Velyn Love

Velyn Love
Berhati-hati


__ADS_3

40


Langkah Velyn yang semula yakin kini kembali ragu akan sosok yang sudah bangkit dari bangsal itu. Nafasnya terdengar berhembus lega meskipun hanya sekedar mengintip dari balik jendela. Akhirnya Valdo sudah mulai sadar dan siuman.


Mungkin hanya sebatas ini Velyn dapat membantu, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauh. Velyn tau mungkin keberadaannya juga tidak akan disambut hangat oleh pria itu. Tapi setidaknya ada kabar baik karena kakaknya tidak melakukan hal yang membuat pria itu terkena luka fatal lagi akibat terbayang oleh keadaan pria itu. Setidaknya itu adalah balasan dari apa yang kakaknya perbuat. Velyn hanya menjalankan tugasnya, ia juga tidak mau Rega terseret kasus yang melibatkan lelaki itu.


Velyn menghentikan langkahnya sejenak saat pandangannya menatap pria yang semalam tidak sengaja bertemu dengannya. Tidak salah lagi, tak lain dan tak bukan, pria itu pasti Adrian. Lelaki itu keluar dari sebuah ruangan spesialis tulang, ketika langkah Velyn semakin mendekat. Wanita itu tanpa sadar mengetahui jika apa yang terjadi pada Adrian bukanlah hal biasa. Wanita itu kemudian menahan lengan Adrian membuat pria yang berjalan bersamanya ikut tercengang disusul Adrian yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Ian tunggu!"


"Nona? anda siapa?" tanya seorang pengawal yang berjalan tepat dibelakang Adrian, Velyn menatap Adrian dengan pandangan penuh harap seraya prihatin dengan apa yang terjadi padanya. Matanya terlihat bekas luka, serta masih ada beberapa jahitan diantara pipi dan dahinya. Pandangan itulah yang membuat Adrian begitu membenci dirinya sendiri. Mata iba yang menjurus padanya membuat Adrian malu akan keadaannya.


"Iya-"


"Enggak, saya nggak kenal. Tolong jangan halangi saya, dan lepaskan tangan anda dari lengan saya" ucap Adrian membuat tangan Velyn yang semula memegangnya erat kini semakin memudar. Bahkan Velyn yang antusias kini mulai menampakkan wajah kecewanya pada pria dihadapannya itu.


"Permisi" ujarnya meninggalkan Velyn yang masih menatapnya tanpa berkedip sedikitpun, Velyn hendak menahannya lagi, namun sepertinya tangannya tak sampai menggapai pria itu lagi. Sepertinya memang benar, ia tak harusnya ikut campur dengan apa akan dilakukan oleh pria itu. Memangnya ada apa dengan Adrian? apakah Velyn melakukan suatu hal yang salah?. Padahal ia ingin sekali menangis dihadapan temannya satu itu. Sebagai orang yang tau apa masalahnya selama ini, tidak mungkin Velyn tetap bungkam. Tapi apa yang ia dapatkan hanyalah perlakuan dingin dari semua orang, termasuk Adrian.


***


"Aku ke toilet sebentar ya Ga, tungguin disini"


"Enggak mau aku temenin aja?" tawar Rega dengan senyuman jahilnya membuat Mega melotot kearah pacarnya dengan pandangan membunuh.


"Sembarangan aja!" Rega hanya terkekeh dan kemudian mempersilahkan Mega untuk masuk saja, karena ia juga tidak mungkin mengantarkan gadis itu ke toilet wanita.


Rega menghela nafasnya, ia duduk disebuah mini cafe dalam mall tersebut. Iseng-iseng ia meraih handphone di saku celananya dan membuka galeri untuk melihat foto-foto kebersamaannya dengan Mega setiap liburan. Mega yang berkunjung ke Jerman, maupun Rega yang pulang dan berjalan-jalan dengannya di pantai. Setiap hari, setiap saat, selama empat tahun terakhir, banyak sudah yang terlewati tanpa akhir.


Setidaknya dibalik meninggalnya ayaj ada satu hikmah yang dapat ia petik. Ia tidak akan lagi melangkah menjauh ke negara yang bukan asalnya untuk bekerja, dan cukup melindungi keluarganya yang masih tersisa. Bonusnya, Rega bisa setiap saat setiap waktu mengajak Mega berkencan saat pikirannya mulai suntuk.


Disela pria itu menggeser foto demi foto Mega, ia menghentikan jemarinya saat fotonya bersama Velyn terlihat. Foto dimana Velyn lulus dari sekolah SMA dan dirinya datang khusus untuk memberikan kejutan pada adik tercintanya. Siapa sangka, wanita yang ceria dan selalu tersenyum itu mempunyai sebuah penyakit yang amat membahayakan nyawanya. Juga masalah yang datang bertubi-tubi untuknya.


"Rega!" Rega amat terkejut saat sebuah lengan memeluk lehernya dari belakang Rega meletakkan ponselnya begitu saja di meja. Yang jelas itu bukan suara Mega, tapi orang lain yang baru-baru ini tak lagi asing terdengar olehnya. Rega buru-buru bangkit dan menatap tajam wanita itu. Tanpa sopan santun ia berbicara sok manis yang membuat Rega tambah jijik saja padanya.


"Jijik banget sih! ngapain lo kesini?!" Rega menatap Lisa dengan pandangan membunuh. Wanita itu tanpa sengaja malah melirik foto Rega yang dipeluk oleh Velyn dari dalam galeri pria itu. Lisa meraih foto itu dan dengan lancang menatap foto tersebut dengan penuh kekesalan. Lihat saja apa yang akan ia lakukan, Velyn tidak akan pernah lepas bahkan ia juga takkan bisa mengalahkannya.


"Rega? kamu ada hubungan apa sih sama perempuan ini? ini Velyn kan? si tukang perebut suami orang?. Kamu mau aja sih sama dia Ga?" ujar Lisa membuat Rega tambah naik pitam, ia mengepalkan tangannya dan menatap Lisa tajam. Tangannya yang mengepal bersiap hendak menghajar habis wanita kurang ajar dihadapannya itu. Lisa masih menggeser sedikit demi sedikit foto mereka berdua, hal itu membuat dirinya mual lantaran pose Velyn sangat amat manja dihadapan Rega. Tapi bukannya Velyn baru cerai dengan Valdo, lalu kenapa dengan cepat bisa mendapatkan Rega yang begitu sempurna.


"Ga, kamu nggak boleh berhubungan sama dia. Dia itu uler, dia bahkan pernah nabrak aku, dia itu jahat. Velyn itu perempuan jalang-"


Plakkkk


"Rega!" suara itu tak digubris oleh pria itu setelah satu tamparannya mendarat dipipi Lisa. Sontak saja semua orang yang memandang mereka hanya mampu terkejut dan mereka menjadi pusat perhatian terlebih Lisa dan Rega. Mega yang terkejut pun tanpa sadar berteriak memanggil kekasihnya itu seraya berlari kearahnya. Mega memang mengetahui segala yang dikatakan oleh wanita itu, tapi menghina Velyn didepan kakak kandungnya sendiri adalah perbuatan yang mencari mati.


"Siniin hp gue!" teriak Rega yang segera menarik ponsel miliknya dari tangan wanita itu hingga lengannya terhempas. Membuat wanita itu menatap Rega dengan pandangannya yang sulit dipercaya. Sampai segitunya Rega menyukai Velyn, padahal Lisa lebih unggul dari wanita itu, bahkan dalam segala aspek. Wanita itu masih menahannya, ia benar-benar ingin mempermalukan Velyn jika saja wanita itu berada di lokasi yang sama. Ia tidak terima jika ia dipermalukan seperti ini


"Rega, kamu ngapain sih? malu ah" bisik Mega yang meraih lengan Rega dan memeluknya erat membuat wanita dihadapannya itu hanya mampu tersenyum sinis. Bukannya berpikir siapa wanita itu, tapi Lisa malah sibuk memikirkan cara agar Velyn dijauhi oleh Rega.


"Heh! dengernya cewek busuk. Lo kira gue nggak tau kalo lo itu udah bersuami, bahkan lo udah punya anak yang lo sia-siakan. Lo-"


"Itu semua karena Velyn! dia yang ngerebut kebahagiaan aku. Dia yang bikin aku kayak gini? dia-"


"Diem lo bangsat!" jemari Rega memegang leher wanita itu membuat Mega syok bukan main, jangankan Mega, Lisa saja sampai terkejut akan amarah Rega yang amat menyeramkan. Mega buru-buru menarik lengan Rega agar tidak melakukan hal nekat yang membuatnya malah menjadi seorang tersangka jika terjadi sesuatu nantinya.


"Ga, udah Ga!"


"Sekali lagi lo ngomongin sesuatu yang jelek soal adek gue. Mati lo!, Lo pikir gue diam aja itu berarti gue terima lo sentuh- sentuh gue semau lo. Gue udah nahan emosi ya, jangan sampai gue naik pitam gara-gara cabe-cabean macam lo" mata Lisa membulat, adek? maksudnya? Velyn adalah...


"Sayang, udah lepasin. Kita pulang okay?" Rega kemudian terpaksa melepaskan jemarinya dari leher wanita itu yang masih terdiam tanpa kata serta kehilangan nyalinya yang semula ingin mempermalukan Velyn. Tapi siapa sangka, jika Velyn adalah adiknya, dan hubungan istimewa Rega bukan dengan Velyn, melainkan wanita yang kini berdiri disampingnya. Lisa kira wanita itu hanya bawahannya saja di kantor, dan Velyn lah yang menjalin asmara dengan Rega, tapi siapa sangka jika Lisa salah sasaran kali ini.


"Semua yang ada disini dengerin gue!. Dia namanya Lisa, si ***** perebut suami adek gue!. Bahkan dia udah sengaja nyewa orang buat nabrak Velyn, adek gue. Dia bikin drama dihamili suaminya padahal dia hamil sama orang lain, dia keguguran tapi nuduh adek gue yang sengaja gugurin kandungannya. Padahal, dia udah minum pil penggugur kandungan sebelum ngelabrak Velyn" ucap Rega dengan penuh emosi membuat semua orang tercengang, begitupun Lisa yang kini menatap pria dihadapannya tak percaya. Bagaimana Rega bisa tau? dan apa arti semua ini?. Lisa hendak berucap namun Rega buru-buru menutup mulutnya dengan kata-kata.


"Gue bayar Lima puluh juta di kasir buat kalian makan sepuasnya. Asalkan kalian memviralkan wanita ini dan bikin dia malu di sosmed" Rega menatap puas Lisa yang kini tertunduk malu, ia bahkan menatap orang-orang yang dengan antusias memfotonya dan sibuk sendiri-sendiri dengan ponsel milik mereka masing-masing. Mereka sibuk menghakimi Lisa dengan segala perbuatanya. Kini akhirnya Rega sudah lega dapat membayarkan apa yang dirasakan oleh adiknya dan membalasnya langsung pada orang yang menyakitinya, kartu As yang ia miliki sudah ia keluarkan dan membuat wanita yang menyakiti adiknya kini menuai hasilnya.


"Sayang, kita pulang. Aku nggak mau lama-lama liat cewek kotor kaya dia" ujar Rega menarik lengan Mega, membuat gadis itu mengangguk dan berjalan menyusul pria itu yang melewati Lisa yang masih terdiam membisu.

__ADS_1


***


41


Sedari pulang dari mall, Mega hanya terdiam seraya menatap jalanan dengan pandangan kosong dari balik kaca mobil yang berada disampingnya. Ia menghela nafas tanpa melirik Rega sedikitpun. Ada rasa canggung dan juga sedikit takut mengingat amarah pria itu yang membuat hati Mega menjadi sedikit ragu. Perlakuan kasarnya saat ia marah, akankah terjadi juga saat nanti mereka menikah?.


Begitupun Rega yang kini sedikit melirik kekasihnya yang masih bungkam tanpa bersuara. Entah mengapa dari balik keheningan itu muncul sedikit kejanggalan dari sikap Mega semenjak kejadian tadi.


Waktu pun berlalu, kini mobil itu berhenti disebuah rumah sederhana. Rumah Mega dengan halaman luas yabg terdapat bunga-bunga hasil kebun neneknya.


"Ak, aku masuk dulu ya?" ujar Mega buru-buru seraya membuka pintu mobil, membuat Rega menarik lengan wanita itu dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang. Nafasnya berhembus, membuat punggung Mega menjadi sedikit hangat. Bisa Mega rasakan jika Rega sangat amat lelah menjalani harinya.


"Maafin aku?" bisik Rega tepat di telinga gadis itu membuat Mega mengalah dan sedikit melirik Rega yang masih memeluk erat pinggangnya.


"Kenapa kamu minta maaf?"


"Aku tau kamu pasti takut sama aku semenjak kejadian tadi. Tapi aku capek Ta, aku capek keluarga yang aku miliki saat ini direndahkan. Bahkan Velyn udah nerima begitu banyak cobaan dan itu semua bersumber dari Lisa, sekarang dia masih mau ganggu adik aku. Sebenernya Velyn salah apa? apa kurang puas Lisa dapetin keluarganya lagi?. Aku sedih Ta" Mega tercengang, kata-kata Rega membuat dirinya semakin merasa bersalah. Bukannya ada untuk Rega, ia malah sengaja menghindari lelaki yang sangat ia cintai. Hanya dengan alasan takut, Mega menutup mata akan kesalahan Lisa yang telah memancing emosinya duluan.


Mega membalikkan tubuhnya, ia memeluk Rega erat seraya mencium puncak kepala pria itu lembut, memberikan ketenangan dan juga kelegaan atas masalah yang menimpa keluarganya.


***


Brakkk


"Sialan! Valdo!" teriak Lisa saat wanita itu memasuki rumah besarnya dengan amarah yang memuncak. Bagaimana tidak, hari ini ia dipermalukan karena tidak bisa membayar uang untuk sogokan para orang-orang suruhan Rega karena kartu kreditnya diblokir. Padahal tinggal sedikit saja maka hal itu pasti tidak akan pernah terjadi. Apalagi mereka tengah mengorek masa lalunya saat ini.


Bagaimana jika kedoknya selama ini terbongkar? jika Valdo mengetahui semuanya, maka hancurlah hidupnya. Ia tak lagi mendapatkan kemewahan ini, apalagi semua barang yang ia inginkan pasti tidak akan lagi bisa ia beli sesuka hati. Ditambah, entah apa yang akan dilakukan Valdo nanti.


"Valdo!"


"Ngapain sih teriak-teriak, berisik tau!" teriak Valdo ketika pria itu keluar dari kamar tamu dan menatap Lisa dengan pandangan membunuh. Lisa menatap heran suaminya yang kini hanya mampu memakai kursi roda untuk berjalan. Sudah begitu, pria yang terlanjur cacat itu amat sombong ketika berhadapan dengannya.


"Maksud kamu apa Do blokir kartu limit aku segala?" teriak Lisa amat lantang membuat mata Valdo menajam kearahnya. Wanita dihadapannya satu itu benar-benar tidak tahu diri. Sudah diberikan uang puluhan juta tapi ia masih saja tamak dan tidak mau mengerti dirinya sama sekali. Bahkan pulang dengan amarah yang meledak-ledak didepan suaminya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Sedikit pertanyaan pun tidak terlontarkan sama sekali dari mulut wanita itu. Yang ada, ia malah meminta untuk mengembalikan atm-nya yang sudah diblokir.


"Nggak mau tau! pokoknya aku mau uang aku dikembalikan! aku mau belanja. Aku suntuk Do! aku capek!"


"Dasar cewek gila! sampai kapanpun aku nggak bakalan ngasih kamu uang lagi buat foya-foya!. Suami baru pulang dari rumah sakit, bukannya ditanya malah pulang marah-marah minta duit!" Lisa menatap tajam Valdo yang kini hendak menghindar dengan memutar kursi rodanya. Ia tidak percaya jika Valdo akan menghinanya seperti itu. Padahal kini Valdo sudah tidak berdaya, ia juga tidak bisa berjalan. Memangnya Lisa tidak bisa berbuat sesuatu? Lisa berjalan cepat dan menarik kursi roda Valdo membuat Valdo terkejut dibuatnya.


"Pokoknya aku mau uang Do!"


"Lisa, kamu gila ya! dasar sinting!" Valdo segera bangkit dari kursi roda yang tengah ditarik oleh Lisa, membuat wanita itu terkejut bukan main dan menatap mata Valdo yang merah padam dengan bulu kuduk merinding.


"Do, aku-"


Valdo menghentikan langkahnya saat ia mendapati ponselnya bergetar. Ia meraih ponsel tersebut dan menatap layar ponselnya dengan mata yang membulat. Ia melirik Lisa dan menatap tajam dirinya. Namun bukannya mendekat dan hendak menampar wanita itu, Valdo malah dengan sengaja melewati tubuh Lisa dan menatapnya penuh amarah.


"Val-Valdo?" kali ini Lisa mengaku kalah, tapi ini lebih baik daripada tiba-tiba Valdo meminta cerai atau malah memperlakukannya dengan kasar. Lisa menghela nafas, ia memang amat nekat dan amarahnya berapi-api saat Valdo memblokir semua ATM limit miliknya. Mungkin setelah ini Lisa akan memilih untuk trik halus dan meminta maaf pada suaminya itu. Setidaknya Valdo segera pergi daripada melampiaskan amarahnya pada dirinya.


***


Brakkk


Valdo menutup pintu mobilnya dengan kencang, ia buru-buru menghubungi Robert dan segera menyalakan mobil untuk bersiap-siap pergi.


"Gue mau lo tes DNA Nino, sekaligus selidiki kehamilan Lisa waktu itu. Dua hari, gue kasih waktu dua hari buat lo selesaikan misi gue" ujarnya dan segera menancap gasnya. Artikel dan video yang memuat tentang Lisa semua ada di dalam berita, setidaknya ia harus menyelidikinya dengan hati-hati agar Lisa tidak curiga.


"Halo, Steve gue butuh bantuan lo"


***


42


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat pria paruh baya yang kini tengah duduk santai dengan segelas kopinya tertegun sejenak. Ia berpikir heran karena ada orang yang bertamu di rumah sempitnya. Selain keluarga Malia, tidak ada lagi orang yang tau dimana alamatnya saat ini. Namun siapa sangka ada tamu yang tak diundang datang kerumahnya. Syukur-syukur kalau Velyn atau Rega yang datang, ia pasti juga akan senang. Karena masih ada yang mau menemani waktu senggangnya di masa tua seperti saat ini.

__ADS_1


Perlahan namun pasti langkah Gaisan semakin mendekat kearah pintu kaca yang terlihat samar-samar seorang pria dari baliknya. Ia tidak berpikir apa-apa tentang siapa yang bertamu dirumahnya. Tangannya yang renta perlahan membuka daun pintu dan menatap punggung seorang lelaki yang perlahan membalikkan tubuhnya.


Ceklek


"Siap... pa?"


"Papa" suara itu bahkan wajah yang tak dapat dilupakan oleh Gaisan membuatnya terkejut bukan main. Valdo datang mengunjunginya tiba-tiba, bahkan mengetahui keberadaannya. Ia juga tidak heran karena Valdo sudah memiliki segalanya, mau dia mencari Gaisan di ujung dunia pun, Valdo pasti dapat menemukannya.


Kali ini bayangan kecewa itu muncul kembali dalam pikirannya. Gaisan hanya diam membisu, menatap senyuman putranya yang tidak lagi ia akui sebagai salah satu dari keluarganya yang tersisa. Melainkan orang asing, orang asing yang telah menghancurkan kepercayaan dan juga harapannya.


"Pa, ini Valdo pa"


"Maaf ya, saya sedang sibuk. Kalau mau berkunjung lain kali saja" ujar pria bersyal putih susu itu seraya mencoba menutup pintunya, namun segera di tahan oleh Valdo yang kini menatap ayahnya penuh harap.


"Pa, stop pa. Sampai kapan, papa bakal marah terus sama aku? aku cuma mau ngobrol aja pa" Gaisan menghentikan aksinya saat Valdo mengatakan hal demikian. Tidak, Gaisan tidak lagi marah. Untuk apa marah kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan dia. Lagipula Valdo sudah mendapatkan segalanya, mungkin saja ia juga belum puas untuk mengganggu ketenangan ayahnya.


"Buat apa saya marah sama orang yang nggak ada hubungannya sama saya?"


Deg!


Pertanyaan itu sontak membuat hati Valdo berdenyut, memang benar. Untuk apa Gaisan marah padanya, toh lelaki paruh baya itu sudah memutuskan hubungan dengannya. Namun mendengar kalimat itu langsung dari mulut papanya membuat hati Valdo terasa amat sakit dan terbebani dalam pikirannya.


Pun begitu dengan Gaisan, melihat putranya yang terlihat murung akan kata-katanya membuat pria itu sedikit menyesal dengan apa yang ia katakan. Tapi, meskipun begitu, Valdo juga tidak akan pernah merasakan apa yang dirasakan olehnya. Cukup sudah Gaisan menekan keegoisan dari putranya satu itu selama ini. Ia sudah lelah, Gaisan hanya mampu membiarkan Valdo berulah sesukanya tanpa mau memutuskan apapun dalam hidupnya.


"Kalau anda memaksa, silahkan duduk didepan situ. Saya ambilkan air" gumam Gaisan dengan helaan nafasnya membuat senyum di wajah Valdo terpancar. Kalau bisa diulang kembali, Valdo ingin lebih dekat dengan ayahnya, bahkan hanya berbincang ringan. Tapi ego dan juga kesibukannya bagaikan prioritas utama saat ayahnya membutuhkan satu teman untuk bicara.


Valdo menyesal, ia menatap punggung ayahnya yang sudah sedikit renta berjalan kearah dapur. Melihat itu semua, Valdo baru menyadari jika beban berat yang ditanggung oleh Gaisan tidaklah semudah pikirannya. Valdo pikir, dengan banyak uang bisa membuat pekerjaan seseorang bisa tambah semakin mudah. Namun ia salah, Gaisan tidak seperti itu, ia menjalani harinya sendiri. Bahkan saat Valdo meninggalkannya dan memilih jalan sendiri.


Valdo meringis, ia menertawakan hidupnya yang tengah hancur. Seraya berjalan kearah kursi kecil di teras, ia menghela nafas dan menatap rumah milik Gaisan satu-satunya dengan cermat. Rumah sempit dan amat sederhana, bahkan hanya ditumbuhi bunga-bunga dari dalam pot dan digantung di setiap tiang penyangga rumah.


Ayahnya hanya hidup bergantung pada investasi kecil yang hanya menghasilkan uang tidak lebih dari lima juta perbulan, tinggal dirumah sempit sendirian. Sedangkan Valdo, tidur dirumah mewah nan nyaman. Begitu kecewanya kah Gaisan padanya? hingga akhirnya memilih mengalah dan menghindar dari pada harus terpancing oleh perbuatan yang ia lakukan.


"Saya cuma bisa ngasih air putih" ujar Gaisan yang tiba-tiba duduk seraya menaruh air putih itu diatas meja kecil


disamping Valdo duduk.


"Langsung aja ya, karena saya nggak ada waktu. Sebenarnya anda mau apa kemari?" tanya Gaisan tanpa basa-basi membuat Valdo terdiam sejenak seraya menatap serius papanya yang kini bicara formal padanya


***


"Rega pulang!" ujar pria itu ketika memasuki rumahnya, wajahnya lesu. Menghancurkan kepercayaan orang-orang terhadap musuhnya tidak membuat Rega bahagia selama masalah dalam keluarganya masih belum terselesaikan juga. Meskipun sedikit lega akan pelukan dari kekasihnya, namun pikirannya masih terganggu.


"Bun?" Rega menatap bunda yang tengah menata beberapa baju untuk dimasukkan kedalam koper. Hal itu membuat Rega sedikit terkejut, namun tidak dengan bunda yang kini melempar senyum padanya.


"Rega, batu darimana?"


"Loh, bunda mau kemana? kok beberes gini?" tanya Rega panik membuat senyum di wajah bunda terlihat semakin jelas saja. Rega yang awalnya sedikit cemas kini menurunkan pikiran buruknya untuk beberapa saat.


"Maaf ya bunda nggak nggak ngabari kamu. Bunda nggak msu ganggu waktu kamu aja. Sebagai anak tertua, bunda tau gimana perasaan kamu, kamu pasti juga butuh waktu buat mengerti semua ini"


"Bunda nggak perlu kaya gitu, kalo bunda butuh apa-apa telfon Rega aja. Sebenernya bunda mau kemana sih?"


"Bunda mau ke Amerika" ujar Malia seraya melanjutkan melipat baju didepan matanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Hal itu membuat Rega ikut duduk disofa berhadapan dengan bundanya. Wajah Rega pun terkejut bukan main, pasalnya bunda akan pergi jauh darinya tanpa memberi tahunya sedikit pun.


"Bun, tapi-"


"Seminggu lagi, bunda sama Velyn bakal ke Amerika buat memproses kestabilan bayinya dan juga kesembuhan Velyn yang divonis menipis. Kamu tinggal disini aja ya Rega, kamu urus perusahaan"


"Kenapa jauh banget bun? kenapa nggak di Singapura aja? kan lebih dekat?" Malia menghela nafasnya, setelah apa yang terjadi pada suaminya, ia tidak ingin terjadi lagi pada putrinya. Walau harus ke ujung dunia sekalipun, ia akan menyelamatkan Velyn bagaimanapun caranya.


"Kualitas dokter di Singapura itu memang bagus, tapi bunda ingin Velyn mendapatkan dokter terbaik. Meskipun jauh, dan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, tapi setidaknya bunda tidak akan menelan penyesalan dua kali"


"Kalau bayi itu-"


"Udah Rega, bunda sudah bujuk Velyn supaya dia mau menggugurkan kandungannya, tapi dia nggak mau. Mulai sekarang, bunda bakal menghargai apapun pilihan Velyn" Rega tersenyum, akhirnya bunda mau mengerti juga setelah apa yang terjadi pada adiknya itu. Meskipun pilihan Velyn bertentangan dengan pilihan mereka sebagai keluarga, tapi itu akan lebih baik daripada mereka menyesal tidak memberikan wanita itu hak untuk menuruti apa yang ia mau.

__ADS_1


__ADS_2