Velyn Love

Velyn Love
Runtuh


__ADS_3

1


"Buat apa lo dateng ke sini?! pergi lo?!" ujar pria yang kini menghempaskan lengan Valdo yang tengah memohon padanya. Meskipun Valdo belum sempat mengutarakan apa maksudnya, namun Adrian juga tak mau memberikan bantuan meskipun ia mampu untuk mengatasi hal besar sekalipun yang Valdo minta. Bagi Adrian ia sudah cukup murka dan sabar dengan perlakuan Valdo selama ini. Tapi apa yang ia dapatkan? hari dimana sahabatnya itu mengkhianati janji yang dibuatnya sendiri.


"Yan gue mohon Yan, sekali aja bantuin gue-"


"Mau lo sujud-sujud, nyembah kaki gue kek, gue nggak bakalan mau bantuin lo bego!" ujar Adrian


kasar seraya mengusir Valdo dari kediamannya. Meskipun begitu Valdo tidak menyerah sedikit pun. Adrian yang hendak melangkah menjauh dan masuk kedalam rumah kini dihentikan olehnya.


"Ini tentang Velyn" ujar Valdo membuat langkah Adrian terhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Valdo yang menatap tajam matanya.


***


Senyuman terpancar di wajah gadis yang kini mengelus puncak kepala pria yang tengah tertidur di pangkuannya. Rega menatap Mega yang kini terlihat sedikit cemas dibalik senyumannya yang tak berarti. Jemari Mega disentuhnya dengan lembut lalu diciumnya dengan rasa hangat.


"Nggak apa-apa kok Ga kalau kamu mau ke Amerika, aku di sini baik-baik aja"


"Tapi, selama ini aku selalu ninggalin kamu" Mega menghela nafas beratnya. Sejujurnya ia sendiri keberatan ketika Rega selalu meninggalkannya, tak banyak waktu yang bisa mereka lakukan ketika bertemu karena tugas-tugas yang di emban oleh Rega tidak mudah. Tapi itu adalah resiko sebagai kekasihnya, Mega selalu membiasakan diri dengan hal itu.


"Tuh kan? ekspresi kamu aja kaya gitu, gimana aku tega ninggalin kamu?" ujar Rega membuat Mega , menatap kekasihnya itu dengan pandangan rasa bersalahnya. Kalau saja dulu ia tidak menerima cinta dari Rega


mungkin saja Rega pasti akan fokus untuk bekerja, dan mungkin saja pikirannya tak mudah untuk terbagi.


"Eh, mana ada. Aku cuma mikirin kerjaan aku yang belum kelar tadi" ujar Mega mengalihkan topik agar Rega tidak terbebani dengan pikirannya yang kacau tak terarah. Saat ini mereka memang berada di kantor tepatnya diruang istirahat Rega yang biasanya mereka pakai untuk berpacaran seperti saat ini ketika istirahat makan siang datang.


"Kamu itu nggak pinter bohong tau. Bilang sama aku, kamu pasti terbebani kan sama kegiatan aku yang nggak ada habisnya?. Mulai dari aku lulus SMA sampai sekarang aku selalu ngecewain kamu-"


"Gimana kalau kita putus"


"Apa!!!" sontak saja Rega terbangun dari tubuhnya yang terbaring dipangkuan Mega yang kini terdiam tanpa kata setelah mengatakan hal itu dengan mudah. Bahkan sampai saat ini Rega saja tidak pernah berpikir untuk hal sejauh itu, tapi Mega sempat-sempatnya berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Kamu ini ngomong apa sih Mey, kamu jangan bercanda deh. Nggak lucu!"


"Aku nggak bercanda Rega, aku serius. Aku cuma nggak pengen pikiran kamu terbagi, sedangkan masalah Velyn itu lebih penting, pekerjaan kamu juga. Sedangkan aku? aku cuma penghambat pikiran kamu buat maju" ucap tegas Mega membuat Rega terdiam dan mengusap kasar wajahnya. Ia tak pernah berpikir masalah percintaannya akan berakhir seperti ini. Bahkan ia sudah sabar selama ini untuk tidak berjumpa dengan Mega, tapi permintaan Mega tadi membuat pikiran Rega semakin frustasi.


"Mey, ini kan cuma masalah waktu, setelah semuanya selesai kita pasti bakal banyak waktu buat sama-sama. Kamu kan udah janji bakal sabar tiap kali kalau aku ada urusan. Terus kenapa kamu malah minta putus kaya gini?"


"Sampai kapan Ga? aku sabar loh, aku selalu sabar bahkan untuk hal kaya gini aku pun sabar. Aku juga nggak mempermasalahkan urusan dan pekerjaan kamu. Tapi kamu pasti juga nggak bakalan bisa konsentrasi kalau bagi pikiran kamu sama aku" Rega masih terdiam mendengar pernyataan dari Mega. Sebenarnya Mega sendiri tidak ingin seperti ini. Sekuat apapun ia bertahan, dan menunggu tapi ia tidak ingin membuat Rega terganggu. Apalagi di dalam hati Rega ia masih tidak berpikir untuk menikahinya. Hal itu membuat Mega bertanya-tanya.


"Ga, aku bukannya lelah. Aku sama sekali nggak keberatan sama posisi kamu saat ini, tapi kalau kamu tetep mikirin aku disaat kamu sedang sibuk-sibuknya, pekerjaan kamu juga pasti nggak maksimal-"


"Terus kamu maunya apa Mey?! kamu nggak sayang lagi sama aku? kamu mau putus?" Mega terdiam sejenak, sedikitpun Rega tidak pernah mengatakan ingin menikahinya, dulu sampai sekarang. Bagaimana Mega tidak gelisah, sedang Rega kesana kemari bertemu orang banyak, bagaimana ia tidak khawatir. Lambat laun dengan adanya perpisahan, pastinya juga diimbangi dengan perasaan yang semakin lama semakin memudar jika tidak ada tekad di dalam hubungan tersebut. Maka dari itu, sebelum Mega kehilangan Rega, ia tidak ingin menyesal karena telah menaruh hati begitu dalam padanya.


"Iya Ga, kalau kita putus, urusan kamu pasti bakal cepat selesai. Pikiran kamu juga nggak bakal terbagi sama perasaan rindu ke aku. Kamu juga nggak perlu cepat-cepat buat ngurusin pekerjaan kamu yang belum kelar, karena nggak akan ada lagi yang bakal nunggu kamu pulang"


"Kalau itu yang kamu mau, oke. Kita putus mulai dari sekarang" mata Mega membulat mendengarnya, namun sedetik kemudian mata mereka bertemu saat Rega sepertinya yakin akan perkataan yang ia ucapkan barusan. Mega menghela nafas, ia tersenyum dan bangkit. Mungkin ini keputusan yang terbaik, toh Rega juga tidak bermaksud serius padanya selama menjalin hubungan ini.


"Kalau begitu, saya permisi dulu pak" ujar Mega seraya berlalu dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Rega yang duduk termenung seraya menghela nafas panjangnya.


Mega yang kini telah berada diluar pintu itu memegang erat-erat kerah bajunya. Sesak, mungkin ini yang ia rasakan ketika Rega meninggalkannya lagi dan lagi, tapi perasaan itu lebih sakit daripada sebelumnya. Mungkin karena Rega kini meninggalkannya untuk seterusnya bukan sementara. Harapan Mega juga sia-sia karena ia awalnya berharap bahwa Rega kan menyatakan keseriusannya dan akan segera menghalalkannya setelah semuanya berakhir. Tapi nyatanya, Rega sama sekali tidak pernah menganggap serius dirinya.


Sayang, mana mungkin Mega tidak menyayangi Rega. Bahkan dia amat mencintai pria yang bertahun-tahun menjadi penyemangatnya itu, kedua keluarga sudah saling mengenal, namun tidak ada pernyataan ketika Rega hendak mempersuntingnya di kemudian hari.


***


Beberapa baju dan juga persiapan telah selesai, kini Rega tinggal memasukkannya kedalam koper besar miliknya. Ia juga meraih tiket pesawat untuk diletakkan di tas kecil miliknya, juga paspor, dompet serta berkas-berkas penting lainnya. Pria itu menghela nafas saat setelah semuanya beres.


Namun ada satu hal yang membuat hati Rega terganggu mengingat hal siang tadi. Apakah pilihannya tepat untuk memutuskan Mega?, ia sendiri kini merasa kesepian. Ponsel yang biasanya berdering, entah telepon atau pesan chat yang menanyakan kabarnya seolah hilang begitu saja. Sejujurnya Rega tidak ingin putus dengan gadis itu, ia masih sangat mencintai Mega. Tapi ia juga tidak mau memaksakan kehendaknya, Rega sadar kalau sedari awal kesibukannya menyita waktu mereka berdua hingga membuat Nega tidak nyaman. Tapi, entah mengapa masih ada rasa mengganjal yang mengganggu pikirannya.


"Kalau kita putus, urusan kamu pasti bakal cepat selesai. Pikiran kamu juga nggak bakal terbagi sama perasaan rindu ke aku. Kamu juga nggak perlu cepat-cepat buat ngurusin pekerjaan kamu yang belum kelar, karena nggak akan ada lagi yang bakal nunggu kamu pulang"


"Tapi aku pengen ditunggu sama kamu Mey, aku pengen kamu jemput aku kaya biasa, meluk aku sampai bandara dan hibur aku disaat aku lagi butuh sandaran" mungkin gumaman itu tak dapat didengar oleh Mega, tapi setidaknya Rega ingin mengatakannya walaupun hatinya tengah kosong saat ini.


Rega sadar kalau ia tidak bisa hidup tanpa gadis itu, bahkan ia sudah berjanji kalau semuanya sudah selesai, ia pasti juga tidak akan kemana-mana, ia akan menetap di Indonesia dan bekerja sebagai pengganti ayahnya. Selama ini Mega selalu setia padanya, ia tidak pernah menuntut ini dan itu, ia selalu ada saat Rega membutuhkan sandaran. Rega menghela nafasnya, ia kemudian meraih ponsel untuk menelfon seseorang.


"Halo, lo dimana?"


***


Rega melipat kedua lengannya dibawah dada bidangnya. Siapapun pasti tau jika pria satu tengah berpikir keras saat ini, ia menatap pria yang kini duduk seraya menyesap kopi dihadapannya dengan tenang. Rega menghela nafas beberapa kali, bermaksud memberi kode pada pria yang kini duduk santai tanpa tau perasaannya yang tengah gelisah.


"Jadi, lo ngapain ngajak gue ketemu gini?" tanya Andra dengan tersenyum getir seolah tau apa yang hendak di utarakan oleh pria satu itu. Dengan wajah lesu, pandangan yang kosong ketika ia mulai menghela nafas, bisa disimpulkan jika Rega mengalami problematika percintaan.


Meskipun Andra sendiri kurang paham karena mereka jarang sekali bertemu, namun Andra sendiri amat tau situasi dan kondisi Rega. Siapa yang tidak tau jika Rega memiliki kekasih yang setia padanya, kekasih pertama dan bisa dibilang terakhir jika mengingat usia Rega yang sudah matang untuk membina rumah tangga.


"Gue putus sama Mega" sontak saja Andra yang baru saja menyesap kopinya kini menyemburkannya di meja bundar tepat dihadapannya, hak itu membuat semua orang terkejut termasuk Rega yang kini menatap jijik pria satu itu.


"Ih apaan sih lo?! jijik tau" ketus Rega membuat Andra segera meraih tisu dan mengelap bibirnya yang baru saja menyemburkan kopi.


"Sorry, gue kaget woy! lo beneran putus sama si Mega? kok bisa?" jelas saja sulit mempercayai hal yang kemungkinan tidak akan pernah terjadi. Mau Rega ataupun Andra mereka sama-sama tau jika Mega sangat mencintai pria satu itu. Pria tampan, mapan dan baik hati. Bodoh kalau Mega melepaskan pria sesempurna Rega.


"Nggak tau, gue jadi males bahas"


"Jangan-jangan lo selingkuh ya? atau Mega yang selingkuh? atau-"


"Bisa diem nggak? kata-kata lo ngawur semua deh"


"Ya terus apa dong? masa putus gitu aja? atau jangan-jangan si Mega juga dijodohin sama kaya gue waktu pacaran sama Velyn dulu"


"Enak aja lo, orangtuanya si Mega welcome kok sama gue. Gue aja di kasih lampu ijo"


"Makanya cerita, aneh aja kalau lo tiba-tiba putus gitu" Rega pun menghela nafas, sebenarnya ia juga ragu untuk bercerita atau tidak pada sahabatnya satu itu. Tapi mengingat tujuannya datang kemari adalah untuk curhat, pria itu terpaksa membuka mulut.


Dan pastinya Andra pun tak berhenti menganga mendengar cerita dari sahabatnya yang kini setengah malas untuk mengutarakan kisah putusnya hubungan dirinya dengan Mega yang amat konyol itu.


Mungkin sepertinya dibalik cerita Rega mengandung beberapa kunci kata yang membuat hal tersebut bisa masuk di akal. Apalagi tidak mungkin Mega memutuskan hubungan mereka sepihak hanya karena Rega terlalu repot mengurusi hal kerja dan keluarganya. Setidaknya itu hal yang wajar untuk di pahami. Andra menyesap kopinya lagi dan lagi ketika ia selesai mendengar keluh kesah dari sahabatnya. Kalau Andra menjadi Rega mungkin saja ia juga bingung harus mengatasi masalah itu bagaimana. Dan salah Rega sendiri terlalu spontan memberikan jawaban, bisa jadi kalau Mega hanya mengetes seberapa lelahnya Rega berhubungan dengannya.


"Lo yakin lo nggak salah ngomong kan ke dia?"


"Lo gila ya?! mana gue berani ngomong yang macem-macem sama cewek gue sendiri"


"Bener juga sih omongan lo, tapi kayanya ada yang aneh deh. Tapi apa ya?" Rega hanya mengangkat bahunya acuh. Meskipun Andra tau sejujurnya Rega sendiri pasti berpikir keras akan masalah yang terjadi dan terselip dan hal yang salah dari Mega, tapi sejujurnya ia tidak pernah menyadari apapun jika Mega tidak mengatakannya duluan.


"Masa lo nggak peka sih sama perasaan cewek lo sendiri?"


"Tapi lo serius kan sama dia?"


"Ya serius lah Ndra, masa iya gue cuma main-main doang"


"Gue tau, maksud gue serius ke dia. Lo niat kan buat bawa hubungan kalian lebih jauh lagi?" Rega menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Andra dengan seksama seolah tak mengerti dengan arah pembicaraannya. Memang Rega tidak main-main dengan Mega, ia juga sangat tulus mencintai Mega. Lalu apanya yang kurang?.


"Bentar, bentar. Jangan bilang lo nggak tau maksud gue hubungan lebih jauh itu apaan?" tanya Andra sekali lagi yang membuat pria itu sendiri merasa geregetan dengan sikap bodoh sahabatnya satu itu. Andra sendiri mungkin mulai sedikit paham dengan situasi yang terjadi, ia mulai menemukan sedikit celah dimana penyebab putusnya hubungan mereka ada di Rega sendiri. Dan skak matt, saat Rega mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng seperti orang bodoh.


"Astaga Rega! lo pura-pura polos atau beneran bego sih! gue bener-bener nggak tau ya jalan pikiran lo itu kemana"


"Makanya ngomong yang jelas, jangan belepotan mulu napa?! Seriously, I don't know what you mean! "


"Nikah bego! lo emang nggak pernah ngajakin Mega buat nikah?!" deg! Rega terdiam seraya menatap Andra dengan pandangan mata yang menajam. Menikah? bahkan Rega tidak pernah berpikir untuk membahas tentang hal sejauh itu. Baginya ia masih menikmati masa muda diumur nya yang hampir menginjak kepala tiga. Mana mungkin Mega sendiri berpikir sejauh itu, karena sedari awal mereka tidak pernah membahasnya sama sekali.


***


"Velyn, kamu cepet sembuh ya nak. Kamu jangan tinggalin bunda. Bunda janji apapun mau kamu bunda pasti bakal turuti, bunda nggak akan maksa kamu lagi" gumam bunda seraya memegang jemari Velyn yang masih tertidur di bangsal dengan alat pernapasan yang menempel di wajahnya.


Melihat putrinya terbaring seperti ini mengingatkannya pada Rahadian yang dua bulan berlalu meninggalkan dirinya dengan kedua anaknya yang kini sudah dewasa. Tidak disangkanya setelah mengambil keputusan pernikahan Velyn dan Valdo akhirnya pernikahan itu gagal setelah sempat di gadang-gadang akan langgeng karena tidak ada penolakan diantara keduanya.


Kini Malia amat menyesal, kalau saja waktu bisa diputar kembali, ia pasti akan menyetujui keinginan Velyn untuk menikah dengan Andra orang yang pasti sudah mencintainya dan jujur padanya. Namun apa mau dikata semua telah terlanjur. Hidup Velyn sudah hancur akibat keegoisan kedua orangtuanya.


"Bu-bunda" gumam Velyn yang kini perlahan membuka matanya dan menatap bundanya yang tengah menangis sesenggukan di samping tempatnya berbaring. Perlahan ingatan Velyn kembali dimana ia dan bundanya tengah asyik berbincang dan menikmati musim gugur di Time square.


"Velyn sayang! Alhamdulillah kamu udah siuman. Kamu butuh apa nak? kamu perlu sesuatu? bilang sama bunda-"


"Adanya bunda disini Velyn udah sangat bersyukur kok. Makasih ya bun, karena ada buat Velyn" ujar Velyn lemah seraya menyentuh jemari bundanya yang masih memegang erat jemarinya yang berkeringat dingin.


"Kamu ngomong apa sih nak, tentu bunda bakal selalu ada buat kamu. Apapun yang kamu minta bunda janji bakal nurutin, bunda nggak bakal maksa kamu lagi sayang. Kamu anak perempuan bunda yang paling bunda sayangi, asalkan kamu sembuh bunda bakal ngelakuin berbagai hal buat kamu nak" Velyn tersenyum, namun tanpa sadar air matanya merembes dari sudut matanya.


Mungkin awalnya Velyn berpikir untuk menghadapi semua ini sendirian. Bunda yang awalnya kecewa padanya bahkan ia tak menyangka kini tengah berada disisinya. Jika saja bunda masih membencinya karena ia memutuskan untuk bercerai dari Valdo dan membuat keluarga malu, mungkin Velyn akan menghadapinya sendiri dan memilih untuk membiarkan semuanya larut tanpa berjalan sejauh ini.


"Kalaupun bunda masih marah sama aku karena perceraian itu, mungkin aku juga milih buat nyerah. Aku capek bun, harapan aku cuma anak aku" ujar Velyn lemah seraya menatap bundanya yang kini semakin menangis sesenggukan karena Velyn berkata demikian. Ibu mana yang tidak sakit ketika anaknya tersiksa sampai seperti itu.


"Nggak boleh, kamu jangan pernah nyerah sayang. Kamu berhak bahagia, bunda yang salah karena egois. Bunda nggak pernah mikirin apa mau kamu-"


"Nggak apa-apa bunda, aku sebagai anak juga nggak bisa balas semua jasa bunda dan ayah selama ini, jadi cuma nurutin apa mau kalian. Kalau itu yang bikin kalian senang, sebisa mungkin Velyn bakal usahakan" mendengar Velyn mengatakan hal demikian membuat Malia semakin merasa bersalah. Ia melepaskan genggaman jemari Velyn yang melemah seolah hilang tanpa harapan. Seharusnya tidak


begini, seharusnya ia yang lebih mengerti Velyn.


Malia melangkah keluar dari ruangan itu dengan tangisannya yang semakin terisak, ia seolah tuli saat Velyn memanggilnya beberapa kali. Bagaimana mungkin ia tak tau penderitaan Velyn selama ini?, ia yang paling tau segalanya bahkan disaat ia sebagai ibu pernah memperdalam lukanya.


Velyn menghela nafasnya dibalik selang oksigen yang menutup wajahnya, meskipun apa yang baru saja ia katakan adalah sebuah kebenaran, tapi tidak seharusnya ia berkata demikian. Velyn hanya mampu mengatakan apa yang ia rasakan dengan sesuatu yang ia alami di masa lalu.

__ADS_1


Velyn menyentuh perutnya yang masih terlihat kecil dibalik tubuhnya yang begitu kurus. Setidaknya penyemangatnya hanyalah anak yang berada dalam kandungannya bukan yang lain. Perlahan tapi pasti, ia yakin bisa melupakan masa lalunya.


***


2


"Jadi lo beneran nggak tau dimana dia?" tanya pria yang kini berdiri seraya menatap tajam Adrian yang tengah memeriksa beberapa berkas ditangannya.


"Rega juga ambil langkah buat ngerusak data supaya Velyn nggak bisa di lacak keberadaannya. Gue juga nggak nyangka, dia bakal senekat ini buat nyembunyiin dimana adiknya" sejujurnya ia sudah malas untuk meladeni Valdo semenjak hari itu, tapi karena ceritanya yang membuat pria itu juga merasa bersalah karena pernah bersikap kasar pada wanita itu membuat Adrian terpaksa untuk bekerjasama dengan Valdo. Dan siapa sangka, mencari keberadaan Velyn saat ini sama seperti mencari jarum dari dalam tumpukan jerami.


"Gue nggak bisa nunggu lama lagi, gue harus temuin Rega-"


"Percuma, dia juga udah ngilang. Dia pergi ke Thailand dan pasti dia transit di beberapa negara supaya keberadaannya juga nggak bisa di lacak" Valdo mengacak rambutnya frustasi. Menghadapi Rega ternyata tak semudah yang dibayangkan. Awalnya Valdo berharap dengan adanya bantuan dari Adrian ia akan lekas bertemu dengan Velyn dan mengajaknya untuk rujuk. Tapi siapa sangka hal ini malah semakin bertambah rumit.


Valdo bangkit dari duduknya, ia hendak keluar dari ruangan itu membuat Adrian bertanya-tanya


"Mau kemana lo?"


"Tempat bokap" Adrian memutar bola matanya. Ingin sekali ia memaki pria satu itu. Pria bodoh yang memutuskan hubungan keluarganya demi wanita sinting yang menjebaknya selama bertahun-tahun.


Tapi itu tidak bisa Adrian lakukan, karena perbuatanya juga sudah keterlaluan terhadap wanita yang pernah mengisi hatinya. Apalagi ada hal penting daripada menyesali yang sudah lalu, yaitu memperbaikinya mulai dari sekarang. Adrian hanya bisa berharap semoga Velyn baik-baik saja, dan ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk merebut Velyn dari Valdo yang telah menyia-nyiakannya itu.


***


Hela nafas pria paruh baya itu kini mulai lemah setelah ia meminum beberapa obat yang berada di meja makan. Umurnya mungkin masih kepala lima, namun dengan penyakit asamanya dan jantung yang bisa datamg kapan saja, mungkin memungkinkan dirinya untuk tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Walaupun begitu mungkin saja beban dalam hidupnya pun sudah berkurang karena telah melepaskan beban yang membuat pundaknya terasa berat. Gaisan duduk di tepi ranjang seraya meraih foto dirinya yang masih muda bersama dengan pria yang berada disampingnya dulu. Siapa lagi kalau bukan Rahadian yang selalu membantunya setiap waktu. Namun ia yang selalu mengecewakan pria itu hingga akhir bahkan pria itu sendiri pun tidak mengetahui perceraian antara putranya dengan Velyn menjelang kematiannya.


"Maafkan aku Rahadian, seharusnya aku tidak memanjakan anakku sejak dulu. Semuanya kacau karena aku, maafkan aku" tangis Gaisan pecah begitu saja saat mengingat kebersamaan mereka. Apalagi mengingat kebaikan Rega yang kemarin masih sempat menjenguknya sebelum ia pergi ke luar negeri.


Flashback on.


"Om yakin bakal baik-baik aja disini? atau mau aku sewa kan pengurus rumah tangga aja, biar ada yang nemenin?" tanya Rega yang merasa bersalah karena akan meninggalkan pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu sendirian. Apalagi keadaannya benar-benar memprihatinkan. Karena Valdo yang bodoh itu, semuanya jadi kacau, termasuk Gaisan yang kini menjadi korban. Kini, Rega hanya bisa memperlakukan Gaisan dengan baik jika ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


"Nggak perlu Rega, om bisa sendiri. Om cuma bisa mendoakan saja semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan dan juga kebahagiaan, terutama


Velyn"


"Maaf ya om"


"Hey, kenapa kamu yang malah minta maaf ke om, seharusnya om yang harusnya bilang gitu ke kamu. Om tau kok Velyn pasti juga butuh udara luar supaya dia bisa melupakan masa lalunya" Rega terlihat lesu saat ia tidak bisa melanjutkan sesuatu kebenaran yang harusnya ia sampaikan. Namun cukup sampai disitu saja batasnya untuk memberitahu Gaisan akan niatnya namun bukan tujuannya. Sejujurnya ia merasa bersalah jika menyembunyikan hal besar tentang Velyn, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia juga serba salah akan penyakit pria itu yang bisa kambuh jika tau tentang kesulitan yang dialami oleh mantan menantu nya itu.


Dari awal kesalahan Valdo dilimpahkan oleh pria satu itu, pria yang hanya bisa membalas budi lewat jalinan keluarga yang terjalin. Namun sekeras apapun pria itu mengusahakan, hanya kecewa yang ia dapatkan. Bahkan perlakuan dingin dari keluarga sahabatnya sendiri.


Flashback off


Rega menghela nafas mengingat pertemuan terakhirnya dengan Gaisan membuat ia menyimpan rasa sesal karena telah meninggalkan pria itu sendirian. Seharusnya ia mencari pekerjaan kebun dan pembantu untuk merawat dan menjaga sahabat dari ayahnya itu. Namun semuanya pun sia-sia, ia sudah terlanjur berada di negara yang jauh dari jangkauan pria itu


Kira-kira sudah dua hari ini ia menginap di Korea. Padahal niatnya sehari setelah ia mendarat di negara itu, ia hendak langsung menuju Amerika. Tak ada yang mampu menghalanginya, termasuk menghilangkan jejak dari Valdo beserta jaringannya. Meskipun ia tidak tau apa yang hendak dilakukan pria itu, tapi sedikit banyak ada rasa khawatir dalam hati Rega jika saja mantan suami Velyn itu bisa menemukan adiknya yang tengah berobat di luar negeri. Hanya dengan transit beberapa kali ia bisa menghilangkan jejak. Meskipun hal itu sangat melelahkan tapi tidak apa bagi Rega jika itu bisa membuat adiknya kembali dengan perasaan tenang.


Rega berjalan kearah jendela kamar hotelnya, ia menyibak korden seraya menatap pemandangan luar kota Seoul yang dipenuhi bangunan tinggi. Tidak jauh dengan Indonesia, hal ini seperti pemandangan biasa untuknya. Namun satu yang berbeda, ketika ia meraih ponsel dan membuka kuncinya, ia tak lagi menemukan chat berisi pertanyaan sederhana yang ia rindukan sampai saat ini.


Tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya senyuman Mega yang membuat ia semangat, namun hilang seketika saat ia sadar bahwa hubungan mereka telah berakhir. Gadis cantik yang selalu ia cintai, hingga saat ini. Entah bagaimana kabar gadis itu, namun yang pasti Rega amat ingin mendengar suaranya yang ceri


seraya menanyakan kabarnya, juga bertanya sudah makan atau belum?.


"Mega, apa kamu udah nggak sayang sama aku?"


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat gadis itu bergeliat di balik selimut yang menutupi tubuhnya. Bukan tidur, namun isakan juga mata merah yang tertangkap saat siapa saja menatap wajahnya.


"Lista, kamu nggak makan? dari kemarin katanya udah makan? kok makanan di meja masih utuh? kamu ngapain sih di dalem?" Mega mengelap wajahnya yang kini masih bertahan terisak meskipun dua hari berlalu begitu saja tanpa makan sekalipun. Entah sejak kapan, mungkin sejak Rega berangkat ke Korea dan tidak mengabarinya. Tentu saja itu tidak masalah dan ia tidak berhak untuk marah. Tapi rasa sakit di dalam hatinya masih terasa sesak hingga saat ini.


"Aku nggak apa-apa kok ma, cuma enggak enak badan aja" teriak Mega dari bawah selimut seraya menutupi suara sumbangnya. Suara sumbang yang takut ketahuan oleh mamanya dan takut pertanyaan yang mengarah padanya nanti.


"Yang bener? kalau sakit kita ke dokter aja Ta. Ayo mama anterin" bujuk mama membuat Mega terdiam dan menghela nafasnya. Sejujurnya ia sudah lelah, tapi mau bagaimana lagi. Hubungannya dengan Rega sudah berakhir. Ia yang memutuskan dan Rega juga menyetujui tanpa adanya penolakan sama sekali. Mengingat hal itu saja membuat dada Mega menjadi semakin sesak. Semua kenangan yang telah ia lewati bersama pria itu, juga kegigihan hati yang tidak dapat dibandingkan dengan siapapun, ia takkan bisa melupakan semuanya begitu saja dengan mudah.


Ceklek


Suara terbukanya pintu kamar Mega membuat gadis itu tersentak dalam selimut yang menyembunyikan tubuhnya. Ia sendiri kaget saat tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya yang sudah ia kunci dari dalam selama dua hari ini.


"Ya ampun Calista! kamu ini kenapa sih? dari kemarin ngurung diri di kamar cuma buat kaya gini doang!" suara mama membuat Mega mengusap peluh yang memenuhi wajahnya, juga ia mengumpulkan banyak tisu yang berceceran dibawah selimut bersamanya sebelum mama tiba-tiba membuka selimutnya dan mengetahui keadaan tragis yang ia alami. Sebenarnya Mega sudah menebak akan mamanya sewaktu-waktu membuka pintu kamarnya menggunakan kunci cadangan. Tapi ia tidak menyangka akan mendadak seperti ini dalam keadaan matanya yang masih dipenuhi peluh juga tubuhnya yang meringkuk dibawah selimut.


"Hey? kamu sakit ya? kalo sakit itu ke dokter, bukan malah kaya gin-ni" mama membuka selimut Mega, membuat gadis itu terisak dan terlihatlah matanya yang semakin bengkak akibat tidak berhenti menangis. Jelas saja mama terkejut bukan main mengetahui putrinya dengan keadaan menyedihkan seperti ini.


"Huuu mama" Mega segera berhambur memeluk mamanya, ia menangis sesenggukan dan semakin menjadi dalam pelukan hangat yang diberikan mama olehnya. Anehnya, Mega selalu menangis sepanjang waktu dalam dua hari ini ketika ia mengurung diri, namun dalam pelukan mama nya ada rasa tenang juga perasaan yang bercampur aduk membuat derita yang ia alami tertumpahkan seketika.


"Kenapa nak? cerita sama mama, kamu kenapa?" meskipun Mega menceritakan putusnya percintaan yang ia jalani dengan suara sumbang juga tangis yang tiada henti, namun mama bisa menemukan garis besar dari inti permasalahan Mega. Meskipun Mega sendiri menutup diri tentang masalah hubungan yang lebih jauh dengan Rega tidak terealisasi meskipun sudah berpacaran selama beberapa tahun belakangan ini, tapi mungkin mama bisa menjadi tempat terbaik untuk berbagi keluh kesah.


"Ma, aku masih sayang sama Rega. Tapi kenapa dia gampang banget buat ngelepas aku? padahal aku itu cuma mau ngetes. Tapi ternyata dia anggep omongan aku serius ma" isak Mega membuat mama memeluk wajah putrinya dengan lembut seraya menenangkan dengan bisikan hangat. Mama memang tidak tau mengapa Mega sampai mengajak Rega putus segala, tidak mungkin juga hanya untuk mengetes kadar cinta Rega. Selama ini mama sering sekali bertemu dengan Rega saat pria itu kembali dari luar negeri dan main ke rumah mereka. Bisa dibilang Rega adalah tipikal pria cuek dan spontan, ia juga pria yang tidak peka. Tapi dibalik itu semua, Rega adalah pria baik yang selalu menghargai keputusan Mega.


"Udah nak nggak usah dipikirin lagi. Kamu jangan nangis terus dong"


"Gimana nggak sedih ma, sekarang aku juga nggak bisa ketemu dia lagi. Aku pengen dapet kabar dari dia? aku pengen denger suaranya ma. Tapi aku nggak bisa, aku udah nggak ada hak" tangis Mega pecah lagi saat ia mengingat harinya yang begitu sepi, serta kebiasaan yang selalu ia nantikan kini seolah menghilang, meninggalkan jejak menyakitkan dan tak terarah seperti ini.


"Ssstt, udah ya jangan dipikirin lagi. Kalo kalian jodoh, mau sejauh apapun dia lari pasti Rega bakal balik lagi ke kamu"


"Yang bener ma?" sejenak suara isakan Mega berkurang saat mama mulai menghiburnya dengan suasana damai yang menyelimuti.


"He'em. Tapi kalau dia bukan jodoh kamu, mau kamu ngejar dia sampai ke ujung dunia sekalipun, dia nggak bakal balik ke kamu. Jadi mama pesen sama kamu nak, sekuat apapun kamu cinta sama seseorang, sebaik apapun dia, kamu juga harus punya prinsip buat nggak menyandarkan nasib kamu ke orang itu. Karena apapun yang kita yakini, dan kita niatkan belum tentu itu jalan terbaik dari Tuhan buat kehidupan kita di masa depan" Mega membulatkan matanya ditengah pelukan mama nya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam saat isakan dalam suaranya mulai mengecil dan perlahan menghilang. Entah mengapa, apa yang dikatakan mama langsung masuk dalam pikirannya juga hatinya yang kadang tidak sejalan. Kini Mega sedikit menyesal karena tidak bercerita dari awal tentang masalahnya. Padahal mama nya yang lebih tau, mamanya yang sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, tapi Mega menutup kenyataan itu, dan tenggelam dalam kesedihannya.


"Iya, mama bener. Nggak seharusnya aku kaya gini"


Entah sejak kapan, mungkin semenjak mama memberikan nasihat pada gadis yang tengah berdandan rapi untuk berangkat ke kantor itu tersenyum dibalik pantulan cermin yang ada dihadapannya. Mega meraih foto dirinya dengan Rega yang merangkul pinggangnya saat mereka berada di Jerman dulu, ia kemudian memasukkannya kedalam laci dibawah meja riasnya.


Kini Mega sudah mulai percaya diri kembali semenjak kehilangan semangatnya beberapa hari lalu. Gadis itu pun meraih tas kecil untuk ia bawa ke kantor, ia kemudian keluar dari kamarnya dan segera meraih susu yang selalu dibuatkan oleh mama setiap pagi.


"Ma, berangkat dulu ya" ujar gadis itu tanpa menatap mamanya yang kini duduk dihadapannya. Mama melirik putrinya itu seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Benar-benar anak yang tidak tau sopan santun, bahkan Mega tak sadar tengah ada tamu yang duduk diujung meja makan tengah memperhatikannya semenjak ia keluar dari kamarnya tadi.


"Ehem, Calista"


"Ha? iya?" tanya Mega tiba-tiba seraya mengangkat pandangannya, sontak saja ia terkejut dengan keberadaan pria yang kini memperhatikannya sedari


tadi. Bahkan ia sendiri pun tidak sadar dengan keberadaan pria satu itu, pria yang tersenyum kearahnya.


"Kenalin, anaknya Tante Ria. Kamu inget kan Tante Ria yang sering ke rumah kita itu?"


"Inget kok ma" ujar Mega cuek seraya mengangguk lalu kemudian membalas senyuman pria itu dengan senyum ramah seolah mereka memang baru saja bertemu untuk pertama kalinya. Meskipun Mega tidak terlalu ingin menanggapi pria itu, tapi ia juga tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Mega membalikkan tubuhnya lagi bersiap untuk melanjutkan aktivitasnya yang baru saja tertunda.


"Eh, mau kemana? nggak sopan kalo nyelonong pergi gitu. Nak Devan itu kesini nganterin kue dari Tante Ria buat kamu loh"


"Oh ya? makasih ya" ujar Mega seraya memalingkan wajahnya lagi setelah sebelumnya gerakannya terhenti karena mamanya yang super cerewet itu mengatakan hal yang tidak penting untuk paginya yang penuh semangat.


"Calista! kamu mau berangkat kan?"


"Iya?"


"Kalo gitu sekalian bareng Devan, dia kantornya juga searah kok sama kamu" Mega mengernyitkan keningnya, ia sudah mau menolak namun tatapan tajam dari mamanya mengisyarakatkan untuk cepat berangkat dengan pria satu itu. Mega menghela nafas, ia tidak tau jalan pikir mamanya, padahal sudah jelas jika Mega baru saja patah hati, tapi bujukan mamanya seolah mengarah untuk segera menikah.


"Ya sudah berangkat sana, Devan kamu hati-hati ya dijalan, tante titip Calista" ujar mama membuat Mega menatap mamanya dengan tatapan kesal. Tapi mau bagaimana lagi, melihat pria itu yang tersenyum kearahnya membuat Mega saja tidak tega untuk menolak. Dilihat dari wajahnya sepertinya Devan adalah pria baik-baik.


"Iya tante, kalau gitu saya antar Calista dulu ya" senyum mengembang di perlihatkan mama saat Devan mengecup punggung mama dengan sopan. Berbeda dengan Calista yang kini melirik mamanya dengan tatapan masih sama untuk kedua kalinya.


Pria yang tak kalah tampan dengan Rega, dengan lesung pipi saat pria itu tersenyum. Wajah blasteran dengan jambang yang menyelimuti wajahnya itu membuat Mega sedikit gugup. Apalagi bulu mata lentik nan cantik yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Mungkin saja pria dihadapannya satu itu memiliki keturunan Arab. Alisnya tebal dengan mata lebar, tubuhnya yang tinggi tegap.


Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil, membelah jalanan ibukota yang dipadati kendaraan berlalu lalang.


"Kita tadi belum kenalan secara resmi ya?" Mega hanya terdiam dan sedikit melirik pria itu yang tersenyum padanya. Glek! Mega menelan salivanya, tampan sekali. Mungkin hal itu yang terlintas dalam benaknya saat tatapan mereka bertemu. Namun Mega segera menghempas perasaannya dan membalas senyuman itu dengan perasaan hangat.


"Maaf ya" ujar pria itu membuat mata Mega membulat, pasalnya ia tidak merasa terbebani dengan apapun dan tiba-tiba pria yang duduk disampingnya itu mengatakan maaf.


"Kok maaf sih?"


"Habis kamu dari tadi kelihatan nggak nyaman sama aku. Maaf kalo bikin kamu-"


"Aku nggak apa-apa kok, nggak perlu minta maaf. Aku cuma nggak terbiasa dianterin ke kantor sama cowok lain kecuali-"


"Pacar ya?" Mega menatap pria satu itu yang kini masih terlihat tenang dan menatapnya dengan senyuman. Sejujurnya pria dihadapannya itu sedikit membuat hatinya berdebar, perempuan mana yang tidak tertarik dengan pria seperti Devan. Tapi, semakin memikirkan Devan, Mega semakin tak bisa memungkiri perasaannya yang masih belum bisa melupakan Rega sepenuhnya.


"Udah putus kok" kata Mega seraya menghela nafasnya sembari menatap jalanan. Mengingat Rega membuat hatinya tambah terasa semakin sesak. Padahal ia sendiri sudah bertekad untuk melupakannya saja, dan pasrah agar ia tidak terlalu memikirkan hal yang belum pasti akan menjadi takdirnya.


"Sebenarnya aku udah diceritain sama mama kamu. Mama kamu suruh aku deketin kamu, biar kamu nggak terlalu sedih dan bisa move on dari mantan kamu. Yah, walaupun aku tau, mungkin kamu pasti nggak suka"


"Lista, Mega Calista. Mungkin karena kita dari awal nggak kenalan dengan benar aja makanya aku ngerasa nggak nyaman, mungkin juga kalau kita mulai kenal dan jadi temen bisa aja aku nggak ngerasa nggak enak sama kamu" ujar Mega seraya menatap pria satu itu dengan senyuman. Tentu saja pria yang


duduk disampingnya itu ikut tersenyum menatap pandangan tulus dari Mega. Meskipun jemari Mega tidak terulur padanya, cukup Devan yakini jika gadis itu benar-benar tulus padanya.

__ADS_1


"Aku Devano Cahyadi, salam kenal ya Calista. Semoga kita bisa sering-sering ketemu" Mega hanya mengangguk seraya tersenyum pada pria satu itu yang tengah fokus menyetir mobil dengan sesekali meliriknya.


"Kata Tante Indri kamu itu pendiam ya? ternyata nggak juga"


"Kalo lagi tidur iya hahaha"


"Hahaha, kamu bisa aja. Eh dengar-dengar kantor kamu itu...." mereka akhirnya bercengkerama sepanjang perjalanan. Meskipun Mega memilih untuk berangkat pagi-pagi sekali karena tidak ingin kesiangan akibat padatnya perjalanan, namun ternyata ia bisa melewatinya tanpa bosan seperti ia yang biasanya naik taksi selama perjalanan. Dengan adanya lawan main untuk diajak bicara ternyata waktu bergulir begitu cepat dan Mega telah sampai di depan kantornya.


"Ternyata kamu asyik juga ya, baru kali ini aku ketemu cewek buat pertama kali dan langsung nyambung kaya gini"


"It's okay, walaupun sebenernya aku sendiri juga nggak banyak temenan sama laki-laki, tapi nggak buruk juga kalo bisa ngobrol"


"Hem, btw boleh ngga kalo aku anter jemput tiap hari?" wajah Mega yang semula tersenyum kini mulai menunjukkan senyum canggung tanpa ekspresi. Meskipun sudah berteman dengan Devan, tapi bukan berarti jika Mega bisa melupakan Rega singkat dengan cara seperti ini. Rega yang biasanya mengantar jemputnya tiap hari, bahkan tak ragu untuk menunggunya saat kerja lembur membuat Mega selalu teringat hal itu setiap waktu.


"Maaf ya Van, tapi kayanya nggak perlu deh"


"Ya udah kalo kamu nggak mau, aku juga nggak maksa kok. Aku kasih tawaran ke kamu bukan karena niat yang aneh-aneh, tapi emang kantor kita searah. Sekaligus, buat ngucapin rasa terimakasih aku ke Tante Indri, soalnya mama kamu baik banget, aku jadi bingung mau bales lewat apa hehehe" meskipun Devan terlihat santai dan bersahabat, tapi Mega akui sifat pria satu ini mirip sekali dengan Rega. Rasa pengertian dan juga perhatian dari sorot matanya, bedanya Rega adalah sosok pendiam tapi Devan dia lebih enjoy dan apa adanya.


***


Suara dering ponsel pria yang kini tengah mengetik beberapa dokumen di laptopnya membuat pria satu itu melepaskan kacamata yang menempel pada wajahnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia kemudian meraih ponselnya dan segera mengangkat panggilan itu dengan dahinya yang berkerut.


"Halo"


"Oh elo Ga, gimana perjalanannya? lancarkan. Hem iya-iya, bagus dong" kata Andra yang kini menyalin beberapa dokumen dari flashdisk miliknya untuk di transfer pada laptop dihadapannya. Ia tak menyangka jika sahabatnya satu itu sudah sampai begitu saja di Amerika. Rasanya ia masih canggung ketika membahas perihal Velyn.


"Oh elo Ga, gimana perjalanannya? lancarkan. Hem iya-iya, bagus dong" kata Andra yang kini menyalin beberapa dokumen dari flashdisk miliknya untuk di transfer pada laptop dihadapannya. Ia tak menyangka jika sahabatnya satu itu sudah sampai begitu saja di Amerika. Rasanya ia masih canggung jika membicarakan soal adiknya.


"What! gue?!" mata Andra membulat sempurna, ia bangkit dari meja kerjanya tanpa sadar membuat beberapa dosen terkejut dengan sikap pria itu yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa pak Andra? ada masalah?" tanya seorang wanita yang duduk di ujung kantor membuat dosen muda itu menggeleng dan kembali duduk untuk menenangkan pikirannya.


"Gue pikir-pikir dulu ya Ga, gue nggak yakin dia bakal mau atau nggak. Hem, gue tau, tapi kita juga harus mikirin perasaan dia."


***


3


Suara ketukan pintu membuat lelaki paruh baya itu mendekat kearah pintu. Dengan suaranya yang penuh getaran serta wajah keriput yang semakin pucat itu semakin ketara jika dilihat dari sisi mana saja. Pria paruh baya yang awalnya masih bugar dengan semangat dalam dirinya, kini tiada lagi yang membuat ia bangkit seperti dulu. Pikirannya diliputi rasa bersalah juga perasaan sunyi tanpa orang yang mau menemani di setiap harinya.


"Uhuk uhuk, sebentar"


ceklek


"Papa! papa kenapa? papa sakit?" pertanyaan itu sontak saja membuat Gaisan tercengang oleh kehadiran pria tak diundang dihadapannya. Pria yang dulunya ia sebut sebagai putra kebanggaannya kini dengan berat hati, ia tak lagi mengakui darah dagingnya sendiri yang telah berulangkali mengecewakannya.


"Mau apa kamu kesini?! saya nggak ada urusan sama kamu"


"Pa! maafin Valdo pa!"


"Sudah, nggak perlu minta maaf begitu. Kita juga bukan lagi keluarga, kamu nggak usah panggil saya papa lagi. Karena saya nggak punya anak seperti kamu"


"Tapi pa-"


"Uhuk uhuk uhuk, pergi kamu!"


"Pa!" Gaisan mencoba untuk menutup pintunya, namun lengan Valdo menahan pintu itu agar tidak tertutup, sedangkan Gaisan terus saja batuk sedari tadi. Tentu saja Valdo sangat khawatir pada papanya satu itu. Walau bagaimanapun, hanya papanya lah keluarga satu-satunya yang ia miliki.


"Uhuk uhuk uhuk!"


"Papa, ayo kita ke rumah sakit. Aku nggak bakal tinggal diam kalau papa kaya gini, aku-"


Brukk tubuh Gaisan ambruk dan pingsan begitu saja ditubuh Valdo, tubuhnya lemah tak berdaya dengan dahak berdarah yang mengalir di mulutnya. Sontak tubuh Valdo bergetar, ngilu terasa di penghujung ulu hatinya. Valdo panik bukan main, matanya memerah dengan linangan air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.


"Papaa!!" teriak Valdo seraya memeluk papanya dengan erat.


***


Hela nafas pria yang baru saja menyelesaikan makannya kini pun meraih gelas dengan air putih di dalamnya. Pria tampan itu meneguknya dengan sekali teguk seraya meletakkannya setelah selesai makan.


"Ndra, tumben kamu makannya dikit. Muka kamu juga kelihatan capek gitu. Ada apa?"


"Enggak apa-apa kok ma. Kerjaan numpuk, apalagi sebentar lagi bakal ada sidang skripsi. Kepikiran aja" mama menghela nafas, wanita itu memperhatikan putranya yang tidak biasa. Walaupun sidang skripsi itu pasti melelahkan untuk putranya itu, tapi tahun-tahun sebelumnya saat Andra menjadi seorang dosen ia tidak pernah seperti ini. Ada sesuatu yang dipikirkan olehnya yang pastinya tidak diketahuinya.


"Oh iya Ndra, kamu nggak ada pikiran buat nikah lagi!"


"Uhuk-uhuk!" Andra yang semula minum air putih dari gelasnya tadi kini tersentak oleh pertanyaan mama yang tiba-tiba membahas soal pernikahan. Tidak diragukan lagi bagaimana khawatirnya mama saat Andra mengalami hal-hal sulit ketika menikah dengan Angelita dulu, bahkan pernikahan yang dibilang masih sangat muda itu berakhir sia-sia karena karakter wanita itu yang tidak cocok dengan Andra.


"Ya ampun Ndra, mama cuma tanya doang kok. Kamu sampe syok gitu!"


"Lagian mama ngapain sih ngomongin soal nikah. Andra itu baru aja gagal ma, harus lebih selektif lagi, apalagi soal masalah pasangan. Pernikahan itu sekali seumur hidup ma, jadi sekali gagal harus dipikirin mateng-mateng lagi, biar nggak jatuh dua kal, maupun seterusnya" Andra meraih tisu yang ada diatas meja, ia memgelap wajahnya dengan seksama. Mungkin apa yang dikatakan Andra memang benar, tapi tidak dengan mama yang selalu memikirkan nasib putranya.


Diumur yang sudah matang dan sukses, seharusnya Andra lebih selektif dala mencari pasangan, bukan main-main dalam hal menjalin hubungan. Meskipun status dudanya tidak mempengaruhi kehidupannya, tapi alangkah lebih baik jika Andra memikirkan lebih dulu sebelum terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah.


"Mama cuma mikirin umur kamu Ndra, mama makin lama juga nggak bakal muda terus. Apalagi kita itu nggak tau umur. Mama cuma pengen liat kamu bahagia, liat kamu punya anak, gendong cucu"


"Mama, sekarang kan umur Andra masih tiga puluh tahun. Mama juga jangan terlalu mikirin yang nggak-nggak. Kalau udah ketemu jodoh pasti Andra bakal nikah kok" mama hanya mampu menghela nafas kasarnya mendengar putra satunya itu berkata demikian tentang pernikahan. Selama ini Andra selalu kesepian, ia ditinggal oleh ayahnya sejak umurnya masih anak-anak. Pacaran pun mungkin tidak pernah atau bahkan hanya sekali saat sebelum pacarnya yang dulu itu menikah karena dijodohkan.


Mama hanya takut Andra trauma dengan masa lalu. Ia takut putranya satu itu tidak ingin lagi menikah karena pernah tersakiti berulang kali. Namun pembicaraan itu pun akhirnya berakhir begitu saja dengan Andra yang pamit untuk masuk kedalam kamarnya dengan alasan hendak mengerjakan beberapa tugas anak yang dikumpulkan hari ini.


Langkah lunglai Andra kini kembali goyah saat ia sudah memasuki kamarnya yang bernuansa biru. Rasanya kini hati dan pikirannya bercampur aduk menjadi satu saat mengingat wanita yang kini berada di negara nan jauh di sana. Ingatannya masih jelas, akan senyuman hangat yang pernah dipersembahkan tulus untuknya, namun kini tidak lagi karena masa lalu yang telah melampauinya kini berubah menjadi keadaan yang tidak bisa dirubah kembali.


Flashback on.


"Ndra, gue tau lo masih sayang kan sama Velyn?" seketika Andra yang mendengar suara Rega dari balik ponselnya itu terdiam tak dapat menjawab apa yang ia rasakan sekalipun iya adalah sebuah jawaban yang jelas dan pasti.


"Gue-"


"Gue tau lo pasti juga bingung kenapa gue nanyain ini ke lo. Tapi, demi adek gue, lo mau kan ngasih dia kasih sayang yang pernah lo kasih ke dia waktu kalian pacaran?"


"Maksud lo apa Ga? Velyn itu udah nggak cinta lagi sama gue, mana mungkin gue ngasih sesuatu hal yang bggak mungkin bisa dia terima mentah-mentah" Andra memang sangat mengerti perasaan Velyn terhadap Valdo, wanita itu amat mencintai Valdo yang selalu berada di garis terdepan saat Velyn terluka dan di cemooh oleh semua orang. Berbeda dengannya yang takut untuk melindungi wanita itu karena sifat pengecutnya. Andra akui, Valdo memang lebih berani darinya, tapi bukan berarti cintanya tidak lebih besar dari Valdo untuknya.


"Gue mohon Ndra. Gue cuma pengen dia lupain Valdo, gue pengen liat dia bahagia sebelum dia pergi buat selamanya"


"Rega! maksud lo apa?! lo kalo ngomong jangan macem-macem ya!" Rega menghela nafas beratnya, kali ini untuk apa ditutup-tutupi lagi, kenyataan yang sebenarnya pasti akan segera terungkap meskipun Rega menutupinya dengan rapat. Akan lebih baik ia memberikan sedikit saja kebahagiaan untuk adiknya meskipun itu tidak untuk selamanya. Anggap saja ini adalah balasan untuk kesalahan orangtuanya yang telah memaksa Velyn untuk menikah dengan pria brengsek seperti Valdo.


"Apa yang lo denger, itu kenyataannya. Gue harap hal itu nggak akan pernah terjadi, toh kalau terjadi pun gue bisa tenang kalau Velyn bisa bahagia sebelum ajal menjemputnya. Jadi gue mohon" isak Rega di penghujung kata-katanya yang tercekat, kata-kata yang tidak pernah Andra dengar sebelumnya dari seorang Rega yang memohon padanya, sedikit pilu dan sesak ia rasakan di dada meskipun ia tidak bisa menunjukkan apa yang berada dalam ulu hatinya saat ini.


Flashback off.


Tak!


Beberapa berkas dihadapan Andra kini sepenuhnya terbengkalai saat ia meletakkan buku yang harusnya ia kerjakan malam ini juga. Pikirannya kalut, ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


Sesaat bayang-bayang senyum Velyn terlihat begitu jelas didepan matanya. Mungkinkah Velyn akan menerimanya saat ia datang?. Status mereka bahkan sama ketika bertemu nanti. Rasanya Andra tidak menyangka hal itu akan datang juga. Ia hanya merasa takkan bisa mendapatkan Velyn untuk selamanya setelah melihat Velyn bahagia.


Ia sempat berpikir untuk menyerah, bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk menikah kembali saat ia benar-benar kehilangan cinta pertamanya. Cinta yang ia harapkan dalam keadaan apapun, dan mekar seutuhnya lalu hancur begitu saja dalam angan yang tak bisa ditempuh.


"Halo, Rega. Tungguin gue, gue susul lo setelah sidang skripsi terakhir" ujar Andra dengan antusias setelah ia menelfon seseorang dari balik ponselnya.


***


Tangisan yang tersedu, diiringi langkah satu persatu orang yang meninggalkan pemakaman membuat pria itu memeluk batu nisan bertuliskan Adi Gaisan. Ya, sudah seminggu ini Valdo merawat papanya yang tengah sakit keras di rumah sakit. Pria patuh baya yang sudah lansia itu ternyata tak lagi bertahan setelah serangan jantungnya kambuh.


Tangis Valdo tiada henti, terisak diantara bunga yang bertaburan dibawahnya. Tanah gundukan yang menjadi saksi dimana keluarga satu-satunya yang ia miliki disemayamkan.


"Papa, kenapa papa ninggalin Valdo secepat ini? maaf pa, maaf karena Valdo nggak pernah nurut apa yang papa bilang" segenap penyesalan tidak dapat mengubah segala yang terjadi. Termasuk kehilangan orang yang begitu berarti dan sangat Valdo cintai. Tapi itu sudah menjadi pilihannya, buah karma yang telah ia tuai kini akhirnya berjalan satu persatu. Hidupnya hampa, tiada lagi keluarga yang tersisa.


"Gue turut berdukacita Do" ujar pria yang kini berlutut memegang bahu sahabatnya itu. Meskipun Adrian sendiri sempat jengkel dengan sikap Valdo, tapi kali ini tidak ada alasan baginya untuk tidak perduli. Meskipun Valdo sudah banyak memiliki harta dan juga jabatan yang diberikan oleh papanya, tapi tidak sebanding dengan dirinya yang telah kehilangan semua kebahagiaan yang harusnya melengkapi.


Tanpa sadar isakan dari Valdo membuat Adrian menitikkan air mata dari sudut matanya. Adrian sudah pernah merasakan hal ini, ia bahkan kehilangan kedua orangtuanya sekaligus hingga membuatnya frustasi juga kehilangan arah. Berbeda dengan Valdo yang sudah meraih segalanya, Adrian yang dulu harus memanjat satu persatu batu yang terjal dan tajam, bebatuan yang bisa saja menjatuhkannya sampai dasar jika ia tidak memiliki semangat untuk berjuang.


Penyesalan memang tidak memiliki solusi untuk mengakhirinya, mencoba untuk melakukan yang terbaik dan berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi adalah jawaban dari segala ketenangan meskipun akhirnya tidak bisa mengembalikan keadaan. Begitupun dengan Valdo, meskipun ia berteriak kencang dan mengungkapkan maafnya itu tidak akan pernah mengubah penyesalan yang akhirnya datang padanya.


Valdo punya banyak kesempatan untuk mengubahnya, ia punya banyak orang yang menariknya dalam jurang yang tidak ia inginkan, tapi ia lebih memilih untuk menutup mata dan menuruti apa yang ada didepannya tanpa mencari tau kebenarannya.


"Gue mau cari Velyn Yan, dia udah ngandung anak gue. Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi selain dia" Adrian mengernyit, setelah mendengar apa yang dikatakan Valdo padanya. Perjalanan mereka menunju gerbang pemakaman memang masih sedikit jauh, tapi tidak terpikirkan olehnya jika Valdo bisa bicara sesantai itu setelah kehilangan ayahnya.


"Terus Nino?"


"Gue bakal nitipin dia ke panti" Adrian membulatkan matanya menatap sahabatnya satu itu. Memang benar Valdo amat terpukul dengan semua hal yang terjadi, tapi ia sampai tak menyangka jika sahabatnya satu itu akan mengirim Nino yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri ke tempat asing seperti itu.


"Lo gila ya Do-"


"Terus mau lo gue harus apa?! dia bukan anak gue Adrian! dia itu anaknya Lisa sama selingkuhannya itu! si Nino itu emang sengaja dititipkan ke gue biar mereka bisa nguasain semua harta gue!. Dan kalo sampek Nino terus ada di samping gue, gue nggak tau harus ngomong apa ke dia, sedangkan selama ini dia udah terlanjur anggep gue sebagai salah satu dari orangtuanya" Adrian menghela nafas, memang sulit untuk memutuskan jika Adrian sendiri ada di posisi Valdo. Tapi yang jelas Nino tidak ada hubungannya dengan semua ini, Nino juga tidak bersalah meskipun statusnya ia tidak memiliki hubungan darah terhadap Valdo.


"Gue tau kok kalo lo bingung, tapi menurut gue bukan itu cara yang tepat. Nino nggak salah, dia cuma hasil hubungan antara Lisa dan Kelvin. Tapi apa lo pernah terpikirkan kalo Nino itu bernasib sama kaya lo?" Adrian menghela nafasnya saat Valdo terdiam dan berhenti sejenak mendengarkan penuturan dari sahabatnya. Saat ini mungkin saja kebuntuan yang ada di otak Valdo dapat membuat ia bisa berpikir lebih jernih. Tiada orang yang ad disampingnya membuatnya menjadi lebih bisa berpikir daripada harus menyesal terus menerus, termasuk masukan dari sahabatnya sendiri.


"Lo enak, masih punya Om Isan dulu, tapi gimana dengan Nino? lo juga kan yang mutusin buat ngerawat di dari awal, meskipun awalnya lo nggak tau sih dia anak kandung lo atau bukan, tapi yang jelas dia lebih bergantung sama lo daripada mama kandungnya sendiri. Kalo lo tiba-tiba ngelepasin dia dan buang di gitu aja, emang lo nggak ngerasa bersalah nantinya?" Valdo terdiam dengan beribu pikirannya yang membeku, entah apa yang harusnya ia lakukan kedepannya untuk menghadapi Nino. Anak kecil itu memang tidak bersalah, tapi Valdo juga serba salah untuk merawatnya atau tidak.

__ADS_1


"Semua yang mau lo lakuin itu keputusan lo Do. Lo pernah gagal, juga pernah kecewa sama keputusan yang lo buat sendiri, jadi lo juga harus mikir mateng-mateng soal keputusan yang harusnya lo ambil tanpa lo menyesal buat yang kesekian kalinya" Valdo menghela nafas beratnya, entah apa yang ia rasakan saat ini, tapi bisa Adrian tebak jika Valdo amat bimbang dengan apa yang harus ia lakukan. Perjalanan mereka kini telah sampai di ujung gerbang pemakaman. Adrian pun kini mendekat kearah mobilnya yang berada tepat dibelakang mobil Valdo berada, sebelum pria itu naik kedalam mobilnya Adrian melirik Valdo yang masih termangu dalam tatapan kosongnya.


"Satu lagi Do, soal Velyn. Kayanya gue udah nyerah buat nyari dia, gue akui gue sayang sama dia, tapi mungkin dia bukan jodoh gue. Awalnya kalau lo ceraiin Velyn gue pengen ngerebut dia dari lo, tapi kayanya gue sekarang nggak perlu berambisi kaya dulu. Gue duluan" ujar Adrian yang kini segera menaiki mobilnya dan meninggalkan Valdo yang masih berdiam tanpa arah tujuan disana.


__ADS_2