
Pintu rumah Valdo terbuka membuat sosok wanita yang kini berdiri itu terkejut melihat Velyn yang tengah tidur diatas lantai. Santi buru-buru menggoyangkan tubuh Velyn yang kini terlihat begitu pucat seraya terlihat lemah dan belum membuka matanya.
"Nyonya, bangun nyonya. Nyonya jangan bikin saya khawatir" kata Santi dengan panik. Velyn akhirnya mampu membuka matanya, berkas cahaya yang masuk melalui retinanya membuat gadis itu menggeleng seraya memegangi keningnya yang begitu pening serta masih memegangi tubuhnya yang terasa amat dingin.
"Mbak, mbak Santi, ini jam berapa?" tanya Velyn dengan terbata membuat Santi buru-buru memegangi pundak Velyn dan membantunya untuk bangkit.
"Jam lima pagi nyonya, maafin saya. Tapi tuan bilang-"
"Nggak apa-apa mbak, yang penting saya mau cepet-cepet ke kamar sekarang, dingin" kata Velyn seraya masih menggigil dibuatnya akibat semalam tertidur dilantai tanpa beralaskan apapun.
Santi akhirnya membantu Velyn untuk bangkit, ia membopong tubuh Velyn menuju kedalam. Tak sengaja Velyn menatap foto pernikahan besar dengan pigura yang indah memperlihatkan Valdo dan seorang perempuan. Tentunya bukan dirinya, Velyn hanya bisa menghela nafas. Ia melanjutkan langkahnya lagi meskipun di hatinya masih ngilu mendapati foto yang terpajang diruang tamu.
Santi membawa Velyn kedalam kamar tamu, kamar yang biasa ia tinggali meskipun tidak sebesar kamar utama yang seharusnya ia tempati. Santi benar-benar miris dengan keadaan Velyn saat ini, kala ia membopong tubuh nyonyanya satu ini, ringan ditubuhnya membuat Santi semakin berfikir jika Velyn benar-benar menderita.
Bisa Santi tebak, tubuh proporsional dengan tinggi sekitar 165 sentimeter ini hanya mempunyai berat badan sekitar 40 sampai 45 kilogram saja.
Santi memang sengaja membuka pintu rumah sepagi ini, karena semalam ia mendengar ketukan dan bel rumah berbunyi. Namun tuan Valdo malah melarangnya untuk membuka pintu itu. Santi juga mendengar teriakan nyonya Velyn berteriak dari luar rumah namun lantaran Valdo terus mengawasinya membuat Santi mau tak mau hanya bisa bungkam dan diam seribu bahasa. Barulah ketika ia bangun di subuh, Santi segera membuka pintu rumah dan benar saja apa yang dikhawatirkan semalaman. Velyn tertidur diluar bahkan tanpa selimut maupun alas yang menemaninya.
Tak hanya itu, Valdo juga dengan sengaja mematikan lampu depan membuat keadaan diluar semakin gelap dan dingin pula. Jahat! mungkin kata itu yang pantas disandang Valdo saat ini ketika mengingat kelakuannya yang begitu keterlaluan pada istrinya sendiri.
__ADS_1
"Ma-makasih ya mbak Santi" kata Velyn yang kini menarik selimutnya diatas ranjang seraya terduduk, masih menenangkan tubuhnya yang terlihat gemetar akibat hawa dingin yang merasuk kedalam tulang-tulangnya.
"Nyo-nyonya, nyonya mimisan?" Velyn mengerutkan keningnya, ia merasakan sesuatu yang mengalir dari dalam lubang hidungnya membuat gadis itu mengelap darah yang kini berada dibawah hidung sebelum mengalir sampai ke mulut.
Bahkan wajah Velyn terlihat semakin pucat dengan bibirnya yang semakin membiru. Velyn membulatkan matanya, rasa pening dan berat seperti menghantam kepalanya. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin buram.
***
Bayang-bayang cahaya membuat Velyn menangkap pemandangan aneh dihadapannya. Ingatannya yang semula terbayang akan sosok kamarnya kini membuatnya bingung kala ia mendapati bau obat-obatan serta kamar dengan cat serba putih yang membuatnya bertanya.
"Nyonya Velyn? Alhamdulillah akhirnya nyonya bangun juga. Saya panggilkan dokter dulu" Velyn memegangi keningnya, rasa berat dikepalanya membuat gadis itu menggeleng beberapa kali dan memastikan bahwa nyawanya sudah terkumpul kembali.
"Sabar ya nyonya, bentar lagi dokter pasti datang."
"Mbak Santi, sekarang jam berapa?" Santi mengerutkan keningnya. Ia melirik jam yang berada diatas bangsal Velyn.
"Jam enam pagi nyonya, kenapa?"
"Mbak, mbak Santi mending cepet pulang sekarang. Pasti tuan udah mau berangkat kerja, kamu belum masak kan? nanti takutnya kak Valdo nggak sempet sarapan" kata Velyn seraya sedikit panik mengetahui jam sudah semakin siang. Biasanya Valdo jam enam memang sudah bangun. Velyn juga takut jika Valdo bangun namun tak mendapati Santi yang tengah tidak ada di rumah.
__ADS_1
Tidak apa-apa jika dirinya yang kena masalah, yang terpenting bukan orang lain termasuk pembantunya sendiri. Namun Santi seolah keberatan dengan hal itu. Untuk apa juga melayani tuan yang egois, lagipula kalau Santi pulang dan membuatkan makanan, Valdo pasti juga tidak akan memakan masakannya seperti apa yang ia lakukan pada istrinya selama ini.
"Saya nggak mau nyonya, saya mau jagain nyonya aja. Saya tadi nggak bilang sama tuan kalau saya pergi antar nyonya kemari. Tapi saya juga nggak mau lepas tanggungjawab gitu aja. Nyonya juga nggak ada yang jagain kan?" terlihat jelas dari raut wajah Santi yang begitu tak suka ketika membahas soal Valdo ketika masalah seperti ini terjadi. Tapi Velyn juga tidak ingin membuat masalah.
"Mbak, nggak apa-apa kok. Mbak Santi cepet pulang aja. Nanti masak dan bawa kesini buat saya makan. Kan kamu tau sendiri makanan di rumah sakit itu nggak enak dan saya juga nggak selera. Saya nggak mau mbak Santi kena masalah nantinya. Dan tolong jangan kasih tau tuan kalau saya ada disini, begitupun dengan keluarga saya. Jangan kabari mereka, karena kemarin ayah saya baru masuk rumah sakit juga" Santi sempat mengerutkan keningnya seraya berpikir sejenak. Ada rasa khawatir dalam batinnya. Meskipun Velyn bukan keluarganya, tapi ia sudah menganggap Velyn sebagai saudaranya sendiri. Mana tega Santi meninggalkannya begitu saja.
"Tapi nyonya-"
"Mbak, saya nggak apa-apa kok. Begitu mbak Santi udah selesai masak, dan tuan juga berangkat, mbak Santi langsung kesini aja" Santi agak ragu, pikirannya menerawang kemana-mana. Ini semua juga salah Valdo yang keparat itu. Pria kejam tanpa perasaan, Santi benar-benar menggerutu serta bersumpah serapah dalam hatinya.
"Baik nyonya, tapi nyonya jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa hubungi saya" pesan Santi pada Velyn yang kini hanya mampu mengangguk lemah seraya tersenyum membuat Santi sedikit lega dibuatnya.
Santi akhirnya segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan Velyn yang kini bersandar dibangsal seraya memegangi pelipisnya.
Tak lama kemudian seorang dokter datang bersamaan dengan Santi yang berlalu dari arah ambang pintu.
"Nyonya Velyn, anda tau kalau anda tengah sakit leukimia?" tegur dokter seraya memberikan suntikan pada infus Velyn membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya mengangguk.
"Kenapa nyonya tidak mau mengikuti instruksi pengobatan? kalau dibiarkan bisa semakin parah, dan anda juga tidak menjaga kesehatan dengan baik" Velyn menelan ludahnya kasar. Ia selama ini memang selalu menolak jika hendak menjalani pengobatan, karena baginya itu semua sama saja. Pengobatan hanyalah agar umurnya semakin panjang, tidak menutup kemungkinan bahwa kenyataannya penyakit yang ia derita tidak akan sembuh sepenuhnya.
__ADS_1