
43
"*Aku mau tau alasan papa culik Lisa, dan kenapa papa nggak ngerestui hubungan aku dengan dia?" pertanyaan itu sontak saja membuat Gaisan terkejut. Namun siapa sangka jika Valdo akan menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah jelas ia ketahui. Bahkan dulunya pria itu sampai menyumpahi papanya sendiri dengan kata-kata jahat. Rasanya Gaisan amat sakit hati mengingat apa yang dilakukan putranya di masa lalu. Dan sekarang semua yang ia miliki sudah menjadi miliknya, termasuk saham dan juga properti yang dimiliki Gaisan hasil jerih payahnya sendiri.
"Bukannya sudah tidak ada lagi ya yang akan menghalangi kalian bersama. Termasuk saya, jadi kamu hanya buang-buang waktu buat bertanya tentang itu"
"Aku tau, papa bukan orang yang seperti itu. Papa pasti punya alasan sendiri, dan aku mau tau alasan apa itu? apa papa mengetahui apa yang nggak aku tau?" Gaisan tersenyum sinis, bukannya pria satu itu tidak akan mau mendengarkan sepatah katapun dari apa yang ia katakan?. Tapi kenapa saat ini Valdo menjadi penasaran. Mungkinkah kebodohannya selama ini kian memudar dan otaknya dipakai sedikit untuk berpikir. Ingin sekali Gaisan memaki putranya yang tidak lagi berhubungan dengannya itu. Dulunya Valdo tidak pernah mau mendengarkan apa yang ia katakan tentang semua kebenaran, lelaki itu menutup mata dan tidak mau menoleh sedikit untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya sibuk dengan pekerjaan kantor agar bisa cepat mengendalikan perusahaan dibawah kakinya, dengan begitu Gaisan akan segera ditendang dan dengan mudah Valdo akan cepat menemukan ibu kandung Nino.
"Ngapain kamu minta saya buat ngomong?. Memangnya kamu bakal percaya kalau saya bilang yang aneh-aneh tentang istri kamu tercinta itu?" Valdo mengernyit, semakin papanya berkata demikian, semakin ia penasaran dengan apa yang terjadi. Apalagi sudah jelas jika Gaisan amat kecewa dengan sikap Valdo selama ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Papanya terlanjur sakit hati dengan perlakuan keterlaluan nya sampai saat ini.
"Aku bakal percaya selagi papa bilang yang sejujurnya"
"Dengar ya, seumur hidup saya, saya nggak pernah bohongi kamu. Buat apa saya bohongi orang yang nggak bisa dikasih tau, lagian apa untungnya buat saya"
"Kalau gitu, papa cerita ke aku. Dan mulai saat ini aku bakal percaya sama apa yang bakal papa bilang" Gaisan tersenyum sinis lagi, ia menatap Valdo dengan pandangan menyedihkan. Ternyata kehidupan dan harta yang ia miliki cuma sebatas ini. Sudah terlihat dari apa yang ia lakukan untuk datang kemari, pasti karena ia sudah mulai membuka matanya. Meskipun begitu sudah terlambat untuk mengembalikan segalanya. Kebahagiaan yang rusak akibat kebodohannya dan juga mantan istrinya yang amat tulus dan baik. Keluarganya pasti juga sudah mengetahui problematika dari Velyn. Kalau benar begitu pun, Gaisan akan sangat malu jika berhadapan dengan mereka kembali.
"Buat apa kamu ngomong kaya gitu? meskipun kamu bakal percaya sama omongan saya, kamu juga sudah terlambat. Kita bukan lagi keluarga. Yang kamu butuhkan cuma harta saya aja kan? ngapain kamu capek-capek datang kesini cuma buat hal yang nggak berguna kaya gitu" Gaisan beralih berdiri, ia sudah muak dengan semua drama yang diciptakan oleh putranya sendiri. Tujuannya memiliki rumah ini adalah hanya untuk memiliki ketenangan dalam batinnya, istirahat dalam pikirannya yang bergulat dengan hati kecilnya*.
"Pa, tunggu pa"
***
"Ada yang bisa aku bantuin?" suara pria yang tidak asing itu membuat Velyn yang semula mengemasi barang-barangnya kini terdiam sejenak dan menatap kakaknya dari balik pintu yang terbuka dengan senyuman yang penuh makna.
"Nggak perlu kok kak, ini juga udah selesai. Gimana kabar Kak Chalista? kok nggak diajak main?"
"Sejak kapan kamu perduli sama pacar aku? kamu kan selama ini selalu sibuk sama itu" ujar Rega seraya melangkah kearah ranjang Velyn dan duduk diatasnya. Ia menatap Velyn yang kini melotot kearahnya. Memang sih, sudah sangat lama sekali Velyn tidak kontak dengan pacar Rega satu itu. Pastinya karena kebodohannya yang selalu mengutamakan keluarga yang seharusnya tidak pernah ia harapkan. Rasanya Velyn menghabiskan hari dengan sia-sia saja mengingat masa lalunya.
"Apaan?! kak Rega tuh suka banget ngeledek aku ya?!"
"Makanya kalo dikasih tau itu jangan susah-susah. Firasat aku ini nggak pernah salah tau!" ujar Rega seraya terkekeh melihat ekspresi sebal dari adiknya satu itu. Memang perbincangan keduanya jarang sekali serius jika tidak tentang permasalahan yang terjadi. Tapi memang ada rasa sedikit kesal saat mengingat ia harus mengikhlaskan adiknya pada pria yang tidak bertanggungjawab seperti Valdo.
"Kalo bukan karena permintaan ayah, aku juga nggak bakal mau kali. Waktu itu kan, aku udah punya pacar juga. Ayah sama bunda aja nggak ngerestui" mata Rega membulat sempurna, ia menatap Velyn yang masih berkelit dengan barang-barangnya itu dengan tatapan tajam tak menyangka.
"What?! aku nggak salah denger nih? kamu bisa pacaran juga? sama siapa?" tanya Rega membuat Velyn menghentikan aktivitasnya dan menatap kakaknya satu itu seraya menelan ludahnya kasar. Pasalnya ia juga lupa akan status Andra yang merupakan sahabat dari kakaknya sendiri.
"Dosen aku sendiri, yang juga sahabat kakak. Andra" mata Rega semakin membulat dan menatap Velyn tidak percaya. Sedangkan Velyn masih terdiam menatap ekspresi kakaknya yang amat terkejut dengan apa yang Velyn katakan barusan.
"Seriously? It can't be Velyn, right?" Velyn menghela nafasnya dan menatap Rega lamat-lamat. Untuk apa lagi ditutupi, Toh memang benar Rega adalah mantan pacarnya. Itupun mungkin cukup mengejutkan bagi Rega, tapi mau bagaimana lagi? itu semua sudah menjadi masa lalu yang tidak akan pernah kembali lagi.
"Right" ujar Velyn seraya merapihkan bajunya kembali, namun tidak dengan Rega yang masih menatap Velyn dengan pandangan menelisik. Seolah mencari kebenaran akan kata-kata Velyn yang baru saja terucap dari mulutnya.
"Kenapa Ayah dan Bunda nggak ngerestui kamu sama Andra? Andra itu laki-laki baik Lyn. Aku udah kenal dia sejak lama"
"You are right, dan dia juga udah kenal aku sejak lama"
"Dia nggak pernah pacaran, tapi dia bilang mau nunggu cewek-"
"I know"
"Dan kamu cewek satu-satunya yang pernah pacaran sama dia" ujar Rega menatap Velyn yang menghela nafas seraya masih merapihkan beberapa bajunya dan melipatnya seperti sedia kala.
"I know too. I am the first " ujar Velyn seraya tidak perduli dengan tatapan Rega yang masih mencoba untuk berpikir keras. Pantas saja waktu itu Velyn dan Andra saling bersikap dingin satu sama lain. Meskipun ada yang aneh, tapi Rega hanya berfikir bahwa Velyn mungkin hanya sebatas malu dengan dosennya sendiri.
"What?! Jadi kamu-"
"Iya, cewek yang selalu diceritakan ke kakak itu aku. Tapi karena aku udah dijodohin aku mutusin dia. Aku yang udah buat dia patah hati, aku jahat kan kak? mungkin semua yang aku alami ini adalah buah karma dari apa yang aku lakuin ke Andra" ujar Velyn dengan matanya yang berkaca-kaca. Sedang Rega masih menatap wanita dihadapannya itu dengan tatapan tajam tak percaya, tak menyangka dan mungkin saja kecewa. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Rega saat itu, namun tampaknya pria itu sangat amat terkejut dengan kebenaran yang baru saja Velyn ungkapkan.
***
44
Velyn terdiam membisu, tatapannya masih melamun memandang kakaknya yang kini duduk didepan matanya seraya mengamatinya dengan jelas.
"Dor!" tawa Rega pecah saat Velyn terkejut akan gertakan dari Rega. Tubuhnya membumbung dengan ekspresi lengkap wajah kebingungan yang membuat tawa Rega semakin tak terkendali. Lamunannya pun buyar saat memikirkan apa yang urung ia katakan. Sudah gila jika Velyn mengatakan tentang Andra pada kakaknya. Bisa saja Rega akan marah pada bunda yang andil dalam ketidaksetujuan terhadap hubungannya dengan Andra dulu. Tidak mungkin Velyn akan mengatakan hal demikian yang membuat hati Rega tambah bingung dan emosi ketika mendengar apa yang sesungguhnya terjadi.
"Kakak apaan sih!" ujar kesal Velyn seraya mencubit perut Rega, pria yang tengah tertawa dihadapannya itu kini mengaduh kesakitan akibat perlakuan dari adiknya yang kini tengah kesal karena terkejut dengan suara kencang Rega.
"Ya habis, kamu ditanya gitu aja malah ngelamun. Emang siapa sih mantan kamu itu? bikin penasaran aja. Siapa yang bikin adik aku ini bisa move on dari pacar kecilnya" Velyn memutar bola matanya seraya melanjutkan menaruh beberapa bajunya kedalam lemari tanpa menghiraukan Rega yang masih tertawa terbahak akibat wajah lucu Velyn.
"Nggak penting siapa mantan aku, lagian itu juga udah berlalu. Kak Rega kalo nggak mau diem, ku sumpel pakek kolor aku ya!" ancam Velyn pada Rega yang kini mulai menghela nafas seraya menghentikan tawanya untuk menatap Velyn yang masih sibuk dengan urusannya itu. Meskipun begitu Velyn tidak terlihat sedih sama sekali, mungkin ia juga sudah melupakan luka lama yang terjadi karena ketidak sengajaan itu.
"Oh ya kak"
"Heum!" Velyn berdiri didepan lemarinya seraya menatap Rega dengan tatapan dingin. Masalahnya ia tidak ingin Rega mengulangi kesalahannya lagi, karena dengan terpaksa Velyn yang harus menanggung semuanya.
"Aku nggak lupa sama apa yang kakak lakuin ke Kak Valdo. Aku maafin kakak buat kejadian kemarin, tapi aku nggak mau tahu. Setelah aku kelarin masalah kakak itu, kakak jangan lagi nyakitin dia" ujar tegas Velyn membuat Rega menaikkan sebelah alisnya. Rega kemudian bangkit dan menatap adiknya yang masih sibuk mondar-mandir menata beberapa baju dan juga alat make-upnya untuk dibawa ke Amerika Minggu depan.
"Masalah apa yang udah kamu kelarin? kok kamu nggak bilang-bilang?"
"Aku yang ngurus prosedur pengobatan Kak Valdo, waktu kak Rega hajar habis dia kemarin. Jadi mulai sekarang kakak jangan lagi berurusan sama dia" ucap tegas Velyn seraya menutup resleting kopernya dan beralih menatap Rega dengan tatapan intens. Walau begitu di hati Rega masih saja tersimpan rasa tidak terima. Pasalnya, Valdo memang pantas mendapatkan hal itu, bahkan itupun belum cukup jika dibandingkan dengan penderitaan yang Velyn alami selama ini.
"Kenapa kamu nolongin dia Lyn?! dia itu udah punya istri kan? emang kamu nggak takut dipermalukan lagi? Lisa itu bukan sembarang perempuan, dia itu uler!"
"Aku nggak mau kakak terlibat sama hukum. Negara kita itu negara hukum kak, kalau kakak mukul orang kaya gitu dan keadaan dia fatal, emang kakak nggak mikir kedepannya kakak kaya gimana? kakak nggak takut kalau kakak bakal dituntut?"
"Tapi Lyn-"
__ADS_1
"Udah kak, stop!. Kalau kakak tanya aku masih peduli sama dia atau nggak, aku bakal jawab iya. Karena dia adalah ayah kandung dari anakku, sebatas itu. Udahlah, mulai detik ini, kita nggak perlu berurusan lagi sama mereka. Aku mohon kak" ujar Velyn seraya menarik kopernya dan menyisihkannya dibalik lemari membuat Rega menghela nafas. Wanita itu kemudian keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan tatapan Rega yang tidak suka dengan apa yang Velyn katakan. Valdo memang bodoh, sangat amat bodoh. Kalaupun laki-laki itu datang dan meminta bertemu adiknya, pasti Rega akan menjadi pengawal garis terdepan yang tidak akan mengizinkan pria itu mengusik kehidupan Velyn lagi.
***
Langkah Valdo memasuki rumahnya ketika wanita yang kini duduk disofa itu menunggu dirinya sedari tadi. Bagaimanapun, Lisa akan meminta maaf sekalipun Valdo mengabaikannya. Ini semua demi kemewahan dan juga fasilitas yang akan terima jika terus dengan pria itu.
Betapa bodohnya Lisa saat ia hendak berpaling dan memilih untuk mendapatkan Rega. Padahal lelaki itu adalah kakak kandung dari musuh terbesarnya sendiri. Meskipun Valdo bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pria itu, tapi setidaknya Valdo masih lebih bodoh untuk terus dimanfaatkan.
"Valdo? kamu dari mana aja?" tanya Lisa tiba-tiba membuat langkah Valdo yang tergesa kini berhenti seketika dan memutar kepalanya menatap Lisa dengan pandangan datar. Meskipun sikap Valdo sedikit dingin, namun itu tidak masalah bagi Lisa. Yang terpenting Valdo masih menganggapnya ada dan setidaknya akan memaafkannya cepat atau lambat.
"Dari rumah sakit, kontrol?"
"Kok nggak bilang-bilang sih, aku kan bisa nemenin Do. Aku kan istri kamu" Lisa melangkah mendekat membuat Valdo membalikkan tubuhnya dengan terpaksa dan menatap istrinya yang penuh senyuman itu. Meskipun begitu Valdo masih menatapnya dengan tanpa ekspresi sedikit pun.
"Mana Nino?" tanya Valdo seraya menatap sekeliling dan hendak mencegah Lisa agar tidak menyentuhnya. Valdo memang ingin menghindari wanita dihadapannya itu. Mungkin ia masih kecewa dengan sikap Lisa tadi pagi.
"Udah tidur"
"Oh" Valdo melangkah kembali, ia berjalan menuju kamarnya tanpa memperdulikan tatapan Lisa yang amat kesal. Namun tak cukup sampai disitu, wanita itupun segera bergerak untuk menyusul suaminya yang kini sudah menaiki anak tangga.
Bagaimanapun juga, Lisa takkan membuang kesempatan untuk mendekati Valdo lagi dsn berdamai dengannya. Mungkin saja jika Lisa dapat menggodanya, Valdo akan tertarik dan ia bisa mendapatkan kartu limitnya lagi, mengingat selama ini Lisa tidak pernah disentuhnya sama sekali.
Lisa segera menyusul Valdo yang kini masuk kedalam kamarnya, wanita itu kemudian segera membuka pintu dan mendapati Valdo yang tidak ada didalam sana, namun suara gemericik air membuat wanita itu yakin jika Valdo berada didalam sana. Mungkin ini memang kesempatan yang berharga bagi Velyn, syukur-syukur ia bisa hamil lagi dan bisa mengikat Valdo lebih erat.
Lisa segera mengganti bajunya dan menarik lingerie berwarna hitam dan segera dipakai olehnya. Wanita itu kemudian duduk di sisi ranjang dan menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Namun tak butuh waktu lama tiba-tiba Valdo keluar dengan memakai baju lengkap untuk tidur. Sejujurnya Lisa merasa kecewa, karena ia menganggap jika pria itu hanya melilitkan handuk pada pinggangnya atau sekedar memakai kimono. Tapi siapa sangka jika pikirannya bertolak belakang dengan kenyataan.
"Valdo-"
"Maaf ya Lis, aku masih capek. Badan aku juga belum pulih, dokter juga nyaranin buat jangan terlalu banyak aktivitas" ujar Valdo ketika Lisa hendak mendekat dan menyentuh tubuhnya. Valdo seperti tau akal Lisa, ia menghentikan langkah Lisa sebelum semakin mendekat kearahnya. Namun wajah Lisa segera tersenyum kembali dan menatap Valdo dengan ketenangan.
"Ya udah, nggak apa-apa kok. Tapi sebagai gantinya kita besok jalan bareng yuk sama Nino. Pumpung hari Minggu loh, yuk! kamu bisa kan?" Valdo mengangguk dan tersenyum tipis membuat hati Lisa begitu bahagia. Setidaknya respon Valdo cukup baik, daripada sebelumnya.
***
45
Saura bel pintu membuat gadis berambut panjang sebahu itu menghentikan gerakannya saat hendak meraih buah anggur dihadapannya. Ia kini mulai bangkit dan melangkah perlahan kearah pintu depan. Rumah besar itu terasa sepi sekali saat ia tinggali, pasalnya kedua orangtuanya selalu sibuk untuk bekerja kecuali dihari Minggu.
Ceklek
"Cari siapa ya?" tanya gadis itu pada sosok lelaki berkacamata menggunakan jas kantor dan menatap Christyn dengan seksama. Christyn menghela nafasnya, pasti dokumen papa ketinggalan lagi, padahal biasanya pak Hartono yang mengambilkan dokumen, tapi ini malah ganti orang. Pikir Christyn seraya berdecak dan memutar bola matanya malas.
"Oh, dokumen papa ketinggalan lagi. Sebentar ya, saya ambilkan dulu" ujar Christyn seraya membalikkan tubuhnya, namun lelaki itu segera menghentikannya dengan tangannya yang menyentuh pergelangan Christyn.
"Tu-tunggu!" Gadis itu pun menatap tajam pria itu membuat pria itu melepaskan lengan Christyn dan merasa canggung akan perbuatannya barusan.
"Maaf, saya nggak sengaja. Tapi, saya nggak kenal sama papa kamu. Saya kesini cuma mau bertanya, apa benar ini rumah Christyn Gabriela?"
"Ya?" Christyn menaikkan sebelah alisnya dan menatap pria itu dengan pandangan bertanya. Siapa lagi orang aneh yang datang kerumahnya siang bolong begini. Dilihat dari pakaiannya juga mungkin bukan bawahan papanya. Anak buah papa Christyn saja kalau datang ke rumah hanya memakai kemeja dan dasi biasa, tidak sampai heboh memakai jas segala.
"Ada apa cari adik saya? anda siapa dia?" kilah Christyn dengan waspada. Meskipun begitu ia setidaknya tidak bodoh-bodoh amat jika akan mendapat tipuan nantinya. Matanya menelisik setiap gerakan dan juga pandangannya yang mencurigakan. Awas saja kalau yang datang dihadapannya itu adalah seorang penipu, sebelum Christyn menjebloskannya kedalam penjara, ia akan membuat pria itu babak belur dengan tangannya sendiri.
"Perkenalkan nama saya Robert" kata pria itu mengayunkan jemarinya untuk memberikan salam perkenalan pada Christyn, namun gadis itu menelan ludahnya, enggan untuk menjabat tangan Robert. Christyn mengangguk dan menatap pria itu yang kini mengalihkan pandangannya dan mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam map yang ia bawa dari dalam jasnya.
"Boleh saya masuk dulu?, ada hal yang ingin saya tanyakan perihal dokumen ini pada anda" kata Robert menyerahkan selembar kertas itu pada gadis yang kini memperhatikan tulisan didepan matanya lamat-lamat. Mata Christyn membulat, ia menghela nafasnya seraya mengangguk pasrah dengan permintaan Robert padanya.
"Si, silahkan" pria itupun duduk dan menatap Christyn yang kini sudah memasang wajah pucat pasi.
"Anu-"
"Bik! Bik Lastri" teriak Christyn menghentikan kata Robert yang belum sempat terucap. Pasalnya ia juga harus memikirkan suatu cara untuk memberikan alasan pada pria dihadapannya kali ini untuk memberikan jawaban yang tidak mencurigakan.
"Iya Non"
"Tolong ya bikinin kopi, buat tamu" kata gadis itu menatap bibik yang hanya mengangguk seraya kembali kedalam dapur dengan berlari tergopoh-gopoh. Christyn menelan ludahnya kasar, ia menatap pria dihadapannya yang melihat dirinya dengan pandangan menelisik penuh kecurigaan.
"Jadi, apa anda tau kalau Christyn mengurus seluruh prosedur bos saya?"
"Maksudnya apa ya? adik saya itu selalu dirumah loh, dia nggak pernah kemanapun selain kuliah. Mana mungkin juga dia kenal sama atasan anda?"
"Tapi dokumen itu membuktikan bahwa Christyn Gabriela telah menandatangani surat rujukan sebagai sepupu atasan saya, juga membiayai pengobatan pak Valdo" Christyn menggigit jari, is juga bingung harus berkata apa. Gadis itu hanya mampu berkilah untuk saat ini. Ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa Valdo akan menyelidiki asal-usulnya. Untung saja Velyn tidak menyalin data KTPnya. Jika itu terjadi maka, pria dihadapannya itu pasti akan segera mengetahui bahwa Christyn yang sebenarnya adalah dirinya.
"Tapi-"
"Silahkan diminum" ujar Bik Lastri yang tiba-tiba membungkuk seraya menaruh kopi di hadapan Robert dan tersenyum pada pria itu.
"Terimakasih bik"
"Sama-sama, oh iya non Christyn nggak mau dibuatin sekalian?" mata Christyn dan Robert saling membulat akibat perkataan bik Lastri barusan. Apalagi Christyn yang kini hanya mampu menepuk pelan kepalanya seraya menatap tajam bik Lastri yang menampakkan wajah bingung polos dihadapannya.
"Saya salah ngomong ya non?"
"Bibik!" Velyn menatap tajam bik Marni yang masih tak mengerti dengan situasi macam apa yang terjadi. Padahal biasanya wanita setengah baya itu selalu menanyakan hal demikian jika ada tamu di rumah. Namun tumben sekali sikap Nonanya satu ini berbeda.
"Ada apa Nona Christyn?!" pertanyaan itu seperti petir menyambar disiang bolong bagi Christyn. Gagal sudah rencananya kali ini, ditambah lagi tatapan pria itu hanya diam seraya tersenyum padanya tanpa wajah berdosa sama sekali.
***
__ADS_1
Velyn meraih buah apel dihadapannya, ia mengupas sedikit demi sedikit buah apel berwarna merah dihadapannya. Tanpa memperdulikan Rega yang sedari tadi memperhatikannya semenjak makan malam dimulai. Keheningan itupun sudah dirasakan oleh Malia yang kini mengambil beberapa piring kotor untuk dibawa ke dapur.
"Bun, taruh aja di wastafel nanti Velyn yang cuci" ujar wanita itu seraya tak mengalihkan pandangannya dari apel dihadapannya.
"Masih marah ya sama aku?" tanya Rega tiba-tiba membuat mata Velyn melirik Rega yang kini seolah menatapnya dengan pandangan memohon. Kalau seperti itu, Velyn juga tidak tega akan bersikap dingin terus menerus pada kakaknya satu itu. Apalagi Rega melakukan itu semua kan semata-mata karena ia amat menyayangi Velyn.
"Aku nggak marah kok sama kak Rega, nih aku kupasin buat kakak" kata Velyn seraya menyerahkan apel yang bersih dari kulitnya pada pria dihadapannya satu itu. Rega tersenyum, kemudian ia meraih apel tersenyum dengan perasaan lega dari sebelumnya.
"Kenapa dari tadi diam aja kalo emang kamu nggak marah sama aku?"
"Nggak marah sih, cuma agak kesel aja hehe"
"Itu sama aja" Velyn terkekeh seraya meraih buah jeruk dihadapannya dan mengupasnya perlahan. Sebenarnya ia tadi ingin memakan apel yang baru saja ia kupas, tapi karena perkataan Rega, Velyn jadi memberikannya dengan percuma. Karena mengupas apel itu memakan waktu, Velyn memutuskan untuk mengambil jeruk saja sebagai makanan penutupnya.
"Heum, besok weekend yuk? bareng bunda sekalian" ajak Rega membuat Velyn menggeleng seraya mengunyah buah jeruk di mulutnya.
,"Nggak bisa, aku udah ada janji sama Christyn Dira. Lagian ya, kakak itu yang terlalu sibuk terus. Masa sih tiap hari kerja terus, pantes aja kak Mega sering curhat ke ak-"
"Dia curhat soal apa?" tanya Rega menyambar ucapan Velyn yang belum sempat ia selesaikan. Velyn memutar bola matanya malas menatap Rega yang bergerak cepat jika mendengar tentang pacarnya satu itu. Memang dasar laki-laki bucin!.
"Tuh kan, giliran ngomongin kak Mega aja langsung gercep"
"Ayo dong Lyn cerita" ujar Rega memohon membuat Velyn menghela nafasnya seraya menatap kakaknya dengan malas.
***
46
Velyn menatap pantulan dirinya didepan cermin, wanita itu menghela nafas seraya menyisir anak rambutnya yang kian menipis karena terlalu sering rontok selama penyakit kanker menggerogoti tubuhnya.
"Mau diapain juga pasti tetep keliatan kalo botak" hela nafas Velyn seraya berpikir keras dan menopang dagunya dengan sebelah tangan kanannya. Velyn kemudian ingat sesuatu, ia segera membuka laci meja riasnya seraya mengambil set kuncir rambut disana. Mungkin saja dengan digulung akan menutupi rambutnya yang sudah tidak utuh lagi.
Velyn membubuhkan sedikit lipstik berwarna pink dibibir pucatnya. Serta sedikit blush-on senada di pipinya dan eyeshadow berwarna gelap pada matanya. Jangan lupa poni yang selalu ia jaga selama ini. Velyn tersenyum, sudah janda saja tapi masih tetap cantik. Kalau saja setelah mati Velyn akan masuk kedalam novel romansa seperti novel yang sering ia baca, disana ia akan dilamar oleh seorang pangeran dan hidup bahagia. Mungkin Velyn akan memilih untuk cepat mati saja daripada hidup lama-lama. Sayangnya bayangan itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi. Velyn menghela nafas, ia meraih blouse berwarna putih yang tergantung dilemari dipadukan dengan celana panjang. Mungkin sedikit formal jika dilihat dari pakaiannya, namun semua itu ia lakukan karena ingin menutupi tubuh kurusnya.
Setelah berdandan rapi dan seadanya Velyn segera turun dan mengambil sepatu sneaker miliknya. Sebenarnya ia amat gerah dengan style yang dipakai olehnya. Tapi mau bagaimana lagi, tubuh kurusnya benar-benar sudah tidak bisa membantu bentuk ideal dari tubuhnya dulu.
Tin tin
"Arvelyna!" suara dari teman-teman Velyn dan mobil Dira membuat wanita itu buru-buru keluar dari rumahnya. Ia tersenyum pada kedua gadis yang kini membuka kaca jendela mobil. Velyn segera masuk dan berteriak pada bunda dan sang kakak yang berada di dalam rumah.
"Bunda! Kak Rega! Velyn berangkat dulu!" Velyn tak membuang waktu lagi, ia segera masuk kedalam mobil Dira dan bercikipa-cikipi ria bersama keduanya. Setelah berpeluk manja dengan Dira dan Christyn, mobil itu berjalan pelan keluar dari perumahan elit yang di huni oleh Velyn sekeluarga.
"Curang lo Lyn, liburan ke Amrik nggak nungguin kita libur semester" ujar Christyn yang kini menyenggol lengan Velyn dengan tatapan kesalnya, pun begitu dengan Dira yang melirik mereka berdua dari kaca spion diatasnya.
"Velyn itu mau cari suami bule, makanya dia liburan mendadak. Mana jauh banget lagi, jangan-jangan udah punya kenalan ya lo di sosmed?"
"Ya enggak lah, gue masih pengen sendiri dulu kali. Gila dong, belum ada tiga bulan mau nikah lagi, masa Iddah gue juga belum belum selesai" tukas Velyn seraya memanyunkan bibirnya pada kedua sahabatnya itu.
"Masa Iddah apaan? kok gue baru pertama denger ya?" tanya Christyn yang begitu polos. Memang tidak heran sih kalau dia tidak tau, karena Christyn adalah satu-satunya umat kristiani dri mereka berdua. Namun meskipun begitu tidak mengubah rasa solidaritas diantara keduanya untuk selalu berhubungan baik dan menjalin keakraban seperti saat ini.
"Masa Iddah itu dalam agama Islam masa yang nggak boleh nikah lagi setelah cerai selama tiga bulan" ujar Dira melirik Christyn yang kini manggut-manggut saja mendengar ucapannya.
"Btw gila ya, gue nggak nyangka lo bisa cerai diumur gue yang sekarang. Kalau bukan karena bokap gue, mungkin aja gue nikah sama mantan gue yang dulu. Cowok yang bener-bener sayang sama gue" ujar Velyn seraya menatap Christyn dan Dira secara bergantian. Meskipun Velyn mengatakan hal demikian itu dengan suara ceria dan ekspresi senyum seperti biasa. Tapi Dira dan Christyn tau, pasti didalam hatinya menyimpan luka yang begitu dalam.
"Lyn, belum tentu lo nikah sama cowok lo itu terus lo bisa berakhir bahagia. Mungkin Tuhan ngasih lo cobaan ini buat ngasih pelajaran buat lo dan orang-orang disekitar lo, kalau nikah itu nggak boleh dipandang sebelah mata. Harus saling mengenal satu sama lain dan saling percaya" ujar Christyn lembut membuat Velyn menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya dijok mobil dengan senyuman yang biasa ia tunjukkan.
"Gue tau kok, mungkin ini takdir terbaik buat gue. Kalo aja bokap gue masih hidup dan sehat-sehat aja, mungkin gue bakal marah karena pernikahan gue gagal. Suami gue sendiri bahkan bohongi gue, dia bilang dia single parent, tapi nyatanya dia masih beristri. Parahnya gue mau aja dikibulin, percaya sama omongannya yang bakal merjuangin gue. Nyatanya, dia malah ngehamilin istrinya itu. Dan lebih gilanya lagi, dia nggak pernah mau dengerin omongan gue sebelum nentuin keputusan" Velyn menghela nafasnya, hanya dengan mengeluarkan beban pikirannya pada kedua sahabatnya ia mampu sedikit menghibur hatinya yang tengah terluka. Terluka karena dipaksa menikah, menjadi tumbal akan keegoisan kedua orangtuanya. Tapi, yang pasti ia juga tidak bisa menyalahkan kedua orangtuanya sepenuhnya. Nyatanya dalam berumahtangga, Velyn sempat mempertahankan hubungan mereka dan mencintai Valdo.
Kedua sahabat Velyn hanya mampu saling menatap dan melirik Velyn yang kini berkaca-kaca akibat cerita yang ia alami selama ini. Bagaimana beratnya menjadi Velyn yang menyimpan isi hatinya sendiri.
"Yah, tapi apa yang dibilang Christyn emang bener. Semenjak gue cerai, gue bisa milih jalan hidup gue sendiri tanpa harus dikekang sama nyokap. Gue jadi serasa hidup bebas tanpa diatur lagi. Dan gue makin bahagia, karena ditengah gue terpuruk sedih kaya gini ada kalian berdua yang mau menopang gue apapun yang terjadi" ujar Velyn tersenyum pada kedua sahabatnya membuat Dira dan Christyn kembali tersenyum. Mereka berdua amat bersyukur karena merekalah alasan Velyn untuk bisa bangkit lagi. Itulah gunanya sahabat, menemani susah, duka dan lara. Ketika sahabat sakit mereka juga akan ikut sakit. Begitupun sebaliknya, ketika mendengar sahabat bahagia maka mereka akan ikut bahagia juga. Velyn meamhg trauma untuk menjalin hubungan persahabatan, karena dulu ia pernah dikecewakan. Tapi untuk sekarang, ia amat bersyukur karena kedua sahabatnya adalah buah hasil dari kesabarannya selama ini.
***
Wanita bersama seorang anak kecil yang ia gendong turun dari dalam mobil ketika mereka telah tiba disebuah mall. Hari ini Nino memang sengaja dibawa ke Timezone agar bisa bermain dengan teman-teman sebayanya. Valdo pun ikut turun saat setelah ia selesai memarkirkan mobilnya.
Melihat punggung bocah kecil itu membuat hati Valdo merasa bersalah. Meskipun masalah dalam keluarganya datang bertubi-tubi menghampiri, seharusnya Valdo tidak mengabaikan Nino seenaknya. Bahkan raut wajah bahagia Nino tidak pernah ia tunjukkan ketika perjalanan mereka menuju mall ini, berbeda dengan adanya Velyn dulu yang selalu menemani. Valdo menghela nafas, ia tidak ingin Nino mengalami kepahitan seperti apa yang ia lalui. Meskipun tidak bisa memberikan kebahagiaan setidaknya Valdo tidak memberikan penderitaan pada anaknya.
Selama ini bocah kecil itu sering dititipkan pada tempat penitipan anak oleh Lisa, bodohnya Valdo bahkan tidak perduli dan tidak mau tau. Tapi kini Valdo akan merubah segalanya, ia akan membahagiakan buah hati kecilnya dengan apa yang ia miliki saat ini.
"Sayang, kok bengong? masuk yuk!" ajak Lisa yang membalikkan tubuhnya menatap Valdo yang berdiri mematung menatap kedua ibu dan anak itu. Valdo mengangguk dan mengikuti langkah Lisa dari belakang. Sedikitpun tawa yang ditujukan Nino dulu tidak lagi tampak kali ini, hanya diam tanpa ekspresi sepanjang mereka melihat-lihat besarnya dan indahnya pemandangan mall sejauh mata memandang.
Setelah Nino masuk kedalam Timezone, kini Valdo dan Lisa duduk disebuah cafe mini tepat didepan Timezone tersebut seraya menatap Nino yang tengah bermain bersama teman-teman sebayanya.
"Makasih ya sayang kamu amu luangin waktu kamu buat aku dan Nino, aku kangen kita yang kaya gini" ujar Lisa seraya menatap Valdo yang masih diam dingin meliriknya seraya menghela nafas. Valdo memang belum bisa menerima Lisa seutuhnya, namun wanita itu sangat amat berharap jika dengan terbiasa maka akan menumbuhkan perasaannya yang dulu hanya untuknya kembali, kenapa tidak?. Asalkan Lisa masih bisa menikmati fasilitas mewah dan juga kebutuhannya sebagai wanita sosialita.
"Hem, iya"
"Oh ya, kamu mau pesan apa? nanti Nino bakal aku pesenin udang crispy kesukaannya, soalnya kata pengasuhnya Nino paling suka makan udang. Karena aku nggak suka udang, aku bakal pesan yang lain, kamu mau udang juga?" tanya Lisa pada pria yang kini mengangkat pandangannya seraya menelisik apa yang dikatakan Lisa barusan.
"Kamu lupa ya kalau aku alergi udang? aku kan cuma makan udang steril" ujar Valdo membuat mata Lisa terbelalak, ia langsung mengambil buku menu dihadapannya seraya mengalihkan pembicaraan.
"Ma-maaf, aku lupa"
Valdo sebenarnya alergi terhadap udang yang dijual diluar, tapi tidak dengan udang yang dimasak oleh Velyn. Udang khusus dengan harga melejit yang hidup di air tawar. Padahal seharusnya Lisa lebih tau apa kesukaan Valdo dan apa yang tidak bisa dimakan olehnya. Tapi meskipun begitu dulu Velyn selalu bertanya pada Santi, dan Velyn pun berharap agar Valdo dapat merasakan udang tanpa sesak nafas dan gatal-gatal karena alergi. Dan akhirnya Velyn pun mencari juga mereset apa yang harus ia berikan pada Valdo. Entah mengapa mengingat udang, membuat pria itu ingin sekali makan udang crispy buatan Velyn.
Padahal kedua orangtuanya tidak ada yang menyukai udang, tapi Nino begitu menyukai udang, dan dilihat dari gerak-gerik Lisa itu sangat mencurigakan.
__ADS_1
"Valdo? kok bengong lagi?"