Velyn Love

Velyn Love
Frustasi


__ADS_3

"Mama, kita main yuk!" ajak Nino seraya menarik lengan Velyn, namun Velyn hanya mampu terdiam seraya memandang Nino yang kini berbalik menatapnya dengan sebuah pertanyaan dibenaknya.


"Kenapa mama diam aja? mama nggak mau ya main sama Nino?"


"Mama mau kok main sama Nino, tapi?" Velyn sempat berpikir untuk bisa menghindar dari pria kecil yang kini tengah merengek padanya itu. Kalau ia menemani Nino bermain, pasti tidak akan sempat ia pergi dari rumah itu sebelum Valdo dan Lisa datang. Padahal Velyn ingin menghindari mereka, ia tidak ingin masuk dalam luka yang lebih dalam jika masih ditempat itu dengan keadaan menyedihkan.


"Kenapa ma? ayo main sama Nio di kamal"


"Kita main disini aja ya sayang, gimana kalau kita main petak umpet?" Nino mengangguk girang, ia kemudian berlari kearah lemari dan menatap Velyn dengan senyuman menggemaskan.


"Mama yang sembunyi ya, nanti Nio cali, tapi sembunyinya jangan jauh-jauh" Velyn mengangguk dan mengiyakan perkataan Nino. Bagaimana ia tega untuk meninggalkan bocah kecil yang mengaku sebagai anaknya itu saat ia berpikir ini semua adalah permainan. Katakan saja jika Velyn adalah wanita jahat, tapi bukan disini tempatnya, ia harus pergi karena haknya sudah tidak ada lagi ditempat ini.


Velyn mengendap-endap keluar dari kamar tersebut, wanita itu kemudian melangkah dan membawa kopernya untuk keluar rumah. Velyn menghela nafas seraya memejamkan matanya erat-erat. Ia benar-benar merasa bersalah dengan Nino yang berharap agar mereka bisa tinggal bersama lagi.


"Maafin mama ya sayang, tapi sejujurnya mama bukan ibu kandung kamu. Mulai sekarang keluarga kamu akan utuh dan bahagia tanpa perusuh seperti mama" Velyn segera keluar dari rumah itu sebelum Nino menyadari keberadaannya sudah tidak berada dirumah ini lagi.


Wanita itu kemudian memasuki taksi yang telah dipesan olehnya dan dibantu oleh sang supir yang memasukkan koper miliknya kedalam bagasi. Namun setelah taksi itu berlalu, mobil hitam milik Valdo berhenti didepan gerbang dan segera masuk kedalamnya.


"Valdo, aku takut" gumam Lisa yang kini memegang lengan Valdo dengan wajahnya yang berkerut itu.


"Aku udah cerai dari dia Lis, kamu nggak perlu takut. Cuma kamu istri aku sekarang, dia nggak berhak buat usir kamu" senyuman mengembang penuh kemenangan terlihat jelas diwajah Lisa, kini wanita itu berhambur memeluk Valdo yang kini terdiam tanpa perlawanan. Namun entah mengapa hati Valdo seolah mengganjal, seharusnya ia tak perlu khawatir maupun bersedih dengan keputusan yang ia ambil. Bahkan keputusannya adalah keputusan yang benar yang seharusnya ia lakukan dari dulu sebelum terjebak dari tipu muslihat wanita yang mengkhianati cintanya.


"Makasih ya Do, sekarang aku percaya sama kamu. Kita bakal mulai semua ini dari awal kan?" Valdo masih terdiam dengan ekspresi penuh keraguan. Hatinya masih terasa ngilu, perasaan yang ia berikan dan ia korbankan hanya untuk orang yang paling ia cintai kini dikhianati oleh wanita itu. Bahkan satu tahun yang indah ini terlewat dengan sia-sia karena Velyn yang pandai berpura-pura.


"Do? kamu kenapa?" Valdo melepaskan pelukan dari Lisa, ia segera keluar dari mobil dan melangkah cepat kearah teras rumahnya. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya dan meraih ponsel disaku celananya.


"Segera urus perceraian dengan Velyn, besok aku tunggu kabar secepatnya" begitu ungkapnya dan segera melanjutkan langkahnya seraya menutup telpon itu dengan emosi yang sudah tidak tertahankan lagi.


Namun disisi lain, Lisa tersenyum penuh kemenangan, ia bahagia. Akhirnya kebahagiaan yang pernah direnggut darinya kini berhasil ia dapatkan kembali. Ia tak mengira semua akan semudah ini, kini tinggal meyakinkan hati Valdo untuk kembali mencintainya dan membuat pria itu melupakan Velyn, maka ia tak perlu repot-repot membuat drama seperti saat ini.


***


Kentang dan brokoli masuk kedalam air mendidih dengan uapnya yang mengepul, sementara menunggu sayurannya matang, Velyn mencincang bawang putih dengan kecepatan tangannya. Ia melirik pergelangan tangannya, bekas sayatan yang ia lakukan saat Valdo menjauhinya. Kini semuanya sudah tidak berarti lagi, meskipun Velyn menangis setiap hari juga tidak dapat membalikkan keadaan. Hatinya benar-benar hancur ketika mendengar Valdo telah menghamili Lisa. Ia tau Lisa juga adalah istrinya, tapi apakah Valdo pernah berpikir bagaimana sakitnya Velyn ketika membayangkan orang yang paling ia cintai berpaling dan menyentuh wanita lain.


Velyn mempercepat ritme mencincang bawang putihnya, tanpa sadar jemarinya terluka oleh pisau yang ia pegang sendiri. Velyn terisak, ia menunduk seraya mengusap air matanya. Tepat satu tahun pernikahan mereka dan hal yang tidak ingin mereka lakukan kini berakhir berjalan juga sesuai rencana awal.


Perjanjian pernikahan yang sudah mereka hindari dan membatalkannya, kini akhirnya berjalan juga. Lalu, apa yang harus ia katakan pada bunda dan juga ayahnya?. Velyn mematikan kompornya seraya berjalan untuk menuju anak tangga. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat suara bel pintu terdengar, membuatnya menghela nafas dan segera menghapus jejak air matanya.


Setelah membuka pintu, Velyn tak menemukan siapapun, namun ia tak sengaja melirik sebuah berkas yang tergeletak dilantai. Surat yang kemudian diambil oleh wanita itu dan semakin membuat hatinya bergetar karena tertulis panggilan dari pengadilan agama.


Velyn tau, ini semua pasti akan terjadi juga. Lalu apa yang perlu dihadapi pasti dihadapi olehnya juga. Pernikahannya sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Luka yang bertambah perih itu, kini pasti akan bertambah lagi dan lama-kelamaan akan menghilang karena terbiasa.


Tak ada jalan lain, ia hanya bisa menyemangati diri saat dirinya mulai terpuruk. Wanita itu kemudian naik keatas menuju kamarnya, ia segera menurunkan foto pernikahannya dengan Valdo, juga beberapa foto polaroid saat mereka masih tumbuh bersama. Semuanya sudah berakhir, nasibnya memang selalu begini. Bahkan mungkin ia sudah tak ada jalan untuk hidup lebih lama lagi.


Velyn meraih ponselnya, ia hendak menghubungi keluarganya. Namun jemarinya urung ketika ia hendak mengetikkan nama di kontak ponselnya. Velyn tidak ingin keluarganya tau terlebih dahulu, setidaknya sampai ayah benar-benar sembuh, baru ia akan menceritakan segalanya.


Velyn menggenggam ponselnya erat-erat, kini saat ia butuh sandaran, tiada lagi orang yang bisa menyeka air matanya. Bahkan tiada bahu yang bisa ia pinjam setelah bahu yang nyaman dengan pelukan hangat itu menghilang untuk selamanya.


Suara dering ponselnya membangunkan lamunan Velyn yang tenggelam dalam keputus asaan. Wanita itu kemudian mengangkat panggilan asal seraya menghela nafas untuk menenangkan pikirannya yang tengah kacau.


"Halo Velyn" suara pria disebrang sana yang tengah mengemudi, menandakan bahwa Adrian berada diantara kendaraan yang berlalu lalang melewatinya.


"Halo" jawab Velyn dengan tenang seraya bergumam dingin.


"Aku lihat Robert bawa surat pengadilan yang ditujukan atas nama kamu, kamu serius mau-"


"Dia yang ceraikan aku Yan" ucap tegas Velyn membuat Adrian membulatkan matanya, bahkan Adrian terdiam seketika saat mendengar hal tersebut terucap dari mulut Velyn sendiri. Suara diseberang sana terdengar bergetar, dipenuhi rasa sedih yang amat mendalam.


"Apa?!"


***


Brakkkk


"Maaf pak, anda tidak boleh masuk sembarangan" ucap seorang satpam yang tiba-tiba menghalangi langkah Adrian untuk masuk kedalam rumah itu. Pria itu sudah disulut amarah sejak tadi, ia hendak memukul wajah pria pengecut yang amat tidak pantas untuk dicintai oleh Velyn itu.


"Lo nggak usah ikut campur! gue kesini cuma mau ngasih pelajaran buat bos brengsek lo itu!" ucap Adrian dengan penuh amarah dalam dirinya. Pasalnya ia tidak terima melihat Velyn tenggelam dalam ketidak berdayaan. Memang cinta itu buta, bahkan Adrian rela mengorbankan perasaannya, tapi tidak disangkanya pria yang ia sebut sebagai sahabatnya lebih brengsek daripada dirinya. Bahkan pengorbanan dari perasaannya kini sia-sia akibat perbuatan jahat sahabatnya.


"Valdo! keluar lo bangsat!" teriak Adrian seraya memasuki ruang tamu rumah besar itu, matanya tak sengaja memandang setiap foto pada dinding. Foto yang sebelumnya terpampang wajah Velyn dan Valdo, kini berubah menjadi foto pernikahan Valdo dan Lisa.

__ADS_1


"Pak!"


"Sekali lagi lo ngehalangi jalan gue, lo bakal ngerasain akibatnya" ancam Adrian seraya memerintahkan satpam tersebut untuk menyingkir.


"Lo ngapain kesini?" tanya Valdo yang kini sudah berdiri dibawah anak tangga seraya menatap Adrian dingin. Adrian tersenyum seraya berlari kearah pria itu dan melayangkan pukulannya, membuat Valdo meringis kesakitan seraya menatap tajam Adrian yang baru saja memukulnya.


"Maksud lo apa tiba-tiba mukul gue? lo gila ya!"


Bukk bukk bukk


"Pak tolong tenang pak" ucap satpam seraya menarik lengan Adrian.


Pukulan telak bertubi-tubi mengenai wajah tampan Valdo membuat pria itu terjatuh kelantai. Sebelum Adrian menyerang Valdo lagi, sang satpam langsung menahan tubuh Adrian agar tidak memukul majikannya itu dengan brutal.


"Brengsek lo Do! lo udah janji bakal jagain dia! lo udah janji bakal bahagiain dia, tapi ternyata janji lo janji busuk!. Sebenarnya apa salah Velyn haa?!" Valdo mengulum bibirnya seraya menatap tajam Adrian yang menyebutkan nama wanita itu didepannya. Ia benar-benar tak habis fikir, bahkan Adrian dibuat gila seperti ini hanya karena wanita jahat itu.


"Jadi lo sampek ngamuk kaya gini cuma gara-gara perempuan itu? lo ngehajar bos lo cuma mau belain dia?!"


Bukkk


Satu pukulan telak mengenai wajah Valdo yang telah lengkap dengan luka lebam diwajahnya. Namun sedetik kemudian satpam yang telah kalah dengan tenaga Adrian itupun menarik Adrian lagi membuat pria itu memberontak. Tenaga tubuh besar satpam itu terkuras habis oleh usaha Adrian yang memberontak padanya.


"Gue tau Velyn! seharusnya kalo lo cinta sama dia, kalo lo perduli sama dia, lo percaya sama dia!. Tapi ternyata gue salah, emang laki-laki busuk kaya lo nggak pantes buat jadi pasangan Velyn!"


"Kalo lo suka! ambil aja bekas gue!"


"Bajingan!"


"Stop!" tiba-tiba saja gerakan Adrian yang hendak memukul Valdo ditahan oleh satpam dibelakangnya juga teriakan dari wanita yang sudah pasti bisa Adrian tebak itu siapa.


"Valdo? kamu kenapa? wajah kamu?-" Lisa yang berlari tergopoh-gopoh dari atas anak tangga menyentuh wajah Valdo yang penuh dengan luka memar akibat serangan dari pria yang menatapnya tajam.


"Kamu?-"


"Jadi ini istri sah lo sekarang? heum, bener-bener cocok, yang satunya goblok, yang satunya uler. Cocok banget!"


"Maksud lo ngomong gitu apa ha?!" teriak Valdo yang tersulut emosi karena perkataan Adrian yang seolah meremehkannya. Valdo yang hendak menyerang pria itu kemudian ditahan oleh Lisa yang menarik lengannya. Semakin dilihat, Valdo yang notabenenya tidak bisa bela diri akan kalah dengan pria dihadapannya ini. Meskipun bisepnya tercetak jelas, tapi gerakan Adrian begitu lincah ketika tengah memukul suaminya. Itupun cukup membuat Lisa yakin bahwa pria dihadapannya ini bukan pria biass.


"Ck! lo mau lari ya? dasar wanita uler, lo pasti ngejebak Velyn kan!" Lisa mengerutkan keningnya seraya menatap tajam Adrian yang menatapnya tak kalah tajam. Mendadak wajah Lisa pucat pasi melihat tatapan itu, tatapan yang seolah sebuah ancaman baginya.


"Pak satpam ini kerjanya gimana sih! kenapa diem aja? bawa laki-laki ini keluar, niat kerja nggak sih"


"I-iya Nyonya"


"Haha, bener kan apa kata gue, lo tiba-tiba ketakutan. Jangan-jangan apa yang gue bilang emang fakta?" Valdo melirik Lisa yang kini menatap Adrian dengan penuh kekesalan.


"Bawa dia pergi pak satpam. Dasar orang gila, jelas-jelas Velyn yang udah merenggut nyawa anak aku dan Valdo* Adrian menghempas tubuh satpam itu lagi, ia benar-benar semakin tersulut amarah saat ini.


"Valdo!" langkah Valdo terhenti ketika ia hendak menaiki anak tangga, meskipun begitu ia menolak untuk menatap sahabatnya.


"Kalo lo tau segalanya, gue yakin lo pasti nyesel. Lo bakal nyesel Valdo! lo lebih milih buat kehilangan yang lo punya daripada kehilangan orang yang lo cinta. Oh ya, satu lagi! Gue mundur sebagai GM!" ucap Adrian seraya menghempas tangan security yang menahannya.


"Lepasin gue! gue bisa keluar sendiri" kata Adrian seraya meninggalkan rumah Valdo dengan perasaan kesal. Namun setidaknya ia sudah puas memberikan pelajaran yang pantas untuk laki-laki pengecut seperti dirinya.


Valdo menghela nafas beratnya seraya melangkah kembali kedalam kamar. Bagaimanapun ini adalah konsekuensi ketika ia memutuskan untuk menceraikan Velyn. Valdo mendaratkan bokongnya diatas ranjangnya yang empuk, ia masih terdiam dengan tatapan dingin diwajahnya. Perasaan sakit yang ia alami masih terasa sampai saat ini, bahkan luka yang ditimbulkan oleh Adrian sampai tidak terasa baginya.


"Sayang, sini aku obatin. Pasti sakit banget kan?" ujar Lisa yang tiba-tiba duduk disebelahnya seraya memberikan obat pada Valdo, namun belum sempat kapas yang dipegang oleh Lisa mengenai ujung bibirnya, tiba-tiba saja Valdo menahan lengan Lisa serta menghalanginya.


"Do?"


"Aku butuh waktu buat sendiri" Valdo kemudian bangkit seraya berjalan kearah lemari gantung untuk menarik jaketnya. Ia berjalan keluar tanpa pamit pada istrinya yang kini tengah kesal karena tiba-tiba Valdo mencampakkannya.


Mau bagaimana lagi, sekali Valdo mengatakan tidak, maka seberapa besar usahanya tidak akan membuahkan hasil untuk menahan pria itu. Lisa hanya bisa sabar sambil perlahan-lahan membuat hati Valdo luluh dengan sendirinya. Setelah itu keluarga kecilnya yang bahagia akan kembali seperti semula.


***


Velyn berjalan keluar supermarket, ia menaikkan resletingnya saat malam bertambah semakin dingin karena suasana tengah mendung. Sepertinya sebentar lagi akan segera turun hujan, pikir Velyn seraya melangkah perlahan untuk mencari bus yang lewat.


Sudah dua hari semenjak surat sidang dari perceraiannya ia terima, Velyn tidak ingin lagi memikirkan masalahnya. Mungkin saja ini adalah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuknya. Meskipun begitu, bukan berarti Velyn tidak bersedih, ia bahkan sempat melamun sepanjang malam dan berakhir insomnia. Tapi dengan adanya sahabat-sahabatnya ia tak lagi kesepian seperti dulu.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, bahkan Christyn dan Dira selalu menghubunginya. Meskipun Velyn terlanjur malu dengan apa yang terjadi tempo hari, tapi itu tidak mengubah kepedulian sahabatnya padanya. Hal itu membuat Velyn sangat amat bersyukur. Sedangkan untuk Adrian, semenjak hari itu pria itu susah dihubungi dan tidak ada kabar dari dirinya.


Entah mengapa, tapi Velyn merasa sedikit khawatir. Velyn yang duduk di halte bus kini menghela nafas beratnya seraya menatap langit malam yang terasa semakin mendung. Wanita itu segera bangkit setelah bus yang ditunggunya tiba, namun seketika gerakannya terhenti saat ponselnya berbunyi.


"Halo?" dahi Velyn berkerut, ia mengangkat sebelah alisnya seraya menutup mulutnya tak percaya.


"Apa?!"


***


Velyn menghentikan langkahnya saat ia hendak menaiki bus yang biasa ia tumpangi. Saat ini, ia kembali duduk di halte itu seraya menunggu sebuah mobil menjemputnya, dan benar saja mobil yang ia kenali berhenti tepat didepan matanya.


Velyn menghampiri mobil itu, ia menunggu kaca mobil itu terbuka dan memperlihatkan pria berkacamata yang menatapnya dengan pandangan memohon. Pria itu keluar dari mobil seraya berharap agar Velyn bisa membantunya kali ini, meskipun kecil kemungkinan harapannya akan terjadi.


"Nyonya-"


"Tolong jangan panggil saya seperti itu, karena saya bukan lagi istri dari majikan anda" ucap Velyn tegas membuat pria dihadapannya itu berdehem seraya membetulkan kacamatanya, untuk menahan kegugupan yang harus ia hadapi.


"Maaf, tapi saya benar-benar minta tolong nona Velyn. Tolong bantu tuan Valdo"


"Kenapa saya harus bantu dia?" Velyn tidak mau membuang-buang waktunya lagi untuk hal yang tidak penting lagi. Untuk apa juga ia harus membantu lelaki yang kini bahkan tidak ada hubungannya dengan dirinya lagi?.


"Karena Pak Valdo butuh anda" Velyn terkekeh mendengar ucapan Robert, pria tempo hari yang datang hanya untuk meminta tanda tangannya saja ketika hendak mengurusi perceraian dengan Valdo.


"Maaf, karena mungkin anda salah paham. Sekarang mungkin anda sendiri sudah tau bagaimana status saya tidak lagi berhubungan dengan dia"


"Tapi Pak Valdo benar-benar butuh-"


"Saya akan tegaskan lagi kalau anda tidak mengerti. Saya sudah muak, bahkan saya tidak ingin bertemu dia, jadi tolong, saya mohon pada bapak Robert untuk berhenti mengusik hidup saya dengan alasan bahwa Valdo membutuhkan saya. Karena nyatanya, dia sudah punya istri yang paling dia cintai" Velyn kini sudah cukup puas untuk mengatakan segala keluh kesahnya. Ia tak lagi mempunyai beban dalam memikirkan hal lain yang berkaitan dengan mantan suaminya. Kali ini, ia akan melupakan masa lalu itu, masa lalu indah yang paling ia benci. Karena terdapat pengkhianatan Valdo yang telah melukai hatinya.


Velyn membalikkan tubuhnya, ia melangkah cepat dan berhenti saat Robert mengatakan hal yang membuat wanita itu terdiam seketika.


"Tapi Pak Valdo sangat mencintai anda" Velyn meringis mendengarnya, air matanya hampir jatuh jika saja ia tak sanggup menahannya. Velyn kali ini harus menjadi seseorang yang kuat, demi orang-orang yang peduli padanya, dan melupakan rasa sakit yang harusnya ia buang jauh dari kehidupannya.


"Saya nggak perduli" ucap Velyn seraya melangkah cepat, meninggalkan pria itu yang berdiri mematung tidak berdaya. Lagipula Robert sudah menebak jika Velyn tidak akan pernah membantunya mengatasinya hal apapun yang berkaitan dengan Valdo.


Robert menghela nafas beratnya, bahkan hari-harinya leboh berat ketika setiap pulang kerja Valdo selalu datang ke bar untuk minum-minum. Tentu saja pria itu sama tak berdayanya dengan Velyn. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar, namun Robert amat mengerti jika keduanya masih saling mencintai. Hanya saja, ada kesalahpahaman besar yang memisahkan hubungan diantara keduanya.


***


Suara DJ mengiringi tempat yang dipenuhi banyak orang yang menari dibawah lampu disko. Pria berkacamata itu pun melirik beberapa manusia yang tengah minum diantara bar dan menemukan sosok Valdo disana. Robert segera menghampiri Valdo, ia menarik lengan pria yang sudah tidak sadarkan diri itu dan segera membawanya keluar dari hiburan malam yang menyesakkan baginya. Setidaknya ini yang sudah dilakukan oleh Valdo beberapa hari lalu dan berlanjut hingga sekarang. Pria yang dulunya jauh dari alkohol dan wanita yang mengelilinginya, kini ia seolah berada dalam lingkaran itu untuk melupakan masalahnya yang kian menyakiti hatinya.


"Lepasin gue! gue masih mau minum. Minum yang banyak hahaha" tawa Valdo seraya mendorong Robert yang tengah berusaha keras untuk membopongnya. Pikiran Valdo telah dipenuhi alkohol, bahkan ia sudah tidak sadar lagi sampai gerakannya pun terhuyung-huyung.


"Pak Valdo! kalau anda seperti ini terus, anda tidak akan pernah bahagia!" teriak Robert yang penuh kekesalan akan Valdo yang hendak kembali kedalam bar. Namun Valdo membalikkan tubuhnya, ia menunjuk Robert dan mendorong tubuh pria itu meskipun Valdo terlihat masih tidak sadar.


"Lo! lo tau apa tentang hidup gue ha?! lo tau apa? hidup gue emang nggak pernah bahagia!. Nggak perlu lo ngancam gue, karena hidup gue emang nggak berguna!" teriak Valdo dengan matanya yang memerah menatap Robert yang sepertinya tidak bisa berkata apapun. Valdo kembali tertawa meskipun sejatinya, hatinya penuh dengan luka yang dalam. Mengapa ia melakukan itu dengan Lisa sampai Lisa hamil? dan mengapa Velyn yang amat ia cintai malah dengan sengaja mengkhianatinya?.


Bahkan wanita yang ia idamkan menjadi ibu dari anak-anaknya, tega sekali meminum obat kontrasepsi tanpa sepengetahuan darinya. Tapi setidaknya, pikiran Valdo untuk melupakan itu terlupakan oleh hiburan malam yang dulunya tidak pernah ia sentuh sama sekali.


Valdo meracau sepanjang jalan, membuat Robert iki akhirnya mengerti inti masalah yang terjadi diantara keduanya. Bahkan Robert lebih mendukung jika Valdo bersama Velyn daripada Lisa. Karena nyatanya Lisa bahkan tidak peduli dengan keadaan Valdo yang demikian. Wanita itu hanya sibuk shopping dan menghamburkan uang Valdo saja bahkan tanpa mau perduli dengan darah dagingnya yang kini nyaris kehilangan kasih sayang orang tua.


"Stop!" teriak Valdo membuat Robert menghentikan mobilnya. Robert menaikkan sebelah alisnya saat Valdo memerintahkannya untuk membuka pintu.


"Buka pintu!"


"Ada apa pak? kita belum sampai rumah, dan lagi diluar sedang hujan" seolah menghiraukan perkataan Robert, Valdo keluar dari mobil itu bahkan berjalan dibawah hujan.


"Pak Valdo!" teriak Robert yang kini turun dari mobilnya seraya membukakan payung. Namun meskipun berjalan dengan terhuyung, Valdo dapat lebih cepat bergerak dan tidak terkejar oleh pria itu yang sempat mengambil payung didalam mobil.


***


Velyn mengambil air putih dari dalam kulkas, ia meneguknya seraya menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 23.00, Velyn menghela nafas, sudah beberapa hari ini ia tidak tidur teratur, bahkan sampai kehilangan nafsu makan.


Tiba-tiba saja perutnya terasa mulas, ia sempat berpikir bahwa akan datang bulan dalam waktu dekat karena nyatanya sudah dua minggu ini ia terlambat. Namun dugaannya salah, Velyn masih belum datang bulan juga. Wanita itu kemudian segera masuk kedalam kamar dan mengambil tasnya. Sebenarnya Velyn tidak ingin, tapi untuk berjaga-jaga, ia membeli testpack beberapa hari lalu. Velyn menghela nafas, ia hanya berharap apapun hasilnya nanti, itulah yang terbaik untuknya.


Velyn segera masuk kedalam kamar mandi lagi, lalu beberapa menit kemudian keluar seraya menunggu hasil tesnya keluar. Jantung Velyn berdebar mengingatnya, nafasnya memburu tatkala menatap dua garis merah yang terpampang jelas setelah menunggu lima menit lamanya. Velyn menutup mulutnya, ia membulatkan matanya seraya menahan air matanya yang hendak menetes.


"Aku? hamil?" entah mengapa Velyn begitu bingung, ia harus bersedih atau bahagia. Tak terasa air matanya menetes, namun bibirnya mengulas senyum. Ia menyentuh lembut perutnya yang berlapis piyama. Akhirnya, penantiannya selama ini terbayarkan juga.

__ADS_1


Meskipun akhirnya Velyn tidak bisa memiliki Valdo dan hiduo bersama dengan orang yang paling ia cinta. Tapi setidaknya, Velyn memiliki anak darinya.


"Nak, sehat-sehat didalam perut mama ya sayang. Mama pasti akan jaga kamu sampai kamu hadir di dunia ini" gumam Velyn seraya menitikkan air mata yang tanpa sadar menetes dengan haru.


__ADS_2