
"Silahkan mbak, mas" ujar sang pria pemilik warung jalanan ini membuat keduanya melepaskan diri. Velyn tampak tersenyum ramah pada penjual itu, pria setengah baya yang melayani mereka dengan senang hati.
"Makasih ya pak" seru Velyn dibalas anggukan oleh pria itu. Kali ini Valdo gagal lagi, padahal tinggal sedikit lagi ia mengatakannya pada gadis dihadapannya itu.
"Kak, makan" tawar Velyn yang kini mulai mencuci tangannya menggunakan kobokan dihadapannya. Sambil tersenyum gadis itu mempersilakan Valdo yang masih terlihat ragu-ragu, namun alhasil melihat Velyn yang begitu lahapnya menyantap makanan dihadapannya Valdo jadi tertarik dan mulai ikut makan.
"Eh, berdoa dulu kak" Valdo menghentikan jemarinya yang hendak masuk menyuapi dirinya sendiri itu dan kemudian berdoa seperti apa yang diperintahkan Velyn. Baru pertamakali ini Valdo berdoa sebelum makan, dan itu semua karena gadis dihadapannya ini yang mengingatkannya.
Valdo masih terdiam dan terpaku menatap Velyn yang tersenyum seraya terus memasukkan makanannya kedalam mulutnya. Jujur saja, ini yang pertama kali ia lakukan saat makan, makan menggunakan tangan dan dipinggir jalan. Dan itu semua karena gadis dihadapannya ini, gadis sederhana yang selalu membuat Valdo senyum-senyum sendiri.
"Makan kak, jangan bengong" celetuk Velyn membuat Valdo akhirnya tersadar dan ikut makan saja. Suapan pertama Valdo merasakan hal yang berbeda, memang benar kata Velyn, sambal disini sangat enak dan pas sekali di lidahnya. Saking enaknya, kini Valdo mempercepat makannya, bahkan restoran lain kalah dengan makanan sederhana ini.
Valdo dengan cepat mengunyah makanannya dan menyuapkan dirinya nasi lagi. Begitu terus sampai Velyn tak tahan untuk tidak tertawa dibuatnya. Velyn tertawa renyah kala Valdo makan dengan lahapnya, seperti kesetanan saja.
Valdo menghentikan makannya dan menelan makanan didalam mulutnya yang masih tersisa.
"Enak kan kak?" tanya Velyn seraya masih tertawa renyah membuat Valdo terpaku menatapnya. Benar-benar cantik ketika tertawa, rasanya keindahan ini sangat sayang jika dilewatkan. Valdo mengambil ponselnya dan buru-buru mengambil foto Velyn tanpa permisi.
__ADS_1
Hal itu bahkan membuat Velyn sadar dan menatap pria itu tajam.
"Kak, kok di foto sih! hapus dong" bujuk Velyn yang kini tambah emosi saja kala Valdo menaruh ponselnya lagi kedalam saku celananya seraya tersenyum menang pada gadis dihadapannya yang semakin sebal itu.
"Jangan dong, kamu cantik kok kalo lagi ketawa, cocok jadi iklan pasta gigi" Velyn memanyunkan bibirnya. Benar-benar mengesalkan sekali pria dihadapannya ini. Kalau saja bukan tempat makan, ia pasti akan merebut ponsel itu dan menghapus fotonya segera.
Tapi Valdo menikmatinya, ia melanjutkan makannya tanpa dosa. Sedangkan Velyn masih mengerucut sebal seraya memakan daging bebek ditangannya yang hampir tinggal tulangnya saja.
"Ngeselin banget sih!" seru Velyn seraya memutar bola matanya.
Setelah selesai makan, kini keduanya berjalan-jalan sebentar dipinggir trotoar dengan Velyn yang berjalan didepan Valdo yang tengah masih terdiam seraya masih berfikir keras.
Bagaimana memulainya? bagaimana nanti respon Velyn ketika ia mendengar kenyataannya. Valdo benar-benar tak bisa berfikir jernih, pikirannya buntu bersamaan dengan wajahnya yang ditekuk sedemikian rupa.
"Kak, duduk disana yuk!" ajak Velyn yang kini menarik lengan Valdo mendekat kearah bangku panjang disisi trotoar. Valdo menurut saja, ia tersenyum tipis seraya menyembunyikan kegelisahannya yang dari tadi menggelora.
"Kak, tau nggak kenapa aku ajak kak Valdo makan di jalan yang panas tadi?" Valdo mengernyit, niatnya yang tadi hendak mengatakan sesuatu pada Velyn kini ia urungkan. Lebih baik nanti-nanti saja, dan kini sebaiknya ia fokus pada Velyn yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Kenapa?, karena murah?" Velyn menggeleng, ia menatap langit dihadapannya yang begitu cerah dengan warnanya yang biru bak menembus cakrawala.
"Itu karena ayah pernah bilang, kalaupun kita ada di atas, kita juga nggak boleh lupa nunduk buat liat yang dibawah. Karena orang-orang yang besar, berawal dari kehidupan orang-orang kecil seperti mereka" Valdo tersenyum, ternyata Rahardian adalah ayah yang begitu baik. Ia jadi mengingat Nino, segala yang Valdo ajarkan bahkan tidak pernah mengenalkannya pada sesuatu yang sederhana seperti Velyn. Sedangkan ia harusnya banyak belajar dari gadis disampingnya ini.
"Om Rahardian ayah yang baik ya, aku jadi iri" Velyn terkekeh, ia melirik Valdo yang kini tersenyum padanya.
"Kak, aku mau jujur, sebenarnya aku nggak mau dijodohin. Dari dulu aku nggak pernah memandang orang dari fisik maupun status, aku nggak perduli sama status kakak yang duda. Tapi aku berfikir buat nggak mau dijodohin karena aku punya pilihan ku sendiri" Velyn menatap Valdo dengan pandangan sendu. Walau bagaimanapun ia harus terbuka bukan? ia tak mau ada yang disembunyikan dari Valdo sebelum mereka menikah nanti.
"Tapi, aku mau dijodohin sama kakak karena semata-mata ayah. Umur ayah udah nggak lama lagi" mata Velyn berkaca, ia membuang muka kala suaranya yang semula normal kini menjadi semakin serak.
Mata Valdo ikut membulat dibuatnya, ia tertegun. Ternyata ini yang mendasari Velyn menerima perjodohan ini meskipun terpaksa. Ia bisa merasakan apa yang ada di hati Velyn, karena jika ia ada di posisi yang sama, pastinya Valdo akan melakukan hal demikian.
"Aku terima dengan ikhlas, tapi aku juga nggak mau menikah sama kakak karena aku terpaksa karena itu hal yang salah. Aku nggak tau gimana perasaan kak Valdo, tapi gimanapun kita nanti, aku cuma pengen berbakti sama kak Valdo sebagai suami aku. Dengan begitu papa pasti bisa hidup dan mati dengan tenang, aku pengen jadi istri yang berbakti agar ayah bisa ditempatkan ditempat yang paling indah nantinya" Velyn menunduk, ia menelan salivanya yang terasa berat. Entah mengapa rasanya perasaan yang ada dihatinya ingin ia tumpahkan saja pada pria dihadapannya ini.
Sedangkan Valdo, ia begitu terkejut mendengar apa yang Velyn katakan. Benar-benar putri yang berbakti pada orangtuanya. Valdo bahkan bercermin pada dirinya sendiri saat ia mulai durhaka pada papanya. Dan sekarang, ini balasan yang tepat untuknya. Perceraian ditengah keluarganya yang tanpa restu dari orang tua, sekaligus Lisa yang memang mengkhianatinya.
Valdo benar-benar bodoh, ia memeluk tubuh Velyn yang kini tampak masih lesu seraya menghapus jejak air matanya. Lewat Velyn, kini Valdo tersadar bagaimana besarnya jasa orang tua yang merawat dirinya seorang diri tanpa bantuan orang lain.
__ADS_1