
"Sekarang, kamu udah liat kan kalo aku sama istri aku udah bahagia. Aku harap kamu bisa ngerti Lis, aku nggak akan mungkin balik sama kamu lagi" pintu yang tertutup dengan adanya kepergian Velyn membuat air mata wanita yang kini bersembunyi di balik pintu itu menetes dengan deras.
"Tega banget kamu Do, kamu khianati aku. Kamu ingkari janji kamu yang pernah kamu buat. Apa kamu nggak mikirin gimana Nino?!"
"Maafin aku Lisa, tapi aku bener-bener nggak bisa. Aku mau mertahanin hubungan ku sama dia, aku cinta sama dia Lisa, bukan sama kamu" Lisa menghapus jejak air matanya dengan kasar sebelum ia memegang gagang pintu. Ia membalikkan tubuhnya seraya menatap Valdo yang kini tampak menghela nafasnya.
"Aku nggak bakalan nyerah, ini keluarga aku Valdo!. Maupun kamu atau Nino, aku nggak bakalan nyerahin kalian ke wanita itu!" Valdo hanya mampu memijit pelipisnya usai kepergian Lisa. Sejujurnya pikirannya tengah kacau akibat masalah yang terjadi. Semenjak Lisa gagal untuk bunuh diri beberapa kali dan sekarang wanita itu tetap kekeuh akan pendiriannya Valdo semakin sulit untuk berfikir.
Pria itu melirik laci dibawahnya dan membukanya perlahan. Ia membuka berkas dengan map berwarna hijau itu seraya menggeleng kasar. Pasalnya berkas itu adalah surat perceraian antara dirinya dengan Lisa. Tinggal ditanda tangani saja dan semuanya akan beres. Tapi tidak semudah itu, jika saja Lisa tidak menuntut hak asuh Nino maka dari awal pun Valdo akan menceraikan wanita itu.
"Maafin aku Lyn, aku harus selesaikan masalah ini, baru setelah itu aku bakal terbuka" gumamnya seraya mengusap kasar wajah tampannya sendiri.
***
Jam pulang sudah tiba, kini Velyn akhirnya mampu mengerjakan desain dari Adrian yang diberikan tadi pagi untuknya. Mengingat hari ini ia juga akan bertemu dengan dokter spesialisnya, maka Velyn tidak akan membuang waktu begitu lama.
"Wah, ada yang lagi seneng nih kayanya?" ujar Adrian yang tiba-tiba menyandarkan bokongnya di meja kerja Velyn seraya bersedekap dada.
"Apaan sih kamu, aku biasa aja kok"
"Yakin? nih?" Velyn menggeleng seraya menunduk menutupi wajahnya yang tengah malu mengingat apa yang Valdo lakukan dikantornya tadi.
"Udah, ngaku aja. Pasti udah baikan kan sama Valdo, makanya dari pagi senyum-senyum sendiri"
"Sotoy banget sih! dasar!" ujar Velyn seraya tersenyum dan bangkit untuk menepuk pundak Adrian dengan kesal. Melihat tingkah Velyn yang bersikap demikian pun membuat Adrian terkekeh. Ia mensejajarkan langkahnya dengan wanita yang kini tampak tersenyum kembali itu.
"Eh Lyn, kok aku ditinggal sih!"
"Bodo!" ucap Velyn seraya menjulurkan lidahnya membuat Adrian mengacak rambut Velyn dengan gemas.
__ADS_1
Tak disangka dari luar ruangan berkaca itu terlihat pria yang mengamati gerak-gerik mereka. Pria itu tampak tak suka dan memperlihatkan wajah garangnya mendapati Velyn dan Adrian yang terlihat begitu akrab.
Pria itu tidak lain dan tak bukan adalah Valdo. Siapa lagi yang dapat secemburu itu melihat hubungan istrinya dengan pria lain, ditambah niat Valdo yang awalnya ingin mengajak Velyn pulang bersama dan makan malam, pria itu semakin tidak mood saja. Sejak kapan Velyn mengenal Adrian hingga tampak akrab seperti itu. Sebelum mereka mendekat kearah pintu kaca Valdo berusaha untuk mendahului mereka dan membuka pintu itu dengan gerakan cepat. Sayangnya getar ponsel di saku celananya membuat pria itu berdecak kesal dan terpaksa menghentikan langkahnya.
"Hallo, apa?!" Valdo segera mematikan ponselnya sepihak, ia kemudian mengacak rambutnya seraya menatap kesal pada Adrian dan juga Velyn yang masih bertahan berbincang didalam sana tanpa mengetahui keberadaannya.
Niatnya untuk memergoki keduanya kini ia urungkan karena suatu hal. Valdo menggeleng dengan cepat seraya membalikkan tubuhnya. Ia buru-buru pergi dari sana dengan perasaan kacau.
"Syukurlah kalo kamu mau berobat. Aku dukung kamu kok Lyn, kamu sama Valdo berhak bahagia. Kalian sama-sama saling cinta, mulai sekarang nggak perlu lagi perjanjian kontrak itu"
"Aku juga mikir kaya gitu kok Yan. Aku sadar, selama ini aku emang bodoh, nyia-nyiain waktuku buat keegoisan ku sendiri. Mulai sekarang, aku bakal terbuka sama dia" Adrian tersenyum lega. Melihat Velyn bahagia dan mempunyai semangat baru seperti ini juga merupakan tujuannya.
Meskipun Adrian juga amat mencintai Velyn, tapi biarkan kebungkamannya dan juga niat tulusnya dapat ia pendam sendiri. Baginya, ini sudah cukup, asalkan Velyn bahagia Adrian pasti akan merasa bahagia juga.
"Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan Lyn, aku cuma bisa berdoa dalam setiap cemburuku. Meskipun aku nggak berhak buat nyimpen rasa ini, tapi aku nggak bisa memilih buat nggak memiliki perasaan sama seseorang, yaitu kamu Velyn."
"Ian, kok bengong. Kamu mikirin apa?" tanya Velyn setelah melihat pandangan Adrian yang begitu dalam terhadapnya.
"Nggak perlu Yan, aku pulang sama mas Valdo aja. Kebetulan dia juga mau ngajakin aku makan malam" guratan sedikit kecewa tergambar diwajah Adrian yang kini tampak menghapus kegalauannya dengan senyuman yang ia berikan pada Velyn.
"Oke, good luck ya!, aku duluan" ujar Adrian seraya melangkah mendahului Velyn yang kini tampak tersenyum dengan perasaan bahagia.
Velyn hanya mampu mengangguk, akhirnya momen yang ia tunggu akan terjadi juga. Dimana Velyn akan memutuskan hal besar dalam hidupnya. Keputusan yang sangat ia dambakan untuk memiliki suatu keluarga yang utuh dan bahagia. Meskipun hati Velyn sempat ragu, tapi ia sudah meyakinkan diri.
Sudah sekitar setengah jam Velyn menunggu, ia berdiri didepan kantor dengan perasaan gelisah dalam hatinya. Pasalnya Valdo tidak bilang jika ia akan lembur, namun anehnya keberadaannya tak kunjung terlihat sampai saat ini. Velyn menggigit bibir bawahnya, ia menatap langit senja yang hampir hanya tersisa kilauan jingga disana.
Berulangkali Velyn mencoba untuk menelfon dan mengirimkan pesan, namun hasilnya nihil. Velyn memejamkan matanya erat-erat, ia menghela nafasnya seraya tetap berfikir positif.
"Apa mas Valdo udah pulang ya?" gumam Velyn seraya menggeleng dan menggenggam jemarinya erat-erat.
__ADS_1
Hanya satu jalan agar ia tau Valdo masih berada di gedung ini atau tidak, dan itu dengan cara melihat basemen untuk mengetahui keberadaan mobilnya.
Akhirnya Velyn memutuskan untuk berjalan menuju basemen, terlihat seorang security tengah sibuk mengunci ruang basemen itu dengan gembok besar yang berada ditangannya.
"Pak, maaf-" terlihat wajah security itu terlihat terkejut melihat keberadaan Velyn yang berada disini sendirian.
"Loh, mbak belum pulang?" pasalnya ini adalah malam minggu, tidak ada lemburan dihari sabtu. Pria paruh baya itu kemudian melirik arlojinya dan menatap Velyn lagi yang tampak masih terdiam dengan beribu pertanyaan dikepalanya.
"Ini malam minggu, nggak ada lemburan lagi. Di dalam juga nggak ada mobil atau motor, mau nungguin siapa?" Velyn tersentak, security itu seolah tau apa yang dipikirkan Velyn saat ini. Terlebih lagi Velyn semakin tidak menyangka jika hari ini memang tidak ada lemburan sama sekali.
Padahal tadi Valdo sendiri yang mengajaknya makan malam, tapi sepertinya tidak ada yang bisa diharapkan. Sejujurnya Velyn kecewa, tapi mungkin ada sesuatu perihal pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi, mengingat hari-hari ini suaminya itu terlihat sangat sibuk sekali.
"Em, mungkin teman saya memang lupa buat janjian. Kalo gitu saya permisi dulu pak, terimakasih" ujar Velyn seraya tersenyum dengan paksa dan melangkah pergi dari tempat itu. Pak security hanya mampu menggeleng seraya berdecak. Sudah jam segini ternyata masih saja ada salah satu staf yang belum pulang.
***
Velyn berjalan dengan langkah gontai, ia beberapakali menendang kerikil yang menghalangi jalannya. Tidak etis rasanya jika ia nanti tiba-tiba marah pada suaminya, padahal mereka baru saja berbaikan.
Velyn menghela nafasnya, ia berhenti disebuah trotoar. Wanita itu mendaratkan bokongnya dikursi panjang, tempat dimana muda-mudi menghabiskan malam mingguannya ditempat sederhana ini. Duduk seraya bercengkrama, kebahagiaan sederhana namun mampu membuat hati siapa saja merasa bahagia. Kecuali Velyn, yang duduk sendiri tanpa tujuan yang pasti.
"Hey, ngapain kamu sendirian disini? Valdo mana?" tanya seorang pria yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Hal itu membuat Velyn menggeleng seraya mengusap wajahnya.
"Mas, mas Valdo tadi ada pekerjaan penting, jadi dia-"
"Sebagai pimpinan perusahaan Valdo memang dituntut buat sibuk, aku pikir kamu udah biasa" ujar Adrian seraya duduk bersebelahan dengan Velyn yang kali ini hanya mampu menunduk. Sejujurnya Adrian tadi sudah mengetahui jika mobil Valdo sudah tidak terparkir lagi di basemen. Ia memang sengaja menunggu Velyn untuk keluar dari kantor dan menghampirinya. Apalagi di jam seperti ini sangat rawan terjadi kriminalitas di tempat ini. Setidaknya Adrian bisa mengawasi wanita ini sampai ia menaiki kendaraan umum. Tapi tak disangkanya, Velyn malah duduk disini dengan wajah murungnya.
"Iya, aku udah biasa kok. Nggak apa-apa, aku ngerti sama kesibukan dia" Adrian mengangguk seraya menghembuskan nafas beratnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa tau kalau aku ada disini? bukannya kamu sejam yang lalu udah keluar dari kantor ya?" Adrian membulatkan matanya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik Velyn yang terlihat masih menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
"Aku-aku, aku tadi nongkrong sebentar sambil makan didepan cafe kantor. Eh nggak taunya pas mau balik liat kamu duduk sendirian disini" Velyn hanya ber 'oh' ria seraya manggut-manggut saja.