Velyn Love

Velyn Love
Tak akan kembali


__ADS_3

Suara ramainya orang-orang yang mengerumuni Velyn kini samar-samar menghilang dengan pandangannya yang gelap tak tersisa. Pandangannya melihat seorang pria dengan kemeja kerja yang masih menempel ditubuhnya.


"Velyn! bangun Lyn!" teriak pria itu yang terasa tak asing ditelinga Velyn.


***


"Mas, Mas Valdo" gumam wanita yang kini terbaring di bangsal. Wanita yang nampak lelah itu begitu pucat dengan lingkar hitam di bagian bawah matanya.


"Lyn, bangun. Dokter! dokter!" teriak pria itu membuat mata Velyn sedikit demi sedikit terbuka. Ia menatap pria yang kini memakai kacamata dihadapannya dengan seksama.


"An, Andra"


"Iya, kamu butuh apa? kamu mau apa Lyn? ada yang sakit?" Velyn menggeleng dengan gerakan lemahnya, samar-samar ia mengingat kembali kejadian yang menimpanya tadi. Hujan deras membuat tubuhnya menggigil, mengingatkannya akan penderitaan yang ia alami sebagai istri seorang Valdo.


Mungkin Velyn bisa memaafkan pria itu, tapi untuk melupakan kesalahannya ia begitu berat. Bahkan kesalahan Valdo kini sudah menjadi trauma bagi hidup Velyn.


"Aku nggak apa-apa kok Ndra, makasih kamu udah mau nolong aku"


Senyuman tipis itu membuat Andra menghela nafasnya seraya beralih duduk didepan Velyn. Wanita yang begitu ia cintai dihadapannya ini mengapa begitu menyedihkan, meskipun Andra tidak mengetahui apa yang terjadi, namun melihat Velyn yang tadi tidak sadarkan diri membuatnya begitu iba.


"Mas, mas Valdo ampun mas. Dingin, aku-aku sakit" hanya mengingat kata-kata Velyn yang diutarakan ketika ia tak sadarkan diri tadi membuat pikiran Andra melayang kemana-mana. Ia tau tebakannya pada waktu itu tidak salah, Velyn menerima perlakuan yang tidak pantas dari suaminya.


"Ndra? kok ngelamun?"


"Ah, eng-enggak kok"


"Permisi" suara seorang dokter membuat keduanya menoleh bersamaan.


"Nona Velyn, anda harus menjaga kesehatan dengan baik, apalagi setelah kemoterapi tubuh anda menjadi lebih lemah, itu sebabnya-"

__ADS_1


"Tunggu dok! apa tadi dokter bilang? kemoterapi? maksudnya?" Andra menatap dokter dan Velyn bersamaan. Velyn hanya mampu membuang muka, ia menunduk dengan tatapan pedihnya. Begitupun dengan dokter yang masih berdiam.


"Nona Velyn sudah lima tahun ini mengidap leukimia"


"Apa?!!" Andra menatap Velyn dengan berkaca-kaca, ia masih tak menyangka dengan pernyataan dokter barusan. Andra mengacak rambutnya seraya menggeleng.


"Saya ngerti dok, saya butuh waktu berdua dengan Velyn" dokter hanya mampu mengangguk, ia kemudian meninggalkan Velyn dan Andra yang masih bertahan diam dalam seribu bahasa.


"Jelasin Lyn! kenapa kamu sembunyiin ini dari aku?"


"Kamu salah paham Ndra, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi" ucap Velyn dingin seraya masih bertahan menunduk. Ia takut menatap Andra, takut merasa bersalah akan rahasia yang ia simpan selama ini.


"Kenapa Lyn?!" Andra meraih kedua lengan Velyn dan mengguncangnya, membuat Velyn terkejut dan meneteskan air mata.


"Kenapa dulu kamu nggak cerita ke aku waktu kita masih sama-sama. Atau kamu sengaja nerima perjodohan ini biar bisa menghindar dari aku?!"


"Seharusnya dari dulu aku nolak kamu Ndra, aku terlalu egois. Aku-" Velyn menghentikan kata-katanya saat setelah pelukan Andra membuat wanita itu semakin terisak. Rasa sesak di dadanya kini mulai merambah, membuat hatinya begitu ngilu dan perih.


"Velyn!" Andra memeluk Velyn erat-erat, ia memegang kepala Velyn seolah menenangkan hatinya. Melihat orang yang dicintainya begitu menderita, membuat dada Andra menjadi semakin sesak.


"Maaf Andra, aku memang nggak pantes buat kamu, dan nggak pantes buat siapa-siapa" Andra melepaskan pelukannya, air mata yang menggenang di pipinya kini ia hapuskan seraya menangkup kedua pipi Velyn yang masih basah akibat air mata.


"Jangan ngomong lagi Lyn! please stop!" Andra memegang kedua bahu Velyn dan menyandarkan kepalanya disana. Hangat ia rasakan meskipun tubuh Velyn terasa masih terlihat pucat.


"Jadi kamu nerima perjodohan karena kamu sakit? kenapa kamu nggak bilang Lyn?"


"Aku juga nggak tau Ndra, aku cuma sadar kalau ada yang nggak beres, tapi..."


"Tapi apa Lyn?!" Andra menatap Velyn lamat-lamat, mata berkaca itu seperti saat malam terakhir dimana mereka berkencan. Seolah memberikan pesan selamat tinggal meskipun tiada yang

__ADS_1


Velyn katakan.


Rekam jejak antara keduanya saat mereka sedang memadu cinta kini terulang kembali dalam bayang-bayang pikiran Andra. Semakin lama semakin sakit, membayangkan semuanya sudah berlalu begitu saja dan berganti dengan kepergian Velyn secara tiba-tiba.


"Apapun alasannya, meskipun kamu cuma ngerasa kamu juga punya hak buat cerita ke aku apapun itu"


"Alasan aku bukan cuma itu Ndra, tapi ayah"


"Kita bisa yakinkan kedua orang tua kamu" Velyn menghela nafasnya, ia menghempas jemari Andra dari wajahnya. Walau bagaimanapun ini semua juga sudah terjadi, Velyn telah menjadi istri Valdo yang itu artinya tiada lagi hubungan diantara Andra dengan dirinya.


"Kita udah putus Ndra, aku udah jadi istri orang. Nggak seharusnya kita kaya gini"


"Tapi Lyn!"


"Jangan deket-deket aku lagi Ndra, anggap kita nggak kenal sebelumnya. Kamu pantes dapat yang lebih baik dari aku" Velyn membuang mukanya, ia tak mau lagi berhubungan dengan Andra. Lelaki itu adalah masa lalunya dan akan tetap seperti itu. Mau bagaimanapun Andra berjuang dan berlari jika Velyn bukanlah jodohnya maka mereka juga tidak akan pernah bersama.


"Velyn!" suara dari ambang pintu membuat mata Velyn membulat. Ia tidak salah lihat, matanya menangkap mata elang yang setiap hari ia rindukan. Bersamaan dengan itu Andra hanya mampu membuang mukanya seraya menghapus jejak air matanya. Ia mundur beberapa langkah, membiarkan Valdo berlari dan memeluk sang istri.


"Velyn, kamu nggak apa-apa kan sayang?" Velyn hanya mampu menggeleng, ia sedikit melirik Andra yang kini perlahan pergi dan menjauh dari bangsalnya.


"Sayang, maafin aku" Velyn menunduk dibawah pelukan Valdo yang menghangatkan tubuhnya. Rasanya ia begitu bingung untuk menghadapi lelaki yang kini mencium puncak kepalanya itu.


"Dia udah kembali kan?" suara lemah Velyn membuat jemari Valdo merenggang, ia menatap Velyn yang melihatnya dengan pandangan datar.


"Sayang, dengerin penjelasan aku dulu"


"Mas, aku tau kalian yang jalani pernikahan dulu, aku tau perasaan kamu ke Lisa nggak akan pernah berubah dan pernikahan kita cuma berada di atas kontrak. Kamu nggak akan lupa kan?" Mata Valdo begitu sayu saat ini. Keadaan Velyn yang seperti sekarang ini pasti karena ulah cerobohnya. Valdo tidak mau kehilangan Velyn, dan semua kesalahpahaman yang terjadi harus segera ia selesaikan saat ini juga.


"Kamu ngomongin apa sih sayang? kamu itu istri aku, aku nggak akan pernah ninggalin kamu Velyn."

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau dia masih jadi istri sah kamu? kamu bohong sama aku mas!"


"Lyn, aku cuma nggak mau kamu salah paham. Aku minta maaf" mohon Valdo seraya memegang kedua tangan Velyn dan menciumnya.


__ADS_2