Velyn Love

Velyn Love
Dan berakhir


__ADS_3

"Kalau anda memaksa, maka saya akan katakan yang sejujurnya Ibu Velyn sudah mengidap penyakit leukimia."


Malam itu Valdo tidak bisa berkata-kata apa-apa, ia hanya menunduk dan pergi berlalu begitu saja. Tanpa adanya pencarian dan juga membujuk Velyn untuk pulang. Hancur hatinya ketika malam berlalu begitu cepat, sedang ia tidak bisa bicara maupun tidur sama sekali mengingat apa yang dikatakan dokter padanya.


Valdo bodoh! ia merutuki dirinya sendiri. Sia-sia ia sudah menghabiskan seluruh hidup dan waktunya untuk wanita pengkhianat seperti Lisa, dan lebih memilih untuk melepaskan Velyn yang begitu mencintainya. Pria itu memang bodoh, buta, bahkan tuli untuk melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dikatakan ayahnya selama ini.


Kini ia hanya bisa mempercayakan pada takdir agar Velyn dan ia bisa bertemu lagi dan menjelaskan tentang kesalah pahaman yang terjadi. Tentang kebodohan yang selalu menjadi nilai lekat an erat dalam dirinya.


Valdo mengeratkan jemarinya saat ia mulai gemas akan suara klakson yang berbunyi satu persatu dari belakang mobilnya maupun didepan mobilnya. Perjalanan menuju bandara hari ini dipenuhi dengan kemacetan. Padahal ia harus buru-buru untuk mencegah Velyn agar tidak pergi lagi dari hidupnya. Setelah ini Valdo tidak akan lagi membuat hidup Velyn menderita. Tapi apakah kesalahannya selama ini pantas untuk dimaafkan?. Valdo tidak tau, pikirannya buntu bersamaan dengan apa yang ia dengar dan kenyataan apa yang masih terngiang dibenaknya.


Tin tin tin tin


Suara mobil dan motor saling bersautan, membuat pria itu semakin tidak tahan bahkan ia kini turun dari mobil meski panas menyengat seakan membakar kulitnya.


"Pak Valdo? anda mau kemana?"


"Gue nggak ada waktu lagi, lo tau kan kalau gue harus nemuin dia sekarang juga" kesabaran Valdo kini sudah habis, ia berlarian menyelinap kesana kemari dengan melewati beberapa kendaraan yang macet dihadapannya. Ia tak menggubris teriakan dari Robert yang memanggil namanya berulang kali. Yang ia tau ia hanya ingin bertemu Velyn dan mencegahnya untuk pergi lagi.


"Kota tujuan dari tiket penerbangan Ibu Velyn maupun Ibu Malia disamarkan dengan ketat, sehingga kami tidak bisa melacak keberadaan mereka, maupun mengetahui kemana Ibu Velyn akan pergi ke Amerika. Mungkin hal ini disebabkan oleh campur tangan Pak Rega"


Bahkan orang suruhan Valdo saja tidak dapat menemukan dimana Velyn berada, sedangkan Amerika adalah negara luas yang ia tidak tau dimana ujungnya jika mencari keberadaan wanita itu. Wanita yang ia yakini tengah mengandung anaknya mungkin saja akan berakhir sia-sia.Dunia yang seolah luas tanpa ujung, sangat mustahil ia lalui sendiri dengan tangan kosongnya.


"Christyn Gabriela adalah sahabat dekat dari Ibu Velyn, sehingga Ibu Velyn dengan sengaja meminjam identitasnya untuk menangani pengobatan anda selama berada dirumah sakit"


Bayang-bayang kenyataan itu bahkan seperti hukuman yang datang bertubi-tubi dengan hebat menyergap hatinya. Valdo berlari dengan kencang, tak perduli panas yang menyengat juga mobil-mobil yang berhenti akibat macetnya jalan raya. Yang ia inginkan hanyalah untuk bertemu dan memeluk Velyn saja.


***


"Hati-hati ya Lyn, kalo udah sampek jangan lupa kabarin" ujar Christyn seraya melepas pelukan terakhir dari sahabatnya setelah mereka akan berpisah untuk sementara, mungkin sampai keadaan Velyn membaik lagi.


"Jaga kesehatan dan kandungan lo ya, jangan telat makan" susul Dira yang menyentuh punggung Velyn dengan lembut dan penuh perhatian. Velyn tersenyum dan mengangguk. Akhirnya penantian yang selama ini ditunggu oleh wanita itu datang juga.


.Bunda yang selalu mendukungnya juga sahabat-sahabat Velyn yang selalu ada untuknya. Ditambah Rega juga Mega yang kini bersatu untuk membantu apapun tentang pengobatan Velyn juga bayi di dalam kandungannya. Bagi Velyn ini sudah cukup, meskipun hatinya masih goyah jika saja bertemu dengan lelaki itu tapi dengan adanya kepergian ini mungkin saja dan membuat hatinya juga rela dan lebih sabar.


Langkah Velyn terhenti sesaat ketika ia hendak keluar dari ruangan itu dan bersiap naik pesawat. Ia menatap semua orang yang tersenyum padanya namun Velyn sangat amat nyeri mengingat masa-masa indah itu. Meskipun bodoh jika Velyn terus mengingatnya tapi ia juga tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia punya hati, dan hati itu untuk pria yang hendak menjadi ayah untuknya. Meskipun rasa sakit yang ada dihatinya tidak bisa dikendalikan, namun tetap saja pria itu pernah ada di hatinya.


"Jalan yuk nak" ajak bunda membuat Velyn mengangguk dan melanjutkan langkahnya lagi. Mulai saat itu Velyn tidak lagi menoleh kebelakang, hidupnya hanya untuk masa depan juga anak yang ada didalam kandungannya saat ini. Ya, Velyn sudah memantapkan hati, meski berat hal itulah yang harus ia jalani.


"Iya"


Setelah pesawat mulai take off seorang pria berlari untuk masuk kedalam sana. Pria itu mencari seseorang kesana kemari, memastikan agar seseorang yang ia kenali tak mudah pergi dari hidupnya. Namun ia sudah terlambat, ia melihat pesawat dengan mata kepalanya sendiri terbang menjauh di angkasa, seolah memberikan salam perpisahan yang tidak menyenangkan untuknya.


Valdo terduduk lemas, ia marah pada dirinya sendiri, ia kesal karena kebodohannya yang tidak bisa menjaga seseorang yang amat ia cintai. Sudah jatuh, ketiban tangga pula, sudah ditipu, di khianati bahkan ditinggalkan orang-orang yang paling ia sayangi. Valdo amat terpuruk dengan hal ini, ia menangis terisak seraya memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Bodoh kamu Do! bodoh!" meskipun umpatan itu keluar begitu saja dari mulutnya, namun ia tidak bisa menyangkal jika ia sudah kehilangan segalanya. Benar kata papa, harta bukanlah kadar kebahagiaan seseorang, tapi kepercayaan juga kebersamaan dalam kejujuran.


Salahnya karena tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan oleh papanya, salah Valdo karena ia selalu menyudutkan papanya. Padahal papa tau segalanya, tapi karena obsesi juga keegoisan Valdo, hal itu sudah tidak ada pengaruh baginya meskipun diberikan pengertian sedikit saja.


Valdo sudah memiliki banyak kesempatan untuk meminta maaf, ia memiliki alasan bahkan kemarin saat ia sendiri bertemu dengan Velyn di mall. Namun yang dikatakannya bukanlah hal baik meskipun sedikit demi sedikit Valdo tau bahwa kemungkinan ada yang salah dengan Lisa. Tapi Valdo menutup mata, ia termakan oleh gengsi yang terlanjur ia ciptakan sendiri.


Kini kesempatan itu terbuang percuma, rasa sesal di dalam diri Valdo lebih besar daripada gengsinya. Valdo meringis ia kemudian melangkah kembali untuk pulang ke rumah dengan keadaannya yang kacau tanpa ekspresi.


***


Wanita yang kini duduk bersandar dengan nyaman di dalam kabin pesawat itu menghela nafas seraya memejamkan matanya erat-erat. Sudah sekitar lima jam perjalanan dari ibukota menuju Amerika yang tak krnal batas dan ujung jauhnya. Genggaman jemari bunda membuat wanita itu menoleh, tersenyum pada sosok ibu yang menjadi pahlawan juga teman setianya sampai saat ini.


"Kamu nggak apa-apa nak?" tanya bunda yang bertanya dengan kerutan khawatir di dahinya. Wanita setengah baya itu menatap putrinya yang tengah berbaring nyaman di kursi eksekutif seraya menyandarkan kepalanya dan menghembuskan nafas lelah.


"Nggak apa-apa kok bunda"

__ADS_1


"Maafin bunda ya nak, karena bunda dan ayah kehidupan kamu jadi seperti ini. Kalau saja dulu ayah dan bunda nggak maksa kamu dan kamu cari kebahagiaan kamu sendiri, mungkin nasib kamu bakal lebih baik dari ini. Kalau aja ayah tau gimana keadaan kamu sekarang, ayah pasti-"


"Bunda" Velyn menyentuh punggung tangan bundanya dengan hangat, ia tahu apa yang akan bundanya katakan. Di ujung sudut mata yang mulai mengeriput itu terdapat setitik air mata yang dapat Velyn pastikan akan jatuh saat itu juga.


Berulang kali, setiap saat penyesalan itu selalu dikatakan oleh bundanya dengan perasaan yang sedih, terpuruk tiada akhir. Rasanya dada Velyn mulai bergetar merasakan perasaan bundanya yang sakit hati karena tindakannya yang gegabah dulu.


"Kan Velyn udah bilang, jangan ngomong kayak gitu lagi. Itu semua udah kelewat bunda, Velyn pernah bilang kan kalau Velyn nggak menyesal, bahkan Velyn juga cinta sama kak Valdo. Mungkin kata-kata Velyn ini bikin bunda nggak nyaman, tapi Velyn udah cukup ngerasain bahagia gimana menjalin hubungan keluarga yang harmonis, yah meskipun waktu yang berlalu berakhir singkat" Velyn tau, kehidupan lamanya tidak akan pernah mungkin bisa kembali, apalagi diantara mereka kini sudah tidak lagi terjalin hubungan yang resmi. Velyn memilih untuk maju bukan untuk melupakan Valdo, tapi dia berjuang untuk jalan kesembuhan juga untuk anaknya yang menjadi bukti akan kisah cinta yang tak dapat terlupakan itu.


Meskipun akhirnya Velyn akan bertahan atau tidak untuk hidup di dunia ini, namun cukup baginya untuk melahirkan bayinya yang begitu ia sayangi. Setidaknya satu persatu keinginan Velyn merasakan kebahagiaan dunia sudah pernah ia lalui, dan ia tidak khawatir lagi soal itu.


"Bunda tau, kamu anak yang hebat. Kita sama-sama hadapi ini ya, kamu juga jangan nyerah. Kamu harus semangat, demi cucu bunda dan juga demi bunda. Kamu mau kan Velyn?" Velyn mengangguk, tentu saja Velyn ingin. Setidaknya ia ingin melihat bayinya tumbuh besar nanti, akankah menjadi mirip dengannya atau dengan Valdo. Mungkin akan bertambah sakit jika Velyn belum bisa melupakan pria itu, tapi perlahan Velyn mungkin akan merasakan hal terbiasa untuk menjauh dan tidak lagi bertemu dengan seseorang bernama Valdo itu.


'Kak Valdo, aku memang bodoh karena menjadi satu-satunya yang belum bisa ngelupain kamu. Sedangkan kamu ketawa dan senang-senang dengan istri juga anak kandung kamu. Tapi aku udah ngerasa puas kak, karena kamu ngasih aku satu anugerah yang nggak akan pernah bisa pergi dari hidupku. Yaitu anak kita' Velyn mungkin menangis dalam hatinya saat ini. Pengecut yang tidak bisa melupakan mantan suaminya sendiri, bahkan meskipun ia sudah berakhir dikhianati dan disakiti.


Tapi ia juga tidak punya kendali dalam perasaannya sendiri. Ia tidak bisa melupakan begitu saja kenangan indah yang terukir dan berakhir begitu saja tanpa adanya perasaan damai dalam hati.


***


"Lepasin saya?! kalian mau ngapain asal main tangkap saja seperti ini. Kalau suami saya tau, pasti dia nggak akan tinggal diam!" teriak Lisa yang kini memberontak pada beberapa polisi yang menyeretnya keluar dari kediaman rumah Valdo. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, kedua lengannya dicengkeram oleh dua orang polisi bertubuh besar membuat usahanya sia-sia saja.


"Tolong tenang dulu ya ibu Lisa, kami akan jelaskan kenapa ibu bisa di tangkap setelah kita sampai di kantor polisi. Tapi yang jelas, suami anda sendiri yang telah melapor"


.


"Apa?! kalian ini ngomong apa sih?! suami saya itu cinta sama saya, nggak mungkin dia laporin saya tanpa ada masalah. Kalian jangan coba-coba ya-"


"Bawa dia secepatnya pak! saya nggak mau dia lama-lama tinggal di tempat saya ini!" teriak Valdo dari bawah anak tangga yang menatap Lisa dengan pandangan bencinya. Sejujurnya Lisa juga tidak mengetahui kesalahan apapun yang ia lakukan. Padahal ia sudah melakukannya secara hati-hati, pastinya Valdo akan percaya dengan semua yang ia katakan selama dibutakan oleh cinta. Tapi kenapa sekarang berbeda?, tatapan tajam dari mata Valdo saat Lisa turun dari anak tangga dengan terpaksa membuat wanita itu merinding ketakutan.


Seperti Valdo sudah mengetahui sesuatu, Lisa hanya mampu menelan salivanya kasar dan menghampiri pria itu yang berdiri di ujung anak tangga dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.


"Val-Valdo, kamu kenapa?-"


"Apa-apa maksud kamu Valdo?! Nino itu anak kamu, dia itu anak kandung kamu!"


"Dasar penipu nggak tahu malu, udah ketahuan tetep aja masih bisa bohong!. Pak polisi, bawa dia sekarang kalau perlu penjara aja seumur hidup karena pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap mantan istri saya" ucap tegas Valdo membuat mata Lisa membulat sempurna. Lisa masih tidak menyangka sampai ia tidak bisa berkata-kata, ia mengikuti langkah polisi yang menyeretnya keluar dari rumah, meninggalkan Valdo sendirian. Terdiam dengan tatapannya yang menakutkan.


Tak terasa langkah Lisa sudah sampai ditempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sedari tadi ia juga sudah lelah memberontak, tapi gerakannya pun sia-sia karena para polisi itu sudah bekerjasama dengan Valdo.


"Kelvin!" mata mereka bertemu, meskipun Kelvin sudah habis dipukuli di bagian wajahnya yang terlihat lebam. Bahkan Lisa sampai tak menyangka jika Valdo juga bisa menemukan jejak Kelvin seperti ini.


"Ka-kamu baik-baik aja kan? kenapa wajah kamu?" Kelvin memalingkan wajahnya, membuat Lisa yang tiba di ruang interogasi itu terdiam dan menatap lekat satu-satunya pria yang ia cintai itu.


"Aku udah bilang kan dari awal, kamu cukup ambil sebagian harta Valdo dan ambil Nino keluar dari rumah itu, tapi kamu nggak percaya!. Sekarang lihat, semuanya udah terungkap Lis, kita habis disini"


"Tapi Vin, aku-"


"Udahlah, kamu emang nggak mau denger omongan aku"


"Wah wah, sudah ya ngobrolnya. Kita mulai interogasi nya dulu, baru nanti kalian lanjut lagi" ujar polisi yang kini menghentikan pembicaraan mereka, membuat Kelvin dan Lisa saling menatap. Mungkin saja ini akhir dari permainan Lisa yang telah menipu Valdo juga Gaisan. Interogasi pun di mulai dengan mengungkapkan perbuatan mereka selama kurang kebih empat tahun ini. Penipuan, pemerasan, juga percobaan pembunuhan yang dilakukan Lisa juga Kelvin pada Velyn beberapa bulan lalu. Itu semua sudah cukup untuk mengantarkan mereka ke tempat yang seharusnya. Jeruji besi kejam yang dijuluki sebagai penjara bagi semua orang.


Meskipun begitu bukan berarti Valdo akan menang, bukan berarti ia lekas mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya. Ia kehilangan segalanya bahkan ketika masih memiliki uang pun Valdo tetap akan hidup sendiri. Hidup Valdo sudah suram sejak awal, ia yang memilih jalan itu. Valdo menutup mata, menutup hati juga pikirannya, tidak mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya juga ia mempermainkan perasaan seorang wanita yang amat mencintainya.


Inilah buah karma yang Valdo petik setelah beberapa kali dibangunkan dalam mimpi namun ia tetap saja tertidur lebih lelap.


Perlahan Valdo mengingat masa lalunya, masa ketika sewaktu kecil ia bermain bersama gadis cantik nan lucu, gadis yang seperti putri yang ia nggap sebagai adiknya sendiri. Valdo yang duduk di tepi ranjang menatap foto album yang ia keluarkan dari dalam lemari. Kehidupannya dulu begitu dimanjakan oleh ayahnya karena ia adalah putra satu-satunya. Namun seketika ia berubah menjadi sosok Valdo yang dingin, hanya karena rupa Velyn tak secantik dirinya sewaktu kecil.


Velyn tumbuh dengan tubuh gendut dan berkacamata, membuat Valdo semakin jijik ketika melihat perempuan itu. Perempuan yang selalu menempel pada papanya seolah minta untuk didekatkan padanya padahal ia tidak sudi untuk mendekat walaupun sebentar saja.


Meskipun Valdo tidak mendapatkan restu dari ayahnya untuk menikah dengan Lisa, namun Valdo tetap bersikeras dengan pendiriannya. Sampai akhirnya, dimana ia menghina Velyn habis-habisan ditengah makan malam keluarga Chandra dan Gaisan, agar ia bisa memutuskan perjodohan dengan Velyn segera dan memilih jalan untuk hidup bersama Lisa.

__ADS_1


"*Cukup papa! aku nggak mau ada acara kaya gini lagi. Aku udah bilang kan kalau aku mau nikah sama Lisa, bukan sama cewek gendut dan jelek kaya dia!"


"Maksud kamu apa Valdo? omongan kamu jangan kurang ajar kaya gitu. Cepet minta maaf sama Velyn! atau papa-"


"Nggak mau pa! aku udah muak ya ketemu dia seminggu dua kali. Dia itu jelek pa! apa papa nggak kasihan sama cucu papa yang ada di kandungan Lisa-"


"Ap-apa?"


"Iya pa, aku dan Lisa udah berhubungan, kami memutuskan buat nikah pa" seketika kedua keluarga pun syok mendengar pernyataan dari Valdo, seolah ada kilat menyambar di siang bolong. Begitupun dengan kedua orang tua Velyn yang semakin geram dengan tingkah laku pria kurang ajar dihadapan mereka.


"Maaf Isan, anak kami memang nggak sempurna, tapi nggak sepatutnya anak kamu dengan tega ngehina Velyn seperti itu. Tolong ya, ajari anak mu itu sopan santun sedikit" ujar Rahadian membuat Gaisan hanya mampu terdiam dan menatap Malia juga suaminya itu bangkit. Sedangkan Valdo hanya tersenyum sinis seraya menatap Velyn dengan tatapan jijik.


"Sepertinya kita sudah mendengar hal yang nggak pantas dari aib anak kamu sendiri. Lebih baik kami pulang, dan kamu selesaikan saja masalah dengan anakmu yang membanggakan ini"


"Rahadian, Malia aku minta maaf-"


"Papa ngapain sih minta maaf ke mereka-"


"DIAM KAMU VALDO! DASAR ANAK KURANG AJAR! KETERLALUAN KAMU!" teriak Gaisan membuat Valdo bangkit dan membanting kursi dibelakangnya seraya berjalan pergi meninggalkan keluarga Velyn yang amat marah dengan sifat pria satu itu.


"Kalau begitu, kita sudahi saja perjodohan Velyn dan Valdo sampai disini. Kami pamit dulu" ujar Malia seraya menarik lengan Velyn yang masih terdiam itu, membuat Velyn menurut dengan kedua orangtuanya*.


Begitulah Valdo di masa lalu, dirinya sama sekali tidak bisa menghargai orang lain. Bahkan keluarga Velyn yang membantu ayahnya untuk menjadi orang besar. Tapi Valdo malah tidak tau berterima kasih. Ia menghina Velyn habis-habisan, seolah jasa dari keluarganya tidak berperan dalam kesuksesan ayahnya sendiri.


"*Memangnya kamu bakal percaya dengan apa yang saya ketahui dan saya akan sampaikan"


"Pa, aku bakal percaya papa kok. Aku cuma pengen denger apa yang papa tau aja"


"Lisa itu bukan wanita baik-baik, Nino pun juga bukan anak kandung kamu. Dan saya juga nggak pernah kok menculik dia, dia sendiri yang lari sama pacarnya dan mohon-mohon ke saya buat kembali sama kamu. Tapi dia malah nggak tau malu ngancem saya-"


"Pa?-"


"Udah saya duga, kamu nggak akan percaya. Dulu pun saya juga pernah nyoba buat ngasih tau kamu kebenarannya. Tapi kamu selalu nuduh saya asal ngomong dan saya yang nggak suka sama istri kamu itu*"


Percakapan terakhir Gaisan dengan Valdo adalah bukti dari setiap apa yang dilakukan Lisa padanya. Setiap saat setiap waktu, Gaisan selalu mencoba untuk memperingatkannya, tapi Valdo dengan kebodohannya menolak semua kebenaran itu. Ia memilih untuk berpaling dari kenyataan dan mencari kepuasannya sendiri.


Bukan hanya ingatan kelam itu, ingatan kebahagiaan yang hadir dalam hidupnya semenjak Velyn menjadi istrinya terlintas begitu saja dalam benaknya. Velyn yang selalu menyiapkan segala keperluannya, memasak yang enak untuknya dan mencoba untuk menjadi istri terbaik bagi seorang Valdo,.


Velyn yang selalu sabar disaat Valdo tengah marah karena egonya, dan Velyn yang ia siksa, ia hina bahkan ia caci maki tak lebih dari hewan yang bisa ia perlakukan semaunya.


"Maafin aku Lyn, maaf. Aku salah Lyn, aku bener-bener salah. Aku bodoh!" isak Valdo seraya terduduk di lantai kamarnya. Kenangan indah itu takkan pernah Valdo lupakan. Makan malam romantis, jalan-jalan seperti masih berpacaran saja.


"*Aku cinta sama kamu Lyn, aku sayang kamu. Aku bakal jaga kamu selamanya"


"Aku juga cinta sama kamu mas*"


Rasanya masih beberapa hari lalu Velyn mengatakan hal itu. Hal yang membuat hatinya berdebar karena telah mendapatkan hati Velyn seutuhnya. Velyn yang yakin akan hatinya juga memantapkan setiap keputusannya kini semua sirna dengan kebodohan yang dilakukan oleh Valdo.


Ia hanya ingin mendapatkan warisan dari papanya untuk anak yang bukan anak kandungnya. Rasanya, Valdo ingin mati saja. Ia tidak sanggup lagi untuk menghadapi semua ini sendiri.


***


Derap langkah kaki Rega kini memasuki ruangan bernuansa biru, kamar yang ditinggali oleh adiknya ini dari dulu tidak berubah. Sebelumnya foto yang terpampang dirinya dengan Valdo terlihat jelas di meja belajar maupun di dinding kamar, namun kini foto itu tak lagi terlihat.


Rega menghela nafas, setelah selesai membersihkan kamar bundanya kini ia naik keatas dan menemukan kamar Velyn untuk di sapu olehnya. Meskipun kamar itu cukup bersih karena Velyn suka tempat yang rapi, namu. Rega akan sedikit menyapu kamar itu sebelum nanti ada pembantu yang akan membersihkan setiap sudut dari rumahnya.


Valdo mulai menyapu kamar Velyn dari sudut ruangan, ia juga mengelap beberapa furnitur yang sedikit berdebu agar tampak bersih dan mengkilap lalu kemudian lanjut menyapu lagi. Namun gerakannya seketika terhenti saat sebuah benda menahan sapunya yang berada di bawah kolong tempat tidur Velyn.


Rega menyandarkan sapunya di sudut, ia meraih benda tersebut ayng ternyata adalah sebuah kotak berwarna pink. Rega menaikkan sebelah alisnya dan membukanya dengan penuh rasa penasaran. Awalnya ia mengira kotak itu berisi kenangannya bersama dengan Valdo, namun nyatanya salah. Kenangan itu malah menjurus pada pria yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


Setiap foto kemesraan Velyn dan pria itu terukir indah dalam balutan foto polaroid yang berada dalam kotak itu, dan sebuah buku besar berwarna putih mencurigakan yang membuat hatinya semakin ingin membuka buku itu saking penasarannya.


__ADS_2