Velyn Love

Velyn Love
Kerumah papa


__ADS_3

"Mbak Santi, saya bikin brownies tadi, bisa tolong anterin ke papa mertua nggak?" Santi yang tengah mengelap meja makan kini menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menatap Velyn dengan senyuman.


"Maaf nyonya, supir tuan lagi benerin mobil di bengkel, servis dari tadi pagi belum pulang" Velyn menghela nafasnya. Supir Valdo satu itu memang ditugaskan hanya untuk menemani Velyn belanja atau bepergian, selain itu juga mengantarkan Santi kalau-kalau ia hendak ke pasar.


Meskipun Velyn sendiri jarang keluar dan selalu minta diantarkan ketika masuk kuliah saja, tapi disaat genting seperti ini supir Valdo itu malah sedang pergi.


"Ya udah kalo gitu, saya naik taksi aja. Mbak Santi tolong ya, nanti kalau tuan nanyain saya, bilang saya ada perlu sebentar" pesan Velyn pada pembantunya satu itu yang hanya bisa menurut dan mengangguk.


Sebenarnya ada satu mobil lagi dirumah, dan itu mobil Valdo. Secara otomatis kalau Velyn meminjamnya pada Valdo, pastinya pria itu akan memaksa untuk mengantarnya. Sedangkan kali ini Velyn tengah marah terhadapnya.


Seraya membawa kotak berisikan brownies ditangannya Velyn berjalan perlahan dan menunggu taksi yang tengah ia pesan lewat aplikasi. Tak sampai lima menit menunggu taksi pesanannya pun sampai, membuat Velyn segera memasukinya dan duduk di jok belakang.


Rumah Gaisan memang tidak terlalu jauh, berkisar setengah jam dari rumah Valdo. Setelah perjalanan sampai, Velyn akhirnya turun dan memberikan ongkos untuk sang supir.


Matanya menatap rumah besar dihadapannya, rumah yang sudah lama tak ia kunjungi. Mungkin di dalam sana hanya ada Gaisan serta pembantunya saja. Terakhir kali Velyn kemari adalah saat hampir dilangsungkannya pernikahan Valdo dengannya. Dan peristiwa itu, peristiwa bertahun-tahun lalu yang mengingatkannya pada diri Valdo yang masih membencinya.


Kini kenangan itu sudah hilang begitu saja, berganti dengan kebahagiaan yang diberikan oleh Valdo sekarang.


Perlahan langkah kaki Velyn menginjak halaman rumah yang memang tidak dikunci pagarnya. Ia memperhatikan halaman besar dengan tukang kebun yang kini menyambutnya dengan ramah seraya sibuk menyirami tanaman.


"Mbak Velyn mau cari tuan? mau saya panggilkan?" tawar tukang kebun itu membuat Velyn menggeleng dan tersenyum ramah padanya.


"Nggak perlu pak, saya cuma datang sebentar, mau nganterin brownies buat papa" tukas Velyn membuat sang tukang kebun itu mengangguk dan mempersilahkan Velyn untuk masuk saja kedalam.

__ADS_1


"Ya udah, mbak Velyn langsung masuk aja, tuan ada di dalam kok" Velyn mengangguk patuh, ia kemudian melangkahkan kakinya kembali. Masuk kedalam rumah besar itu.


Dan benar saja dugaannya, setelah sampai diruang tamu Velyn sudah disambut oleh pembantu mertuanya yang kali ini tersenyum dan mempersilahkan Velyn seperti yang dilakukan tukang kebun tadi.


"Non Velyn, kesini kok nggak bilang-bilang, ayo silahkan masuk. Pasti tuan seneng liat non Velyn main" kata pembantu itu membuat Velyn mengulas senyum seraya memperhatikan ruangan besar dihadapannya yang tampak masih sama seperti dulu. Tak ada perubahan sama sekali.


"Bibi, nggak usah kaya gitu ah, saya itu kesini cuma sebentar, mau anterin brownies aja buat papa. Oh ya, papa dimana?" pertanyaan itu membuat bibi tersenyum, kebetulan juga saat ini bibi hendak ke warung untuk berbelanja.


"Non Velyn masuk aja, bapak lagi ada diruang tengah, santai-santai. Saya kebetulan juga mau keluar, maaf ya non harus saya tinggal dulu" Velyn menggeleng seraya tersenyum. Ia jadi tak enak saja dengan pembantu mertuanya ini. Wanita paruh baya yang baik dan ramah itu membuat Velyn tidak biasa saja karena terlalu sopan, padahal usianya terpaut jauh dengannya.


"Nggak apa-apa kok bi, lagian saya emang perlunya sama papa" bibi hanya bisa mengukas senyum seraya menunjukkan posisi Gaisan yang memang tadi sedang asik menonton televisi.


Velyn melangkah, ia memperhatikan setiap foto yang terpampang didinding. Foto mama Valdo saat masih muda ternyata begitu cantik dan anggun. Sayangnya wanita itu telah pergi setelah melahirkan Valdo.


Velyn melihat Gaisan yang kini tampak menelfon seseorang. Tangannya terulur hendak membuka suara. Namun Velyn sempat berfikir, tidak sopan baginya menyela pembicaraan yang dilakukan orang tua.


"Jangan pernah lepasin Lisa! meskipun Valdo mohon-mohon, tapi dia bisa menjadi penghambat kebahagiaan Valdo dan Velyn nantinya! pokoknya kamu harus jaga dia, jangan sampai dia kabur!" Velyn tercengang mendengar hal itu tepat ditelinganya. Ia memundurkan langkahnya seraya menutup mulutnya tak percaya.


Tak sengaja Velyn menjatuhkan kotak yang ia bawa, membuat Gaisan membalikkan tubuhnya. Ia menatap Velyn dengan gusar.


"Nak, kamu udah lama disitu?" mata Velyn berkaca, ia hampir saja mengeluarkan air matanya kala Gaisan tiba-tiba mendekat.


"Sejak kapan papa nyembunyiin Lisa?" pertanyaan datar itu membuat mata Gaisan membulat. Ia bahkan tak menyangka jika menantunya akan mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar. Kali ini apa lagi yang akan Gaisan sembunyikan. Cepat atau lambat Velyn pasti juga akan tau. Ditambah lagi wajah Velyn yang terlihat kecewa dengan isakannya membuat Gaisan semakin tak tega saja.

__ADS_1


"Papa ngelakuin ini demi kamu dan juga Valdo nak"


"Apa papa sadar? apa yang papa lakuin itu salah. Dia ibu dari cucu papa sendiri! kenapa papa tega lakuin itu?" Gaisan mengusap wajahnya seraya menunduk. Sepertinya Velyn sudah terlanjur syok dengan kenyataan ini.


Gaisan menggeleng, jika ia memberikan alasan, pasti nanti Velyn juga tidak akan mendengarnya atau bahkan tidak mau mempercayainya. Gaisan menghela nafas, ia bersiap untuk jujur kali ini.


"Oke, papa bakal jujur sama kamu" nafas Gaisan seolah memburu. Antara siap dan tidak siap menceritakan hal itu pada Velyn.


"Iya, papa memang sengaja menyandera Lisa, itu semua karena Valdo udah jahat sama kamu. Papa tidak merestui hubungan mereka, papa mau kamu yang jadi menantu keluarga ini. Maafin papa Velyn, papa memang mengecewakan, tapi apa yang Valdo lakukan selama ini terlalu membuat papa kecewa" Gaisan menghentikan kalimatnya sejenak. Ia menatap Velyn yang masih terlihat mencerna kalimatnya meskipun ia tak mau menatap dirinya.


Tak apa, yang penting tidak akan ada kesalahpahaman lagi setelah ini. Pikir Gaisan dengan pandangannya yang menjurus pada menantunya satu itu.


"Papa punya banyak hutang budi ke kalian, saat papa nggak punya siapa-siapa, cuma papa kamu yang mau bantuin dan ngasih modal buat keluarga kami. Papa nggak pengen apa-apa dari Valdo, demi membalas budi apa yang telah kalian beri, papa cuma pengen Valdo membahagiakan kamu saja."


"Tapi, apa papa nggak perduli sama kebahagiaan kak Valdo? kak Valdo bukan barang yang bisa dipakai untuk ngelunasin hitang pa!" nada Velyn terdengar meninggi, ia semakin terisak dengan apa yang telah terjadi.


Itu berarti apa yang dilakukan Valdo padanya waktu itu karena semua ini? karena gara-gara dirinyalah Valdo amat membencinya?. Hati Velyn benar-benar sakit saat ini. Semua yang telah terjadi ternyata sudah direncanakan.


Dan Valdo adalah korban, pantas saja Valdo belum bercerai dengan Lisa. Ternyata ini yang terjadi.


"Velyn, bukan begitu, tapi-"


"Dimana papa nyembunyiin Lisa?"

__ADS_1


__ADS_2