
Pintu terbuka membuat Velyn agak terkejut dibuatnya. Ia menatap pria yang kini tengah tersenyum seraya membawa bunga untuk Velyn yang kini masih bersantai sambil membaca buku novel ditangannya.
Ia mengira yang datang adalah Valdo, mengingat Valdo akan menjemputnya malam ini. Padahal jam masih menunjukkan pukul empat sore, masih jauh dari perkiraan kedatangan pria itu. Namun tebakannya pun salah, pria yang kini tersenyum itupun melangkah mendekat seraya menyapa Velyn dengan senyuman andalannya.
"Hay! gimana keadaan kamu? udah mendingan?" tanya Andra yang kini mengulurkan buket bunga mawar merah untuk Velyn, membuat gadis itu dengan ragu menerima bunga tersebut dan mengangguk.
"Makasih, kamu ngapain kesini?" tanya Velyn dengan pandangannya yang menelisik. Bukannya tidak menerima kehadiran dan kebaikan Andra. Tapi status mereka sudah berbeda saat ini. Apa kata orang jika mereka masih berhubungan dan bertemu di suatu ruangan?, meskipun hanya sekedar menyapa. Itu akan mempengaruhi imege keduanya.
"Kamu nggak suka ya kalau aku jenguk? atau kamu masih benci sama aku?" Velyn menggeleng, ia meletakkan bunga tersebut diatas meja seraya menatap Andra yang kini terlihat murung akan pertanyaannya barusan.
"Bukan gitu, tapi kita sama-sama udah berkeluarga. Rasanya nggak pantas kalau kamu tiba-tiba datang tanpa adanya istri kamu atau orang lain" Andra tau, pasti ini yang ingin Velyn katakan dan pikirkan. Tapi mendengar kabar bahwa gadis dihadapannya ini sudah tiga hari terbaring di tempat seperti ini membuat dirinya tak bisa menahan diri.
Ingin tau apa kabar gadis ini, mengetahui bahwa dirinya baik-baik saja itupun sudah cukup.
"Aku khawatir sama kamu, aku cuma pengen mastiin kalau kamu memang baik-baik aja" tatapan mata ini, persis seperti tatapan mata Andra yang berada di pasar malam itu. Tatapan yang penuh makna dan perasaan, membuat Velyn luluh namun seketika terjatuh karena harus menerima kenyataan.
"Aku baik-baik aja kok Ndra, malam ini aku udah dibolehin pulang. Kamu nggak perlu khawatir tentang aku. Gimana sama Angelita dan bayinya?" tanya Velyn tiba-tiba membuat Andra mengerutkan keningnya seraya menghela nafas.
Rasanya ia seperti tak rela menikah dengan perempuan lain jika itu bukan Velyn. Impiannya dulu hanyalah mempunyai harapan dan kehidupan sederhana dengan gadis dihadapannya ini. Ketika ia mengucap sumpah untuk menikahi Angelita saja, ia hanya merasa bahwa hatinya untuk Velyn seorang saja.
__ADS_1
Angan-angan Andra, kebahagiaan yang ia tanam itu semua bisa terwujud jika orang yang paling ia cintai berada disana. Dan orang itu adalah Velyn, hanya Velyn dan selalu Velyn.
"Bisa nggak, nggak perlu bahas dia. Aku udah pernah bilang. Siapapun yang jadi istri aku nantinya, dia nggak akan miliki hati aku. Karena hati aku cuma buat satu orang aja" Valdo menatap Velyn dalam-dalam, membuat gadis itu mengerutkan kening seraya menggeleng.
Tidak, tidak boleh. Velyn tidak boleh luluh pada siapapun, baik Andra maupun Valdo. Ia harus menyadari statusnya juga keadaannya. Velyn tidak mau memberikan harapan juga tidak ingin berharap. Semuanya harus berjalan walaupun tanpa adanya dia.
Velyn terkekeh, meskipun itu bukan gurauan dan yang dimaksud adalah kenyataan yang sesungguhnya namun Velyn takkan terbawa suasana. Jangan sampai perasaannya yang sudah ia kubur kini kembali dengan hanya kata-kata manis saja. Tuhan itu maha membolak-balikkan hati, tapi Velyn juga tidak ingin menikung Angelita yang sudah jelas-jelas menjadi istri sah dari Andra.
"Jangan terlalu serius gitu dong, aku kan cuma tanya kabar soal istri kamu, bukannya nyindir" kata Velyn seraya memukul pelan bahu Andra, membuat pria itu meringis seraya menggaruk tengkuknya.
Sepertinya memang Velyn sudah melupakannya sejauh itu. Hingga Velyn lupa akan kenangan mereka.
Mencoba untuk mencari jawaban yang memuaskan, kalau tidak Andra tidak akan tinggal diam. Mungkin pikiran itu yang silih berganti membayangi otaknya kala Andra benar-benar serius menanyakannya.
"A-aku," sebenarnya Velyn tidak bisa berbohong jika melihat tatapan Andra yang seperti ini. Apalagi melihat pandangannya itu, ingin sekali Velyn menangis mengingat setiap hal menyakitkan yang Valdo lakukan tanpa kemanusiaan.
Velyn ingin menumpahkan segala yang ia rasa, namun ia sadar, siapa dia dan siapa Andra. Kini Andra bukanlah miliknya, tugasnya yang dulu sudah diambil oleh orang lain yang akan menemaninya.
Andra menelisik setiap tubuh Velyn yang kini hanya bisa menunduk entah memikirkan apa. Dan benar saja kecurigaan Andra yang sedari tadi melanda hatinya. Andra menemukan sedikit luka memar yang samar-samar dari leher Velyn yang terlihat putih itu. Kulit Velyn memang putih, hingga luka apa saja pasti kontras dan sangat terlihat jelas.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja kok Ndra sama suami, dia baik banget. Meskipun dia udah punya anak, tapi dia dewasa dan perhatian sama aku. Aku bahagia" ucap Velyn dengan matanya yang berbinar seolah tanpa beban. Bahkan Andra sama sekali tidak percaya dengan perkataan Velyn barusan.
Jika Velyn jujur, maka ia tidak akan mengatakannya dengan jeda waktu lama seperti itu. Apalagi ekspresinya tadi menunjukkan perasaan bimbang dan ketakutan. Lehernya pun semakin kontras terlihat memar kala Velyn kini mendongak menatapnya.
Meskipun itu hampir tidak terlihat, tapi Valdo bisa menebak jika itu memanglah memar. Sedikit membiru meskipun samar-samar.
"Aku nggak akan terima siapapun nyakitin kamu. Meskipun aku udah nggak berhak lagi buat masuk, tapi aku nggak akan biarin kamu menderita Velyn" kata-kata Andra seperti menyiratkan makna terdalam, membuat Velyn ketakutan jika Andra mengetahui sesuatu tentangnya.
Velyn menelan salivanya dan tersenyum hangat pada Andra yang kini mulai menatapnya seraya menelisik seperti itu.
"Velyn" suara lembut itu membuat Andra dan Velyn saling melirik dan menatap Valdo yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Ia juga membawakan makanan ditangannya yang terlihat kotak bekal yang sama setiap kali Valdo kemari.
Andra menatap pria yang semakin mendekat ini dengan tatapan tidak suka. Wajahnya memang tak kalah tampan darinya. Tapi Setampan-tampannya seseorang akan kalah jika ia tidak memperlakukan wanita dengan baik. Andra juga pernah melakukan itu pada Angelita, dan ia pun merasa kotor. Terjerat karena dosa yang menghantuinya dan kini ia harus mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan sebelumnya.
Tapi lihatlah pria ini, Andra benar-benar tak menyukainya. Setelah ia melakukan sesuatu yang kasar pada Velyn ia masih saja bersikap baik. Dan parahnya lagi Velyn kini tersenyum membalasnya seolah tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.
"Temen kamu ya?" tanya Valdo membuat Velyn tersenyum seraya mengangguk.
"Iya, dia dosen ditempat aku kuliah kak. Namanya pak Andra, pak kenalin ini suami saya" kata Velyn dengan senyuman ramahnya membuat Andra bangkit lalu menyalami Valdo dengan masih menatapnya tidak suka.
__ADS_1