Velyn Love

Velyn Love
Pergulatan pagi


__ADS_3

Sejak semalaman Valdo tidur dengan memeluk tubuh Velyn yang kini terasa menggeliat. Mata Valdo sedikit terbuka, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Velyn kini berubah posisi tertidur menghadapnya. Valdo terdiam dengan seribu bahasa, wajah gadis dihadapannya ini benar-benar indah. Putih dan cantik, bibir pink alami dengan hidung mancung yang membuat Valdo yang awalnya hendak memejamkan matanya kembali kini enggan.


Ia memilih untuk menikmati wajah ini sebentar lagi, kenapa Valdo tidak sadar jika selama ini Velyn begitu amat cantik. Valdo merasa bodoh sendiri ketika ia menyia-nyiakan perjuangan Velyn selama ini. Rasanya ia benar-benar seperti orang idiot jika gadis secantik ini dibuang begitu saja. Mendadak dada Valdo bergetar tak karuan, jantungnya berpacu semakin cepat mengingat apa yang ia lakukan semalam.


Pipinya memerah mengingat itu semua. Perlahan jemari Valdo menyentuh lembut bibir Velyn, takut jika pemiliknya terbangun. Bibir yang tadi malam tidak sengaja ia nikmati ini begitu manis dan menggelora. Tangan Valdo beralih menyentuh pipi Velyn dengan lembut seraya menyingkirkan anak rambut Velyn kebelakang yang menghalangi wajah cantiknya.


Perlahan Valdo mendekat, ia mencium bibir Velyn dengan satu kecupan yang sungguh lama. Ditambah satu kecupan lagi didahinya. Valdo kemudian beralih memeluk tubuh Velyn erat dan sengaja meninggikan posisinya agar Velyn bisa tidur dalam pelukannya. Agar Velyn bisa beristirahat di dada bidangnya.


***


Mata Velyn mengerjab kala ia merasakan pelukan ditubuhnya, gadis itu menggeliat dan menatap pria yang kini berada disampingnya, pria yang memakai kaos longgar putih yang semalam memeluknya sebelum tidur.

__ADS_1


Siapa sangka Valdo masih bertahan memeluknya saat ini walau gadis itu sudah berubah posisi. Velyn menatap jendela kamarnya yang tertutupi korden telah mengeluarkan berkas-berkas cahaya. Membuatnya yakin jika malam sudah berlalu, tergantikan oleh mentari pagi yang kini masuk melalui celah jendelanya.


Velyn mencoba untuk bangkit, ia melepaskan diri dari pelukan Valdo dan segera hendak turun dari ranjang. Namun siapa sangka, tangan Valdo terulur menahan lengan Velyn, membuat gadis itu memberontak.


Kini Valdo kembali bangun, ia mengucek matanya seraya masih bertahan memegang lengan Velyn yang amat halus. Velyn terdiam dengan tatapannya yang tidak suka itu. Ia membiarkan nyawa Valdo kembali lebih dulu daripada harus bersusah payah memberontak namun hasilnya nihil.


"Lepasin tangan aku kak! kamu nggak perlu sok baik sama aku. Kalau kamu pengen aku ngejauh, bilang aja. Aku bisa kerjasama, dan kamu nggak perlu akting kaya gini lagi" Valdo yang baru saja menguap dibuat terkejut oleh kata-kata pedas Velyn. Apa baginya Valdo sejahat itu?. Tapi wajar jika Velyn tsk percaya lagi padanya, setelah apa yang ia lakukan pada Velyn selama ini, dosanya seperti takkan pernah hilang jika Valdo tidak merasakan apa yang Velyn rasakan.


Velyn mencoba untuk menarik tangannya lagi saat Valdo menatapnya dengan datar kali ini. Namun, alih-alih melepaskan yang ada cengkraman Valdo malah semakin kuat dipergelangan tangannya.


"Cukup Velyn! aku udah bilang kalau aku nggak pura-pura. Aku harus gimana lagi buat yakinin kamu! aku serius perduli dan aku juga nggak pura-pura!" Velyn menghembuskan nafas kasarnya, bagaimana ia bisa percaya jika Valdo saja pernah melakukan hal yang serupa untuk mendapatkan hatinya lalu menjatuhkannya. Velyn bukan gadis bodoh lagi, ia mencoba memberontak, namun tetap saja usahanya tak cukup kuat untuk menandingi kekuatan Valdo.

__ADS_1


"Aku yang harusnya ngomong gitu kak! hubungan kita udah nggak bisa dilanjutin lagi. Kamu bisa cari Lisa sepuasnya, ketika dia udah ketemu kita langsung pisah. Apa kamu nggak capek mainin aku ha?! gimana aku bisa percaya sama orang yang jelas-jelas udah pernah khianati kepercayaan aku, dan hampir buat aku mati!" Velyn semakin memberontak saja, ia menggeleng ke kanan dan kiri, serta tangannya yang bergerak kasar meskipun hasilnya nihil.


Valdo benar-benar frustasi, matanya kini merah padam dengan ekspresi dinginnya yang menjurus pada gadis dibawahnya. Tanpa aba-aba Valdo segera mencium bibir Velyn, ********** dan mengisapnya. Velyn bahkan tidak bisa berkutik saat ini, ia hanya mampu terdiam dan menghentikan pergerakannya saat Valdo mulai turun kebagian lehernya dan memberikan tanda disana. Pemberontakan Velyn kini berubah menjadi geliat panas yang tak dapat dihindarkan.


Valdo kembali mencium bibir Velyn serta tangannya bergerak membuka kancing baju Velyn yang paling atas. Velyn tak menyia-nyiakan kesempatan itu, tangan kanannya yang semula ditahan oleh Valdo kini dengan bebas memukul punggung Valdo, dan membuat Velyn menggigit bibir Valdo. Valdo mengerang, ia kemudian melepaskan ciumannya dan membiarkan nafas Velyn menderu dengan kasar.


Sial! bahkan adik Valdo kini sudah menegang akibat pergulatan panas yang belum sempat ia selesaikan tadi. Sebenarnya apa yang Valdo pikirkan. Kini Velyn buru-buru bangkit dan menjauh dari Valdo seraya memeluk guling yang berada dibelakangnya. Velyn takut, ia belum siap jika harus memberikan mahkota berharganya pada orang yang sama sekali tidak ia percaya.


Velyn meringkuk dengan wajahnya yang memerah, ia meneteskan bulir air mata, membuat Valdo kini mendekat dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Valdo tidak menyangka jika Velyn sampai ketakutan seperti ini, tubuhnya bergetar. Dan mungkin dia juga belum siap untuk melakukannya. Apalagi pergerakan Valdo begitu tiba-tiba.


"Maafin aku sayang, maaf. Aku nggak bermaksud buat bikin kamu kayak gini. Tapi aku cuma mau meyakinkan kamu kalau kata-kata aku serius. Dulu aku memang salah, aku bodoh nggak pernah lihat perjuangan kamu. Sekarang aku baru sadar betapa bodohnya aku ketika aku nyia-nyiain kamu selama ini" Velyn hanya mampu terdiam. Benarkah apa yang dikatakan Valdo barusan?, bahkan pria ini juga memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Entah mengapa Velyn masih begitu berat untuk memaafkannya. Ia takut untuk kecewa, takut untuk mengulang kejadian yang sama.

__ADS_1


"Pukul aku Lyn! lakuin apa yang pernah aku lakuin ke kamu. Kamu boleh nyiksa aku sama seperti apa yang pernah aku lakuin waktu itu" kata Valdo seraya menamparkan jemari Velyn pada pipi pria itu, membuat Velyn hanya bisa terdiam, terisak seraya menutup mulutnya.


"Aku-aku nyesel Velyn! aku bener-bener ngerasa bersalah dan nggak bisa hilangain rasa bersalah itu yang terus-terusan menghantui aku. Aku cuma butuh maaf dari kamu, nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa percaya, asalkan aku dapat maaf dari kamu itu juga udah cukup."


__ADS_2