
Seminggu berlalu, Velyn menjalani hari-harinya dengan damai dan suasana baru. Kini harapannya yang dulu ingin menjadi seorang istri yang baik dan berbakti pada suami akhirnya terwujud juga. Setiap hari Valdo bahkan memakan masakannya, tidak seperti dulu lagi. Ulasan senyum indah selalu Valdo berikan dan kecupan manis di kening Velyn setiap pria itu hendak berangkat bekerja maupun pulang dari pekerjaannya membuat Velyn bisa merasakan bagaimana diperlakukan menjadi seorang istri yang sempurna.
Namun dibalik itu semua Velyn selalu membatasi dirinya untuk tidak berhubungan yang terlalu intim dengan suaminya. Mereka mungkin tidur satu kamar, tapi Velyn tidak ingin satu ranjang dengan Valdo. Awalnya Velyn ingin tidur dibawah saja dan Valdo yang tidur diatas, namun karena Valdo tidak ingin Velyn kenapa-kenapa, ia akhirnya mengalah.
Mungkin cukup kecupan kecil di kening Velyn setiap mereka hendak berpisah, tidak lebih.
"Nino, sini main sama mama" panggil Velyn pada Nino yang tengah bermain bersama mbak Marni yang berada dikamarnya. Kini tiada lagi jarak antara dirinya dengan Nino, rasanya Velyn begitu bahagia kala Nino mau bermain lagi dan bisa menemaninya setiap saat. Tak jarang Valdo juga ikut bermain ketika libur maupun malam tiba.
Seperti kali ini, saat Velyn hendak mengeluarkan buku gambar dari kotak mainan Nino yang berada dibawah kolong meja, Valdo ternyata sudah berdiri diambang pintu, tersenyum menatap dua cinta yang kini melengkapi hidupnya. Valdo memberikan isyarat pada Marni untuk keluar dari kamar Nino, setelah Marni keluar, Valdo melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Ini gambar apa Nino?" tanya Velyn dengan suara yang ia buat seimut mungkin karena Velyn benar-benar menyukai anak-anak. Jangankan menyukai, mungkin saat ini Velyn sudah amat jatuh cinta dengan bocah kecil yang bernama Nino ini. Valdo menahan tawanya kala Velyn mengatakan hal demikian. Imut sekali istrinya ini, membuat Valdo ingin menciumnya saja.
"Ini gambal papa sama mama, papa jadi pangelan kalo mama jadi putelinya" Velyn menahan tawanya kala Nino mengucapkan hal polos seperti itu. Malaikat kecilnya ini, Velyn benar-benar ingin melihat Nino tumbuh dewasa. Meskipun sebenarnya Nino bukan darah dagingnya, tapi rasa sayang dan cinta itu seperti terlimpah untuk Nino seperti anak kandungnya sendiri.
Melihat kedekatan ibu dan anak ini Valdo semakin mengulas senyum, ia bahkan tak menyangka jika Velyn benar-benar telaten pada Nino yang terkadang jahil padanya. Valdo benar-benar beruntung mendapatkan Velyn. Ia hanya berharap semoga dalam waktu dekat Velyn bisa merasakan apa yang ia rasa. Berharap semoga Velyn juga akan mencintainya dan menemaninya sepanjang hidupnya.
"Nino lagi main apa sama mama?" suara itu membuat ibu dan anak itu saling bertukar pandang dan beralih menatap Valdo yang kini tersenyum dan mengambil posisi duduk didekat Velyn. Velyn hanya bisa tersenyum kaku. Bagaimanapun, ia belum terbiasa dengan sikap Valdo yang seperti ini. Sikapnya yang berubah-ubah membuat Velyn kadang merasa kaku dan canggung.
"Nino main gambal-gambalan sama mama, papa ikut main yuk!" kata Nino merajuk membuat Valdo semakin mendekat dan mulai melihat gambar Nino yang masih berantakan, namun bisa dilihat gambar itu adalah gambar seorang perempuan dan laki-laki yang bergandengan tangan serta memakai gaun pernikahan.
__ADS_1
"Mama, ini celayon buat mama" tanpa sengaja crayon yang diberikan Nino pada Velyn kini mengenai hidungnya, membuat pucuk hidung Velyn berwarna hijau. Nino tertawa terbahak, sedangkan Velyn hanya mengerutkan kening seraya menatap Valdo dengan tanda tanya. Valdo yang melihat hal itu hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa.
"Apaan sih kak?!" tanya Velyn sedikit kesal membuat Valdo menujuuk hidung Velyn, namun Velyn masih tidak peka, ia hanya bertanya-tanya dalam hati, apa yang salah dari dirinya.
"Hidung kamu kena krayonnya, sini aku bersihin" Velyn sedikit mencondongkan wajahnya, ia menunggu jemari Valdo untuk menyentuh hidungnya, namun siapa sangka, yang ada malah Valdo mencoret pipi Velyn menggunakan crayon berwarna merah.
"Mama lucu, hahaha" tawa Nino pecah seketika membuat Velyn membulatkan matanya seraya menatap tajam pada Valdo yang kini menjulurkan lidahnya seraya tertawa dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kak Valdo! awas ya aku bales" Velyn tak akan kalah, ia kemudian mengambil crayon berwarna biru dan mencoba untuk mencoret wajah Valdo, Valdo hanya bisa menahan Velyn saat ini, namun usahanya tak cukup kuat karena Velyn menggerayangi perutnya, membuat Valdo tertawa terbahak-bahak dan terjatuh, terlentang diatas karpet.
"Udah dong Lyn! curang kamu ih hahaha" dengan secepat kilat Velyn segera mencoret-coret wajah Valdo hingga membuat wajahnya kini penuh dengan coretan crayon.
Valdo juga takkan tinggal diam, ia meraih crayon berwarna hitam dan menahan lengan Velyn untuk dicoretkannya pada alis dan juga kepalanya. Melihat keduanya berpelukan dan saling mencoret-coret wajah Nino jadi semakin tertawa kencang. Nino mengambil crayon berwarna oranye dan mencoretkannya pada wajahnya sendiri.
"Mama papa! liat, Nino juga bisa gambal diwajah juga" Velyn dan Valdo menghentikan kelakuan mereka yang masih saling mencoret-coret wajah, mereka saling melirik Nino yang kali ini mencoreti wajahnya sendiri menggunakan crayon. Hal itu membuat Valdo dan Velyn saling tertawa bersama.
Melihat tawa Velyn seperti ini, rasanya dunia Valdo seperti telah dilengkapi sebongkah berlian. Diam-diam ia memperhatikan tawa Velyn yang pecah seraya mencium pipi Nino dengan gemas. Sungguh cantik dan menawan. Bahkan rasanya Valdo tak ingin kehilangan gadis ini. Perasaan dan cintanya entah mengapa semakin tumbuh semakin dalam ketika melihatnya bahagia.
Baru kali ini Valdo merasakan punya keluarga seutuhnya. Valdo hanya berharap semoga ini akan bertahan sampai ia tua. Dengan adanya Velyn, telah melengkapi perasaan sepinya selama ini.
__ADS_1
***
Velyn tengah mengusap wajahnya yang penuh dengan crayon tepat didepan wastafel, setelah wajahnya bersih ia bercermin sejenak, namun siapa sangka darah mengalir dari lubang hidungnya. Velyn buru-buru membersihkan darah itu. Ia mengambil tisu dan membersihkannya dengan air.
Untung saja mimisannya tidak terlalu parah hingga darahnya bisa mampet dengan sendirinya. Velyn menghela nafasnya, ia membalikkan tubuhnya namun siapa sangka kehadiran Valdo mengejutkan dirinya.
"Kak Valdo ngagetin aja!" kata Velyn seraya memegangi dadanya yang berdetak tak karuan akibat saking kagetnya. Entah mengapa tatapan Valdo kini berubah intens, membuat Velyn takut saja. Atau jangan-jangan hidungnya masih mengeluarkan darah?. Velyn membulatkan matanya kala Valdo menahan tubuh Velyn dan menghimpitnya. Velyn tidak bisa bergerak lagi tubuhnya sudah terhimpit oleh wastafel dibelakangnya.
"Ka-kak Valdo mau ngapain?" tanpa aba-aba Valdo mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Velyn. Entah mengapa Velyn membeku dibuatnya, tubuhnya sampai menegang. Velyn memejamkan matanya erat-erat kala Valdo ******* bibirnya. Rasa hangat seperti menjalar kedalam tubuh Velyn.
Valdo semakin dalam menciumnya, ia menarik tengkuk Velyn agar bibir Velyn dapat menyeimbangkan ciumannya. Dan benar saja Velyn akhirnya luluh dan membalas ciuman itu. Tangannya yang semula mengepal erat-erat kini ditariknya oleh Valdo dan dikalungkannya ke leher. Velyn hanya bisa pasrah saat ciuman Valdo turun ke leher jenjangnya.
"Kak-kak Valdo, uuhh" Velyn hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Valdo mulai bermain. Valdo membuka kancing piyama Velyn dan menciuminya, ia kemudian mengangkat tubuh ramping Velyn dan mendudukkannya di wastafel membuat pergerakannya semakin mudah saja.
Benarkah mereka akan melakukan hal ini? dan ini di kamar mandi. Velyn terkejut saat Valdo membenamkan di dadanya, bersamaan dengan itu tangan Valdo juga menggerayangi bagian bawah Velyn membuat Velyn semakin mendesah dan memeluk suaminya dengan erat.
"Kak Valdo!" teriakan Velyn bagai penyemangat bagi Valdo. Untung saja Velyn memakai piyama terusan, jadi ia bisa dengan mudah memainkan bagian sensitif Velyn dengan gemas.
Valdo kembali mencium bibir Velyn membuat gadis itu memejamkan matanya lagi sambil terus meremas punggung Valdo. Sial! Valdo benar-benar bisa gila jika dirinya melakukan ini sungguhan. Velyn benar-benar amat cantik dan seksi, bagian sensitif yang pas digenggamnya, serta bibir mungil yang manis membuatnya ingin meminta lebih.
__ADS_1