Velyn Love

Velyn Love
Ingin terpisah


__ADS_3

Jemari Rega menggenggam erat Mega yang kini memeluk tubuhnya sendiri dalam dinginnya malam. Rega melirik wanita yang berjalan bersamanya itu, ia kemudian menghentikan langkahnya.


"Rega?"


"Nih pakek jas aku ya, kalau kamu kedinginan harusnya nggak ngajak jalan dong. Gimana kalau sakit?" gerutu Rega membuat senyum terulas dipipi wanita cantik itu. Rega memang pria yang hangat dan pengertian sejak dulu. Ia selalu peka terhadap apa yang dirasakan oleh Mega, ya kecuali persoalan menikah. Hal-hal sederhana namun manis membuat wanita manapun pasti akan merasa beruntung jika pria setampan ini memperlakukannya bak ratu.


"Makasih ya, kalau aku sakit, obat yang paling manjur ya kamu" Rega yang semula terdiam kini mulai tersenyum, ia kemudian menggenggam jemari Mega lagi dan menggosok kedua tangannya untuk menghangatkan jemari wanita itu yang terasa dingin.


"Hem, gombal!"


"Kok gombal sih, aku beneran tau!" ucap kesal Mega saat pria itu melanjutkan langkahnya disusul Mega yang amat kesal pada pria satu itu.


"Ya udah, marketing S3"


"Sayang! iih nyebelin deh" kesal Mega saat pria itu terkekeh mengatai dirinya sebagai marketing S3. Rega bisa melihat bagaimana wajah wanita yang memerah itu terasa kesal dan malu akan perkataannya tadi. Pria itu kemudian menarik tubuh Mega untuk masuk ke gang kecil saat dirasa sepi tanpa satupun orang yang lewat di sana.


"A-apa? kenapa kamu narik aku kesini? nanti kalau ada orang gima-" cup satu kecupan mendarat di bibir wanita yang kini mulai menutup matanya saat Rega mulai beraksi dengan lidah dan bibirnya. Rega mengecup, menjilat dan menyentuh wajah Mega.


Setelah ciuman mereka, kini akhirnya Mega kembali hendak masuk kedalam rumahnya. Namun sebelum itu Mega mengembalikan jas itu pada pria yang kini menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Nih jas kamu, makasih ya" ujar Mega saat ia hendak pamit untuk masuk. Namun siapa sangka, Rega malah mendekat dan mencium dahi wanita itu membuatnya semakin mabuk kepayang.


"Mimpi indah sayang"


"Kamu juga ya sayang" Rega mengangguk, ia membiarkan Mega melangkah. Menjauh darinya dan perlahan masuk kedalam, ia tersenyum sebelum punggungnya benar-benar hilang dari pandangan Rega yang menatapnya sejak tadi.


Mega menghela nafasnya dan tersenyum penuh kebahagiaan. Rasanya mereka seperti baru pertamakali pacaran, Rega yang dulu terlalu mementingkan pekerjaan kini berubah menjadi pria yang selalu memprioritaskan dirinya. Namun senyuman yang terulas di bibir Mega tiba-tiba meredup saat ia menatap pria yang tiba-tiba berdiri dihadapannya dengan pandangan mengintimidasi.


"Dari mana?"


"Cari angin" ujar Mega ketus seraya hendak berjalan melewati tubuh Devan. Namun dengan sengaja Devan menarik lengan wanita itu membuat Mega meringis dan memberontak.


"Kamu ngapain sih pegang-pegang aku?!"


"Mana cincin pertunangan kita?! ini bukan cicin kita itu kan? pasti ini cincin orang lain, siapa? jawab aku Calista?!" ujar Devan dengan nada tinggi seraya mengangkat jemari Mega yang tampak cincin emas bermata berlian ditengahnya. Devan sudah curiga sejak awal, saat ia tak sengaja melirik jemari Mega. Ia sebenarnya tau jika Mega sudah membuang cincin pertunangan mereka karena polisi sudah menemukannya dipinggir pantai. Tapi ia tak menyangka jika Mega memakai cincin yang diberikan oleh orang lain saat status mereka masih bertunangan.


Mega menghempaskan jemarinya, ia mundur beberapa langkah dari tubuh Devan yang menatapnya tajam dengan aura membunuh. Sejujurnya Mega belum siap untuk bertemu empat mata dengan lelaki dihadapannya, tapi Mega sudah lelah dengan sikap egois pria dihadapannya itu.


"Ya udah, kita putus aja Van!"


"Apa?! Aku nggak-"


"Aku bakal bilang sama Tante Ria kalau kamu nggak bisa ngomong. Aku udah coba buat nerima kamu yang selalu dingin sama aku selama ini, tapi ternyata kamu cuma manfaatin aku buat bebas kan?" Devan menghela nafasnya, ia menarik nafasnya dalam-dalam saat mata Mega memerah dan berkaca-kaca. Mungkinkah sebenarnya Mega menginginkannya? namun karena sikap Devan Mega berusaha untuk balas dendam?. Jika memang begitu, maka Devan tidak ingin kehilangan kesempatan.


"Maaf Calista"


"Nggak apa-apa kok Van, aku ngerti. Memang sulit buat nerima orang baru saat kita udah kenal sama seseorang yang lebih lama. Aku paham perasaan kamu, karena aku juga begitu. Aku masih sayang sama mantan aku yang dulu" Mega meremas ujung bajunya, ia menunduk tanpa mau menatap pria yang sudah mengecewakannya. Yah, meskipun Mega sendiri belum bisa mencintai Devan, tapi ia sudah membuka perasaannya. Mungkin itu alasannya kecewa pada pria satu itu.


"Apa?! kamu?-"


"Kita itu sama Devan, kita punya orang yang kita sayangi masing-masing. Dan kamu nggak perlu lanjutin rencana buat nikah sama aku dan ceraikan aku setahun kemudian. Nikah itu bukan main-main Van, jadi aku mohon sama kamu, kita kerjasama buat ngomong sama orang tua kita. Tolong bilang ke mama kalau sebenarnya kita nggak bisa nikah" mata Devan membulat mendengar perkataan Mega. Wajahnya pucat pasi dengan tubuhnya yang berkeringat dingin.


Kenapa? padahal sebelumnya ia ingin menghindari pernikahan ini. Tapi Devan sepertinya berat untuk melepaskan wanita dihadapannya itu. Entah mengapa melihat Mega bermesraan dengan pria lain, timbul rasa cemburu di hati kecilnya yang paling dalam. Namun Devan hanya mampu mengangguk, meski sulit tapi ia tidak bisa berkata apapun. Itu sama saja Devan menjilat ludahnya sendiri.


"Makasih ya Devan, kalau gitu kita masuk yuk!" ajak Mega yang tersenyum lega dengan perasaannya selama ini. Ia tidak pernah tahu bagaimana harus berbicara pada lelaki dihadapannya. Setiap kali membayangkan untuk berbicara dengan Devan, Nega rasanya ingin mengeluarkan semua emosi didalam pikirannya. Namun ternyata tidak sesulit itu untuk bekerjasama dengan pria satu itu. Rasanya Mega tidak akan mengalami masalah setelah ini.


"Kalian sudah kembali? hemm mama pikir nggak makan. Tuh masakan mama udah dingin, gimana dong?" tanya mama yang duduk santai di kursi makan dengan menatap kedua sejoli itu yang masih berdiri dengan perasaan mereka yang menegang. Termasuk Mega yang kali ini menahan tubuhnya agar tidak gemetar.

__ADS_1


"Ma"


"Kenapa Calista? kalian duduk dong, ayo lanjutin makan. Mama mau nonton TV dulu"


"Ma tunggu" ujar Mega membuat mama hendak bangkit kini pun urung. Mama menaikkan sebelah alisnya dan kembali duduk untuk mendengarkan apa yang hendak Mega sampaikan.


"Kenapa?"


"Se-sebenarnya kita mau ngomong sesuatu yang penting. So-soal pernikahan" ujar Mega seraya melirik Devan yang menunduk serta menelan salivanya dengan kasar. Sejujurnya Mega sendiri tidak siap untuk mengatakannya, tapi ia sudah bertekad. Kalau tidak hari ini, lalu kapan lagi?. Ia tidak mau Rega menunggu lama lagi.


"Oh iya? gimana?"


"Van?" Mega melirik Devan dan mengisyaratkan untuk


berbicara didepan mama. Devan menghela nafas dan mengangkat pandangannya yang sedari tadi menunduk.


"Tante, sebenarnya ini mendadak. Tapi, Devan dan Calista sudah memikirkannya matang-matang. Kami tadi juga sudah bicara, jadi tolong dengerin kata-kata Devan dulu ya sebelum tante berasumsi" ujar Devan membuat suasana tambah menegang. Apalagi Mega yang kini memejamkan matanya erat-erat seraya menunduk.


"Ada apa sih?" tanya mama ditengah-tengah Devan hendak melanjutkan kata-katanya.


"Se-sebenarnya kami, kami"


"Iya? apa?" tanya mama lagi dengan pandangan curiga serta menatap keduanya dengan tajam. Devan menarik nafasnya dalam-dalam, ia menghela nafasnya lagi saat perasaannya sudah mulai membaik.


"Kami ingin mempercepat tanggal pernikahan tante" mata Mega membulat mendengarnya. Ia menatap Devan dengan pandangan bertanya juga rasa penuh kebencian. Padahal sebelumnya mereka sepakat untuk berbicara kepada orang tua mereka agar pernikahan ini dibatalkan. Tapi Devan malah bersikap seperti ini, Devan tidak menggubris tatapan Mega, ia malah tersenyum pada mama hingga membuat perasaan Mega muak.


Mega mengepalkan jemarinya erat-erat, matanya menajam. Ia sampai tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Devan barusan. Tapi Mega juga tidak bisa berkata-kata saat mama menunjukkan ekspresi bahagia dengan sorot penuh harap.


***


Dengan sangat hati-hati, Andra memindahkan tubuh Velyn yang berada dalam gendongannya di atas ranjang. Tubuh kurus Velyn memang begitu ringan bahkan Andra seperti nyaris tidak sedang membawa beban berat ditangannya.


Andra menggenggam jemari Velyn dan menghangatkannya meskipun wanita itu sudah berada didalam kamar berselimut tebal. Ia kemudian mencium punggung jemari wanita itu dengan lembut. Bagi Andra, meskipun kini Velyn bertahan tanpa kesempurnaan seperti dulu, lelaki itu masih sangat mencintainya dan berharap agar Velyn kembali seperti dulu.


"Ndra?"


"Lyn? kamu udah bangun? kamu mau apa? mau makan? atau mau ke kamar mandi?" Velyn menggeleng dengan tatapannya yang sayu. Meskipun keadaan berbeda dengan dua tahun lalu, tapi Andra masih bisa menyimpan dengan jelas memori saat mereka masih berpacaran dulu.


"Kamu bakal terus ada disamping aku kan Ndra?" mata Andra menangkap kekhawatiran yang ada di mata Velyn. Mata kesepian juga penuh harapan yang bergelora meskipun tidak diungkapkan oleh lisannya.


"Nggak perlu kamu tanyakan, aku pun akan selalu ada buat kamu Lyn. Disini, dimana pun kamu butuh" Velyn menghela nafasnya, ia menggeser tubuhnya membuat Andra menaikkan sebelah alisnya saat Velyn mengangguk dan memberikan kode untuk berbaring disebelahnya.


Bagi Velyn saat ini, yang terpenting adalah kebahagiaan Andra. Andra yang selalu mencintainya dalam keadaan apapun. Meskipun Velyn juga tidak tau perasaannya sendiri seperti apa, tapi yang jelas ia tidak mau mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya. Setelah Andra berbaring tepat disebelah wanita itu, kini Velyn memeluk tubuh Andra dengan tubuh kecilnya, Andra pun menyambut pelukan itu dengan merengkuh pundak Velyn dan menyadarkan pada dada bidangnya.


"Gimana? udah hangat?" tanya Andra membuat Velyn mengangguk. Velyn sendiri sadar betul, jika dirinya tidaklah pantas untuk Andra. Dihatinya sudah ingin menghilang saja jika Andra harus selalu berharap akan kesembuhannya yang kemungkinan sembuh itupun hampir nihil. Meskipun rambut palsu yang dikenakan olehnya bisa menutupi kepalanya yang botak, namun Velyn seperti ingin berteriak dan pergi jauh dari Andra.


"Ndra? kamu nggak ada rencana buat nikah lagi?" tanya Velyn tiba-tiba membuat Andra merenggangkan pelukannya dan menatap Velyn yang masih tak bergerak menunduk untuk menghindari tatapan Andra. Velyn tau mungkin saja pertanyaan Velyn membuat Andra marah atau apa, tapi setidaknya Velyn ingin bertanya satu hal tentang kebahagiaan Andra andai saja ia memiliki rencana lain.


"Ada dong" jawab santai Andra membuat wajah Velyn mendongak, menatap kedua netra coklat pria yang kini tengah merengkuhnya dalam selimut tebal. Pria yang tersenyum itu, kemudian memberikan perasaan akrab yang sulit untuk dilupakan Velyn sampai saat ini. Hati Velyn sedikit ngilu, mendengar Andra mengatakan hal sederhana itu. Tentu saja hal yang Velyn harapkan setelah apa yang ia lalui selesai tanpa beban yang menggantung dipundaknya.


"Sama kamu" deg! Velyn membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng dan membenamkan wajahnya di dada bidang Andra. Wanita itu menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan menghindari tatapan Andra yang kini terkekeh.


"Iihh Andra apaan sih!" kesal Velyn seraya mencubit perut Andra dengan gemas, membuat Andra mengaduh kesakitan beberapa kali.


"Aduh duh! sakit Velyn"


"Dasar! om-om"

__ADS_1


"What?"


"Iya om-om. Mau apa?" Andra hanya menggeleng, ia tau persis bagaimana Velyn menyembunyikan wajahnya yang merona. Meski begitu Velyn juga tidak menyerah untuk mengalihkan pembicaraan agar Andra berhenti untuk menggodanya.


"Tapi kamu pernah suka kan sama om-om ini" Andra mengeratkan pelukannya pada tubuh Velyn, membuat wanita itu membulatkan matanya dan akhirnya tersenyum. Entah sejaka kapan, tapi Velyn sudah merasa nyaman berada di samping Andra meskipun tidak ada hubungan diantara mereka. Rasanya Velyn ingin menghentikan waktu jika ia bisa, agar ia bisa terus merasakan kenyamanan ini. Ia tidak ingin waktu menghabiskan umurnya, Velyn terus berharap agar semuanya kembali agar ia bisa membuat semua orang bahagia.


"Kalau dipikir-pikir, kita itu sama ya Ndra. Hampir jadi duda dan janda beranak satu" ucap Velyn dengan geli membuat Andra menaikkan sebelah alisnya, Andra kemudian mengelus puncak rambut palsu yang dikenakan oleh Velyn lalu menciumnya dengan satu kecupan.


"Kalaupun terjadi, aku bakal bahagian anak kita kok. Aku bakal tanggungjawab sama anak kamu selayaknya anak aku sendiri. Meskipun mereka bukan darah daging kita, tapi kita bisa merawat mereka sama-sama dengan penuh kasih sayang. Setidaknya, mencegah mereka dalam situasi seperti ini, agar mereka tidak merasakan nasib yang sama seperti kita" ucapan Andra membuat mata Velyn berkaca. Kalimat yang diucapkan oleh pria itu bukan sekedar omong kosong belaka, ada ketulusan dari tutur kata lembutnya. Apalagi selama ini Andra selalu baik padanya. Bisa dipastikan jika Andra adalah seorang ayah yang ideal dan juga suami yang bertanggungjawab. Kalau saja waktu bisa kembali, dan ia memilih jalan untuk berlari bersama Andra apapun yang terjadi, akan kah kehidupan Velyn akan berubah? akankah kebahagiaan selalu ada bersamanya sepanjang waktu?.


"Andra, maafin aku ya. Aku yang buat kamu bernasib kaya gini. Seandainya-"


"Hey! kamu jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri gitu dong. Dulu sebelum kita pacaran, rasanya bisa deket sama kamu itu udah kaya mimpi buat aku. Apalagi buat pacaran sama kamu, aku lebih nggak nyangka lagi"


"Kenapa?" Velyn yang sebelumnya hendak terisak kini mulai menyimak apa yang Andra katakan. Memangnya sulitkah untuk mendekati dirinya?.


"Asal kamu tahu, aku itu pengecut. Sama halnya seperti waktu kita putus karena kamu dijodohin, seharusnya aku bangkit dan coba buat melupakan kamu. Tapi bodohnya, aku malah cari pelarian. Semua yang terjadi bukan salah kamu Velyn, itu semua karena takdir" Velyn menghela nafasnya, seraya masih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andra. Ia seperti merasakan kenyamanan lagi setelah selama ini ia berjuang sendirian.


"Lyn-"


"Makasih ya Ndra" gumam Velyn seraya memejamkan matanya erat-erat. Meski suara itu terdengar amat lirih, namun telinga Andra bisa mendengarnya dengan jelas. Suara Velyn yang penuh rasa syukur juga pasrah. Andra hanya tersenyum seraya mempererat pelukannya ia kemudian menyusul Velyn yang telah terlelap.


***


"Ta-"


"Nggak usah basa-basi. Aku nggak tau ya niat kamu sebenarnya apa, tapi aku nggak bakalan nyerah buat batalin pernikahan ini" ucap Mega dengan berapi-api seraya menatap kedua bola mata besar itu dengan pandangan penuh amarah. Saat ini Mega dan Devan telah berada di teras rumah Mega, wanita itu memang sengaja membuat alasan untuk mengantarkan Devan kedepan rumah agar bisa bicara mengenai apa yang dilakukannya tadi.


"Kamu pikir aku takut?" senyuman licik penuh kemenangan diperlihatkan oleh Devan pada wanita yang kini membulatkan matanya itu. Bahkan Nega tidak pernah melihat senyuman menakutkan itu pada diri Devan sebelumnya. Devan adalah pria yang perhatian dan hangat, namun ia tidak pernah sedikitpun menunjukkan ekspresi serius pada Mega. Alih-alih menunjukkan rasa cinta, senyuman yang ditorehkan oleh pria itu seperti senyuman yang ditujukan oleh seseorang yang asing.


"Devan! sebenarnya apa sih niat kamu? bukannya kamu mau lepas dari aku?"


"Sebelumnya memang begitu, tapi waktu aku lihat dengan mata kepala aku sendiri bahwa tunangan aku ketemuan sama laki-laki lain, aku ngerasa nggak terima" ucap Devan dengan rahangnya yang mengeras, langkah kaki pria satu itu membuat Mega mundur beberapa langkah untuk nenjaga jarak darinya. Namun sayang, tubuhnya sudah terhimpit oleh tembok dibelakangnya.


"Ka-kamu gimana bisa-?"


"Aku mau pernikahan ini tetap dilaksanakan" mata Mega semakin membulat, ia kemudian mendorong tubuh Devan yang semakin mendekati tubuhnya bahkan hampir tidak tersisa jarak diantara keduanya.


"Gila!" ucap kesal Mega dengan penuh amarah serta kebencian dan ketakutan yang menjadi satu.


"Kenapa Ta? kamu itu cuma mau balas dendam ke aku kan karena aku diam-diam punya pacar bahkan setelah kita tunangan? sekarang aku udah mulai membuka hati Calista!. Kalaupun ditengah pernikahan, perasaan kita nggak ada yang tumbuh, kita bisa cerai satu tahun kemudian. Seperti kesepakatan kita sebelumnya, yang penting kita coba dulu!"


"Aku nggak mau! nggak akan mau dan nggak akan pernah mau nikah sama orang macam kamu Devan. Nikah itu bukan mainan, kalau kita nggak saling cinta dari awal, seharusnya kita hentikan mulai dari sekarang!"


"Ngga bisa Lista" pandangan menyeringai dari pria satu itu membuat Nega bergidik. Entah sejak kapan Mega merasa bulu kuduknya meremang saat pandangan Devan yang penuh kelicikan tercetak jelas di wajahnya. Mega tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu, yang jelas itu semua sudah salah dan harus segera dihentikan.


"Kalau kamu nggak mau, aku yang bakal bilang ke mama-" lengan Mega ditarik oleh pria satu itu. Ia yang hendak berlari kedalam rumah kini mendapat tatapan ancaman dari Devan yang kini kembali mendekat kearah tubuhnya.


"Kamu mau lapor ke Tante Indri? memangnya kamu punya bukti? denger ya Ta. Aku peringatkan jangan ngelakuin hal yang sia-sia. Tante Indri nggak akan pernah percaya sama modal omongan kalau aku bungkam. Kamu pun nggak punya bukti perselingkuhan aku kan? yang ada, aku bakal kasih ini" mata Mega membulat melihat layar ponsel Devan yang menunjukkan foto dirinya dengan Rega tengah berciuman di gang sempit tadi. Mega segera meraih ponsel Devan, namun jemarinya tak sampai pada ponsel tersebut.


"Kamu?! dasar penguntit! nggak tau malu kamu Devan!" tubuh Mega bergetar saat ia sadar bahwa ia tidak bisa melakukan apapun. Rasanya tubuhnya nati rasa, matanya berkaca saat menatap senyuman kemenangan dari Devan yang selama ini telah mempermainkannya. Devan pun tak perduli, ia ingin memiliki Mega bagaimanapun caranya, setidaknya satu tahun sebelum mereka bercerai nantinya.


"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas kamu paling tau apa akibatnya jika kamu bertindak"


"Pergi kamu Devan! pergi jauh dari rumah aku" Blamm! suara pintu yang Mega banting membuat Devan terkejut sekaligus menyeringai penuh kemenangan. Sampai kapanpun Devan tidak akan Rela jika Mega dimiliki oleh orang lain selain dirinya dulu. Tubuh sintal padat berisi dengan perutnya yang seksi membuat Devan tidak akan menyia-nyiakan wanita satu itu. Bodoh jika Devan tidak menerimanya tawaran menyenangkan itu, meski ia tidak benar-benar mencintai Mega.


"Calista? kenapa nak? kok kamu banting pintu gitu? nak Devan udah pulang?" tanya mama tiba-tiba saat Mega diam mematung tak bergerak sedikitpun. Ia menatap mama dengan wajah yang amat pucat pasi serta tubuhnya yang masih tak bisa berhenti untuk memikirkan hal tadi.

__ADS_1


"Ma, Calista mau istirahat dulu. Lista capek" ujar Mega dengan wajahnya yang amat lesubdan matanya yang berkaca-kaca. Mama mengangguk dan mempersilahkan Nega untuk berjalan kearah kamarnya.


Pikiran Mega sudah buntu saat ia kini sudah berada di dalam kamarnya dan duduk ditepi ranjang. Matanya memanas dengan tenggorokannya yang tercekat, lidahnya kelu. Mega meringkuk di atas ranjang ia memeluk tubuhnya sendiri dalam isakannya yang semakin dalam.


__ADS_2