Velyn Love

Velyn Love
Cantik


__ADS_3

Suara dering ponsel menggema diruangan berbalut dinding berwarna pink dengan ornamen-ornamen hiasan bernuansa hello kitty disetiap sudutnya.


"hoamppp... siapa sih yang telfon sepagi ini, nggak tau orang lagi ngantuk apa?!"


Gadis itu terlihat masih mengantuk walau matahari telah nampak dan masuk melalui celah tirai jendela kamarnya.


"hoamppp... halo... siapa sih ni? ganggu orang lagi hibernasi aja... nggak sopan tau nelfon manusia sepagi ini"


Ucapnya dengan emosi yang memuncak.


"oh sejak kapan manusia hibernasi?"


Gadis itu seketika terperanjat kala mendengar suara familiar ditelinganya. Buru-buru dirinya bangkit sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya yang terpejam kini mulai terbuka lebar bersamaan dengan jantungnya yang berdebar.


"pa... pak Andra"


Ucapnya gugup sambil berjalan bolak-balik sambil menggigit jarinya.


"saya ada dibawah... kamu kuliah nggak?"


Mata Velyn terperanjat, buru-buru dirinya berlari menghampiri keluar jendela kamarnya yang menjurus langsung pada jalanan dan juga kompleks perumahan warga.


Terlihat seorang berpakaian rapi dengan kemeja dan juga celana kerja dan juga dasi berwarna biru berada tepat dibawah kediamannya. Gadis itu membelalakkan matanya kala Andra beralih menatapnya dan tersenyum seolah tau dimana keberadaan Velyn.


Ditutupnya korden berwarna pink itu dan segera ia membalikkan tubuhnya.


"pak Andra ngapain sih jemput saya segala... nanti kalo diliat tetangga gimana?!"


Ujarnya ketus membuat Andra terkekeh.


"hahaha... ayo kita berangkat... saya sudah berangkat sepagi ini loh"


"siapa yang nyuruh bapak buat jemput saya... saya nggak minta kok"


"tapi saya mau..."


Seketika wajah Velyn memerah, mendengar kata-kata Andra yang spontan.


'aduh pak Andra... bisa nggak sih nggak usah terus terang segala...'


Ujarnya dalam hati sambil memijit pelipisnya.


"sudah... ayo siap-siap, saya akan tunggu kamu dibawah"


"iya.. iya..."


Ucap Velyn sambil memutar bola matanya malas.


.


.


.


.


Andra POV.


Sudah sekitar setengah jam berlalu, aku menunggu Velyn didepan teras rumahnya. Awalnya aku menunggu dia didepan mobil ku, namun seseorang dari dalam rumah memanggilku untuk masuk.


Aku baru menyadari ternyata itu adalah ibu Malia, ibunya Velyn.


Orangnya baik dan perhatian. Ditambah dengan keramahannya yang diberikan padaku.

__ADS_1


"aduh... maaf ya nak Andra, Velyn memang lama kalau dandan..."


Ucap ibu Malia sembari menaruh nampan berisi jus jeruk dan camilan di atas meja. Membuatku semakin segan dibuatnya.


"ah ibu, tidak apa-apa kok... kenapa repot-repot, saya cuma mau jemput Velyn aja"


Ujar ku dengan senyuman yang aku torehkan padanya.


"oh cuma camilan ringan aja kok, dimakan nak Andra..."


"iya... terimakasih bu"


Jawab ku kemudian menyesap jus yang berada didepan mataku. Kulihat rumah Velyn ini yang cukup besar dengan taman dan juga kolam ikan kecil disampingnya.


"oh iya, nak Andra ini ngambil jurusan apa ya? em pasti udah magang kan... pakaiannya rapi gitu"


Ujarnya yang tengah berdiri sambil membawa nampan membuat ku tersenyum dan hendak menjawab.


"saya... bu..."


"Bundaa... aku...."


Velyn keluar dengan tatapannya yang menjurus padaku. Matanya yang bulat itu semakin terlihat lucu kala ia membulatkannya lagi.


Aku tersenyum kearahnya.


"oh... pak Andra udah disini ternyata, bun... aku berangkat dulu ya"


"loh.. kok pak??"


Tanya bu Malia dengan segudang pertanyaan yang ada dibenaknya. Matanya secara bergantian menatap kami dengan kernyitan di dahinya.


"pak Andra ini dosen Velyn bun... udah ya, Velyn buru-buru dah bunda... assalamualaikum..."


Terangnya sambil mengecup punggung bu Malia. Terlihat wajahnya yang tak menyangka itu beralih padaku, dan aku pun ikut menyalaminya dengan posisi yang sama.


"eh... jangan pak... kamu kan dosennya Velyn"


"ibu nggak usah kaku sama saya, anggap aja anak sendiri nggak usah manggil pak... barangkali dirumah ibu butuh anak lagi hehehe"


Ucap ku memberikan gurauan padanya. Terlihat beliau ikut terkekeh dengan apa yang aku katakan.


"hehe mantu juga boleh..."


Ucapnya lagi membuatku tersenyum menang kearah Velyn yang kali ini menggerutu. Wah lampu ijo nih, butuh mantu katanya.


"aduh bunda apaan sih"


Tanpa sadar Velyn menarik lengan ku, meninggalkan bu Malia yang kini terlihat terkejut dengan tingkah anaknya yang terang-terangan dihadapannya.


"hati-hati nak..."


Teriaknya yang masih bisa kudengar meski samar.


.


.


Di dalam mobil tiada percakapan diantara kami. Membuat suasana menjadi canggung, aku mencoba untuk mencairkan suasana dengan meliriknya.


Terlihat ia menyadari apa yang aku lakukan.


"bapak ngapain sih...!"

__ADS_1


Ujarnya kesal membuatku terkekeh.


"akhirnya mau ngomong juga hehehe"


Aku lihat matanya itu yang membulat, dan wajahnya yang memerah. Entah mengapa semenjak aku mengenal mahasiswi ku yang satu ini aku jadi semakin tertarik untuk mengenalnya.


Beberapa kali kulirik dia yang fokus melihat jalanan yang berada disisi kanan.


"mau sarapan dulu?"


Gadis itu menggeleng dengan cepat.


kruyuuukkk....


Suara itu membuat bibir ku berkedut menahan tawa.


"yodah... sarapan juga boleh"


Ujarnya yang membuatku mengangguk dengan kekehan yang hampir tak bisa didengar.


Kami telah sampai di Cafe breakfast and Dinner. Terlihat gadis dihadapan ku ini dengan rakus melahap roti isi selai kacang yang baru ku tau ini adalah menu favoritnya.


Ia menatapku dengan pandangan yang datar, dan sedetik kemudian ia membuang muka kala aku mulai tersenyum kearahnya.


"kalo makan itu pelan-pelan, masa makan belepotan gini sih"


"hah?! yang mana? sini ya?"


Velyn memegang bibir bawahnya dan aku menggeleng. Aku mencoba untuk mengisyaratkan bahwa noda selai kacang itu berada disudut bibi bawah kanan, namun ia sama sekali salah menyentuh.


"bukan... disitu"


Aku merasa gemas, kuputuskan untuk mendekatkan wajahku dan menyentuh bagian yang terdapat bekas selai kacang dibawah bibirnya.


Kurasakan hembusan nafasnya yang semakin dekat padaku.


Mata bulatnya menatap lekat wajahku yang kali ini menatapnya tanpa bisa berkedip sedikitpun.


Velyn, gadis cantik ini begitu mempesona, wajahnya putih mulus dengan alisnya yang tebal tanpa pensil alis. Bibirnya merah dan tipis, dan juga hidung yang bangir dan sempurna.


Aku menelan saliva ku saat menyadari wajah kami saling berdekatan. Segera aku memundurkan wajah ku lagi.


Kulihat ia mulai membetulkan posisi duduknya dan terlihat wajahnya yang memerah. Aku tersenyum meski ia tak melihat ku, kurasakan getaran yang selama ini tak pernah aku rasakan pada gadis manapun.


"kamu cantik"


Gumam ku membuatnya mengalihkan pandangan kearah ku dan tersentak.


"hahh??!"


Aku spontan bimbang dan gelagapan.


"apa?!"


"pak Andra tadi ngomong apa sih?!"


"eng... enggak, saya nggak ngomong apa-apa tuh... kamu salah dengar mungkin"


Velyn kembali menyantap sarapannya yang belum juga selesai.


.


Andra POV end

__ADS_1


.


__ADS_2