Velyn Love

Velyn Love
Sebenarnya


__ADS_3

"Kenapa bengong disitu? masuk" perintah Valdo membuat gadis itu yang semula terpaku kini terperanjat dan mengangguk. Velyn memasuki mobil hitam itu perlahan, ia duduk di jok depan dan tak lupa memakai sabuk pengaman.


Keheningan membuat atmosfer di mobil menjadi semakin canggung, apalagi Velyn yang memang enggan untuk mengajak Valdo bicara. Biar saja ia diam seraya menatap jalanan, takutnya nanti malah salah bicara.


Velyn memejamkan matanya beberapa kali, ia menoleh kearah jalan tanpa melirik Valdo sedikitpun. Sedangkan Valdo, kini hanya bisa berdecak seraya menggerutu dalam hatinya. Rasanya seperti dirinya dimusuhi saat ini. Atau mungkinkah Velyn masih sakit hati dengan pernyataannya kemarin itu?. Valdo menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala, ia berfikir sejenak seraya menyentuh hidungnya yang mancung. Benar-benar suasana yang begitu canggung sekali.


Tapi itu juga salahnya, jika saja Valdo agak sedikit lembut, mungkin saja Velyn tidak akan bersikap seperti ini. Tapi kenapa pikirannya malah penuh dengan sikap Velyn yang tidak biasa padanya?. Valdo benar-benar bingung, ia menjalankan mobilnya lagi saat lampu lalulintas sudah menyala hijau kembali.


"Minggu, Nino pengen main sama lo, kalo lo nggak keberatan, gue pengen minta


tolong. Main sama dia sebentar aja" ujar Valdo memecah keheningan membuat mata Velyn membelalak. Apa dia tidak salah dengar? Valdo mengundangnya untuk kerumah?.


Kini keberanian yang tadinya ciut Valdo kumpulkan demi menghilangkan perasaannya yang tak enak itu.


"Emangnya kamu ngebolehin? bukannya kemarin itu ada orang yang bilang ya sama Nino kalau dia nggak boleh deket-deket sama orang asing"


"Lo bukan orang asing, bentar lagi juga jadi mamanya Nino" ujar Valdo terang-terangan membuat Velyn menggigit bibirnya. Apa yang salah dengan Valdo kali ini? Velyn sempat menatap Valdo sebelum ia memalingkan wajahnya lagi.

__ADS_1


Jangankan Velyn, Valdo saja merasa begitu bodoh telah mengatakan hal tersebut. Mulutnya itu kenapa juga tidak bisa dikendalikan. Kink Valdo berdehem sesaat, ia membunyarkan fikirannya yang menerawang entah kemana. Matanya melirik Velyn yang kini masih terdiam seraya menatap depan.


"Jadi, kakak nggak keberatan?" pertanyaan itu membuat Valdo gelagapan, ia mengusap kasar wajahnya. Pipinya merona kali ini, oh Tuhan kenapa Valdo seperti orang gila saja, selalu serba salah menanggapi perkataan Velyn.


Padahal sebelumnya ia melihat Velyn saja sudah kesal saat berada ditaman dengan pacarnya itu. Ya, sebenarnya waktu di taman, diam-diam Valdo memergoki Velyn yang tengah joging bersama pacarnya. Entah mengapa melihat hal itu, ia jadi kesal saat Nino memanggilnya Mama.


Valdo hanya menunggu kepulangan istrinya, sedangkan Velyn sudah menemukan tambatan hatinya. Itulah mengapa kemarin ia berkata pada Velyn agar dirinya menolak saja perjodohan ini jika ia mau. Sangat tidak adil jika mereka bersama tanpa perasaan.


"Lo aja nggak nolak perjodohan ini, gimana gue mau ngehindar?" kata Valdo seraya menelan salivanya. Jujur saja, bukan itu yang ada di benaknya, tapi mau bagaimana lagi, ia tak tau harus menjawab apa.


"Oke, aku bakal kerumah kamu hari minggu" kata Velyn membuat helaan nafas Valdo menjadi lega.


Sebenarnya ia ingin menjalin hubungan baik dengan Velyn, tapi gengsi saja jika dirinya yang memulai. Padahal Nino adalah satu-satunya alasan agar dirinya dan Velyn bisa berkomunikasi dengan baik saja, tidak lebih.


Ingatan Valdo menerawang, mengingat bagaimana perlakuannya pada Velyn dulu. Jika dipikir-pikir, ia begitu arogan dan keterlaluan. Entah apa yang ada difikiran Valdo saat itu, hanya karena ia memiliki seorang kekasih dan menghamilinya sebelum menikah ia sampai menyakiti Velyn seperti itu. Seharusnya dulu Valdo tidak berkata kasar padanya, seharusnya ia juga memikirkan perasaan Velyn.


Kalau saja peristiwa itu bisa diulang, mungkin Valdo akan mengatakan baik-baik pada gadis disampingnya itu. Mungkin saja karena dulunya Valdo masih labil dan banyak sekali masalah yang menimpanya termasuk sejumlah hutang dan harus menikahi Lisa yang saat itu berbadan dua, ditambah lagi paksaan dari papanya yang memaksanya untuk meninggalkan Lisa.

__ADS_1


Valdo kalut dengan perasaannya, ia melirik Velyn yang kini menyandarkan kepalanya di badan mobil seraya memejamkan mata. Terlihat wajahnya yang begitu lelah dan penuh kepasrahan. Sebenarnya Valdo tak pernah membenci Velyn, tapi ia hanya terguncang saja saat itu.


Valdo menghentikan mobilnya saat ia sudah sampai di rumah sakit besar. Ia memarkirkan mobilnya seraya melepaskan sabuk pengaman. Kini pandangannya dan aktivitasnya terkunci, menatap Velyn yang tengah terlelap dalam tidurnya.


Gadis dengan kulit putih bersih, hidung yang bangir dan bibir tipis mempesona. Kenapa Valdo tidak menyadari jika Velyn dari dulu memanglah gadis yang cantik. Valdo menelan ludahnya, ia mendekatkan tubuhnya untuk meraih sabuk pengaman yang masih dikenakan oleh Velyn.


Tertidur saja rasanya seperti seorang dewi dari surga. Benar-benar cantik, Valdo mengunci pandangannya sejenak saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Ia begitu enggan membangunkan gadis itu. Namun tanpa sadar Velyn menggeliat seraya perlahan membuka matanya. Tampak wajahnya begitu terkejut melihat Valdo yang kini juga sama terkejutnya dengannya. Buru-buru Valdo kembali pada posisinya, ia mengusap wajahnya yang memerah akibat malu dipergoki oleh Velyn.


"Ma-maaf, gue tadi cuma mau lepasin sabuk pengaman lo kok" kata Valdo membuat Velyn menelan salivanya seraya mengangguk.


Entah mengapa jantung Velyn berdetak lebih kencang mengingat wajah Valdo yang begitu dekat dengannya. Untung saja ia tak bergerak, jika ia salah gerakan sedikit saja, entah apa yang terjadi. Mungkin mereka akan berciu...


Velyn menggeleng, ia segera keluar dari mobil Valdo dan berjalan cepat meninggalkan pria itu. Velyn tidak marah, hanya saja perasaannya begitu kacau saat ini.


Sedangkan Valdo memukul setir mobilnya, ia memukul kepalanya sendiri seraya menggeleng kuat. Apa yang sebenarnya ia pikirkan, sekarang Velyn semakin menjauh darinya. Valdo benar-benar bodoh, bisa-bisanya ia memandang gadis itu penuh dengan arti.


"Do! lo tuh udah punya Lisa, Please stop jangan mikir cewek lain. Apalagi Velyn!" umpatnya seraya mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2