
Hari ini jadwal kuliah Velyn ada di jam sore hari. Setidaknya ia bisa mengerjakan tugas dengan tenang semenjak seminggu dirinya mengambil cuti.
Setelah selesai memasak, gadis itu kemudian membawa tumpukan buku dan melangkah keluar kamarnya.
Velyn benar-benar suntuk jika menulis dan mengerjakan tugasnya di kamar. Rasanya ia ingin keluar serays mencari udara segar. Velyn menutup pintu kamarnya, ia hendak melangkah kearah kolam renang. Namun pergerakannya terhenti saat setelah seseorang datang dari arah luar dan mengetuk pintu depan.
"Permisi"
Dengan hati-hati Velyn meletakkan bukunya diatas meja ruang tamu. Ia menatap pria yang sudah ia duga sebagai kurir karena pakaiannya yang terlihat berseragam dari kantor pos. Velyn mengamati barang yang di bawa kurir tersebut. Seperti sebuah foto besar hingga membuat pria itu kesusahan ketika membawanya.
"Iya mas, ada apa ya?"
"Ini mbak mau ngantar paket, dari Ivan Studio" Velyn mengangguk, ia buru-buru meraih bungkusan itu yang sudah ia duga adalah sebuah foto prewedding antara dirinya dengan Valdo, jauh hari sebelum mereka menikah.
"Sini mas, saya taruh sini dulu" kata Velyn seraya membantu tukang pos itu lalu kemudian berbincang-bincang sebentar.
"Fotonya mau sekalian dipajang mbak? biar saya bantu" Velyn mengernyitkan keningnya. Untuk apa memajang foto ini. Foto yang tidak ada artinya lagi dalam hidupnya. Lagipula entah apa yang akan dipikirkan Valdo nantinya jika mengetahui foto ini telah tiba.
"Enggak perlu mas!"
"Apa ini?!" tanya Valdo dengan ekspresi penasarannya seraya meraih foto itu yang disandarkan di dinding. Valdo yang datang tiba-tiba seraya telah siap memakai pakaian kerjanya membuat Velyn terkejut dibuatnya.
Gugup ia rasakan dan sedikit takut mengingat hubungan mereka yang sedang tidak baik-baik saja.
"Itu paket dari-"
__ADS_1
"Ini ongkos kirimnya, kamu boleh pulang sekarang" ujar Valdo seraya memberikan beberapa uang lembar berwarna merah membuat sang kurir terkejut.
"Nggak perlu pak, ongkos kirimnya gratis kok"
"Ambil! saya nggak suka mungut sesuatu yang sudah saya buang" kata Valdo seolah menyiratkan sebuah pesan didalamnya membuat Velyn menelan ludah seraya mengalihkan pandangannya.
Kurir itupun menyambut uang tersebut dengan hati-hati meskipun sedikit senang. Namun aura pemilik rumah ini membuat keberaniannya menciut hingga berpamitan saja dan segera pergi.
Velyn masih terdiam, entah apa yang membuatnya penasaran hingga dirinya bertahan didekat Valdo. Biasanya ketika Valdo datang, Velyn buru-buru pergi dan menyembunyikan dirinya seraya tidak perduli.
Namun kali ini berbeda, Valdo merobek kertas tipis berwarna coklat muda itu dengan kasar. Memperhatikan setiap detail dari foto prewedding mereka berdua. Valdo meringis, ia bahkan tak menggubris keberadaan Velyn yang berada dibelakangnya.
"Santi!" teriak Valdo dengan amat kencang membuat tubuh Velyn sedikit terjingkat dan mendapati Santi yang kini berlari tergopoh-gopoh seraya masih betah mengenakan apronnya.
"Bawa foto ini ke gudang, kalo perlu, nanti pas buang sampah kamu bawa sekalian" Santi dengan polosnya memperhatikan foto yang diberikan padanya itu. Sebuah foto pernikahan antara majikannya dan nyonyanya yang tengah berada di pantai. Santi melirik Velyn yang kini terlihat menatapnya datar, tidak ada rasa sedih sedikitpun maupun tanggapan darinya.
"Kamu ngapain diem! nggak denger saya tadi ngomong apa?" Valdo melemparkan foto besar itu membuatnya terjatuh dan sekaligus membuatnya pecah di atas lantai. Santi sedikit terkejut dan berteriak seraya menutup kedua telinganya.
Berbeda dengan Velyn yang kini terlihat terkejut dan menatap foto yang sudah berserakan itu dengan pandangannya yang nanar.
"Beresin! oh ya, ambil foto yang ada di gudang dan pajang foto yang itu" sambung Valdo membuat mata Santi membulat sempurna. Bagaimana mungkin tuannya ini begitu tidak berperasaan sama sekali.
Foto yang sudah berbulan-bulan ia lepas kini harus dipajang kembali. Dan foto itu adalah foto pernikahan pertama tuan Valdo bersama dengan istrinya dulu. Bagaimana bisa nyonyanya menerima hal kejam seperti ini?. Santi menatap Velyn yang kini hanya menunduk dan pasrah, seolah penderitaan yang ia terima dan tiada habisnya ini adalah sebuah hal yang biasa untuknya.
"Santi?!"
__ADS_1
"I-iya tuan" kata Marni seraya mengangguk patuh akan perintah Valdo.
Pria itu kemudian melangkah keluar tanpa memperdulikan Velyn yang kini masih menunduk dengan pasrah. Sejujurnya hati Velyn ikut remuk bersamaan dengan kaca foto itu yang pecah. Namun ia harus apa, lagipula untuk apa juga menyimpan kenangan yang tak dapat kembali lagi.
Santi memunguti kaca yang pecah tersebut secara hati-hati. Namun Velyn buru-buru menunduk, ia ikut berjongkok seraya merapihkan foto dan pecahan kaca itu kembali.
"Nyonya, nggak perlu repot-repot. Biar saya aja"
"Mbak Santi, tuan marah karena saya, lebih baik saya aja yang beresin ini. Mbak Santi ambil foto yang dimaksud suami saya, dan pajang disini" meskipun Velyn tidak tau menahu tentang foto yang dimaksud Valdo. Tapi setidaknya, ia tidak ingin Santi terlibat dengan masalahnya.
"Jangan nyonya, ini udah jadi tugas saya" Velyn menggeleng, ia kemudian tersenyum pada Santi yang kini tampak tak enak hati menatap Velyn dengan dahinya yang berkerut.
"Mbak, saya kasih perintah loh. Udah nggak apa-apa, biar saya aja yang buang" Santi menghela nafasnya, ia kemudian mengangguk lemah seraya membiarkan Velyn berkutat dengan pecahan kaca yang berada dibawahnya.
Sebelum Santi pergi, ia menatap Velyn dengan pandangan iba. Sampai kapan nyonyanya yang baik itu akan tersiksa seperti ini?. Pembantu mana yang akan tega membiarkan majikannya yang baik tersiksa dan menahan semua penderitaan dalam batinnya sendiri seperti nyonya Velyn.
Tapi Santi benar-benar kagum pada sosok Velyn. Gadis yang baik dan kuat, tidak pernah ia menemui sosoknya yang begitu gigih dalam menjalani hari. Santi menggeleng, ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk nyonya Velyn. Semoga gadis baik sepertinya segera keluar dari badai rumah tangga inidan menemukan kebahagiaannya sendiri. Setidaknya itu yang bisa Santi doakan dalam batinnya meskipun tidak secara langsung.
Setelah Santi benar-benar pergi, Velyn kemudian melanjutkan pekerjaannya, memunguti setiap pecahan kaca yang berada di bawahnya. Foto ini adalah foto tiga hari sebelum dirinya dan Valdo menikah.
Pada saat itu Valdo seperti benar-benar membutuhkannya, segala perhatiannya seperti seolah Valdo juga benar-benar menyayanginya. Namun pikiran Velyn salah, ia sudah salah dalam menilai.
Pada akhirnya Valdo menunjukkan aslinya kala mereka seharusnya melewati malam pertama. Lamunan Velyn buyar kala jemarinya tak sengaja mengenai serpihan kaca. Berdarah hingga membuatnya mati rasa. Velyn mencabut serpihan kaca kecil yang menancap dijari telunjuknya dan membiarkan darahnya tetap menetes.
Setelah semuanya selesai, kini Velyn membuang serpihan kaca itu dan membawa fotonya ke gudang. Meskipun agak kesusahan, tapi Velyn tak akan menyerah. Setidaknya ia bisa mengenang pernikahannya sebelum harinya sudah tidak berlanjut lagi.
__ADS_1