Velyn Love

Velyn Love
Pulang


__ADS_3

"Velyn! dimana kamu sayang?!" Valdo berulang kali memanggil nama istrinya. Ia bahkan menyusuri dapur dan kamar demi kamar untuk menemukan keberadaan Velyn yang kini tak bisa dihubungi sejak tadi.


Valdo akui dirinya memang salah, tidak seharusnya ia mengizinkan Lisa untuk masuk seenaknya ketempat kerjanya. Apalagi jam makan siang tiba, alhasil makanan yang sudah capek-capek Velyn siapkan terbuang sia-sia karenanya. Dan bodohnya lagi Valdo tidak mengejar istrinya ketika wanita itu pergi begitu saja dengan tatapan kecewa di matanya.


Flashback…


"Lisa! ngapain kamu kesini?!" Valdo yang sebelumnya duduk memeriksa dokumen ditangannya kini mulai bangkit seraya menampakkan wajahnya yang begitu panik.


"Emang salah ya, kalau aku datang ketempat kerja suami ku sendiri" Valdo mengerutkan keningnya, ia melirik arloji yang ia kenakan seraya menatap daun pintu yang masih tertutup di depan matanya.


"Mau kamu apa?! aku udah bilang, cepat atau lambat kita bakal cerai, dan kamu juga tau kita sama-sama nunggu hasilnya kan?"


"Aku nggak mau cerai Do, aku nggak masalah kalau di madu, asalkan aku tetep sama kamu"


"Lisa!" Valdo mengacak rambutnya seraya membuka pintu untuk mengintruksikan asisten pribadinya yang tengah duduk didepan ruang kantornya.


"Via, jangan ada yang boleh masuk ke dalam, saya sedang bicara serius masalah keluarga"


"Mengerti pak" dengan satu kali perintah Valdo kemudian kembali untuk berbicara perihal hubungan diantara mereka yang sudah berada diujung tanduk.


Setidaknya sebelum Velyn tau lebih dalam statusnya masih menjadi suami sah Lisa. Kini wajah istri pertamanya itu tampak tak berdaya, seolah menginginkan Valdo untuk kembali kedalam sisinya meskipun perasaannya harus berbagi dengan wanita lain.

__ADS_1


"Aku nggak bisa Lis, aku cuma cinta sama dia. Mau kamu bersedia atau enggak, aku tetep bakal ngajuin perceraian ini" Lisa yang awalnya hanya mampu terdiam dan menatap Valdo dengan ekspresi memohon kini mulai mendekat dan memeluk pria itu.


"Aku mohon Valdo, ini demi anak kita. Demi Nino, aku ninggalin kamu juga bukan karena keinginan aku, tapi-"


"Meskipun kenyataannya kaya gitu tetep aja Lis, kita nggak akan pernah cocok lagi" suara tegas itu membuat pelukan Lisa melemah pada suaminya. Suami yang ia nantikan akan menemukan dan membawanya kembali sebagai seorang ratu dalam kehidupannya. Tapi setelah Valdo membawanya kembali, ternyata angan itu harus ia buang sejauh mungkin. Karena nyatanya hati Valdo sudah berpindah ke wanita lain.


"Valdo! kamu tega Do! kamu tega! aku udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Seenggaknya kasih aku kesempatan"


"Aku kasih kamu peluang buat ketemu Nino kapanpun kamu mau, tapi jangan pernah berpikir bakal bawa dia jauh dari aku. Aku bakal penuhi keinginan kamu Lisa, aku bakal menghidupi semua kebutuhan kamu sepanjang hidup kamu karena kalau bukan karena aku kamu nggak akan ngelahirin Nino"


"Tega kamu Do! kamu pikir Nino kesalahan?" Valdo menggigit bibir bawahnya, ia melepaskan tangan Lisa dari lengannya seraya mundur beberapa langkah darinya.


"Dia memang kesalahan, kesalahan yang kita buat sebelum adanya akad. Tapi aku sayang sama Nino, karena aku kamu jadi menderita, maka aku bakal menanggung semua kebutuhan Nino termasuk identitasnya" Lisa menggeleng, kini air matanya mengalir begitu saja, wanita itu kemudian hendak meraih lengan Valdo, namun sayang pergerakannya kurang stabil hingga membuat Valdo ikut jatuh karena tarikan dari tangannya.


"Maaf"


Flashback off


***


"Iya bunda, Velyn baik-baik aja kok. Velyn sama mas Valdo nggak apa-apa, cuma Velyn kangen aja jadi pengen pulang ke rumah" kata Velyn seraya melangkah dan duduk didepan minimarket. Wanita berpakaian sederhana dengan baju rajut dan celana jeans yang ia kenakan membalut tubuhnya, membuat orang lain bahkan tak percaya jika wanita itu kini tengah bersuami.

__ADS_1


"Iya bunda tau, doakan ayah ya nak. Alhamdulillah keadaan ayah semakin membaik, kalau diberikan kelancaran, insyaallah bulan depan ayah bakal bisa pulang"


"Tapi bun, Velyn perlu nyusul atau nggak? Velyn pengen ketemu ayah bun, Velyn kangen kalian" ujar Velyn pada bundanya yang berada disebrang sana. Jauh darinya meski hati mereka saling terikat dalam naluri.


"Nggak perlu sayang, kamu kan sudah berkeluarga kasihan Nino sama suami kamu kalo kamu tinggal kemari. Cukup doakan ayah semoga lekas membaik" Velyn hanya mampu menghela nafas panjang, ia mengangguk dan mengiyakan perkataan sang bunda. Meskipun di hatinya masih terasa sakit akibat kejadian tadi. Namun dengan hanya mendengar kabar dari ayahnya mampu membuat hati Velyn semangat kembali.


Setelah berbincang dengan bundanya, kini Velyn mematikan panggilan itu. Setidaknya hatinya merasa lega seolah dekat dengan keluarganya. Untung saja mereka berada jauh dari sisi Velyn, jika tidak Velyn tidak dapat menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Terlebih lagi ia tidak ingin melihat orangtuanya khawatir akan hubungan Velyn dengan Valdo.


"Seandainya bunda tau, gimana rumitnya hidup Velyn saat ini, beban berat yang Velyn alami saat ini mungkin nggak akan bisa bunda bayangkan sebelumnya" gumam Velyn dalam bisikannya ditengah malam yang dingin.


Tik...


Satu titik kecil air jatuh mengenai jemarinya, Velyn mendongak, ia menatap langit malam yang amat gelap tanpa ada cahaya sedikitpun. Ia baru menyadari jika malam ini langit berubah menjadi mendung. Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pulang ke rumah.


Langit yang tadinya tenang kini berubah mencekam dengan angin yang berhembus kencang. Wanita itu kemudian menutup telinganya sesaat setelah kilatan cahaya di langit beserta suara kerasnya menggelegar.


"Aaahhh!" Velyn berteriak, ia tak memperdulikan lagi air hujan yang tadinya hanya berupa rintikan kini berubah menjadi hujan deras dimana-mana. Ia memeluk tubuhnya seraya berjalan kencang. Velyn begitu kedinginan saat ini, tangannya gemetar dengan bibirnya yang mulai membiru.


Entah mengapa ingatannya kembali, kembali seperti mimpi saat Valdo menariknya ke kamar mandi dan mengguyurinya dengan air serta menenggelamkannya di dalam bathtub. Bersamaan dengan itu, dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, mengingatkan dirinya saat ia tidur di luar rumah dengan keadaan gelap gulita.


Velyn memeluk tubuhnya, ia memekik kesakitan hanya mengingat kejadian itu semua. Wanita itu kemudian melangkah kembali, memaksa kakinya yang lemah dengan pandangannya yang berkunang-kunang.

__ADS_1


Brukkk


__ADS_2