Velyn Love

Velyn Love
Semakin mesra


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Kehidupan Velyn kini akhirnya berjalan normal kembali, Valdo pun telah mengusir Lisa dari rumah semenjak kejadian itu. Meskipun begitu wanita itu belum menyatakan perasaan yang sesungguhnya terhadap Valdo yang kini notabenenya adalah suaminya sendiri.


Jam makan siang pun tiba, namun Velyn juga belum kunjung menemui suaminya. Ia masih berkutat pada pekerjaannya yang semakin lama semakin menumpuk. Tak hanya itu, sebentar lagi masa magang dirinya di perusahaan itu hampir selesai, yang artinya ia takkan bertemu dengan Valdo lagi setelah masa magangnya usai.


Meskipun status mereka belum ada yang mengetahui dan mungkin hanya Dira, Christyn dan Adrian, Velyn masih saja terganggu dengan gunjingan orang-orang tentang dirinya yang menggoda atasan. Tapi mau bagaimana lagi profesionalitas harus diutamakan untuk saat ini. Ia tak ingin dianggap mengambil jalan pintas untuk mendapatkan nilai sempurna dalam laporan tugasnya.


Jika diingat pertama kali Velyn masuk ke perusahaan ini, waktu itu Valdo pergi dari rumah. Velyn bahkan sempat berburuk sangka padanya. Namun setelah dijelaskan oleh pria itu, kini Velyn mengerti bahwa Valdo tidak ingin membuat Lisa menderita karena tekanan dari Gaisan. Meskipun Valdo akan menceraikan Lisa, ia tetap berhutang nyawa padanya, karena jika bukan papanya mungkin Lisa akan hidup menjadi orang yang lebih baik.


Velyn menyunggingkan senyum, apa sebaiknya ia mengaku saja pada Valdo? tapi mengingat hal itu Velyn seperti belum siap. Ia bahagia dengan keluarganya saat ini, namun ada ragu dalam hatinya ketika hendak mengatakan segalanya.


Velyn menyesap kopinya seraya menatap pemandangan dihadapannya, gedung tinggi pencakar langit terlihat jelas didepan matanya. Velyn menghela nafasnya, sejujurnya ia ingin sekali mengatakan perasaannya, bahkan terbuka dengan penyakit yang ia derita. Tapi Velyn terlalu takut, takut untuk kehilangan orang yang paling ia sayangi.


Sudah cukup penderitaan yang ia alami selama ini, kebahagiaan yang hanya berupa angan, kini seolah ia gapai dengan mudah. Rasanya Velyn memang sedikit egois, tapi tidak masalah jika ia tau batasannya.


"Lagi mikirin apa?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba memeluk Velyn hingga membuatnya terkejut. Siapa lagi kalau bukan Valdo suaminya. Lelaki satu ini bisa membuat jantung Velyn bekerja dengan sekuat tenaga, membuat debaran dihatinya merambah ke seluruh tubuh.


"Bukan apa-apa"


"Serius? tapi kenapa nggak datang ke kantor ku ya?" Velyn terkekeh seraya membalikkan tubuhnya, ia meletakkan kopinya diatas meja seraya mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Maaf ya, bentar lagi masa magang aku berakhir, jadi harus selesain tugas. Kamu tau sendiri kan mas kampus yang kamu pilih buat aku itu kaya gimana?" Valdo memegang erat pinggang istrinya, ia mencium pipi Velyn dengan mesra seraya mencoba untuk membisikkan sesuatu padanya.

__ADS_1


"Kalau gitu, kamu nggak perlu kuliah. Gimana kalo jadi istri yang baik dan menggoda di atas ranjang" mata Velyn membulat mendengar bisikan Valdo yang begitu mesra di telinganya, wajahnya memerah oleh godaan Valdo yang begitu intim itu.


"Mas! apaan sih!" Velyn memukul pelan dada bidang Valdo, ia membalikkan tubuhnya seraya menyembunyikan wajahnya yang tengah memerah. Kesempatan itu digunakan Valdo untuk memeluk pinggang istrinya seraya menyandarkan dagunya di pundak Velyn.


"Velyn, setelah aku resmi cerai sama Lisa nanti, aku janji nggak bakal nyakitin kamu lagi. Aku bakal bahagian kamu seperti janji aku ke ayah kamu. Maafin aku yang dulu sayang, maafin aku yang pernah nyakitin kamu berkali-kali. Aku sadar, aku nggak bisa hidup tanpa kamu" Velyn sedikit memiringkan wajahnya, rambut yang ia kuncir dimainkan manja oleh sang suami, membuatnya tersenyum bahagia.


"Aku udah maafin kamu kok mas, aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf ke aku"


"Aku nggak tau lagi harus ngomong apa. Betapa beruntungnya aku bisa punya istri sebaik dan sehebat kamu, aku bahkan sekarang ngerasa malu karena belum bisa ngasih hak dan kebahagiaan ke kamu sayang" Velyn menepuk pelan pipi Valdo ketika suaminya itu menempelkan wajah mereka.


"Dengan kamu mau berubah, itu udah cukup bikin aku bahagia mas" Valdo menyentuh pipi Velyn membiarkan tubuh mereka saling menempel dan berhadapan.


"Aku cinta kamu"


"Aku-" belum sempat Velyn membuka mulutnya untuk mengatakan hal yang sejujurnya, tiba-tiba saja Valdo segera ******* bibir tipis Velyn. Bibir manis kesukaan Valdo yang sangat ia cintai. Ia tak ingin mendengar apapun lagi, baginya yang penting Velyn selalu ada disisinya, tak peduli ia merasakan hal yang sama ataupun tidak.


"Velyn!" suara seorang wanita yang kini tiba-tiba masuk membuat Velyn terkejut seraya mundur selangkah dari Valdo. Ia menatap Leni yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya sejenak seraya tersenyum dan memberi salam terhadap Valdo.


"Kak Leni"


"Kenapa kamu kesini? nggak pakek ketuk pintu, sopan santun kamu dimana?" pertanyaan menohok dari Valdo itu membuat keberanian Leni ciut seketika. Sedang Velyn hanya mampu menepuk jidatnya dan tersenyum kearah Leni yang kini masih menunduk ketakutan.


"Pak Valdo, mungkin saya harus kembali bekerja dulu. Untuk hal lain mungkin kita bisa bicarakan nanti"

__ADS_1


"Nggak perlu" Valdo kemudian menatap Leni yang sepertinya hendak pamit itu.


"Ka kalau begitu sa saya"


"Inget ya, jangan sampai ada gosip tentang saya dan istri saya sendiri- hemmmpp"


"Mas!" gumam Velyn seraya menutup mulut Valdo sekuat tenaga membuat Leni membulatkan matanya. Apa? istri? apa ia tidak salah dengar. Velyn adalah seorang istri dari Valdo, pewaris tunggal pemilik perusahaan ini. Kali ini Leni hanya mampu terdiam tanpa kata, ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan Valdo barusan.


"Kak Leni jangan-"


"Kalau gitu saya permisi dulu, semoga sukses ya Lyn" kata Leni diakhiri dengan kedipan matanya seraya menahan tawa akibat kemesraan keduanya barusan.


Padahal Leni sudah berfikir buruk tentang Velyn ketika melihat keduanya bermesraan. Ia pikir Velyn adalah seorang wanita yang tidak baik, mengambil inisiatif untuk menggoda Valdo. Namun tidak disangka, ternyata Valdo malah mengungkapkannya dengan sengaja.


Mungkin Valdo memang sudah bercerai dari istri pertamanya itu. Sudah lama juga Lisa tidak pernah muncul di perusahaan. Terakhir waktu kemarin itu, dan dia pun muncul setelah bertahun-tahun tidak pernah mengunjungi Valdo lagi.


"Mas, kamu apa-apaan sih?! kenapa kamu bilang ke kak Leni kalau kita suami istri. Kamu gila ya!" ucap Velyn seraya mendongak menatap Valdo yang masih ia bungkam mulutnya itu. Valdo hanya mampu melotot.


"Kamu itu jangan seenaknya gitu dong mas! aku nggak mau dikira dapat nilai bagus dari hasil yang nggak sportif" Velyn menyentuh dahinya seraya menggeleng. Ia tampak frustasi saat ini.


"Terus ini gimana dong, bakal banyak tau kalau kita ini udah nikah? kuliah aku gimana? kalau aku dikira curang? apalagi aku magang dapat posisi tertinggi. Mas! kamu bisa nggak sih jangan cuma diem aja? kasih solusi kek, ini semua kan gara-gara kamu juga!" ucap Velyn frustasi seraya menatap Valdo dengan matanya yang membulat.


"Gimana aku mau ngomong, kalau tangan kamu aja bungkam mulut aku, tapi nggak apa-apa sih" tiba-tiba saja Valdo yang awalnya memegang pergelangan tangan Velyn dan mengecupnya dengan tatapan mesranya itu.

__ADS_1


"Aku suka kok kamu yang agresif"


"Mesum!" ujar Velyn seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah membuat Valdo mengusap puncak kepala Velyn dengan gemas.


__ADS_2