Velyn Love

Velyn Love
Lupa


__ADS_3

Pria itu mulai menggeliat dengan wajahnya yang memerah serta tubuhnya yang polos dibalik selimut tebal yang ia kenakan. Pakaian kantornya tampak berantakan dibawah ranjang. Pria itu perlahan membuka matanya, ia baru sadar akan keberadaannya yang berada di kamarnya saat menyadari bayang-bayang kamarnya dengan cat putih dan biru yang mendominasi.


Ia melirik tubuhnya yang kini terlihat polos seraya mengingat-ingat apa yang terjadi padanya semalam. Namun sialnya, ia tak dapat mengingat apapun malam itu.


Rasanya kepalanya amat pusing sekarang. Kepalanya terasa berputar saat ia mulai mengingat malam tadi. Malam saat ia frustasi dan memilih untuk menghilangkan penatnya di sebuah bar dan Adrian yang mengantarkannya untuk pulang.


Tapi apa yang terjadi saat ini? ia malah berbaring tanpa busana dibalik selimut yang menutupi tubuhnya. Valdo melihat seisi kamar seraya masih memegangi kepalanya yang amat penat. Ia menatap baju kantornya yang sudah digantung rapi, lengkap dengan dasi celana serta jas kerjanya. Ia juga melirik nakas yang terdapat air lemon disana. Air lemon memang bisa meredakan mabuk cukup efektif.


Ini semua pasti perbuatan Velyn istrinya. Valdo menghela nafas lelah, seminggu berlalu dan ia sengaja tak mengabari keadaannya pada istrinya itu. Entah apa yang dipikirkan Velyn saat ini. Namun keadaan yang memang tidak memungkinkan baginya untuk menghubungi Velyn saat itu juga.


Valdo meraih jus lemon yang sudah dipersiapkan Velyn diatas nakas seraya meneguknya. Ia kemudian berjalan gontai kearah kamar mandi sambil meraih handuk dan menutupi tubuh polosnya.


Valdo menatap pantulan dirinya didepan cermin. Ia mengusap kasar wajahnya seraya meraih sikat gigi yang berada didepannya. Tiba-tiba kegiatannya untuk mencuci muka terhenti kala ia melihat keranjang baju yang membuat perhatiannya teralihkan. Sebuah baju piyama Velyn yang tidak asing baginya, sudah rusak akibat robekan brutal entah darimana.


Valdo membulatkan matanya, atau jangan-jangan dia tadi malam?. Oh Tuhan, pikiran Valdo benar-benar tidak bisa tenang saat ini. Ia menutup mulutnya seraya mengacak rambutnya frustasi. Atau jangan-jangan Valdo telah menyakiti dan memaksa Velyn untuk melayaninya dalam keadaan tidak sadar?. Sungguh Valdo tidak ingat sama sekali. Namun nanti ketika Velyn sudah pulang dari kegiatan belajarnya, Valdo pastinya akan memastikannya sendiri.


***

__ADS_1


Hari ini adalah hari pertama Velyn magang. Ditempat perusahaan suaminya. Melihat keadaan Valdo yang seperti semalam tengah mabuk berat, bisa dipastikan jika pria itu tidak akan datang hari ini. Setidaknya hati Velyn sedikit merasa lega. Meskipun kali ini dirinya tidak bisa terlalu semangat dalam praktek pertamanya, tapi Velyn akan berusaha.


"Lyn? lo kenapa? jangan gugup gitu dong, gue juga grogi tau" Velyn hanya mampu tersenyum pada Cristyn yang kini duduk disampingnya seraya memainkan jarinya sejak tadi.


"Udahlah kita pasti bisa, lagian ini cuma interview buat mahasiswa biasa aja, bukan mau ngelamar kerja. Santai aja" ucap Velyn sekenanya seraya menghibur hati Cristyn yang sedari tadi dilanda ketakutan dalam hatinya


Sedangkan Dira, sayangnya gadis itu beda departemen dengan mereka. Untung saja tidak banyak yang mengetahui bahwa Velyn adalah istri dari pemilik perusahaan ini, jadi Velyn tidak akan terlalu khawatir.


Saat ini mereka tengah duduk seraya menunggu panggilan dari HRD. Maklum saja, meskipun mereka terpilih dari kampus tapi juga harus melewati sesi wawancara. Seperti yang dilakukan para pekerja lain. Tak banyak yang mengikuti tes, mungkin hanya sekitar lima belas orang. Dan untungnya mereka bukanlah dari para orang yang hendak melamar kerja. Namun sama seperti Cristyn dan Velyn, yaitu mahasiswa yang berharap untuk masuk dan magang di perusahaan sebesar itu.


Setelah melewati sesi wawancara akhirnya Velyn dan Cristyn diterima juga. Maklum saja, disamping kampus mereka yang cukup terkenal dan bekerjasama dengan perusahaan ini, keduanya juga cukup bagus dalam nilai akademik.


"Arvelyna Putri Chandra" suara asing itu membuat Velyn dan Cristyn yang tengah mengobrol terhenti seketika dan menatap wanita dengan setelan kerja menghampiri mereka.


"Iya, saya. Ada apa ya bu?" tanya Velyn seraya bangkit dari duduknya. Terlihat wanita itu tampak tersenyum seraya membetulkan kacamatanya yang tampak mengendor beberapa senti dari matanya.


"Selamat, diantara mahasiswa yang lain nilai kamu mendapat nilai tertinggi. Maka dari itu, kami menunjuk kamu untuk menjadi sekretaris Manager" Velyn membulatkan matanya tak menyangka. Padahal sebelumnya ia diberikan posisi bagian divisi pemasaran. Namun tiba-tiba saja ia ditunjuk sebagai sekretaris manager. Apa masih masuk akal? dan menurutnya posisi itu terlalu tinggi untuk dipelajarinya.

__ADS_1


Velyn mengernyit, ia menggeleng seraya tersenyum pada wanita itu yang tampak masih menatapnya dalam-dalam.


"Ma-maaf bu, tapi, saya ini masih mahasiswa. Saya takut belum bisa-"


"Nggak apa-apa, kamu pasti bisa. Lagipula karena kamu masih magang kami juga akan membimbing kamu. Tapi jika kamu menolak, maka akan sangat disayangkan jika kamu menyia-nyiakan pontensi yang kamu miliki" Velyn melirik Cristyn dengan pandangan ragu dan sedikit takut. Pasalnya meskipun ia sudah berusaha dan belajar banyak, namun ia benar-benar tak tau apa yang harus dilakukan dan tugas sebagai seorang sekretaris.


Cristyn memberikan anggukan seraya tersenyum manis. Seolah menjadi isyarat agar Velyn menerima tawaran itu.


"Baik, saya akan lakukan yang saya bisa. Mohon bimbingannya ya bu" wanita itu terlihat amat senang dengan persetujuan drai Velyn yang sebelumnya tampak ragu. Ia kemudian menyalami Velyn seraya mengucapkan selamat padanya sebelum kembali lagi ke kantor HRD.


"Selamat dan terimakasih atas partisipasinya ya, kamu pasti bisa kok" ujar wanita itu seraya berangsur pergi. Membuat nafas Velyn yang tadinya sempat terhenti kini akhirnya bisa membuangnya dengan lega seraya terduduk kembali disamping Cristyn.


"Wah, semangat ya Lyn! lo pasti bisa. Gue jadi ikut bangga deh kalo perwakilan dari kampus kita bisa langsung jadi sekretaris manager. Lo harus buktiin Lyn kalo lo bisa"


"Cris, lo bisa nggak sih ngertiin perasaan gue dikit aja. Sekali gue dapet nilai bagus nggak akan ada bedanya gue sama lo setelah magang. Tapi kalo gue sampek gagal, lo bisa bayangin deh gimana nasib gue. Ilmu gue tuh masih cetek!" kesal Velyn seraya memanyunkan bibirnya. Lagipula kenapa juga dirinya seorang mahasiswa magang bisa menjadi sekretaris manager seperti itu. Bukankah begitu aneh ketika seseorang belum berpengalaman dalam bekerja, dan harus dituntut dengan pekerjaan yang menguras pikiran seperti itu.


"Udahlah, itu nasib lo kali, hehehe. Kalo nilai akademik lo emang bagus berarti perusahaan emang percaya sama mahasiswa macem lo buat bantuin mereka, sekaligus naikin nama kampus juga. Udahlah lo pasti bisa kok Lyn, lagian kan pastinya lo bakalan dibimbing juga" meskipun tidak bisa mengurangi pikirannya yang tengah buntu, namun perkataan Cristyn ada benarnya juga.

__ADS_1


Tidak mungkin mereka menunjuk pekerja secara asal. Mungkin Velyn memang terlalu banyak berfikir sehingga ia membayangkan hal yang tidak-tidak.


__ADS_2