
"Kak Rega!" ujar Velyn bersemangat saat ia kini tengah sadarkan diri dari beberapa hari lalu disaat kondisinya memburuk. Rega tersenyum membalas, meskipun hatinya berat untuk menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Gimana keadaan kamu Lyn?"
"Udah lebih baik kok kak" meskipun terdengar semangat, namun dapat Rega tebak jika wanita dihadapannya satu itu terlalu lemah untuk diajak berbincang. Rasanya Rega ingin menangis, ia sebenarnya lelah dengan semua ini. Belum sempat ia lupa dari duka yang membuat luka dihatinya, kini ia diterjang lara saat melihat adiknya sendiri berbaring lemah tak berdaya.
Tubuh yang semakin terlihat tulang belulang dari balik kulit pucatnya, serta perut wanita itu yang semakin membesar meskipun tak terlihat telah mengandung enam bulan lamanya. Tentu saja itu karena tubuhnya yang semakin kurus tak terurus.
"Rega, makan dulu yuk nak, biar Velyn istirahat dulu aja" Rega mengangguk, ia kemudian tersenyum dan meraih pergelangan tangan Velyn lalu kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Pria itu segera keluar dari ruangan tersebut, ia duduk di kursi tunggu seraya menghela nafas, menahan sesak di dadanya yang kian menumpuk seperti penyakit yang menggerogoti pernafasannya beberapa hari ini.
Tak terasa air mata menetes diujung mata Rega, lama kelamaan mata itu semakin memerah dan semakin deras mengeluarkan sebuah peluh kesedihan yang ia tahan selama ini. Isakan itu terasa sakit jika ada yang mendengarnya, untung saja bunda ada di dalam sana sehingga bunda sendiri tidak mengetahui bagaimana lemahnya Rega.
"Ga" suara wanita itu membuat Rega buru-buru menghapus jejak air matanya, ia kemudian bangkit menatap sang bunda yang kini mengernyit seraya melemparkan pandangan prihatin pada putranya satu itu.
"Bu-bun, aku-" belum sempat Rega melanjutkan perkataannya sang ibu segera memeluk putranya dengan tangisan yang menjadi. Bunda sebenarnya tau, melihat dari ekspresi Rega yang tersenyum terpaksa pada adiknya itu begitu terlihat wajahnya yang terluka meskipun tak ditunjukkan olehnya.
"Kamu nggak perlu nyembunyiin perasaan kamu Rega, kita sama nak, kita sama-sama sakit liat Velyn tersiksa. Kamu nggak boleh nanggung perasaan kamu sendiri, kamu bisa bagi sama bunda kalau kamu mau" Rega pun kini tak bisa menahan air matanya juga dadanya yang semakin sesak mendengar pengertian dari bundanya. Rega menangis tersedu-sedu, namun perasaannya sedikit lebih mendingan dari yang tadi. Kini sedikit beban yang terasa sesak di hati dapat berkurang karena ada bundanya disisinya.
Hari, minggu dan bulan pun berlalu, Velyn menjalani setiap perjalanan dalam pengobatannya yang menyakitkan, serta perutnya yang semakin membesar. Sudah enam bulan semenjak ia berada di Amerika dan kini saatnya ia melahirkan putri pertamanya. Meskipun wajah letih serta rambut yang sudah tersisa lagi, namun Velyn tetap berusaha bertahan demi bayinya meskipun resiko terbesar adalah kehilangan nyawanya.
Operasi Caesar pun dilakukan, tentunya dengan keberadaan bunda juga Rega yang kini berada diluar ruangan tertutup itu. Dengan keringat dingin yang bercucuran, bunda meremas jemarinya sendiri dalam ketegangan.
"Kita berdoa yang terbaik aja bunda" ujar Rega yang kini memeluk orang tua satu-satunya itu. Semua yang tertumpah ruah dalam kesedihan selama ini akan terlihat ketika Velyn melahirkan bayinya. Namun tidak menutup kemungkinan keduanya akan bertahan dengan sedikit harapan yang tersisa.
Ditengah ketegangan yang terjadi, tiba-tiba saja ponsel Rega berdering, ia buru-buru bangkit dan menjauh drai bunda untuk sebentar.
"Halo, oh lo udah sampek. Ya udah nanti gue kasih alamat rumah sakitnya. Oke, gue tunggu" sedikit rasa lega Rega rasakan saat sahabatnya sudah tiba untuk sedikit memberikan semangat pada Velyn nantinya.
***
Langkah Andra seperti berat untuk berjalan, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya dengan pelan. Coat yang ia kenakan juga syal dan sarung tangan membuat pria yang baru saja keluar dari bandara itu merasakan hangat dari balik musim yang berganti.
Salju memang sudah berkurang daripada bulan sebelumnya, tapi entah mengapa ia masih bisa merasakan hawa yang dingin dari balik coat yang ia kenakan. Merinding bahkan sampai membuat bulu kuduknya berdiri.
"Velyn, tunggu aku ya" gumamnya seraya melangkah kearah jalan raya di depannya. Mungkin sudah sekitar setengah jam ia menunggu sampai mobil yang menjemputnya tiba. Entah mengapa saat ia membuka pintu, pria itu seketika mengingat wajah Velyn yang dulu tersenyum untuknya.
Apa ia salah untuk berharap? apa ia salah untuk meminta semuanya kembali? kenapa ketika ada kesempatan malah Velyn menderita seperti saat ini?. Hati Andra siap untuk goyah, sakit di hatinya mengingat betapa Velyn menderita tanpa seseorang penyemangat disisinya.
Andaikan saja dulu Andra sedikit berani, mungkin saja ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Velyn apapun yang terjadi. Ia pasti akan membuat Velyn bahagia, dan membuatnya menjadi wanita paling beruntung di dunia karena telah mempunyai keluarga yang hebat dan yang paling ia inginkan akhirnya terwujud.
Mata Andra memanas, ia yang seharusnya datang dari negeri yang jauh dan melihat tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya seharusnya bisa menjadi pengalaman untuknya. Tapi pikirannya kacau, ia terganggu dengan kenangan masa lalu. Padahal keinginan Velyn sederhana, tapi kenapa ia tidak bisa mewujudkannya meskipun sebentar saja. Andra ingin marah pada dirinya sendiri, tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi, ia hanya bisa memperbaiki keadaan meskipun tidak sepenuhnya.
Setelah satu jam perjalanan, kini pria itu tengah turun dari mobil, ia menatap bangunan besar dihadapannya dengan dadanya yang semakin bergetar. Rasanya Andra tidak percaya bisa sampai seajuh ini.
"I put the suitcase here"
Andra mengangguk pada pria paruh baya itu yang mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi dan menaruhnya tepat di samping tubuhnya.
"Thank you"
"Yeah, have a nice day "
"Sure "
Setelah mobil itu pergi kini Andra mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah sakit tersebut. Tanpa pikir panjang, pria itu segera mencari ruangan dimana Velyn di operasi.
Segenap doa tak henti-hentinya diucapkan oleh Andra yang kini menaiki lift menuju lantai lima. Ia hanya berharap semoga Velyn dan bayinya baik-baik saja. Permintaan sahabatnya hanyalah sederhana, Andra hanya bertugas untuk menghibur Velyn yang satu frekuensi dengannya. Mungkin saja dengan adanya Andra, Velyn menjadi semangat untuk hidup kembali daripada terpuruk dan hanya kematian yang terbayang. Tapi, mungkin Andra terlalu lancang untuk berharap lebih. Perasaan yang datang bersamaan dengan denting lift yang berbunyi membuatnya sedikit goyah akan perasaannya sendiri.
Andra sudah berprinsip untuk memendam rasa ini selamanya. Tapi kalau ia harus berada di dekat Velyn dengan waktu yang lama, ia tak tau harus bagaimana.
Andra yang keluar dari dalam lift bersama segerombol orang kini terkejut saat mendengar tangisan histeris dari satu ruangan yang bisa ia tebak suaranya. Suara tangisan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya namun amat sangat membuat hatinya tersiksa sampai ia berlari meninggalkan kopernya.
"Bunda! anak aku nggak mungkin pergi bunda! aku lihat dia tadi masih nafas bun!" tangisan Velyn semakin menjadi saat ia mengingat bayinya yang masih menangis setelah operasi caesar dilakukan padanya. Meskipun begitu, Malia tidak bisa berbuat apa-apa, ketika putri Velyn tertidur untuk selamanya saat bayi itu tertidur di dada Velyn untuk terakhir kalinya.
"Velyn, hiks!"
"Anak aku masih hidup bun! aku nggak mau kehilangan anakku. Bunda kembaliin anakku bun huuuaa!" jerit tangis Velyn membuat Rega sendiri tidak percaya dengan kenyataan yang telah menimpa adiknya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir jika hal itu akan terjadi.
__ADS_1
"Bunda! anakku bunda hiks!"
"Sabar sayang, sabar" meskipun begitu tidak mudah untuk menenangkan Velyn. Wanita yang kini semakin pucat dan tidak lagi berambut itu memeluk perut Malia dengan kencang seolah hatinya seperti disiksa dan dicabik-cabik seperti tak lagi berguna.
Bagi Velyn, putrinya adalah alasan mengapa ia bisa bertahan sampai sekarang. Velyn hanya ingin hidup dengan putrinya, meskipun tidak bisa bertahan ia ingin menggantikan hidupnya demi kelangsungan anaknya yang kini telah tiada.
"Kenapa bukan aku aja yang mati bun, kenapa harus anakku" tangis Velyn mereda meskipun ia sempat frustasi. Rega pun yang sedari tadi hanya diam dengan wajah muram kini segera keluar dari ruangan itu dan menghela nafasnya. Sontak saja ia terkejut melihat Andra yang menyandarkan punggungnya di balik tembok sebagai penyekat antara ruang Velyn dan ruang tunggu.
"Andra!" Andra mengangguk, ia tersenyum pada sahabatnya satu itu dan menyapa seolah perasaannya ia sembunyikan dari Rega.
"Hay Ga"
Setelah mereka bertemu, kini Rega memutuskan untuk membawa Andra keluar dari ruangan itu dan beralih ke belakang rumah sakit. Meskipun salju sudah turun semakin deras tapi mereka tak ada pilihan lain selain minum kopi panas di kedai terdekat.
"Lo pasti denger Velyn teriak-teriak tadi, sorry ya"
"Nggak perlu minta maaf, gue tau apa yang dialami Velyn pasti buat jiwanya terguncang" Andra menyesap kopinya perlahan. Ia tahu apa yang dipikirkan Rega saat ini kurang lebih seperti apa yang ia pikirkan.
"Ndra, gue nggak tau ini kabar baik atau buruk. Tapi, gue udah donor sum-sum tulang belakang buat Velyn, sayangnya karena bayi yang ada di kandungan Velyn itu menghambat perkembangan penyembuhan Velyn, sisi negatifnya bayi Velyn pasti bakal lemah dalam kandungan. Dokter udah mencoba yang terbaik, tapi ternyata setelah dilahirkan pun bayi Velyn nggak bisa bertahan. Tapi, proses penyembuhan Velyn akhirnya berjalan dengan baik setelah bayi itu dilahirkan" Rega menghela nafasnya seraya menatap kosong gundukan salju di tengah-tengah pohon yang ada dihadapannya. Rega tidak pernah berpikir jika Velyn akan sesedih itu melihat anaknya meninggal. Mungkin adiknya itu memang telah membuat keputusan untuk mempertahankan janinnya, namun Rega maupun dokter sendiri tidak mengetahui efek samping yang akan berpengaruh pada kehidupan didalam tubuh Velyn.
"Velyn udah mertahanin kandungannya semenjak ia di vonis Ndra. Dan karena itu juga setelah bayinya meninggal, dia nyalahin gue"
"Ini semua karena kak Rega! bayi aku meninggal gara-gara kakak yang udah donor sum-sum tulang belakang buat aku! aku udah bilang kan, aku nggak mau hidup kalau anakku nggak bisa bertahan. Kenapa kakak selalu maksa aku kaya gini! bayi aku salah apa kak?! aku udah bilang kan, aku nggak mau nerima pengobatan kalau ada resiko sama bayi aku, tapi kak Rega tega! kak Rega bunuh bayi aku!. Aku benci kak Rega!"
Kilas balik itu menjadi menyakitkan saat Rega mengulang memori itu lagi dan lagi. Kata-kata penuh kebencian dari Velyn, juga mata yang penuh amarah membuat Rega gemetar hingga saat ini.
"Ga! lo ngomong apa sih. Menurut gue, lo itu udah ngelakuin hal yang bener kok. Lagian mati itu bukan perkara yang bisa kita putusin, kalau Tuhan udah berkehendak kapanpun, dimana pun kita pasti bakal mati juga"
"Tapi Velyn-"
"Terlepas dari apa yang Velyn bilang, dianitu cuma syok. Gue yakin kok kalau dia udah mendingan pasti dia bakal ngerti" Rega menghela nafas kasarnya, apa yang dikatakan Andra memang benar. Sesaat ia sadar akan sesuatu, biasanya yang menghiburnya seperti sqat ini adalah gadis itu, namun dengan adanya Andra ia seperti diberikan semangat kuat untuk sabar dan selalu bertahan.
"Ndra, hem gue boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Rega sedikit ragu setelah itu ia menyesap kopinya seraya menatap Andra, ingin memastikan apa yang Andra pikirkan lewat ekspresinya.
"Soal Mega Calista ya?"
"Uhuk uhuk" sontak saja Rega terbatuk-batuk saat mendengar celoteh dari sahabatnya saat ia menyebutkan nama itu. Namun bukannya menjawab, bibir Rega hanya bisa mengatup dengan pandangan jengah dalam hatinya.
kabar mengenai mantannya. Toh Rega juga tidak akan menikahi Mega jika keduanya pacaran lagi. Rega belum siap, sedangkan umur Mega sudah matang untuk menikah. Hal itu wajar di khawatirkan jika Mega adalah seorang perempuan.
"Gue sebenernya nggak mau ngomongin ini, tapi karena gue nggak mau sahabat gue tau dari orang lain mending gue jujur dari awal"
"Maksud-"
"Lepasin dia Ga, ikhlasin Mega, mungkin sebentar lagi dia bakalan nikah" Deg! kopi panas yang berada ditangan Rega terjatuh begitu saja, sedangkan Rega terdiam tanpa kata dengan matanya yang seperti terjebak dalam belenggu.
"Ga, lo nggak apa-apa kan?" Rega ingin bilang bahwa dia baik-baik saja, tapi nyatanya matanya yang akhirnya memanas dan jantungnya yang terasa semakin sesak saat ia semakin memikirkannya. Rega terguncang dengan apa yang dikatakan Andra.
"Gu-gue" nyutt! rasa nyeri di dadanya seolah tak bisa dibendung. Seharusnya tidak apa jika Mega menjalin hubungan dengan pria lain, tapi hatinya seperti tergores dalam luka yang sangat dalam. Tapi mau bagaimanapun, tetaplah Rega yang salah. Seharusnya jika ia begitu mencintai Mega, maka ia akan mengikatnya agar tidak berlari kemanapun, tapi justru Rega malah memutuskannya dengan mudah.
"Sebenarnya gue nggak mau ngasih tau lo dulu, tapi alangkah baiknya kalau gue ngasih tau dari awal daripada lo malah tau sendiri dari orang lain"
"Mega selingkuh? kenapa tiba-tiba dia mau nikah? bukannya masih enam bulan lalu ya gue sama dia putus?" Rega seperti putus asa, tubuhnya membeku dan mati rasa, seolah semua yang ada dalam jiwanya hilang begitu saja. Mengetahui bahwa Mega akan segera menikah membuatnya rak siap untuk mendengar apapun. Ia takut kecewa, takut apa yang ia dengar malah menjadi luka yang terasa sesak di hatinya.
"Mega nggak pernah selingkuh kok dari lo. Dia dijodohin sama orangtuanya. Lo tau sendiri kan kalau umur Mega udah menginjak dua puluh enam tahun, makanya orangtuanya cepet-cepet nyariin pasangan setelah putus dari lo" hela nafas Andra saat ia telah menghabiskan kopi hangatnya lalu membuang gelas plastik itu kedalam tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Rasanya Rega sendiri sudah ingin meledakkan amarahnya jika ia mau, namun akal sehatnya mengatakan untuk tidak melakukan hal itu. Sesak yang ia rasakan ia redam dengan senyuman, senyum getir yang dapat ditebak oleh Andra jika ia ingin menegur sahabatnya itu. Namun Andra tidak ingin melakukannya, ia tau bagaimana posisi Rega, posisinya yang sulit untuk menerima karena cinta, namun sulit untuk marah saat ia sadar bahwa statusnya bukan siapa-siapa.
"Gue pengen sendiri dulu Ndra, lo ketempat Velyn dulu gih. Tolong hibur dia buat gue ya" satu kata itu membuat Andra terdiam dan tak dapat menghalau kepergian dari Rega yang pergi ke tengah-tengah gundukan salju didepannya.
Kopi panas yang digenggam oleh pria itu tak luput dari kemarahannya saat ia menghancurkannya walau jemarinya tak kuat lagi menahan panas. Alhasil, jemari Rega melepuh, lalu ia duduk tepat dibawah pohon yang ditutupi salju diatasnya.
Hati Rega sakit, jemarinya bukan apa-apa dibandingkan dengan hatinya yang tengah terluka dengan kenyataan yang harus ia terima. Sejujurnya ia rindu, namun ia sadar ia tak punya hak untuk bertemu. Mungkin apa yang dipikirkan oleh Andra benar, Mega hanya butuh kepastian, ia tidak ingin digantung seperti hubungan mereka yang selama ini berwarna abu-abu.
"Mey, secepat itu ya kamu lupain aku? Curang kamu!" gumamnya saat ia menatap layar ponsel wallpaper di hpnya yang terlihat wajah wanita cantik yang selalu menghiasi harinya selama ini.
***
__ADS_1
Indonesia....
Senyum merekah penuh semangat ditujukan gadis yang saat ini tengah turun dari anak tangga hendak menuju ruang tamu rumahnya. Gadis yang memakai blouse dengan rambut yang ia gerai adalah style kesukaan dari tunangannya.
Mega sudah sampai di ruang tamu, ia menatap bayangan pria yang masih bertahan duduk memunggunginya dengan perasaan berdebar. Sudah enam bulan berlalu semenjak mereka di comblang kan oleh kedua mama mereka, dan kini akhirnya Mega bisa membuka hatinya lagi. Mega melirik cincin yang tersematkan di jari manisnya, kurang lebih sudah seminggu berlalu setelah mereka bertunangan. Mega sendiri tidak menyangka akan hal ini, padahal sebelumnya ia hanya berharap bahwa Rega yang akan datang melamarnya. Entah mengapa, mengingat namanya saja hati Mega masih terasa sesak sampai saat ini. Begitu kabar Rega menghilang, ia bahkan sama sekali tidak pernah batang hidungnya lagi.
"Lista? kamu ngapain berdiri disitu?" suara Devan membangunkan lamunan Mega yang kini sempat tersentak seraya tersenyum kaku pada pria satu itu.
"Ak-aku cuma-" belum sempat Mega menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja Devan mendekat dan menarik lengan gadis itu dengan lembut.
"Berangkat yuk!" kata-kata spontan itu sontak membuat Mega tersenyum dan mengangguk seolah melupakan hal yang sebelumnya ia pikirkan. Jemari Devan menggandeng Mega dengan erat, namun hati Mega sedikit kosong karena satu hal.
Mereka kini melangkah kearah mobil yang telah terparkir di depan pintu gerbang rumah Mega, dengan perasaan yang bimbang, wanita itu memantapkan hatinya meskipun ada sedikit ragu selama ini. Perjodohan keduanya memang sudah diatur oleh kedua keluarga, baik Devan maupun Mega, mereka setuju untuk hidup bersama. Sayangnya meskipun mereka sudah kenal dan saling berkontak, tapi Mega seperti tidak merasakan cinta didalamnya. Devan tidak pernah mengatakan cinta padanya, bahkan bentuk perhatian yang ditujukannya selama ini hanya perhatian sebatas formalitas saja sebagai pasangannya.
Devan dengan telaten menuntun Mega dan membukakan pintu untuk gadis itu, Mega tersenyum dan masuk kedalamnya dengan senyuman seperti biasa. Tampak kerutan di dahinya ketika ia usai masuk kedalam mobil itu dan disusul oleh Devan yang kini mengikutinya masuk kedalam jok kemudi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Devan setelah mereka keluar dari gang perumahan Mega, namun pertanyaan itu tak kunjung terjawab oleh Mega yang tengah diam dalam lamunannya.
Bagaimana mungkin Mega tidak memikirkannya, Devan orang yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, tidak pernah mengatakan cinta padanya. Meskipun Mega sendiri bingung perasaan dalam hatinya seperti apa karena masih saja terpikirkan tentang Rega, tapi setidaknya Devan memberikannya sedikit celah untuk bisa masuk ke hatinya. Mega seringkali berpikir untuk apa menikah kalau tidak ada cinta?, tapi kalau tidak menikah maka ia akan menjadi perawan tua. Nasihat mama selalu terbayang dalam pikirannya, apalagi mengingat teman-temannya yang sudah banyak menggendong anak, mana mungkin Mega tidak ingin seperti itu. Ia juga ingin memenuhi harapan mamanya. Menikah itu cukup sekali dalam seumur hidup, tapi entah mengapa Mega seperti menemui jalan buntu dalam memikirkan hal itu.
"Lista!" suara barito yang menegurnya membuat gadis itu memalingkan wajahnya setelah bergeming dalam pikirannya yang dalam. Tak terasa mata Mega memanas dan mengeluarkan setetes air mata di sudut matanya.
"Semenjak kita tunangan kamu kok sering ngelamun? ada masalah ya?"
"Iya, ada masalah. Berhenti dulu Van, aku mau ngobrol sama kamu" tatapan mata yang membuat Devan menelan salivanya kini mulai menepikan mobilnya. Devan menghela nafasnya seraya menatap Mega yang kini menatapnya dengan pandangan serius.
"Ada apa?" tanyanya tak kalah serius.
"Kamu cinta nggak sama aku?"
"Ap-"
"Nggak perlu bingung Van, kita ini mau nikah. Aku cuma mau mastiin aja, kalau kamu memang bener-bener nerima kau lahir batin, aku nggak pengen baik aku maupun kamu nyesel karena perjodohan kita" Devan menatap intens gadis dihadapannya satu itu, ia menarik nafas dalam-dalam seraya menatap lamat gadis cantik yang menjadi pilihan mamanya untuk menikah dengannya. Jika diingat, Devan memang tidak pernah bersikap layaknya pria romantis maupun mencintai Mega.
"Aku, aku cinta sama kamu Calista" ujar Devan seraya memejamkan matanya sesaat.
"Tatap mata aku Devan!" harap Mega seraya meraih jemari Devan, namun seketika Devan menepisnya membuat gadis itu tersentak dengan matanya yang mulai berkaca.
"Lista aku-"
"Nggak perlu ngomong, aku udah tau jawaban kamu" Mega segera membuka pintu mobil Devan, ia buru-buru keluar dari mobil itu dengan tangisan yang membuat siapapun heran. Ditengah jalanan yang ramai juga terik matahari yang menyengat, ia tak perduli toh Devan juga tidak mengejarnya sampai saat ini.
Bagaimana Mega bisa tidak peka, selama ini Devan tidak pernah mencintainya. Padahal susah payah ia membangun kepercayaan untuk pria itu tapi usaha Mega hanya berakhir sia-sia. Mega memang belum mencintai Devan seperti layaknya ia mencintai Rega dulu, tapi perasaannya benar-benar terluka jika orang yang paling ia percaya ternyata tidak pernah mau berusaha untuknya.
Mega segera memesan taksi dan menaikinya, ia buru-buru pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Pada akhirnya di akhir tujuannya, ia menuju ketempat yang paling ia benci. Pantai yang sepi dengan ombak yang sedang, serta angin yang berhembus setiap kali Mega melangkahkan kaki. Rambutnya yang ikal bergerak kesana kemari mengikuti semilir angin, juga kakinya yang tersapu oleh ombak yang menyentuh permukaan kulitnya.
Mungkin Mega bodoh, ia masih saja tidak bisa melupakan Rega yang telah mencampakkannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Devan juga tidak mencintainya. Tempat itu adalah tempat yang memiliki banyak kenangan berarti, kenangan manis bersama Rega yang tidak pernah Mega lupakan.
Mega tidak pernah mendapatkan cinta sebaik Rega, tapi kenapa mencari yang setulus Rega sangat sulit untuknya?. Padahal selama ini Mega selalu berusaha yang terbaik, ia menerima perjodohan dengan lapang dada meskipun hatinya amat terluka.
Suara dering ponsel membuat gadis itu terperanjat, ia meraih ponselnya dan mengangkatnya meski tau itu adalah Devan.
"Ha-"
"Apalagi yang mau kamu omongin?"
"Ta, dengerin penjelasan aku dulu, kita perlu ngobrol-"
"Nggak perlu Van! kalau kita ketemu, kamu pasti juga nggak bakal sanggup kan buat jelasin apa yang kamu mau. Lebih baik kamu ngomong sekarang juga, atau kita nggak perlu ngobrol lagi buat seterusnya!" jelas Mega membuat pria yang berada di sebrang sana terdiam. Meskipun begitu, sesaat Mega mendengar suara hela nafasnya yang terdengar lelah.
"Maafin aku Ta, aku terpaksa setuju buat nikah sama kamu. Aku nggak pernah cinta sama kamu, aku cuma cinta sama satu orang, dan itu adalah pacar aku sendiri-" Mega menutup mulutnya tak percaya, meskipun akhirnya gadis itu berakhir menepi untuk mencoba mendengarkan apa yang Devan katakan, tapi seharusnya ia tidak perlu mendengar kenyataan sepahit ini dengan jelas.
Selama ini Devan telah membohonginya, ia setuju untuk dijodohkan karena ia bukanlah anak kandung dari Tante Ria. Semua yang Devan lakukan hanya sebatas balas budi, tidak lebih dari itu. Ia memiliki kekasih yang ia kenal lewat hubungan bisnis.
"Ta, aku bener-bener minta maaf. Tapi aku nggak pernah berniat buat ngelukai hati kamu, setelah kita nikah nanti, dalam satu tahun kita jalani hidup kita sendiri lalu kita cerai dengan damai. Aku juga bakal ngasih setengah dari saham perusahaan kalau kamu-"
"Brengsek! brengsek kamu Van! kamu pikir aku bakal setuju sama rencana busuk kamu itu! aku nggak bodoh Van. Aku nggak mau dimanfaatin kaya gini. Kita putus!" teriak Mega dengan lantang seraya membanting ponselnya kesembarang tempat. Sejenak Mega terbesit memikirkan kehidupan Velyn, perjodohan yang sama juga akhir yang tragis. Siapa yang mau bernasib sama seperti adik Rega. Ternyata begini rasanya yang dialami oleh Velyn. Mega yang menangis terisak kini terduduk di di antara pasir pantai yang berada dibawahnya.
__ADS_1
Mega melirik cincin yang tersematkan di jari manisnya, ia ingat saat Devan menyematkan, senyuman yang ia ingat adalah senyuman hangat, ternyata mengandung keterpaksaan didalamnya. Ia melepaskan cincin itu lalu membuangnya, Mega bangkit dan mendekat kearah pantai, ia menangis sejadinya. Perasaannya tertumpah ruah begitu saja. Kehilangan cinta juga kepercayaan, Mega hanya ingin menemukan kebahagiaan bukan meminta harta maupun tahta seperti apa yang dikatakan Devan padanya.
Perlahan langkahnya semakin mendekati kearah laut, akal Mega sudah tidak lagi berpikir jernih, baginya hidup tidak ada artinya meskipun ia memiliki segalanya namun tidak memiliki cinta.