Velyn Love

Velyn Love
Cinta itu nyata


__ADS_3

"Tinggal tujuh bulan lagi, dan kita akan pisah" Valdo membulatkan matanya kala Velyn mengatakan hal demikian. Perasaannya yang sebelumnya bahagia, bermekaran bagai bunga-bunga kini seperti sirna, tandus oleh angin yang dibawa oleh Velyn pergi menjauh darinya.


"Aku nggak bisa ngebayangin, pasti aku bakal kangen banget sama Nino" tatapan mata Valdo masih menjurus pada Velyn. Apakah ini yang namanya jatuh cinta sungguhan? Valdo benar-benar tidak ingin berpisah dengan gadis ini. Rasanya, setiap kata yang keluar dari bibirnya tentang perpisahan membuat dadanya semakin sesak saja.


"Kenapa kamu ngomong gitu Lyn kalo sebenarnya kamu sendiri nggak rela ninggalin kami?" Velyn menatap Valdo sekilas, ia tersenyum dan membuang mukanya lagi untuk menatap pemandangan dihadapannya.


"Kakak salah paham, aku cuma mau ingetin kakak aja, dan semoga kakak nggak lupa sama ibu kandung Nino. Kak Valdo pernah bilang kan kalau kakak belum tanda tangan surat cerai itu. Aku nggak mau jadi penghalang buat kebahagiaan kakak"


"Kamu bukan penghalang kebahagiaan aku Lyn, justru kamu bahagia ku" Velyn menatap Valdo dengan matanya yang berkaca. Tatapan mereka saling bertemu, memberikan satu isyarat yang sama-sama membuat hati mereka terluka dengan keadaan ini.


"Aku emang nggak pernah tau sejarah apa yang membuat kamu benci sama aku sebelumnya. Permasalahan apa yang membuat kamu sampai nyiksa aku yang nggak tau apa-apa. Tapi aku yakin, waktu itu kamu ngelakuin itu demi Lisa kan? kamu itu nggak cinta sama aku kak jadi-"


"Kenapa kamu selalu bahas Lisa? kalau kamu mau, aku bakal tanda tangan surat cerai itu sekarang juga, didepan kamu juga, biar kamu tau siapa sebenarnya orang yang aku cinta" Velyn menghembuskan nafas beratnya. Lagipula Velyn sendiri sudah terlanjur kecewa, ia juga tak mau kembali meskipun hatinya masih menyimpan Valdo didalamnya.


Semua yang ia lakukan selama ini, melayani Valdo dan merawat Nino, itu semua hanyalah formalitas saja. Meskipun sejujurnya Velyn juga menikmatinya karena ini juga impiannya. Tapi Velyn ingat batasannya, ia tak ingin berharap lebih ataupun memberikan harapan pada Valdo.


"Gimana kakak bisa yakin kalau kamu udah nggak cinta lagi sama dia? kalau nanti dia kembali, dan kamu nerima dia lagi, pada saat itu aku juga bakalan pergi" Velyn menunduk, ia sadar diri akan posisinya. Valdo mengatakan hal itu karena memang Lisa belum masuk lagi dalam kehidupannya. Suatu hari nanti entah kapan, ketika Lisa datang, pastinya Valdo akan memberikan cintanya yang terdalam.


Valdo tidak pernah mencintainya. Pria disampingnya ini hanya kasihan padanya. Kasihan pada nasib keluarganya. Karena semenjak Valdo mengetahui segalanya, keperduliannya kembali, dan tindakan jahatnya sudah hilang semenjak saat itu.

__ADS_1


"Lyn, udah aku bilang aku nggak mau cerai, aku bakal berusaha sampai kamu bisa cinta sama aku, dan kita bakal lewatin ini sama-sama" ungkap Valdo seraya menarik lengan Velyn membuat wajah gadis itu terlalu dekat dengan wajah Valdo yang menatapnya penuh ketulusan.


Velyn menghempaskan cengkraman Valdo, ia kemudian bangkit dan hendak melangkah menghampiri Nino. Daripada dirinya berselisih paham dengan pria satu ini yang tidak mengerti maksudnya, lebih baik menenangkan diri sejenak dan melupakan segala masalahnya.


Tak sengaja gadis itu menginjak batu, hingga membuat keseimbangannya hilang. Velyn hendak terjatuh jika saja Valdo tak segera menarik lengannya membuat gadis itu akhirnya ambruk dan menindih tubuh kekar suaminya.


Velyn memejamkan matanya sambil berteriak saat ia tak sadar jika Valdo ternyata sudah berada dibawahnya. Mata Velyn membulat sempurna, ditambah lagi dengan tatapan intens dari Valdo yang membuat Velyn membeku dibuatnya. Kedua lengan Velyn bahkan masih dipegang oleh Valdo yang kali ini menahan tubuhnya.


"Ma-maaf, aku, aku" Velyn segera bangkit, ia kemudian menunduk seraya membuang muka. Wajahnya kini telah memerah seperti kepiting rebus saja membuat Valdo tersenyum miring dibuatnya. Velyn buru-buru pergi, menyusul Nino yang kali ini bermain tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sampai kapan kamu bakal menyadari kalo perasaan aku bener-bener tulus buat kamu Lyn? aku bener-bener cinta sama kamu Velyn" gumam Valdo seraya memegangi dadanya yang masih berdetak tak karuan. Kali ini, sampai detik ini, perasaan yang ia rasakan adalah kenyataan yang sesungguhnya. Bukan pura-pura seperti apa yang Velyn pikirkan sebelumnya.


***


Setelah seharian bermain dan piknik di taman, kini tinggallah nyawa Velyn yang tersisa setengah akibat begitu lelah. Gadis yang memakai piyama daster berwarna putih itu langsung menghampiri tasnya dan merogoh obat yang selama ini menjadi konsumsinya setiap hendak terlelap.


Suara daun pintu yang terbuka membuat gadis itu buru-buru membalikkan tubuhnya dan mengembalikan botol obat tadi kedalam tasnya. Untung saja Velyn sudah mengambil satu butir untuk diminum.


Terlihat Valdo yang keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk kimono membuat Velyn menelan salivanya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Velyn kemudian meraih air putih yang berada diatas nakas, meminum obatnya selagi Valdo tidak memperhatikannya.

__ADS_1


"Kali ini biar aku aja yang tidur dibawah, kak Valdo pasti capek kan, hari minggu harusnya libur tapi tadi kakak malah ada pertemuan sama klien" ujar Velyn seraya memperhatikan wajah Valdo yang begitu lesu dan tampak kecapean. Memang tadi siang seharusnya mereka pulang, Valdo malah harus kembali ke kantor saat dirinya sudah tiba di rumah. Sebenarnya ada satu pekerjaan lagi yang belum ia selesaikan, namun mengingat ia tak mau bekerja lembur akhirnya Valdo memilih untuk mengerjakannya dirumah saja.


"Nggak apa-apa, biar aku yang tidur dibawah aja kaya biasanya, aku nggak apa-apa kok" Velyn mengerutkan keningnya, ia menatap Valdo dengan tatapan heran. Kalau diteruskan nanti Valdo pasti akan sakit. Velyn menggeleng, ia menarik satu kasur tipis yang biasanya dikenakan Valdo saat tidur dibawah. Velyn mengambil selimut dan bantal juga membuat Valdo mengernyit dibuatnya.


"Udah aku bilang aku aja yang tidur dibawah, aku nggak mau hipotermia kamu kambuh. Atau?" tiba-tiba mata Valdo memincing, memperlihatkan senyuman jahilnya yang membuat Velyn curiga.


"Atau apa?!"


"Atau kamu sebenarnya mau aku tidur seranjang ya sama kamu?" senyum Valdo mengembang membuat Velyn mengerucutkan bibirnya sebal. Pria satu ini benar-benar membuat Velyn kesal saja. Padahal bukan itu maksudnya.


"Aku cuma khawatir aja sama kakak, lagian kakak belum istirahat sama sekali kan?" tukas Velyn membuat Valdo terkekeh dibuatnya.


"Ciye ada yang udah mulai perduli nih, lagian nggak apa-apa juga kalo kita tidur seranjang, bukannya kita juga pernah ya hampir-"


Bukkk


Belum sempat Valdo menyelesaikan kata-katanya Velyn tiba-tiba saja melemparkan bantal didepannya kearah wajah Valdo. Wajah Velyn kini bersemu merah dan bangkit membuang muka dari Valdo yang begitu menjengkelkan baginya.


Velyn segera berbaring diatas ranjang, membiarkan Valdo tertawa renyah dengan reaksi istrinya yang menggemaskan itu.

__ADS_1


__ADS_2