
"Ssstt, maafin aku ya sayang. Maaf banget kalau aku punya salah sama kamu. Aku nggak niat buat ngomong jahat kaya gitu kok, aku cuma bercanda. Kamu jangan nangis ya?" kata Valdo seraya menghapus jejak air mata Velyn. Entah mengapa rasanya air matanya malah tambah deras saja mengalir. Hatinya begitu remuk dan sakit. Ternyata selama ini Valdo tidak pernah mencintainya, pria yang memeluknya erat ini hanya mencintai satu orang saja yaitu Lisa.
Meskipun itu yang Velyn inginkan namun tetap saja rasanya begitu sakit ketika membayangkannya.
"Sayang, kok malah nangis sih? kamu kenapa?" isakan Velyn semakin membuat Valdo bingung saja. Pasalnya seharian Valdo terbaring dan istrinya ini yang merawatnya. Valdo tidak tau apa yang terjadi, bagaimana Velyn berubah sikap? sedangkan dirinya saja tidak berinteraksi dengannya.
"Aku, aku nggak apa-apa kok kak" balas Velyn seraya menghapus jejak air matanya menggunakan punggung tangannya. Tapi bukan Valdo namanya jika dia tidak mendapatkan jawaban yang puas. Valdo kemudian meraih wajah Velyn, ia langsung menyambar bibir mungilnya dan ********** dengan lembut.
Velyn membeku seketika, ia yang semula mengerutkan keningnya kini mulai memejamkan matanya dan menikmati ******* bibir Valdo yang semakin dalam. Tangannya bergerak memeluk leher suaminya, pun sama dengan Valdo yang kini memeluk pinggang istrinya dan mengangkat bokong Velyn hingga posisi mereka berubah menjadi berhadapan.
Velyn yang kembali pada kesadarannya kini buru-buru menghentikan ciuman itu. Ia menunduk lagi, rasanya tak kuasa jika harus menatap mata Valdo yang terdalam. Mungkin Velyn memiliki raganya, tapi tidak dengan hati Valdo yang tersimpan satu orang wanita.
"Sayang? jawab aku, kamu kenapa sebenarnya? apa aku ada salah ya sama kamu?" Velyn hanya menggeleng dan sedetik kemudian tersenyum. Ini bukan saatnya untuk berdebat, lagipula tidak mungkin Velyn bercerita kalau dirinya sebenarnya cemburu.
"A-aku, aku cuma ngerasa bersalah aja sama kakak, aku ngerasa nggak pantes kalau terus-terusan dampingi kak Valdo, aku udah buat kamu sakit kaya gini" Valdo menatap wajah Velyn lamat-lamat, pria itu juga menangkup pipi Velyn yang putih menggemaskan. Valdo mencium pipi Velyn sebelah kanan dan membelai rambutnya.
Kenapa istrinya ini lucu sekali, perkataan Velyn baru saja membuat Valdo semakin tambah mencintai gadis ini. Kalau Velyn saja membiarkan dirinya tidur dibawah dan dia merasa tidak pantas, lalu bagaimana dengan dirinya yang dulu pernah bertindak kekerasan padanya dan membiarkannya tidur diluar rumah.
__ADS_1
"Kalo kaya gitu mulai sekarang nggak akan ada lagi yang tidur dibawah maupun diatas. Kita sama-sama tidur disini" Velyn membulatkan matanya menatap Valdo yang kini mulai serius untuk bicara. Kalau seperti ini bagaimana Velyn akan memangkas perasaannya sendiri?.
"Tapi kak-"
"Nggak ada tapi-tapian, aku udah mentolerir kalau kita pisah ranjang, tapi kamu juga istri aku sayang. Sekarang giliran aku sebagai suami yang ngatur kamu" Velyn hanya mampu terdiam dan menunduk, apa yang dikatakan Valdo tidak dapat ia sanggah. Kenapa jadi Velyn yang terpojok kali ini. Niat hati ingin menjauh tanpa ada pertentangan batin, namun kini Valdo malah semakin mendekat padanya.
Velyn menghela nafasnya, ia yang hendak bangkit dari pangkuan Valdo kini tersentak oleh pergerakan Valdo yang semakin mengeratkan pelukannya pada bokong Velyn. Valdo menidurkan Velyn disampingnya, tidak ada penolakan dari Velyn, ia hanya diam namun hendak bangkit kembali. Sayangnya pergerakan Velyn kalah cepat dengan jemari Valdo yang menariknya.
"Aku mohon sayang, mulai sekarang, kita tidur seranjang ya?" Velyn memejamkan matanya erat-erat saat Valdo menatapnya dengan penuh harap. Mata ini benar-benar membuat Velyn tidak berdaya. Meskipun kini mereka sah menjadi suami istri, tapi jangan lupakan kontrak itu. Velyn akhirnya mengangguk lemah dan menuruti saja perkataan Valdo. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf darinya karena telah membiarkan Valdo tidur dibawah semalam.
Senyum mengembang dan penuh kemenangan kini Valdo tunjukkan tanpa sungkan saat Velyn mulai setuju untuk tidur bersamanya. Valdo mendekatkan wajahnya saat Velyn masih berada didepan matanya, saat mereka berbaring bersama.
"Ni-nino, kamu ngapain kesini sayang? ayo sini sama mama" Velyn tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Valdo hanya bisa mengumpat dalam hati seraya menunjukkan ekspresi kesalnya.
Velyn akhirnya memutuskan untuk menggendong Nino yang terlihat tersenyum melihat ekspresi dan wajah bundanya yang memerah. Gadis itu menggendong tubuh Nino dan membawanya kedalam kamarnya.
Valdo hanya bisa memutar bola matanya, padahal sebenarnya Valdo sedang ingin kali ini, mumpung tubuhnya sudah kembali pulih. Pria itu hanya bisa menghela nafas, ternyata tidak mudah mempunyai anak ketika orangtua hendak bermesraan.
__ADS_1
***
Velyn mengambil ponselnya dari dalam saku saat ia merasakan panggilan dari nada dering di ponselnya berbunyi. Ia meletakkan mobil-mobilan Nino yang tadinya ia mainkan bersama putranya itu.
"Sayang, sebentar ya, mama angkat telfon dulu" setelah itu Velyn buru-buru keluar dari kamar Nino dan segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo bunda" Velyn menutup mulutnya tak percaya kala mendengar kabar tak menyenangkan dari bundanya. Matanya mengerjab dengan air matanya yang menetes perlahan.
Setelah Velyn sudah berada didepan rumah bunda dengan menaiki taksi, gadis itu buru-buru masuk kedalam rumah besar itu. Velyn sengaja pulang tanpa berpamitan pada Valdo, ia takut Valdo ikut khawatir seperti apa yang ia rasakan saat ini.
"Bunda!" Velyn memasuki kamar bundanya tanpa permisi, ia memeluk bunda yang tengah merapihkan perlengkapannya kedalam koper seraya menangis terisak.
"Aku mau ikut bunda, aku mau tau gimana keadaan ayah, aku mohon bun" mohon Velyn, seraya masih memeluk bunda dengan erat beserta tangisannya yang sama dengan bunda. Walau bagaimanapun, Velyn juga ingin melihat keadaan ayahnya. Mendengar keadaan ayah tengah kritis Velyn merasa tak bisa tinggal diam, ia juga putrinya, Velyn berhak melihat ayahnya.
"Sayang, dengerin bunda ya nak. Kamu udah punya suami, bunda nggak mau kamu ninggalin Valdo. Kamu ingat kan pesan bunda dulu sebelum kamu nikah?" Velyn hanya bisa terdiam seraya terisak. Sedangkan bunda kini beralih melepaskan pelukan Velyn dan menghapus jejak air mata putrinya yang kini masih bertahan terisak dengan tubuhnya yang gemetar.
"Ini alasan bunda kenapa sebelumnya bunda berusaha buat nutupin keadaan ayah. Bunda nggak pengen kamu ikut khawatir dan lupa sama keluarga kecil kamu sendiri" Bunda menghela nafasnya seraya menghentikan kalimatnya sejenak. Mencoba menelan salivanya yang begitu berat.
__ADS_1
"Kamu dengerin bunda ya sayang, bunda bakal kabari kamu setelah bunda udah sampai disana. Kita banyak-banyak berdoa sama Tuhan, semoga papa cepet sembuh."