
Mata Velyn terbuka sedikit demi sedikit setelah beberapa jam ia tak sadarkan diri. Gadis itu meringis seraya menggelengkan kepalanya. Jemarinya bergerak perlahan saat ia merasakan seseorang tengah tertidur disamping bangsalnya.
Velyn mengernyit, pria yang kini memakai kemeja rapi dan matanya yang terpejam itu membuat Velyn masih bertahan dengan seribu pertanyaan dibenaknya. Alis tebal dengan hidung yang bangir ini adalah suaminya. Lelaki tampan yang tidak ia sangka telah membuat hidupnya seperti di neraka ini tidak salah lagi adalah Valdo.
Namun ketika ia tertidur, raut wajahnya bukan lagi Valdo yang kejam. Tapi tatapan kelelahan dan kepasrahan yang tergambar seolah tidak berdaya.
Tiba-tiba saja Valdo menggeliat, membuat Velyn langsung mengalihkan pandangannya. Membuang muka seraya menyembunyikan wajahnya. Valdo kini telah sadar, ingatannya kembali kala dirinya terakhir kali mendapati Velyn yang pingsan namun kini sudah sadar dan seolah tak mau menatapnya.
"Velyn, kamu udah sadar? gimana keadaan kamu sekarang? kamu butuh apa? lapar? atau pengen minum?" tanya Valdo yang semakin khawatir dengan keadaan istrinya yang tengah terdiam tanpa kata seraya masih bertahan membuang muka.
Pikiran Velyn menerawang, mengingat setiap kali Valdo menyiksanya. Ada rasa ngilu dan sakit hati yang masih tersimpan dibenaknya. Tapi kenapa kini Valdo seolah berpura-pura semua terjadi karena kecelakaan saja? Velyn benar-benar semakin membenci suaminya ini. Meskipun kenyataannya ia tak boleh memiliki perasaan benci itu, tapi Valdo sendiri yang membuat hatinya jadi seperti ini.
"Lyn? kamu kenapa diem aja? ada yang sakit?" tanya Valdo sekali lagi membuat gadis itu melirik suaminya dengan tatapan nanar yang ia miliki selama ini.
"Ngapain kamu disini? bukannya kamu seneng kalau aku kaya gini. Atau bahkan kamu bakal bahagia kalau aku mati aja?"
"Kamu ini ngomong apa sih Lyn?! jangan asal ngomong kaya gitu, apalagi soal mati?!"
"Kenapa? kamu takut kalau aku mati dan kamu nggak bisa manfaatin aku lagi buat dapetin warisan papa kamu!" Velyn benar-benar murka kali ini, bahkan nafasnya kembang kempis akibat emosinya yang memuncak. Ingin ia tumpahkan saja segala rasa kesal yang ia rasa selama ini.
"Velyn, maafin aku, aku emang salah. Aku-"
__ADS_1
"Cukup kak Valdo! aku nggak butuh simpati kamu lagi!" teriak Velyn dengan lantang seraya menahan tangisnya yang kini hampir pecah.
Valdo mengacak rambutnya, ia menatap Velyn yang kini sudah memunggungi dirinya seraya terisak. Valdo hendak menyentuh punggung Velyn, punggung yang bergetar, yang Valdo yakini tengah menumpahkan rasa sedihnya saat ini.
Tangannya yang hendak menyentuh punggung gadis itu ia urungkan, berganti dengan dirinya yang kini beralih bangkit dan membiarkan Velyn menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Valdo duduk di ruang tunggu, ia merenung setiap kata yang Velyn ucapkan barusan. Tapi mengapa rasanya Valdo merasa bersalah? bukannya ini yang ia mau dari awal? membiarkan Velyn tersakiti hingga ia menyingkir sendiri. Namun setelah semua yang terjadi dirinya malah merasa bersalah dan hatinya ikut sakit.
***
Velyn memejamkan matanya erat-erat, ia buru-buru menghapus air matanya kala seorang dokter tiba-tiba masuk membuatnya terkejut karena ia pikir pria itu adalah suami suaminya.
"Kamu tenang saja, saya tidak akan memberitahukan soal penyakit kamu ke siapapun, termasuk suami kamu" kata dokter seraya memeriksa denyut nadi Velyn disusul dengan suster yang kini memeriksa tekanan darahnya membuat Velyn mengangguk lega.
Tidak satupun termasuk Valdo, meskipun pada kenyataannya jika ia mengetahuinya nanti Valdo tidak akan pernah perduli.
"Kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan sampai telat makan, rajin check up setiap bulan, dan jangan lupa mengikuti prosedur pengobatan" kata dokter menuturkan membuat Velyn hanya menyimak saja seraya mengangguk.
"Saya akan turuti apa yang dokter katakan, tapi tidak untuk pengobatan. Saya tau pengobatan hanyalah untuk memperpanjang usia, bukan untuk menyembuhkan penyakit saya. Saya tidak mau melawan takdir dok"
"Nyonya Velyn, selama kita masih bisa berusaha, pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hambanya. Tergantung kita mau bangkit atau tidak" Velyn meringis, ia tau semua dokter pasti akan mengatakan hal demikian untuk pasiennya. Namun tidak dengan apa yang Velyn ketahui.
__ADS_1
Cukup ia dan orang disekitarnya saja yang merasa sedih ketika ayahnya mengalami penyakit yang sama. Velyn tidak akan membiarkan satu orangpun tau dan merasa iba padanya.
"Permisi" Velyn membulatkan matanya kala Valdo tiba-tiba datang seraya membawa kotak bekal yang sudah terbungkus rapi ditangannya. Gadis itu buru-buru memalingkan wajah seraya menatap datar pada kekosongan dimatanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya Velyn" pamit dokter seraya pergi bersama dengan perawat yang menemaninya. Sedangkan Valdo kini melangkah mendekat, ia mulai tersenyum pada Velyn seraya menaruh kotak bekal yang ia bawa diatas meja.
Velyn masih enggan menatapnya, kali ini Velyn benar-benar muak pada Valdo. Senyuman itu jangan kira Velyn akan lupa, senyum kepura-puraan yang sering Valdo berikan pada Velyn saat sebelum mereka menikah.
"Makan dulu yuk, kamu pasti belum makan kan dari pagi?" tanya Valdo dengan kelembutannya membuat Velyn meringis seraya meliriknya sekilas.
Valdo kemudian membuka bekal yang sudah Santi siapkan tadi pagi, anggap saja ini sebagai permintaan maaf dari Valdo yang terdalam. Untunglah Velyn tidak apa-apa saat ini, bahkan ia sudah tidak memakai selang oksigen lagi dan malah duduk untuk menegakkan tubuhnya.
"Kakak nggak perlu pura-pura baik sama aku, apa kak Valdo lupa apa yang kamu lakuin selama ini sama aku itu udah keterlaluan?!"
"Aku minta maaf, aku akuin semua yang aku lakukan selama ini emang salah. Tapi please! kasih aku kesempatan buat memperbaiki ini semua."
Velyn kini memberanikan diri untuk menatap Valdo, matanya menyipit seraya tersenyum miring dengan apa yang dikatakan Valdo.
"Aku bahkan nggak bisa bedain mana ekspresi kamu yang tulus dan mana yang pura-pura."
Valdo meletakkan kotak bekal itu di atas meja, ia bangkit seraya menatap Velyn dengan pandangan amarah yang menakutkan. Namun Velyn sudah kebal dengan tatapan itu, bahkan tatapan kekejaman Valdo masih sangat ketara dipikirannya kala ia menyiksa Velyn dengan brutal dan tanpa perasaan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Lyn?! aku udah izin buat nggak kerja dan kesini cuma untuk di hina?! asal kamu tau Velyn! apapun yang aku katakan, aku nggak pernah sedikitpun pura-pura!" Valdo membalikkan tubuhnya, ia hendak melangkah untuk menjauh pada Velyn yang kini masih terlihat dahinya yang berkerut.
"Aku udah nggak bisa percaya sama kamu lagi kak Valdo, karena kamu yang buat aku kayak gini. Kamu yang dari awal ngehancurin kepercayaanku selama ini. Tapi aku nyesel sama kebodohan aku sendiri, kenapa aku nggak sadar dan masih mau jadi istri yang terbaik buat kamu kalau akhirnya aku cuma dimanfaatin aja!."