Velyn Love

Velyn Love
Kepercayaan yang tak pernah ada


__ADS_3

Langkah kaki Velyn sedikit ia pelan kan kala mendapati suasana rumah yang amat sepi tanpa adanya penerangan yang memadai. Wanita itu kemudian mengendap-endap naik kelantai atas, tepat arah menuju kamarnya.


Terbesit pikiran akan kepulangan Valdo saat ia mulai membuka pintu kamarnya. Apa mungkin Valdo lupa? padahal pria itu yang membuat janji untuk sekedar kencan malam ini. Velyn menggeleng, ia kemudian segera menekan knop pintu dan meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Namun belum sempat ia menghela nafas lelah, tiba-tiba saja pandangannya dikejutkan oleh tatapan Valdo padanya yang seperti hendak memangsa makan malamnya.


"Mas"


"Darimana aja kamu?" pertanyaan itu seolah menghakimi diri Velyn bersamaan dengan tatapan tajam yang tak bersahabat dari suaminya. Velyn hanya menggeleng, padahal ia hendak marah setibanya dirumah. Ia yang harusnya meminta penjelasan pada suaminya kala pria itu tak menepati janjinya. Tapi semuanya seolah berbalik telak dengan sikap Valdo yang amat membuat bulu kuduk Velyn berdiri.


"Nggak dari mana-mana, aku pulang dari kantor"


"Bohong! aku liat kamu pulang bareng Adrian tadi, punya hubungan apa kamu sama dia?" sejenak nafas Velyn yang tadinya beraturan kini berubah menjadi nafas menderu dengan emosi yang semakin lama semakin memuncak. Jadi? Valdo mencurigai dirinya?. Velyn benar-benar tak habis fikir, ternyata seburuk itu dirinya dimata suaminya.


"Aku capek mas, aku mau istirahat" Velyn hendak melewati langkah Valdo, namun pria itu malah semakin menjadi. Valdo menarik lengan Velyn dan menghimpitnya ditembok hingga membuat tas yang berada ditangan Velyn terjatuh. Pria itu mencium istrinya dengan ******* kasar, hingga Velyn tak dapat bernafas karenanya.


"Mas, lepasin-"


"Enggak! sampai kamu kasih tau ngapain aja kamu sama Adrian ha?!" satu tangan Valdo menahan tubuh Velyn yang mencoba untuk memberontak, sedangkan satu tangannya lagi menurunkan resleting celananya dengan cepat, membuat mata Velyn membulat ketakutan dibuatnya.


"Itu bukan urusan kamu mas, lepasin" Velyn masih mencoba untuk memberontak dengan kakinya yang coba ia hentakkan beserta gerakannya yang menolak pada suaminya. Sedangkan Valdo, kini mencoba untuk menaikkan rok span yang dikenakan oleh Velyn, menurunkan celana dalamnya dan memasukinya dengan satu kali hentakan, membuat Velyn meringis. Ia mencengkram bahu Valdo kala tangan Valdo mulai melemah dan menautkannya di pinggang istrinya.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh ada hubungan sama laki-laki lain, apalagi Adrian. Aku nggak akan ngelepasin kamu gitu aja."


"Mas!" Valdo semakin mempercepat temponya, membuat Velyn memejamkan matanya erat-erat.


"Seharusnya aku yang marah mas, kamu ingkari janji kamu buat makan malam kita hari ini" Velyn mendorong tubuh Valdo, membuat pria itu menatap Velyn dengan pandangan bersalahnya.


"Lyn, aku-"


"Aku liat kamu keluar dari rumah sakit sama perempuan, aku nggak salah liat. Itu kamu kan mas!"


"Velyn" suara Valdo yang tadinya keras, kini mulai melemah, disertai dengan perasaannya yang campur aduk tak menentu. Bagaimana Velyn bisa tau keberadaannya di rumah sakit?.


"Kamu ngapain ke rumah sakit? kamu sakit apa?"


Kini Velyn sudah merasa muak, ia menaikkan celana dalamnya yang tadi sempat melorot akibat perbuatan suaminya. Kini matanya yang berkaca-kaca ia tahan untuk tidak ia lepaskan. Rasanya hatinya begitu ngilu oleh goresan belati yang tak terlihat dan menghunus hatinya saat ini. Velyn buru-buru melewati tubuh Valdo, ia masuk ke kamar mandi dengan tatapan matanya yang penuh kekecewaan.


***


tok tok tok

__ADS_1


"Masuk!" perintah Velyn yang kali ini mengecek beberapa tugasnya semalam.


"Lyn! gue mau curhat" suara manja itu membuat Velyn menoleh pada temannya, siapa lagi kalau bukan Cristyn. Gadis itu melangkah cepat dengan wajah khawatir saat melihat penampakan wajah Velyn yang begitu pucat. Velyn hanya menggeleng seraya meraih cangkir teh dihadapannya. Menyeruputnya dan menghiraukan tatapan Christyn yang semakin mendekat kearahnya.


"Lyn, lo kenapa? berantem ya sama pak Valdo?" tiba-tiba saja Velyn hendak menyemburkan teh yang berada didalam mulutnya. Ia begitu panik, dengan matanya yang mengerjab beberapa kali seraya menggeleng dan menatap berkas dihadapannya lagi.


"Ja-jangan ngaco lo, dia kan udah punya istri. Apa hubungannya sama gue?!" ujar Velyn dengan matanya yang menatap pada layar monitor dihadapannya serta perasaan gugup yang tak dapat disembunyikan dari Christyn.


"Gue tau kok, tiap jam makan siang lo pasti ke kantornya pak Valdo kan? jangan kira gue nggak tau deh. Ada hubungan apa lo sama pak Valdo? pakek acara bawain bekal lagi" kata Christyn yang membuat dada Velyn semakin berdegup dengan kencang semakin ia mendengarnya.


"Gue nggak pernah ngelakuin hal yang lo omongin barusan, nggak usah sok tau deh lo"


"Oke kalo lo nggak mau cerita, tapi gue pernah loh liat temen gue yang satu ini naik ke mobilnya pak Valdo, jalan bareng, sampek ngobrol-ngobrol akrab gitu" mata Velyn membulat mendengarnya. Ia menatap tajam Christyn membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan.


"Lo buntuti gue ya?!"


"Salah sendiri, tiap dicari selalu ngilang" ujar Christyn polos, membuat tatapan mata Velyn menajam pada temannya satu itu.


"Ngaku lo, ada hubungan apa sama pak Valdo? atau jangan-jangan?"

__ADS_1


"Jangan-jangan apa?!" suara Velyn meninggi dengan keringat membasahi keningnya. Wanita itu kini begitu gugup dengan tatapan penuh kecurigaan pada sahabatnya. Tamatlah hidup Velyn kali ini, ia tak bisa menghindar lagi. Semua yang terjadi telah dilihat oleh sahabatnya satu ini yang penuh dengan rasa ingin tahu. Jika saja Velyn tau dari awal, ia akan lebih berhati-hati lagi.


"Lo jadi selingkuhannya pak Valdo ya?!"


__ADS_2