
Suara dering ponsel Velyn membuat gadis itu yang semula melangkah cepat kini menghentikan kakinya sejenak. Velyn segera mengangkat panggilan itu tatakala mengetahui bahwa Malia tengah menelfonnya.
"Halo bunda?" sejenak Velyn membulatkan matanya, namun sedetik kemudian ia tersenyum seraya menutup mulutnya tak percaya.
"Apa?! ayah udah bangun?! Alhamdulillah, ya udah sekarang Velyn udah ada di lobi mau keruangan ayah ni" Velyn buru-buru mematikan ponselnya sepihak. Ia benar-benar senang kali ini, akhirnya selama dua hari ayahnya tak sadarkan diri, kini Rahardian sudah bisa membuka matanya.
Velyn berjalan cepat seraya tersenyum senang mendengar kabar tersebut. Langkahnya semakin cepat hingga tak sadar dirinya menabrak seseorang hingga orang itu jatuh seketika.
Velyn mengernyit, ia buru-buru membantu wanita itu yang kini tampak memegangi lengannya seraya mengaduh kesakitan. Gadis itu berjongkok, membantu wanita cantik dengan rambut panjang sebahu.
"Maaf mbak, nggak sengaja" wanita tersebut tampak mengernyitkan keningnya seraya menatap Velyn yang kini sama terkejutnya dengannya.
"Elo?!" perempuan itu buru-buru bangkit dengan menatap Velyn sinis seolah menunjukkan ketidaksukaannya. Velyn yang sebelumnya tersenyum senang kini wajahnya berubah saking tak menyangkanya bisa bertemu Angelita disini.
Apalagi ia keluar ruangan dengan buru-buru membuat Velyn menatap ruangan itu yang bertuliskan spesialis dokter kandungan. Velyn mengernyit, ia memperhatikan Angelita yang kini menatapnya tajam seolah dia adalah musuhnya.
"Gue mau ngomong sama lo!" ujar gadis itu seraya menarik lengan Velyn membuat gadis itu menurut saja seraya masih mengerutkan dahinya bingung. Velyn benar-benar tidak paham dengan apa yang akan dilakukan Angelita padanya, padahal mereka juga tidak dekat. Hanya saja saling mengenal karena satu angkatan. Gadis berambut hitam yang dicat merah sebagian, dengan aksennya yang begitu cantik membuat Angelita menjadi primadona kampus. Ditambah bodynya yang begitu seksi dan pakaiannya yang serba terbuka, membuat lelaki mana saja pasti akan terpikat oleh pesonanya.
__ADS_1
Angelita membawa Velyn kedalam toilet khusus wanita. Sejenak Angelita menunggu wanita setengah baya yang kini keluar dari dalam toilet untuk meninggalkan mereka berdua disana.
"Kenapa kamu ngajak aku kesini? emang kita sebelumnya punya masalah ya?" tanya Velyn saat setelah wanita itu keluar dan menyisakan dirinya serta Angelita disana.
Tampak Angelita menatap gadis dihadapannya dengan sinis, ia menatap Velyn dari atas sampai bawah. Tidak ada istimewanya sama sekali, masih jauh cantiknya dengan dirinya. Pikir Angelita seraya berdecak.
"Gue heran deh sama lo, kok bisa sih Andra jatuh cinta dan tergila-gila sama lo, lo pasang susuk ya? melet dia? makanya dia sampek ngigau terus manggil nama lo" Velyn menggeleng, ia sampai tidak habis fikir, ternyata alasan Angelita memanggilnya kemari hanya untuk membicarakan Andra. Ia sama sekali tak mengerti, apa Andra tidak menceritakan padanya jika hubungan keduanya sudah putus.
"Aku sama Andra udah putus kok, kalo kamu mau pacaran sama dia itu terserah kamu. Ini udah nggak ada hubungannya sama aku" ujar Velyn seraya membalikkan tubuhnya hendak keluar dari suasana dan tempat yang membuatnya tambah kesal saja.
"Tunggu! gue belum selesai ngomong" kata Angelita seraya menahan lengan Velyn untuk tidak keluar dari toilet itu terlebih dahulu.
"Gue hamil, dan ini anak Andra" Velyn membulatkan matanya. Ia membalikkan tubuhnya seraya menatap Angelita tak percaya. Bagaimana mungkin Andra akan melakukan hal seperti itu?, Velyn benar-benar tidak percaya. Ia menggeleng seraya menghempaskan tangan Angelita yang kini masih bertengger menahan lengannya.
"Kalo kamu mau ambil Andra, silahkan aja! aku udah bilang kan aku udah putus sama dia. Tapi kamu juga nggak seharusnya ngomong yang nggak-nggak soal dia" tidak, Andra bukanlah orang yang seperti itu. Ia ingat Andra adalah pria yang lembut dan baik. Perkataan Angelita tidak bisa dipercaya oleh Velyn sama sekali. Meskipun terakhir Velyn dan Andra putus sudah setengah bulan lalu tapi mana mungkin ia berhubungan dengan wanita lain secepat itu?.
"Gue punya bukti!" Angelita mengeluarkan sebuah kertas dan menunjukkannya pada Velyn. Gadis itu menatap kertas itu dengan pandangan bimbang, namun rasa penasarannya begitu bergejolak dan semakin tak karuan.
__ADS_1
Velyn membuka kertas tersebut, dan benar saja. Di dalamnya bertuliskan laporan bahwa Angelita sudah hamil selama dua minggu. Velyn menutup mulutnya tak percaya, ia benar-benar tak menyangka.
"Malam dimana lo putus, gue liat Andra sendirian mabuk di bar. Karena gue nggak sengaja liat dia, dan kebetulan Andra juga kenal gue, jadi kita ngobrol. Sampek dia ngajakin gue minum bareng, dia bahkan curhat soal lo. Tapi waktu gue mau bawa Andra pulang dan bawa dia pulang, kami khilaf. Gue nggak sadar, Andra juga waktu itu lagi mabuk berat. Gue sama dia di mobil-"
"Stop! aku nggak mau dengerin seterusnya" Velyn terisak, dadanya begitu sakit ketika mendengar penjelasan dari Angelita. Velyn meremas surat laporan ditangannya seraya menteskan air matanya tanpa henti.
Begitu sakit dan pedih, ia sampai tak bisa bernafas saking terlukanya. Kenapa? padahal sebelumnya ia sudah gigih untuk melupakan Andra yang pergi dari hidupnya. Seharusnya Velyn biasa saja mendengarnya, tapi rasanya ia bahkan tak bisa berkata-kata lagi.
"Gue tau Lyn, cuma lo yang Andra cintai, itu sebabnya tiap kali kita ngelakuin itu. Andra selalu manggil nama lo. Dan gue benci itu, gue benci sama lo Lyn. Meskipun lo sakit, tapi gue jauh yang lebih sakit dari lo!"
Velyn berusaha tegar, ia menajamkan indera pendengarannya lagi. Apa? tiap kali? apa berarti mereka sering melakukannya? Velyn menghapus jejak air matanya. Apa yang dimaksud Angelita? terluka bagaimana? Velyn benar-benar tidak habis fikir.
"Dia nggak akan mau nikahin gue Lyn! gue udah bilang kalau perawan gue di ambil sama dia. Tapi dia nggak perduli, sekarang siapa yang lebih sakit daripada kita? gue yang dimanfaatin buat ena-ena sama dia, tapi pada akhirnya. Tetep lo yang menang di hatinya Lyn!" Velyn tidak ingin mendengarnya lagi. Ia buru-buru pergi meninggalkan Angelita yang kini masih berteriak memanggilnya tanpa henti.
Tak perduli lagi apa yang orang lain pikirkan terhadapnya. Tapi yang jelas, ia ingin sendiri saat ini. Mata Velyn kini semakin sembab, kenapa Tuhan selalu memberikan kejutan seperti ini padanya. Kejutan yang tak menyenangkan, membuat hati dan batinnya tersiksa.
Velyn menghentikan langkahnya, ia menyandarkan punggungnya disebuah tembok dan lorong yang sepi. Velyn memeluk lututnya seraya menangis sesenggukan. Sesungguhnya di hati kecilnya, ia masih berharap akan kembalinya hubungannya dengan Andra. Tapi sepertinya takdir tengah mempermainkannya. Seolah tiada lagi harapannya untuk orang yang paling dia cinta.
__ADS_1