
Velyn berjalan cepat menuju kamarnya, ia bahkan mengabaikan keberadaan orangtuanya saat tengah makan malam. Melihat bekas tangisan dipipi putrinya, bunda Velyn hanya bisa menghela nafas seraya melirik Rahardian yang kini menatapnya.
Velyn mengunci pintunya rapat-rapat, ia membanting buku tebal milik Andra yang diberikan untuknya diatas ranjang. Velyn terduduk seraya memeluk lututnya, tangisannya pecah begitu saja. Ia bahkan begitu terluka, bahkan lebih terluka daripada Andra.
"*Velyn, bunda harap kamu bisa memenuhi keinginan ayah sayang. Ayah sangat berharap kamu nikah sama Valdo"
"Kenapa harus aku yang jadi tumbal bun! aku punya pacar, dan dia juga sayang sama aku. Apa bunda nggak ingat gimana Valdo pergi dan mutusin gitu aja perjodohan ini?!"
"Tapi, ayah kamu udah nggak ada waktu lagi sayang*!"
Velyn terisak mengingat perdebatan antara dirinya dengan bundanya. Harus bagaimana, menghadapi kenyataan yang ia takuti. Ia juga tidak mau egois terhadap Andra, pria yang sempurna akan lebih baik mendapatkan wanita yang lebih sempurna daripada dirinya.
Lama kelamaan matanya yang semula hanya memerah kini berubah sembab oleh air matanya yang tak mau berhenti untuk menangis.
"Maafin aku Andra, aku juga cinta sama kamu, tapi aku nggak bisa" gumam Velyn seraya memeluk tubuhnya sendiri. Bayangan beberapa hari lalu bagi Velyn cukup indah karena ada Andra disampingnya. Ia tidak pernah sebahagia itu dan tidak pernah sesakit ini.
Velyn bangkit dari duduknya, dengan isakan yang masih tersisa gadis itu perlahan mengambil buku tebal bersampul putih itu dan berjalan lunglai menuju meja belajarnya yang tepat berada di samping jendela kamar.
Velyn menyeka air matanya, ia ingat terakhir kali ketika perpisahannya bersama Andra. Pria itu memberikan buku ini yang sudah lama ingin ia tunjukkan padanya. Velyn membuka buku itu dihalaman pertama, dan matanya pun membulat sempurna dan menutup mulutnya tak menyangka.
__ADS_1
Flashback on.
Hati Andra terasa lega, ia membuka buku tebal yang berada ditangannya. Rasanya ta sabar memberikan buku itu pada kekasihnya. Buku yang menjadi sejarah akan kekagumannya pada sosok Velyn yang dulunya menjadi murid SMA tempat ia bekerja.
Lembar demi lembar buku itu sengaja Andra buka, memperlihatkan beberapa momen dimana Velyn masih gendut dan mengenakan kacamata besarnya. Tanpa sepengetahuan orang lain bahkan dirinya diam-diam memperhatikan gadis pujaannya itu. Meskipun banyak sekali siswi yang mengidolakannya tapi ia tak pernah melepaskan pandangannya dari gadis berambut panjang yang selalu dikepang tersebut.
Velyn begitu sederhana saat itu, polos dan juga terlihat manis. Meskipun banyak teman-temannya yang membully Velyn tapi secara diam-diam Andra selalu melindunginya dari belakang. Bahkan setiap ia tak sengaja melihat Velyn di suatu tempat, pria itu selalu mencuri pandang dan mengambil fotonya tanpa sepengetahuan siapapun.
Namun sayangnya ada kala dimana Velyn menghilang saat dirinya hampir mencapai kelulusan. Saat itu Andra juga selesai untuk kuliah S2, ia sengaja kuliah agar bisa melanjutkan profesinya sebagai dosen, dan nantinya ia bisa melihat Velyn lagi sebagai dosennya tentunya.
Namun sayangnya pada saat itu Velyn ternyata menghilang, pihak sekolah juga enggan untuk berkomentar. Seperti ada rahasia dibelakangnya, namun setahun kemudian akhirnya gadis itu muncul lagi. Siapa kira saat Andra tengah menjadi dosen ia mengajar seseorang yang mirip sekali dengan Velyn. Namun penampilannya begitu berbeda, lebih kurus dan juga semakin cantik tentunya. Andra tak menyangka, setahun berlalu tanpa kabar dari gadis itu yang mengisi kekosongan dibukunya dan hanya menyisakan tulisan akan pertanyaan dimana keberadaan dia, dan akhirnya Velyn kembali dan sekali lagi kebetulan bertemu di kampus yang sama. Saat itulah Andra diam-diam melanjutkan profesinya sebagai pengagum rahasia Velyn. Orang yang begitu mencintai gadis itu namun ia tak berani mengambil kesempatan.
Flashback off.
Langkah lunglai Andra kini mendekati laci ruang kerjanya. Pria itu duduk di kursi dan menarik laci tepat dibawah mejanya. Andra mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah dan membukanya perlahan.
Tampak cincin emas dengan berlian indah ditengahnya. Ia sengaja mempersiapkan cincin itu untuk melamar Velyn, mengingat antusiasnya yang begitu ingin menikah.
Mata Andra semakin lama semakin memerah, secinta-cintanya dirinya dengan Velyn itu takkan membuat dirinya egois. Meskipun Andra ingin menahannya, tapi itu tidak akan membuat Velyn bahagia.
__ADS_1
"Aku cinta sama kamu sayang" gumamnya seraya meneteskan air mata yang ia tahan sedari tadi.
Rasanya begitu sakit, hingga Valdo ingin membawa Velyn pergi saja dan menikahinya ditempat lain. Tapi dengan kebungkaman gadis itu, Andra juga tak bisa berbuat apa-apa.
***
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat gadis itu segera menutup buku tebal itu dan segera menaruhnya di tempat semula.
"Velyn sayang, kamu udah tidur belum" Velyn terperanjat, ia segera menyeka air matanya dan bersikap tenang agar suara seraknya tidak terdengar.
"Bentar lagi bun!" teriaknya membuat bunda dibalik pintu menghela nafasnya.
Velyn juga tak bisa membiarkan bundanya untuk masuk dan melihatnya terisak seperti ini.
Velyn memeluk boneka yang berada diatas kasur, ia memejamkan matanya seraya mengingat kenangan nya bersama Andra. Ia bahkan tak pernah menyangka jika laki-laki yang baru saja ia sakiti sudah menyukainya dari awal mereka bertemu.
"Maafin aku Ndra, maaf"
__ADS_1