
Setelah sampai rumah, Velyn pergi ke dapur untuk memasak. Tak lupa ia membawa dua kantong besar belanjaan yang berisi sayuran yang sengaja ia beli agak banyak untuk persediaan beberapa hari kedepan. Perlahan ia mengenakan celemek yang tergantung di sisi rak piring. Velyn mengambil beberapa sayuran sop yang tadi ia beli bersama dengan satu ekor ayam yang hendak ia potong-potong.
Kali ini ia akan membawakan sup ayam untuk bundanya. Bagaimanapun juga meskipun nafsu makan Malia sedang memburuk, tapi sebagai anak Velyn harus pengertian.
Semburat senyuman dengan pandangan mata getir membuat gadis itu menahan sesak di dadanya. Seraya memotong bawang, gadis itu memikirkan banyak hal dibenaknya. Ia tersenyum sendiri mengingat ingatannya yang dulu pernah membayangkan akan apa jadinya jika dirinya menikah dengan Andra.
Andra? bahkan bayang-bayang lelaki itu jauh dari hidupnya saat ini. Velyn semakin mempercepat untuk mengiris bawang dibawahnya seraya masih berangan. Matanya memerah dan berkaca, Velyn mengeratkan giginya seraya menahan tangisnya yang hampir pecah.
"Ah!" tiba-tiba saja tangan Velyn teriris, matanya yang kini sudah basah menatap nanar jari telunjuknya yang sudah bercucuran darah.
Biar saja, toh rasa sakit dihatinya mengalahkan rasa sakit di jari telunjuknya saat ini. Ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan perasaannya yang terluka, Velyn cemburu, ia ingat saat Angelita bergelayut manja pada Andra dan pria itu terlihat tersenyum bahagia. Tatapan mata yang dulu hanya untuknya, kini ia harus rela senyuman tulus itu diberikan oleh orang lain.
Velyn membiarkan saja luka itu terbuka, ia masih terisak seraya mencoba untuk menghapus jejak air matanya yang menggenang diwajahnya.
"Lo nangis?" suara berat itu membuat Velyn buru-buru menghapus air matanya seraya membalikkan tubuhnya. Ia menatap pria yang kini membawa bungkusan dan diletakkannya di meja makan.
"Tante suruh gue buat jemput lo karena si Rega ada urusan mendadak" kata Valdo yang kini membuat Velyn mengangguk seraya menunduk.
Gaya pria itu masih sama, cuek dan dingin. Tidak tau kenapa tatapan datarnya mampu membuat Velyn membeku ketakutan. Mengingat tatapan Valdo seperti ini mengingatkannya pada peristiwa lima tahun lalu.
"Kakak duduk aja, aku mau masak bentar" Valdo mengangguk, ia beralih duduk dan mengambil ponsel disaku celananya. Tatapannya yang tadi menjurus pada ponsel kini tiba-tiba mengarah pada noda merah di lantai. Pandangannya tiba-tiba menatap jemari Velyn yang masih bercucuran darah, bahkan dengan bodohnya gadis itu menggunakan sayu tangannya untuk mengaduk-aduk masakan yang hampir matang itu.
Valdo bangkit, is menarik lengan Velyn kasar membuat gadis itu menatapnya seraya mengernyit.
__ADS_1
"Apa sih kak?!" kata Velyn memberontak seraya menarik lengannya membuat Valdo geram saja. Masak saja tidak higienis apalagi nanti kalau dirinya jadi istri Valdo.
'Istri?' kenapa Valdo memikirkan hal itu saat ini?. Pria itu segera membuang fikirannya yang tak karuan, ia menatap tajam jari Velyn yang terluka seraya masih menatap pandangan gadis itu yang masih menunduk dibuatnya.
"Sini, ikut gue!" perintah Valdo seraya menarik lengan Velyn lebih lembut membuat gadis itu menurut saja. Valdo kemudian mengambil kotak obat yang terlihat didepan matanya, tepat diatas kulkas. Mata Velyn terperanjat dibuatnya, baru kali ini ia melihat sisi Valdo yang begitu lembut jauh dari ingatannya bertahun-tahun lalu.
"Kak?" Velyn hendak mengatakan sesuatu ketika Valdo mengisyaratkannya untuk duduk di ruang makan, namun sedetik kemudian tatapan tajam dari pria itu membuat Velyn menelan ludahnya seraya menunduk.
Valdo membuka kotak obat itu, ia mengeluarkan kain kasa, obat merah, alkohol, dan plaster untuk membalut luka dijari telunjuk Velyn.
"Jorok banget sih, tangan udah berdarah gitu lo masih mau masak aja!" omel Valdo seraya membersihkan luka Velyn dan kembali mengobati lukanya. Sebenarnya Velyn agak terkejut, ia benar-benar tak menyangka jika Valdo akan memperhatikan luka dijarinya sampai berniat untuk mengobati lukanya.
"Masakan itu juga bukan buat kamu, kenapa kamu yang sewot!" balas Velyn
"Tuh selesai, cepetan gih!" kata Valdo seraya merapihkan kotak obat itu dan membiarkan Velyn bangkit seraya memutar bola matanya. Valdo ini benar-benar pria dengan mulut pedas, Velyn sampai dibuat kesal karenanya. Entah mengapa suasana yang tadinya sedih, kini mendadak berubah karena pria dingin ini.
Velyn kembali berkutat dengan alat masaknya, untung saja tinggal menggoreng lauk saja. Pandangannya kini beralih pada jari telunjuk kiri yang tadinya dibalut oleh Valdo, entah mengapa jantungnya berdetak kencang saat ini. Velyn sedikit melirik Valdo yang kini masih berkutat dengan ponselnya. Ia tersenyum, benar-benar manis sekali kalau Valdo bisa sedikit saja bersikap lembut.
Namun buru-buru gadis itu menggeleng, seraya menunggu lauknya matang dalam penggorengan, Velyn membuka lemari kulkas dan mengeluarkan beberapa cupcake cantik disana. Velyn mengambil nampan tersebut seraya mengambil satu botol coca cola.
Mata Valdo yang semula fokus pada ponselnya kini mengarah pada lengan Velyn yang menaruh nampan berisi cupcake dan sebotol soda untuknya. Matanya mengarah datar pada Velyn yang kini mengerutkan keningnya.
"Jangan salah paham, aku cuma nggak mau utang budi sama kamu karena tadi kamu udah ngebalut luka aku" Valdo masih terdiam seraya mengalihkan pandangannya pada ponselnya lagi. Mengabaikan Velyn yang kini menatapnya dengan pandangan kesal.
__ADS_1
"Aku buatnya masih tadi malam kok, bukan sisa juga!" ujarnya seraya membalikkan tubuhnya menuju penggorengan yang terlihat sudah siap untuk diangkat.
Velyn menggerutu dalam hatinya, padahal ia menyiapkan cupcake itu untuk Rega semalam. Itu juga ia berikan pada Valdo sebagai pertanda terimakasih, tidak lebih, tidak disangka pria itu malah mengabaikannya.
Velyn madih berkutat dengan masakannya yang sudah selesai dan tinggal ditata saja didalam kotak bekal. Tak lupa ia juga menyiapkan air minum dan cemilan ringan untuk bundanya. Velyn kini sudah selesai, ia membalikkan tubuhnya, menatap heran pada cupcake yang kini tinggal satu cup dimeja. Sisanya habis tak tersisa, siapa lagi pelakunya jika bukan Valdo. Awalnya ia tak menyangka Valdo akan memakannya, tapi tanpa disangka lima cupcake yang tadinya masih terpampang cantik kini hampir habis olehnya.
Sedikit senang namun heran dirasakan oleh Velyn, namun sedetik kemudian ia terkekeh seraya menggeleng. Untung saja Valdo masih sibuk dengan ponselnya, posisinya sama seperti tadi.
"Kak, aku udah selesai" Valdo mengangkat pandangannya, ia mengangguk seraya melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun belum sempat pria itu keluar rumah Velyn tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kak, aku mau ganti baju dulu sebentar, bajunya kotor, kakak duluan aja ke mobilnya" ujar Velyn membuat Valdo menghela nafas.
"Ya udah cepetan" katanya seraya melangkah menuju mobil.
Entah mengapa Velyn tiba-tiba teringat akan masa kecilnya dulu bersama Valdo. Valdo yang selalu hangat dan menyenangkan saat bicara kini begitu berbeda. Langkah kaki Velyn menuju kamarnya seraya tersenyum tipis mengingat masa lalu mereka.
Ia mengambil kaos putih dan celana jeans bandatan. Tak lupa ia menguncir rambutnya yang panjang. Matanya menatap nanar pada pantulan dirinya di cermin.
"Aku akan lupakan kamu Andra, kamu benar, nggak ada orang yang mau terpuruk dalam masa lalu termasuk aku. Tapia ku nggak akan semudah itu untuk membuka hatiku sama kak Valdo, karena bagaimanapun aku nggak terlalu yakin sama hubungan terpaksa ini" gumamnya seraya meraih tas dan menggeleng untuk melupakan kesedihannya sejenak.
Velyn melangkah keluar, ia menatap luka dijarinya yang kini terbalut rapi oleh kain kasa disana. Matanya berbinar dengan senyum tipis menghiasi wajah Velyn.
'Andai kakak nggak pernah berubah, mungkin perasaan ku akan sama seperti dulu. Tapi Valdo yang aku kenal sekarang bukan Valdo yang pernah buat aku tersenyum kaya dulu'
__ADS_1
Gumam gadis itu seraya memandang Valdo dari luar jendela mobilnya. Meskipun Valdo adalah pria yang begitu tampan tapi Velyn masih belum bisa untuk melupakan Andra dalam hatinya. Ia mengingat setiap kata dari dalam buku itu, ia mengingat kekaguman Andra yang selalu terbayang sosoknya.