Velyn Love

Velyn Love
Kuliah


__ADS_3

Setelah seminggu lamanya, Velyn yang tadinya hanya mempunyai kegiatan memasak dan melayani suaminya meskipun tak dihargai akhirnya berani keluar juga.


Luka lebam yang tadinya membiru kini lekas membaik, samar bahkan sudah tidak terlihat sama sekali.


Valdo juga tidak pernah menyiksa Velyn lagi seperti malam itu. Namun sikapnya masih sama, tak perduli pada apapun yang dilakukan oleh istrinya.


Velyn juga mulai dekat lagi dengan Nino, namun ketika Valdo pulang ia kembali ke kamarnya dan meninggalkan Nino di kamar bersama baby sitternya. Itu semua Velyn lakukan secara hati-hati. Takut jika nantinya Valdo mengancamnya lagi. Setidaknya Valdo tidak pernah tau jika selama ini Velyn juga mengurus keperluan Nino.


Sebelum Velyn keluar rumah hendak berangkat ke kampus, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia mengambil sepatu Valdo dan memyemirnya perlahan.


Tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit dan semuanya sudah beres.


Sebenarnya dari dalam lubuk hati Velyn ia juga ingin Valdo berubah. Meskipun kontrak itu masih berjalan, tapi setidaknya Velyn dianggap sebagai manusia dirumah ini. Syukur-syukur kembali seperti pertama kali menjadi istri kontraknya.


Meskipun bukan sungguhan, tapi harapan Velyn terpenuhi. Ia hanya ingin berbakti pada suaminya. Melayani suaminya dengan sepenuh hati. Namun sayangnya entah ada masalah apa yang membuat Valdo menjadi brutal dan sekaligus menjadi momok menakutkan pada gadis yang kini tengah mencegat sebuah mobil taksi tepat dihadapan rumahnya itu.


Meskipun begitu, Velyn takkan lelah menjalani harinya. Sebelum detik dan waktunya berhenti, ia akan mewujudkan harapan orangtuanya.


Velyn meraih buku kecil dari dalam tasnya, ia menuliskan sesuatu seraya tersenyum tipis.


***


Langkah kaki Valdo turun dari anak tangga, ia menapaki setiap anak tangga seraya melirik meja makan yang kini sudah dipersiapkan sedemikian rupa.


Matanya menelisik setiap inci dan detail ruang makan yang terhubung pada dapur. Sepi, bahkan saat ini seperti tiada tanda manusia yang berada disana.

__ADS_1


"Tuan, sarapannya?" tanya Santi yang datang tiba-tiba dari arah kamar mandi seraya sedikit membungkuk, mempersilahkan tuannya untuk sarapan.


"Dimana dia?" pertanyaan itu membuat kening Santi mengernyit. Dia? Santi benar-benar tidak paham dengan pertanyaan tuannya satu ini.


"Mak-maksud tuan, nyonya?" Valdo hanya mengangguk sekenanya.


Meskipun dalam seminggu ini Velyn bersih-bersih didapur tanpa mau berhadapan dengan Valdo maupun bertemu langsung dengannya. Namun pria itu masih bisa merasakan kehadirannya.


Valdo bahkan tidak pernah sama sekali menyentuh masakan yang Velyn buat. Namun ketika kehadirannya seperti menghilang, entah mengapa ada rasa khawatir serta takut menyelimuti hatinya.


"Nyonya kuliah tuan, sudah setengah jam yang lalu berangkat" Valdo hanya mengangguk. Ia kemudian berjalan keluar menuju mobilnya dan mendapati sepatunya yang sudah di semir rapi berwarna hitam.


Valdo sudah tidak heran, semenjak ia mengunci kamarnya. Pria itu membiarkan Velyn merapihkan, mencuci bajunya maupun menyemir sepatunya. Toh dia sendiri yang ingin melakukannya, Valdo juga tidak meminta.


Valdo memasuki mobilnya setelah selesai mengenakan sepatu. Pikirannya melayang mengingat kekerasan yang ia lakukan pada Velyn malam itu. Bahkan akal sehatnya sudah hilang semenjak ancaman dari papanya.


Teriakan Velyn, tangisannya sampai sekarang masih terngiang dikepalanya. Rasanya Valdo sedikit kasihan terhadapnya. Walau bagaimanapun semua yang terjadi bukan murni kesalahan Velyn, tapi Valdo tetap saja egois. Menumpahkan amarahnya pada istrinya satu itu.


Valdo buru-buru melajukan mobilnya, ia tak mau lagi bergulat dengan pikirannya. Ini semua ia lakukan juga demi Lisa. Bagaimanapun caranya, Valdo takkan lelah untuk mencari keberadaan istrinya itu.


***


"Ada yang ditanyakan?" suara familiar itu membuat Velyn mendongak. Kali ini ia mengikuti mata kuliah dari Andra. Siapa lagi kalau bukan dosen tertampan sekaligus pria yang bergelar sebagai mantan pacarnya itu.


Mata mereka saling bertemu, namun sedetik kemudian Velyn segera mengalihkan pandangannya. Melihat mata Andra seperti itu membuatnya mengingat akan masa lalu mereka.

__ADS_1


Tapi Velyn sadar, ia bukan lagi siapa-siapa Andra. Juga Andra telah memiliki Angelita sebagai istrinya sekaligus anak dalam kandungannya memperkuat hubungan mereka.


Mata Velyn berkaca, ia mengingat setiap kali pelukan hangat yang diberikan Andra padanya. Perasaan nyaman yang telah Andra simpan untuknya, kini hanyalah masa lalu yang tak mungkin bahkan tak dapat kembali lagi.


Andai saja waktu dapat terulang kembali, dan jika Andra tau kalau Velyn masih memperjuangkan dan mengharapkan etikat baik dari Andra lagi, mungkin kali ini ia tidak akan sepedih ini menikah dengan Valdo.


"Lyn? lo kenapa?" Velyn buru-buru menghapus air matanya. Suara Oca bahkan membuat lamunan Velyn buyar seketika dan menatap sahabatnya ini yang tengah mengernyit seraya menatap heran pada Velyn.


"Lo ada masalah ya Lyn?" Velyn menggeleng, ia segera merapihkan bukunya dan menatap Andra sekilas yang masih duduk di bangku dosen seraya menatapnya penuh arti.


Merasa materi sudah selesai dan anak yang lain semakin habis berhamburan gadis itu buru-buru menggandeng jemari Oca dan mengajaknya keluar dari sana. Takut jika nanti Oca menyadari kalau Andra dan dirinya pernah ada sesuatu.


"Gue nggak apa-apa kok Ca, makan yuk!" ajak Velyn membuat Oca mengangguk dan ikut bangkit. Melewati Andra yang kini hanya menghela nafasnya pasrah.


"Lyn, jelasin sama gue! tampang sama muka lo itu udah jelas ngasih tanda kalo lo emang ada masalah. Iya kan? sekarang lo bilang Lyn, lo cerita! pasti ada apa-apanya kan lo sama suami lo itu?" pertanyaan Oca membuat Velyn menggeleng seraya memutar-mutar sedotan yang berada didalam gelas jusnya itu.


Memangnya Velyn segalau itu apa, sampai Oca sendiripun menyadari akan keadaannya. Kalau dipikir-pikir lagi, memangnya punya masalah dengan siapa lagi Velyn kalau bukan dengan suaminya.


Meskipun Oca juga mengakui dan mengagumi ketampanan suami Velyn, tapi jangan kira ia tak emosi ketika sahabatnya mendapat masalah.


"Apa sih Ca! gue baik-baik aja kok, jangan lebay deh lo!" tukas Velyn seraya menyangga kepalanya menggunakan satu tangan yang ia sandarkan dimeja kantin.


"Lo kira gue nggak tau! suami lo kan ninggalin tempat acara pas ijab udah selesai. Pasti ada apa-apanya kan?" Velyn membuang muka kala Oca mengatakan hal demikian seraya sedikit berbisik. Takut jika nanti Velyn mendapat omongan yang tidak-tidak.


"Lyn! lo itu cantik, baik, lo juga bukan cewek urakan dan liar. ****** banget suami lo kalo sampek dia nyia-nyiain lo!" ujar Oca seolah tau apa yang dirasakan Velyn meskipun gadis itu hanya mampu bungkam.

__ADS_1


__ADS_2