Velyn Love

Velyn Love
Putus


__ADS_3

Gelap bercampur dingin, itu yang Andra rasakan saat ini. Andra menyandarkan punggungnya di mobilnya tepat didepan rumah besar yang kini masih sepi dan hanya tersisa lampu depan yang menyala.


Sudah tiga jam lamanya ia menanti kepulangan Velyn yang belum ada kabar sama sekali semenjak kemarin malam. Ia takut jika terjadi sesuatu padanya.


Entah apa yang dirasakan Andra saat ini, tapi ia berharap Velyn segera pulang dan menemuinya. Senyuman manis yang ia rindukan, dan bayangan haru yang gadis itu rasakan saat ia membuka lembar demi lembar buku tebal yang kini berada ditangannya.


Tak lama senyum Andra mengembang tiba-tiba mobil berwarna hitam kini berhenti tepat dihadapannya. Gadis dengan dress cantik yang menyelimuti tubuhnya kini turun menemui Andra.


"Velyn!" Velyn tersenyum kaku, ia buru-buru menutup pintu mobil yang mengantarkannya pulang. Namun Andra bisa melihat bahwa yang didalam tadi adalah seorang lelaki tampan dengan anak kecil yang duduk disampingnya.


"Kamu kemana aja? aku cari-cari kamu, hubungi kamu tapi kenapa ponsel kamu mati?"


"Mama! aku mau ikut mama" ujar seorang anak kecil yang kini tiba-tiba saja membuka jendela membuat Valdo yang didalam sana menarik paksa Nino dan menutup kaca mobil dengan cepat.


"Dia siapa Lyn?" Velyn masih terdiam, ia menunduk seraya menatap mobil dibelakangnya yang kini perlahan berjalan mundur hendak putar balik dan pergi begitu saja.


"Andra, kita putus ya?" pertanyaan itu bagaikan petir menyambar tubuh Andra yang kini mulai bergetar. Bahkan Velyn mengatakannya tanpa beban sedikitpun. Seolah itu adalah keinginan terdalam dihatinya.


"Kamu bercanda ya? kalau mau bercanda jangan kaya gini dong sayang" kata Andra yang kini terkekeh seraya hendak menyentuh pipi putih Velyn.

__ADS_1


"Kamu liat mata aku Ndra? apa aku keliatan bohong?!" hati Andra terjatuh dibuatnya, mata indah yang ia kagumi selama ini, mata indah yang menatapnya dengan keseriusan hatinya tidak mungkin mengkhianati dirinya. Meskipun mata Velyn mulai berkaca, tapi keyakinan dalam matanya tak bisa ditutupi.


Andra melepaskan kedua tangannya diwajah Velyn, ia mundur satu langkah dan tak sadar akan mobilnya yang kini menahan tubuhnya yang bergetar.


"Kenapa?! kita baru jalan dua hari Lyn? apa kamu nggak pernah mikir gimana perasaan aku?!" Velyn terdiam, ia harus menahan tangisnya saat ini. Meskipun ingin meneteskan air mata, tapi ia harus kuat.


"Aku mau nikah, tadi itu calon suami aku" tubuh Andra semakin bergetar dibuatnya. Lidahnya kelu, matanya mulai berkaca-kaca kali ini. Sudah beberapa tahun ia menunggu Velyn, dan kini dirinya harus menerima kenyataan pahit.


Andra masih tak percaya, ia mengacak rambutnya dan mengusap kasar rambutnya ke belakang.


"Aku butuh penjelasan! ikut aku sekarang" tangan Andra meraih lengan Velyn dan membawanya kedalam mobil. Pria itu menancap gasnya keluar dari perumahan untuk membawa Velyn pergi sebentar dari sana.


Andra tak perduli lagi, ia sudah jatuh cinta pada Velyn sedalam-dalamnya. Tak mungkin ia melepaskan Velyn begitu saja. Dibalik semua masalah, pasti akan ada penyelesaiannya termasuk hubungan Velyn dan juga Andra.


Andra menghentikan mobilnya, ditempat terakhir kali mereka berkencan malam-malam. Sebuah bukit dengan taman yang indah dan bintang bertaburan diatas sana, menjadi saksi penyatuan raga Velyn dan juga Andra sekaligus perpisahan diantara mereka.


Andra turun dari mobilnya, ia membanting pintu mobil dengan kasar seraya melangkah keluar. Tubuh Velyn bergetar dibuatnya, sedikit takut dan begitu hancur yang ia rasakan. Velyn menangkis air matanya segera dan ikut turun dari mobil Andra.


"Apa kamu nggak pernah tau gimana rasanya jika hati yang udah terbang tinggi lalu kamu jatuhkan?" tanya Andra dingin dengan pandangannya yang masih menatap pemandangan gelap dihadapannya. Seolah apa yang ia lihat adalah perasaannya yang paling dalam.

__ADS_1


"Aku minta maaf Andra" Velyn tertunduk lesu, ia menghela nafasnya seraya tak tahan meneteskan air mata.


"Aku butuh penjelasan" kata Andra dengan suara dinginnya seraya membalikkan tubuhnya menatap Velyn yang kini segera mengusap air mata diwajahnya. Velyn memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya. Terlihat matanya yang memerah bekas tangisan baru saja.


"Nggak ada yang perlu dijelasin, aku udah nemuin teman kecil aku dan kita udah dijodohin dari dulu"


"Tapi aku bisa lamar kamu Velyn, kalau perlu aku bakal nemuin orangtua kamu sekarang" bujuk Andra seraya memegang erat kedua lengan Velyn membuat gadis itu tetap kekeuh dan menggeleng.


Velyn mencoba untuk tenang kali ini, meskipun hatinya begitu hancur, pupus karena harapannya tak sesuai dengan keinginannya, namun ia harus rela. Melepaskan Andra dan menuruti apa kata orangtuanya.


"Udahlah Andra! nggak akan ada solusi maupun penjelasan, kamu harusnya tau dan ngerti! jangan maksa aku" Velyn menghempaskan tangan Andra. Mungkin ini yang terbaik bagi mereka. Lebih baik Andra pergi dengan membencinya daripada ia tau alasan sebenarnya dan masih mencoba untuk memperjuangkannya.


Velyn mencintai Andra, tapi semakin mencintai ia semakin ingin menjauhi dirinya. Mungkin alasannya tidak bisa ia ungkapkan namun berat bagi Velyn untuk mengingat.


Andra mengeratkan jemarinya, ia menarik nafasnya dalam-dalam seraya menarik tengkuk Velyn dan mencium lembut bibirnya. Velyn hanya diam saja, enggan membalas. Ia tak mau melawan karena sejujurnya ia juga bimbang. Biarkan saja ini menjadi kenangan terakhir setelah mereka berpisah.


"Aku cinta sama kamu Lyn, dari dulu sampai sekarang" bisik Andra membuat Velyn membulatkan matanya. Velyn semakin tidak mengerti apa yang dikatakan Andra, dulu? ia tak pernah mengingat Andra sebelumya. Ingin ia meminta penjelasan, namun enggan. Biar saja semua berlalu, dengan begitu semuanya akan berakhir dengan mudah.


Andra meninggalkan Velyn yang kini masih terdiam merenung. Pria itu menaiki mobilnya seraya menahan tangis yang ia rasakan. Andra memukul keras kemudinya seraya memukul kepalanya sendiri. Hatinya hancur begitu saja oleh orang yang ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2