja Andra juga sudah melupakannya. Velyn mengangguk, ia menyeka air matanya seraya membalikkan tubuhnya.


"Pak Andra!" suara seorang gadis membuat mata Velyn membulat, kini dirinya yang semula memunggungi Andra kini perlahan memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya lagi menatap pemandangan yang tak menyenangkan untuknya.


"Pak, tadi katanya ngajak makan, kan saya udah ada disini, kita mau makan dimana?"


Andra tampak tersenyum ketika gadis itu bergerilya memeluk lengannya. Gadis cantik dengan memakai singlet berwarna hitam dan jaket jeans juga celana mini ketat yang ia kenakan. Angelita! tidak salah lagi, primadona kampus itu ternyata juga dekat dengan Andra.

__ADS_1


Velyn membalikkan tubuhnya lagi, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. Rasa sesak di dadanya begitu bertambah.


'Nggak apa-apa Lyn, kamu pasti kuat. Lagian kamu nggak punya kesempatan lagi buat ngejar masa depan kan? Velyn, bukannya lebih baik Andra melupakan kamu secepat ini? seenggaknya dia nggak akan terluka terus menerus kan'


Velyn memegangi dadanya kuat-kuat, tangisnya pecah tanpa suara. Ia buru-buru menghapus jejak air matanya yang tersisa.


"Aku cinta sama kamu Andra, semoga kamu bahagia" gumam Velyn lirih seraya melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Andra yang tanpa sengaja mendengar gumaman Velyn yang terdengar jelas ditelinganya.


Andra membalikkan tubuhnya, terlihat Velyn yang menunduk seraya berjalan cepat memasuki mall itu lagi.


***


"Kak, pulang yuk" ajak Velyn tiba-tiba membuat Rega mengangguk dan bangkit. Namun belum sempat Velyn melangkah, Rega menghentikan langkahnya. Ia menatap lamat-lamat mata Velyn yang terlihat sedikit merah dan sembab.


"Kamu habis nangis ya?" Velyn buru-buru tersenyum dan menggeleng. Ia juga tak mau melihat kakaknya tambah khawatir padanya, Velyn lebih baik bungkam dan menyimpannya sendiri. Ini juga demi keluarganya, mau tak mau, terima tidak terima, tapi garis tangan Tuhan tidak dapat dihindarkan.


"Ngapain aku nangis, aku emang kaya gini kalau agak kecapekan" ujar Velyn seraya membalikkan tubuhnya lagi dan melangkah, membiarkan Rega mengekor padanya.


Rega sebenarnya peka jika Velyn baru saja menangis, tapi ia juga tak mau menambah beban Velyn. Kalau dipaksa nanti malah dia bersikeras menutupinya, lebih baik bungkam sebentar dan membiarkan Velyn bercerita dengan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2