
Tinggal sedikit lagi tujuan Valdo akan tercapai, menemukan Lisa yang kini belum diketahui keberadaannya. Valdo yang memegang berkas dihadapannya menjadi sangat murka. Dilihat dari sikap Lisa yang meninggalkannya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
Fikiran Valdo menerawang, mengingat setiap peristiwa yang terjadi setelah dirinya sah menjadi suami Velyn. Kenapa waktunya tidak tepat? andaikan Lisa datang sebelum akad itu di mulai, pastilah Valdo akan membawanya untuk maju sebagai istrinya, bukan Velyn.
Suara ketukan pintu membuat pikiran Valdo tersadar, ia menatap pintu tersebut seraya mengernyit.
"Masuk!" perintahnya membuat seseorang yang kini berdiri dibalik pintu tersebut masuk dengan beberapa berkas yang ia bawa.
"Lo ngapain ke sini?! udah nggak punya muka lo ya! nggak bisa nemuin Lisa dan sekarang lo mau minta uang ke gue lagi!" tatapan Valdo tajam disertai dengan gertakannya membuat pria dihadapannya gemetar ketakutan.
"Bos, maaf tapi memang kami ada kendala. Tapi bos, ini ada surat dari nyonya sebelum kemarin dia mau datang buat nemuin bos" Valdo buru-buru bangkit dan menyerbu surat tersebut secepat kilat.
"Keluar sekarang! gue nggak mau lihat lo lagi sampek lo bisa nemuin dia!" ucap Valdo tegas membuat pria itu menunduk dan mengangguk lemah untuk kemudian berlalu pergi.
Valdo memijit pelipisnya, rasanya kepalanya benar-benar pening. Ia segera membuka surat tersebut, membacanya dengan seksama seraya mengernyitkan keningnya.
*Valdo dan Nino, adalah dua lelaki yang paling aku cintai. Selalu ada alasan kenapa semuanya terjadi, termasuk alasan yang melatarbelakangi aku bisa meninggalkan kalian. Maafin aku sayang, aku tau hari ini kamu menikah, itu sebabnya aku harus datang dan menghentikan pernikahan kamu.
Tapi ada satu hal yang membuat aku terlambat, itu semua karena ada orang dibelakang aku. Selama ini aku di ancam Do, aku nggak bisa deket-deket kamu lagi*.
Valdo meremas kertas itu kuat-kuat, amarahnya kini membuncah. Seolah putus asa dan bimbang ditengah-tengah samudra, hilang arah tanpa tujuan yang pasti. Sebenarnya siapa yang berani menyabotase kehidupannya? apa maksud dan tujuan orang dibalik hilangnya Lisa sampai Valdo begitu sulit untuk menemukannya.
***
__ADS_1
Malam semakin larut, bahkan Valdo juga belum pulang. Apa memang Valdo selalu begitu saat pekerjaannya menumpuk. Pikir Velyn yang kini tengah menggendong Nino yang tertidur pulas dipelukannya.
Kasihan sekali anak ini, Nino yang seharusnya dapat bermain bersama orangtuanya kini hanya bisa menghabiskan hari-harinya bersama baby sitter. Ingin sekali Velyn setiap saat ada untuknya, berperan sebagai ibu meskipun niatnya tidak akan pernah dihargai oleh suaminya.
Setelah dirasa Nino cukup nyaman dan tenang, kini Velyn mencoba untuk menidurkan pria kecil itu di ranjangnya, mengecup lembut kedua pipi serta keningnya sebelum Velyn benar-benar meninggalkan putra tirinya.
Valdo yang melihat pemandangan itu dari balik pintu hanya bisa tersenyum manis. Setidaknya Nino mempunyai ibu tiri yang begitu perhatian. Rasa bersalahnya kembali hadir kala Velyn menidurkan putranya dengan lembut, bagai putra kandung yang begitu ia sayangi.
Namun ketika Velyn bangkit dan hendak keluar, Valdo buru-buru pergi dan hendak memasuki kamarnya. Valdo membuka daun pintu dan menekannya kebawah, belum sempat ia melangkah, tiba-tiba saja Velyn keluar dari dalam kamar Nino seraya menyapanya.
"Baru pulang?" tanya Velyn seraya beralih menghampiri Valdo yang kini tengah memegang tas kerjanya. Velyn segera mengambil tas tersebut, namun ia urung kala Valdo tiba-tiba menjauhkannya dari jangkauan Velyn, membuat ekspresi gadis itu agak kecewa.
"Nggak perlu, aku bisa sendiri" kata Valdo seraya masuk tanpa senyum maupun ekspresi melegakan dalam dirinya. Jujur saja melihat hal itu membuat hati Velyn semakin sakit.
Velyn hanya bisa menghela nafas beratnya, seharusnya ia tak perlu repot-repot memperdulikan apa yang dilakukan Valdo. Karena memang dari awal hubungan mereka dilandaskan tanpa cinta, melainkan hanya sebuah secarik kertas yang membuat hati Velyn tambah ngilu dibuatnya.
***
Velyn mempersiapkan sarapan seperti biasa, ia memanggang roti dengan isian sayur dan daging. Namun kegiatannya pagi terhalang oleh karena kamar Valdo ternyata dikunci dari dalam, seolah tak ingin privasinya diganggu.
Velyn menata piring di atas meja, kali ini ia ingin cuti saja dari kampusnya. Sekaligus menghilangkan opini publik jika dirinya memang menikmati hari setelah menikah dan tak akan menyia-nyiakannya. Meskipun kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang ia rasa.
Velyn hanya ingin dirinya menemani Nino saja yang setiap hari kesepian tanpa perhatian. Miris saja melihatnya selalu memanggil papa dan mama saat tertidur dengan lelap. Meskipun yang Nino tau mamanya adalah Velyn, tapi tak apa, itu lebih baik daripada Nino mengetahui jika mama kandungnya pergi meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Suara hentakan kaki turun dari masing-masing anak tangga, menandakan jika suami Velyn kini sudah keluar dari kamarnya dan hendak bersiap untuk berangkat bekerja.
Velyn melemapr senyuman meski Valdo tidak memperhatikan. Ia tengah sibuk membawa beberapa berkas dan fokus pada ponsel di tangannya.
Valdo melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Velyn yang kini tampak kecewa karena Valdo berlalu begitu saja.
"Kak, nggak sarapan dulu?" tanya Velyn yang tampak menaikkan nada suaranya agar Valdo memperhatikan makanan diatas meja makan. Namun Valdo hanya menggeleng dan melanjutkan langkahnya.
"Kak, tunggu!" Valdo sama sekali tak menggubris apa yang Velyn katakan. Ia tengah buru-buru, Valdo masuk kedalam mobilnya. Ia menyalakan mobilnya seraya menancap gas, meninggalkan kediamannya.
"Kak Valdo!" teriakan Velyn menggema, ia membawa sekotak roti isi yang telah ia persiapkan dengan berlari, menyusul Valdo sampai halaman rumahnya. Namun nyatanya Valdo telah hilang berserta mobilnya dari rumah itu. Velyn menatap kotak ditangannya dengan tatapan nanar.
Rasanya hatinya hancur, matanya terlihat berkaca-kaca kala mengingat masakan dan usahanya tidak dihargai. Velyn mengusap air matanya, ia tak mau terlihat lemah. Ia harus ingat tujuannya kemari, ia hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik.
"Nyonya! den Nino nyonya!" teriakan dari Santi membuat Velyn membelalakkan matanya, ia berlari kearah sumber suara dimana Nino terdengar menangis histeris sambil memanggil 'mama'. Dada Velyn berdetak tak karuan, ia benar-benar takut jika Nino kenapa-kenapa.
"Ya ampun Nino sayang!" teriak Velyn saat Santi menggendong tubuh Nino dengan kepala anak itu yang berdarah.
"Nino kenapa Mbak Santi? kok bisa kaya gini?" tanya Velyn dengan suara sumbanganya yang lirih seraya ikut sedih melihat keadaan putranya.
"Tadi den Nino jatuh dari tangga nyonya, saya juga nggak tau, tiba-tiba den Nino udah terlentang disini nyonya" Velyn membulatkan matanya, ia mencoba untuk menenangkan Nino yang kini masih tampak menangis seraya memeluk leher Velyn dengan erat.
"Mama"
__ADS_1
"Iya nak mama disini, mbak Santi tolong panggil supir ya, kita cepet-cepet kerumah sakit"
"Iya nyonya"