
Tok tok tok
"Masuk!"
Suara ketukan pintu membuat Adrian menghentikan pekerjaannya sejenak. Tak butuh waktu lama wanita yang kini menjadi asistennya itu kini melangkah dengan gugup seraya menunduk, tak berani memandang Adrian yang kali ini hanya bersikap acuh seraya memeriksa dokumen ditangannya.
"Maaf pak, ini berkasnya" ujar Velyn seraya memberikan berkas bermap biru itu pada pria yang kini menatapnya dengan seksama. Entah mengapa melihat apa yang dilakukan Valdo pada Velyn tadi membuat hati Adrian terganggu. Ada sebongkah rasa ngilu saat melihat dengan mata kepalanya sendiri jika wanita dihadapannya ini hampir melakukannya bersama rekan kerjanya, yang notabenenya adalah suami Velyn sendiri.
Bukankah itu hal wajar? suami istri saling beradu dimana pun, karena itu hak mereka. Bahkan bisa Adrian tebak jika mereka juga pasti sering melakukannya. Mengingat keduanya saling mencintai, namun entah mengapa rasanya hatinya begitu sakit saat melihat hal yang sudah sering ia lakukan pada wanita lain.
"Pak, apakah ada pekerjaan lain lagi yang bisa saya kerjakan?" Velyn menatap Adrian yang kini tengah menatap kosong berkas ditangannya, bahkan matanya tidak bergerak sama sekali saat Velyn memanggilnya untuk beberapa kali.
"Pak?" tegur Velyn kesekian kali dengan nada sedikit tinggi membuat Adrian tersadar dari lamunannya dan menatap Velyn dengan bias senyum seperti biasa.
"Maaf, kamu tadi tanya apa ya?" tanya Adrian mengalihkan pikirannya dan menatap Velyn yang kini tampak menggaruk tengkuknya.
"Apa ada pekerjaan lain yang bisa saya kerjakan lagi?" tanya Velyn sekali lagi membuat Adrian menggeleng.
"Nggak ada, kamu silahkan kembali ke tempat kamu" Velyn mengangguk kemudian berlalu pergi. Sejujurnya ia masih terkejut dengan kedatangan Adrian yang tadi masuk tiba-tiba keruangan Valdo.
Apalagi pria itu tak mengetuk pintu terlebih dahulu. Atau mungkin hal itu sudah menjadi semacam kebiasaan yang dilakukannya. Velyn menggeleng seraya membuyarkan lamunannya yang beranjak kemana-mana. Daripada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik ia kembali fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
***
Velyn kini tengah makan siang di kantin sendirian. Wajahnya bingung dan penuh tanya saat setiap pasang mata menatapnya dengan pandangan sinis, seraya berbisik. Sebenarnya ada apa?, Velyn sampai menghentikan aktivitas makannya saat ia menyadari umpatan kecil dari arah belakang yang menjurus padanya.
"Itu cewek magang yang jadi asisten pak Adrian kan? gila ya, udah berhasil ngerayu pak Adrian, sekarang giliran pak Valdo yang digoda" bisik kedua wanita yang kini duduk dibelakang Velyn. Velyn hanya mampu memejamkan matanya sejenak, cepat sekali menyebar isu itu. Meskipun Velyn sendiri malas untuk menanggapi tapi sejujurnya ia juga merasa risih jika ditatap tidak mengenakkan oleh karyawan lain.
"Padahal pak Valdo itu udah punya istri berani-beraninya ngembat suami orang lain. Emang dasar pelakor!" what?! pelakor! bahkan yang mereka bicarakan sebagai istri adalah Velyn sendiri. Sayang sekali ia tidak mau membongkar identitasnya. Ia tak mau ada yang tau jika istri pemilik perusahaan ini magang dan mendapat nilai tinggi karena bergantung pada suami. Meskipun kenyataannya Valdo juga tidak akan mungkin melakukan hal demikian.
Siapa gerangan yang menyebarkan isu itu begitu cepat? Velyn bahkan sampai tak menyangka jika kejadian hari ini menimbulkan masalah untuknya. Ini semua juga karena Valdo. Ia tidak memperhitungkan situasi dan kondisi.
Jika dipikir lagi Adrian tidak mungkin menyebarkan gosip seperti ini. Yang menjadi dalang utama sekaligus diterka-terka oleh pikiran Velyn adalah asisten Valdo. Velyn mengunyah roti isinya dengan kasar, wajahnya benar-benar dipenuhi oleh amarah saat ini. Ia ingat betul tatapan kebencian dari wanita itu, tatapan seolah membunuh membuat Velyn semakin kesal saja.
"Velyn! lo disini ternyata" panggil Cristyn disusul dengan Dira yang kini duduk dihadapannya seraya menatap heboh pada Velyn yang tengah asyik menyantap roti isi kesukaannya.
"Lyn, lo harus liat ini" Velyn mengerutkan keningnya kala Cristyn menunjukkannya sebuah foto saat dirinya tengah dipeluk oleh Valdo. Velyn benar-benar terkejut, ia kini bahkan membulatkan matanya seraya terbatuk-batuk karena makanannya yang belum ia telan hampir membuatnya tersedak.
"Uhuk!"
"Lyn, lo sebenernya ada hubungan apa sih sama pak Valdo? lo bukan cewek simpenan yang dibilang orang-orang kan?"
"Gila lo! mana mungkin gue jadi simpenan. Gue aja ketemu pak Valdo baru pagi ini kok di kantor" elak Velyn pada Dira yang mulai kepo dengan pandangannya yang penuh dengan kecurigaan. Pun begitu dengan Cristyn yang sepertinya tidak sabar untuk mengintrogasi dirinya yang masih menatap kesal pada kedua temannya ini.
__ADS_1
"Terus kenapa pak Valdo sampek peluk lo segala. Mana diketerangannya lo habis ciuman sama tuh owner"
"Sebenernya apa yang lo sembunyiin Lyn? nggak pernah ada lo yang nyentuh sehelai rambutnya dia, bahkan nggak ada yang berani" Velyn benar-benar menganga dibuatnya. Kenapa dua sahabatnya ini sepertinya lebih tau Valdo yang berada di kantor daripada dirinya sendiri.
"Lyn lo sebaiknya ngaku deh sama kita. Daripada nanti banyak yang salah paham sama lo."
***
Kebungkaman Velyn membuat dua temannya itu semakin penasaran saja. Bahkan dari tadi mereka sampai harus mengerubungi Velyn dengan pertanyaan yang sama. Ingin rasanya ia mengaku saja jika Valdo adalah suaminya, tapi pikiran Velyn tidak sependek itu.
"Gue mau diperkosa sama pak Valdo! puas!" teriak Velyn dengan lantang pada dua temannya yang kini berjalan beriringan dengannya membuat Cristyn dan Dira membulatkan matanya.
Ya, kali ini untung saja mereka sudah jauh dari para karyawan yang sedari tadi mengatainya murahan. Dan kini ketiga wanita itu berjalan keluar dan menjauh dari gedung perkantoran seraya hendak menuju halte yang tak jauh dari tempat mereka magang.
"Lo serius Lyn?! tapi lo nggak apa-apa kan?" tanya Dira yang menatap Velyn dengan serius membuat gadis itu hanya mampu menghela nafas kasar. Sebenarnya Velyn sendiri juga terpaksa mengatakannya, ia tidak pintar mencari sebuah alasan. Tapi yang jelas jika kedua temannya ini mampu bungkam hanya itu yang bisa Velyn katakan.
"Keterlaluan banget sih tuh cowok! nggak inget anak istri dirumah apa?! seketika tingkat kekaguman gue ngilang deh" timpal Cristyn membuat Velyn hanya mampu mengerutkan keningnya.
"Kita lapor aja ke polisi, bisa aja kan wajah sok polos dan dingin itu sengaja ia tunjukkin buat narik perhatian cewek" Velyn membulatkan matanya kala Dira berkata demikian. Langkahnya terhenti dengan rasa sesal karena mengatakan hal yang tidak-tidak tadinya.
Bagaimana jika kedua temannya ini nekat, dan benar-benar melaporkan Valdo pada pihak yang berwajib. Seharusnya alasannya lebih berbobot lagi. Velyn memukul pelan kepalanya, ia meratapi kebodohannya yang semakin lama semakin bertambah saja.
__ADS_1
"Lyn, lo ngapain diem disitu?" tanya Cristyn yang membalikkan tubuhnya disusul Dira yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Gu-gue" belum sempat Velyn melangkah kembali untuk menyusul kedua temannya itu kini tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat disamping tubuhnya. Membuat kedua wanita yang tak jauh dari pandangannya itu saling memberikan kode bertanya begitupun dengan Velyn yang masih menatap intens seseorang dibalik mobil berwarna putih itu.