
Setelah Velyn mengatakan segalanya, rasanya ia begitu lega. Tak ada tangisan yang menyertainya, ia hanya sesekali melirik Adrian yang tampak masih tak percaya dengan cerita Velyn yang amat menyedihkan itu. Velyn memang menyedihkan, sangat pantas jika setelah menceritakan segala permasalahannya ia ditatap iba seperti ini.
Baginya itu sudah tidak penting lagi. Harapannya sudah pupus dan hilang semenjak hari dimana dirinya di vonis. Serta kehidupannya yang begitu hancur berantakan. Tidak ada semangat maupun keinginan untuk hidup, karena Velyn sudah mengerti dan mengetahui saat-saat terakhir yang ayahnya jalani.
"Aku bakalan mati Yan, aku bakal pergi tanpa keinginan maupun harapan yang aku capai. Hidup aku udah berhenti, saat seharusnya aku nikah sama pacar aku, tapi terhalang oleh perjodohan. Saat aku mulai nerima kehidupan ku yang baru, dan mulai mencintai orang yang ternyata nggak pernah cinta sama aku. Saat ayah aku divonis dengan penyakit yang sama, saat sahabat aku ninggalin aku sendirian karena aku udah bikin dia kecewa. Dan saat aku tau kalau hidup aku nggak akan bertahan lama" Adrian tiba-tiba bangkit. Ia kemudian menarik kedua lengan Velyn untuk ikut bangkit bersamanya. Velyn sedikit terkejut dengan apa yang Adrian lakukan. Tak hanya itu, pria dihadapannya itu juga memeluknya erat, matanya berkaca dan memerah sebelum ia tenggelam dalam pelukan Velyn yang begitu hangat.
"Udah Lyn, jangan pernah ngomong kalau kamu bakal mati. Kamu harus sembuh, kamu harus buktikan sama orang-orang itu kalau kamu bisa bahagia, kamu pasti kuat Velyn" Velyn menitikkan air matanya, meneteskan perlahan demi perlahan lelehan pilu yang sedari tadi ia tahan.
Tanpa sadar Velyn membalas pelukan Adrian, meremas bajunya erat-erat sambil terisak.
"Aku bakal bantuin kamu Lyn, kamu jangan takut. Ada aku disini" tidak pernah Adrian sadari sebelumnya dan tidak menyangka jika gadis yang ada dihadapannya punya banyak masalah seberat itu. Betapa bodohnya suami Velyn yang menelantarkannya. Velyn begitu cantik dan baik, harapan sederhananya membuat Adrian tergugah jika tidak semua wanita itu sama.
Velyn hanya bisa terisak, semua beban yang ia alami selama ini akhirnya bisa terlepas begitu saja. Velyn melepaskan pelukan Adrian kemudian ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini semakin deras air mata mengalir disana.
"Maaf, nggak seharusnya kamu repot-repot peduli sama aku. Aku cuma butuh orang yang mau dengerin isi hati aku aja. Makasih ya" Velyn mencoba untuk tersenyum kembali. Menatap netra coklat milik Adrian yang begitu teduh dan membuat pria itu menyentuh rambut hitam milik Velyn dengan lembut.
__ADS_1
Velyn menyeka air matanya, ia tau keperdulian Adrian hanyalah semata-mata karena iba. Lagipula Adrian dan dirinya tidak ada hubungan apapun, mereka hanya sebatas kenal dan kini berteman.
***
Hari mulai senja namun Velyn masih bertahan di rumah Adrian. Sebenarnya ia benar-benar tak enak hati jika menginap ditempat besar seperti ini, apalagi ini adalah rumah pria. Sedangkan Velyn sudah menikah. Rasanya begitu canggung, ia juga belum memutuskan untuk pulang kemana. Tapi yang pasti Velyn akan ke rumah orangtuanya saja.
Velyn memutuskan untuk menulis sebuah surat di atas meja. Ia akan pergi sebelum malam mulai larut. Velyn takut kejadian seperti kemarin hari itu terjadi lagi. Pumpung Adrian juga belum pulang dari aktivitas kerjanya.
Setelah Velyn menulis surat pamit untuk Adrian ia juga mengeluarkan saputangan yang pernah diberikan Adrian untuknya. Velyn setiap hari memang sengaja membawa saputangan itu, berjaga-jaga jika mereka bertemu.
***
Velyn kini memesan go car, ia tak mau lagi kejadian kemarin terjadi lagi. Tak apa jika uang tabungannya berkurang, ia hanya ingin pulang dengan selamat. Setelah sampai tujuan gadis itu mengeluarkan uang ratusan ribu pada driver sopir karena memang letak rumah Adrian dan Velyn cukup jauh.
Velyn sebenarnya belum siap untuk kembali, apalagi sang ayah masih rawat jalan. Ia takut jika keluarganya cemas nanti. Tapi ini sudah tekadnya, mau pulang kemana lagi dia? sedangkan Valdo selama ini juga tidak pernah perduli padanya. Yang ada nanti Velyn malah disiksa lagi seperti kemarin. Velyn tidak mau, ia trauma dengan apa yang terjadi. Tidak boleh masuk rumah sakit lagi, kalau tidak rahasianya pasti akan terbongkar cepat atau lambat.
__ADS_1
"Velyn?" belum sempat gadis itu membuka gerbang suara bunda membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Velyn tersenyum menatap bunda, sepertinya bundanya hendak keluar. Terlihat dari pakaiannya yang casual dan membawa tas dilengannya. Bunda langsung berhambur memeluk Velyn dan mencium pipinya bergantian.
"Bunda mau kemana?" tanya Velyn membuat bunda sedikit tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.
"Mau ke mall sebentar. Oh ya, tumben kamu pulang nggak ngabarin bunda? suami kamu mana?" tanya bunda tiba-tiba membuat Velyn membulatkan matanya. Bagaimanapun juga ia harus bisa tinggal di rumah tanpa ketahuan jika mereka tengah ada dalam masalah.
"Kak Valdo ada dinas ke luar kota bunda, aku lagi suntuk banget dirumah, jadi mau tinggal beberapa hari boleh kan?" bunda mengernyit, menangkap kata-kata yang keluar dari mulut Velyn. Namun mengetahui bundanya yang sedikit curiga padanya, Velyn langsung mengulas senyum.
"Bunda, aku kangen sama ayah dan kak Rega, gimana keadaan ayah?" tanya Velyn dengan ceria. Namun mendadak bunda seperti gugup, ia menunduk seraya sesekali menatap Velyn dengan pandangan penuh arti.
"Ayah, ayah keadaannya lebih baik kok nak, kebetulan sekarang mereka lagi di kantor. Ayah mungkin juga nggak bisa pulang beberapa hari karena kerjaannya masih numpuk" Velyn manggut-manggut saja, tapi tetap saja perasaannya jadi khawatir. Apalagi keadaan ayahnya yang seperti sekarang ini. Hatinya sedikit tak tenang mengingat apa yang terjadi.
"Sayang, bunda mau keluar sebentar ya, kebetulan ada kamu, kamu tunggu rumah ya nak. Kuncinya ada dibawah karpet" kata bunda buru-buru membuat Velyn hendak mengatakan sesuatu namun urung.
Sepertinya bunda benar-benar sibuk dan keperluannya begitu mendesak. Velyn mengangguk kemudian membiarkan bundanya untuk keluar dari kediaman tersebut. Sebenarnya Velyn begitu amat penasaran dengan urusan apa yang hendak bunda selesaikan. Bundanya tidak pernah terlihat sepanik itu dan hanya ke mall saja sampai terlihat khawatir begitu.
__ADS_1
Namun Velyn buru-buru menampik semua itu, ia menggeleng seraya melangkah masuk kedalam rumahnya. Memasuki rumahnya yang begitu ia rindukan.