
Velyn melangkah kearah jalan raya, ia hendak masuk kuliah hari ini karena kemarin ia tak sengaja melakukan hal bodoh hingga membuat dirinya tidak bisa datang ke kampus.
Wanita itu duduk di halte seraya menunggu giliran bus datang. Velyn meraih novel yang berada di tasnya untuk ia baca seraya menemaninya untuk menunggu.
Velyn merasa lebih baik saat ini, mungkin karena ia tidak mau terbebani dengan masalah keluarganya. Untuk saat ini, Velyn juga tidak bisa menghubungi orangtuanya terlalu sering, karena ia takut hubungannya dengan Valdo sedang tidak baik-baik saja. Velyn tidak ingin ayahnya mendengar ini semua, disaat terpuruk dan sakit seharusnya Velyn memberikan kabar gembira dan semangat untuk sang ayah. Tapi Velyn malah tidak berdaya dan memilih untuk mengalah.
Bukan dia tidak ingin memperjuangkan pria itu, tapi Velyn sangat lelah dengan keadaan. Untuk apa memperjuangkan hubungan yang tidak ada kepercayaan sama sekali didalamnya. Mungkin ini karmanya karena telah merebut pria yang sudah beristri. Lagipula kontrak pernikahan antara dirinya dengan Valdo juga masih berada ditangannya, Velyn tinggal mengajukannya pada pengadilan agar mereka segera berpisah.
Tin tin
Suara klakson mobil terdengar nyaring di tambah kaca mobil yang terbuka, memperlihatkan pria dengan pakaian formal serta jas yang ia gunakan sebagai atribut kerja.
"Adrian?"
"Masuk!" perintah pria itu membuat senyuman Velyn terulas. Velyn segera bangkit dan masuk kedalam mobil Adrian tanpa basa-basi.
Namun pergerakan Velyn rupanya sudah dilihat oleh pria yang kini berdiri disamping jalan raya seraya mengepalkan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Valdo, pria itu terbangun kesiangan akibat permainannya semalam dengan Velyn. Ia kira masalahnya akan selesai ketika Valdo membuktikan cintanya yang begitu dalam kepada wanita itu, namun nyatanya Velyn malah naik kedalam mobil pria lain. Yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri.
"Tangan kamu gimana?" tanya Adrian yang melirik Velyn seraya masih fokus mengendarai mobilnya dipagi yang cerah ini.
"Lumayan, makasih ya kemarin udah ngasih aku salep. Sekarang udah mendingan, pasti mahal ya salepnya?" Adrian terkekeh, ia menggeleng saat Velyn mengerutkan keningnya bingung akan tawa pria itu.
"Kamu nggak perlu ganti pun, aku juga masih tetep bakalan kaya kok. Udahlah nggak usah dipikirin, aku seneng kok bisa bantu temen sendiri" Velyn mengangguk seraya tersenyum. Benar juga apa yang dikatakan Adrian, meskipun ia membeli mall serta isinya, Adrian juga tidak akan pernah jatuh miskin secepat itu.
"Oh ya, Yan udah sarapan?"
"Udah, kenapa?" Velyn membuka tasnya dan memberikan roti untuk Adrian.
"Aku bikin sendiri, dalamnya coklat. Nanti dimakan ya kalau istirahat siang" ujar Velyn seraya meletakkan roti isi itu ke jok bagian belakang mobil Adrian. Pria itu tersenyum seraya menatap Velyn yang amat cantik. Sudah cantik, pandai, pinter masak pula. Indahnya dunia jika Adrian memiliki kesempatan untuk memiliki Velyn seutuhnya. Namun apalah daya, hal itu hanyalah hayalan semata.
"Makasih ya Lyn. Lain kali aku bakal traktir kamu" Velyn mengangguk lalu membenahi rambutnya yang tergerai panjang. Wanita itu kemudian tak sengaja bertatapan dengan Adrian, lalu kemudian tersenyum. Sejujurnya Velyn tidak pernah sedekat ini dengan teman pria. Dulu saja awal dia pacaran dengan Andra ia langsung merasa nyaman. Mungkin karena Andra begitu hangat, sama halnya dengan Adrian.
"Oh iya Yan, kayanya aku udah mutusin buat minta cerai"
"Apa?!" tiba-tiba saja mobil Adrian terhenti, membuat Velyn hampir terjatuh jika saja ia tak memakai sabuk pengaman tadi. Jelas saja Adrian merasa terkejut, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Velyn memutuskan untuk bercerai dari suaminya.
"Adrian?!"
"Sorry sorry" ujar Adrian seraya melanjutkan laju mobilnya lagi. Velyn menatap Adrian yang terlihat syok setelah keputusan Velyn yang dibuat olehnya setelah berpikir matang-matang.
"Kenapa kamu mau cerai? Valdo nyakitin kamu lagi?" Velyn tersenyum seraya menghela nafasnya, meskipun memang benar Valdo melakukan hal yang membuat Velyn sakit hati. Tapi itu semua karena juga berawal darinya. Semua masalah yang terjadi memang berakar dan bersumber darinya. Tapi alasan utama karena Velyn juga tidak ingin cinta Valdo terbagi, ia tau Lisa pun juga tidak mungkin mau untuk dipoligami. Karena Valdo sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Lisa, maka Velyn lah yang harus mundur.
"Aku-" tangis Velyn pecah begitu saja, membuat pria disampingnya menghentikan mobilnya sejenak seraya menatap Velyn dengan perasaan iba.
"Mas Valdo.... dia bilang nggak akan ceraikan Lisa" suara sumbang Velyn terdengar dengan derai air mata, hal itu lantas saja membuat hati Adrian ikut sakit.
"Ini semua salah aku Yan, kalau bukan karena papa pengen aku nikah sama Mas Valdo, nggak mungkin mas Valdo kehilangan kebahagiaan di dalam keluarga kecilnya. Kalau bukan karena aku, nggak mungkin Nino bisa kehilangan sosok ibu sejak ia masih bayi. Sedangkan, aku udah ngerebut suami orang dan menghancurkan kebahagiaan mereka bertiga" ujar Velyn panjang lebar seraya terus terisak, mengingat apa yang terjadi dalam hidupnya. Melihat Velyn yang amat tak berdaya, Adrian ikut merasakan sakit. Tangis Velyn seolah mengundangnya untuk hancur bersama dengan hatinya. Kenapa? padahal Adrian sangat mencintai Velyn, tapi kenapa ia tidak bahagia melihat keluarga Velyn yang hampir retak. Justru ia ikut sedih saat Velyn menangis dihadapannya.
Tak ada yang bisa Adrian lakukan selain membuat Velyn tenang saat ini. Adrian menyentuh pelan punggung Velyn yang masih terlihat bergetar, ia menatap wajah Velyn yang terlihat sembab akibat air matanya yang jatuh begitu deras.
"Bukannya kamu sebelumnya nggak akan nyerah buat mempertahankan hubungan kamu sama Valdo? kenapa kamu jadi berubah pikiran kaya gini? apa karena Valdo nggak mau ngelepasin Lisa? atau-"
"Aku cemburu Adrian! aku sebenarnya nggak rela dia milih orang lain. Dan selama ini dia tinggal seatap dengan Lisa. Kamu tau Yan gimana hancurnya hati aku ngebayangin kehidupan mereka selama hidup bersama?" Velyn menangis tersedu-sedu, ia menyeka air matanya berkali-kali membuat Adrian tidak tahan. Padahal belum lama ini, ia melihat Velyn sangat ceria serta hubungannya yang harmonis dengan suaminya. Namun siapa sangka, kesalahpahaman dan juga keputusan Valdo yang begitu tergesa membuat hati Velyn terluka, hingga memutuskan dirinya untuk menyerah dan tumbang seolah tidak bernyawa.
"Apa kamu yakin bakal ninggalin dia?"
"Iya, tapi nggak dengan cinta aku. Aku nggak bakalan nikah lagi, karena cuma dia satu-satunya orang yang paling aku sayang, sekaligus orang yang mustahil buat aku perjuangkan" sudah Adrian duga. Cinta Velyn hanya untuk Valdo seorang, entah mengapa hatinya seolah hancur mendengar ungkapan Velyn untuk tidak akan mencintai siapapun lagi. Itu berarti ia sudah dinyatakan kalah sebelum berperang. Adrian menghela nafasnya, lagipula ia juga tidak pantas untuk wanita sempurna seperti Velyn.
Jemari lentik seorang wanita kini meraih wajah Adrian dengan mesra. Pria tampan itu masih berfokus pada dokumen dimeja seraya memeluk erat pinggang ramping milik wanita yang kini tiba-tiba menyentuh kulit bibirnya dengan sensual. Mungkin ini akan menjadi hiburan baginya jika tiap hari Catarina datang dan menemaninya bekerja.
Wanita yang kini memakai lingerie seksi itu semakin membuat tubuh Adrian bergelora. Mungkin bukan hanya Catarina saja, tapi masih ada Jane dan Lala, perempuan yang ia bayar untuk menyalurkan nafsu biologisnya. Tentunya, sebelum itu Adrian telah menyewa mereka bertiga dan sekaligus berhasil merampas keperawanan mereka. Adrian juga memberikan kontrak yang isinya ketiga rekan ranjangnya tidak boleh berhubungan dengan siapapun kecuali dengannya, dan sekaligus memberikan mereka mobil mewah serta perumahan elit dan kebutuhan yang diperlukan mereka selama menjadi wanita simpanan pria tampan itu. Wanita simpanan? sepertinya kata-kata itu tidak tepat jika disandingkan dengannya, karena seumur hidupnya ia tidak ingin berkomitmen dalam ikatan hubungan tersebut.
__ADS_1
"Tuan Adrian" Catarina mencium bibir pria itu dengan ganas, membuat Adrian benar-benar frustasi dibuatnya. Terlebih lagi bokong Catarina yang telah berada di paha pria itu membuat adiknya menegang sedari tadi.
"Aku Lagi kerja Rin" bisik Adrian mesra seraya meremas kedua buah besar yang menonjol itu didepan matanya. Membuat mata Catarina membulat seraya mengerang tanpa disengaja.
"Aku nggak perduli" sebenarnya Adrian juga tidak tahan dari tadi. Ia hanya memerintahkan Catarina untuk membawa beberapa dokumen yang berada dirumahnya, dan kebetulan Catarina hendak pulang setelah kegiatan mereka semalam. Tapi siapa sangka, wanita itu malah datang hanya menggunakan jaket menutupi pahanya, dan membukanya setibanya di kantor Adrian. Dan tentu saja Catarina masih dibalutkan lingerie seksi yang membuat tubuhnya terekspos jelas keindahannya.
"Kalo kamu nakal kaya gini, aku bakal buat kamu kapok dan bakalan nyesel sama apa yang udah kamu lakuin sekarang!" peringatan Catarina semakin membuat wajah wanita itu memerah.
"Oh ya? kalo gitu gimana kalo kita coba, sebenarnya seberapa kuat sih manager Adrian bermain ditengah pekerjaannya" bisik Catarina pelan seraya menggoyangkan bokongnya, membuat Adrian benar-benar ingin mati saat itu juga.
Adrian meraih gagang telepon, ia memencet beberapa tombol nomor disana, dan segera setelah itu telfonnya tersambung dengan cepat.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" suara Leni menggema di telinganya yang terlihat memerah akibat rayuan dari wanita yang kini memeluk lehernya itu.
"Bantu saya jaga pintu depan kantor. Jangan sampai ada yang masuk, kalau ada yang mencari saya bilang aja saya nggak bisa diganggu"
"Baik pak" suara menggema dari sebrang sana membuat senyum kemenangan Catarina terlihat jelas. Ia bahkan dengan tidak sabar membuka satu persatu kancing kemeja Adrian, membuat pria itu tersenyum senang.
Setelah tubuh Adrian terpampang jelas didepan matanya, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tubuh atletis nan sempurna yang selalu menjadi mimpi indahnya ketika penantian Adrian hendak menggunakannya selalu terbayang dan menjadi waktu paling berharga untuknya.
Setelah puas memainkan dada bidang Adrian, pria itu kemudian menggendong tubuh Catarina dan meletakkan bokongnya diatas meja kerjanya. Adrian menggerayangi, mencium beberapa titik sensitif milik wanita dihadapannya dengan ganas. Pun halnya dengan Catarina yang semakin memperpanas kegiatan mereka dengan meraba-raba tubuh Adrian.
Setelah lama melakukan pemanasan, kini Adrian segera melepaskan ikat pinggangnya, ia menurunkan resleting celananya seraya bersiap memasuki milik Catarina. Tanpa aba-aba pria itu memasukinya dan membuat pertahanan Catarina untuk tidak membuka suara kini akhirnya menyerah. Catarina berulang kali mendesah, menyebutkan nama Adrian dengan desahannya yang membuat Adrian tambah semangat lagi. Sedikit lagi dan Adrian akan mencapai pelepasannya.
Brakkk!!
Suara itu membuat keduanya terkejut bukan main, apalagi Adrian yang kini dengan terpaksa mencabut miliknya dari kenikmatan yang hendak mencapai puncak.
"Sialan!" Adrian mengumpat, ia menatap Valdo yang tiba-tiba datang dengan pandangan tajam. Segera setelah itu Adrian menarik jasnya dan melemparkannya pada Catarina dengan kasar.
"Pakek tuh jas gue!" kata Adrian jengkel seraya menaikkan resleting celananya.
Brakkk
Beberapa berkas dan arsip terlempar di depan meja kerja Valdo. Sorot matanya begitu membunuh menatap Adrian yang kini membalasnya dengan tatapan tak kalah tajam.
"Makan tuh berkas! lo gue angkat jadi GM itu bukan buat main-main kaya gini ya Yan. Siapa yang suruh lo buat batalin kerjasama kemarin?" Adrian hanya terdiam seraya menatap Valdo sinis. Lagipula Adrian juga tidak perduli jika ia dipecat, toh jika ia di usir dari perusahaan ini ia akan mendirikan perusahaan sendiri dengan kemampuan dan orang-orang disekelilingnya yang dengan mudah mau bekerjasama dengannya.
"Lo kira perusahaan ini milik lo apa?! sekarang kita rugi milyaran rupiah gara-gara lo!" Adrian tersenyum sinis, jadi baginya uang lebih penting daripada segalanya. Bahkan lebih penting dari perasaan Velyn yang sudah ia sakiti. Jika saja Valdo tau bagaimana menderitanya Velyn dengan penyakit yang ia miliki saat ini, jangankan uang milyaran yang ia sebutkan, ia pasti rela menjual perusahaan untuk membuat Velyn tetap hidup hingga seterusnya.
"Terus lo mau apa? lo mau mecat gue? silahkan! tapi asal lo tau Do, kalo lo sampe mecat gue, lo bakalan kehilangan kartu As perusahaan! karena cuma gue yang bisa bantu aset bokap lo berkembang" ancam Adrian pada lelaki yang kini menampakkan wajah murka itu.
"Gue bisa aja ganti rugi perusahaan berkali-kali lipat kalo gue mau"
"Oh ya?" senyum kemenangan terulas di wajah Valdo saat Adrian mengatakan demikian. Hal itupun langsung dibalas tatapan menjijikkan dari Adrian yang sudah menebak apa yang dipikirkan olehnya.
"Hemp! gue nggak nyangka aja ternyata lo buta, buta sama duit. Kalo gue jadi lo, gue nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan berharga gue buat orang yang gue cinta, karena kita nggak tau kapan lo bakal kehilangan dia!"
"Bangsat lo! jangan pernah deket-deket Velyn lagi!" teriak Valdo seraya menarik kerah Adrian, membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan. Bukan hanya menang akibat membalaskan perasaan Velyn yang sakit hati terhadapnya, namun perasaan kesalnya karena olahraga menyenangkan itu tiba-tiba terhenti karena ulah pria jahat didepannya ini. Valdo melayangkan satu pukulannya pada wajah Adrian, membuat pria itu terjatuh dilantai.
"Kenapa? bukannya lo nggak perduli sama dia? bukannya lo udah ada Lisa? bukannya lo cuek ya waktu gue ngehibur dia waktu dia kecewa sama lo?" Valdo menggebrak meja kerjanya, ia menatap Adrian dengan pandangan membunuh seraya membanting meja dan kursi yang berada disampingnya. Komputer dan berkas-berkas berhamburan memenuhi ruangan, membuat Adrian menajamkan matanya lagi.
"Diam lo keparat! sekali lagi lo ngurus kehidupan pribadi gue dan istri gue, mati lo!" teriak Valdo seraya memegang kursi dibelakangnya, bersiap untuk menyerang Adrian yang kini ikut murka karena sikap Valdo yang amat brutal itu.
"Gila lo Do! kalo lo nggak mau kehilangan Velyn, lo jaga dia! lo lindungi dia! jangan jadi pengecut kaya orang gila yang sukanya main kasar dan main balas dendam sama orang yang bikin lo cemburu!" teriak Adrian seraya menarik kerah Valdo membuat pria itu memberontak.
"Lepasin gue bajingan! udah gue bilang jangan sok tau masalah kehidupan gue! lo pikir lo siapa ha?! Velyn itu istri gue!" teriak Valdo tak kalah lantang membuat mata Adrian semakin memerah. Valdo dengan segera mengangkat kursi ditangannya dan hendak memukulkan pada pria dihadapannya, namun dengan cepat kaki Adrian menendang pukulan Valdo hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai.
Adrian yang melihat hal itu tak tinggal diam, kini ia memukul pipi Valdo dengan keras membuat Valdo melawan dan berganti memukul perut pria itu. Mereka kini beradu, saling mengumpat seraya memukul satu sama lain.
"Permisi?" tiba-tiba saja asisten Valdo yang masuk terkejut akan ruangan Valdo yang kacau balau serta kedua pria yang saling bergulat itu. Wanita itu menutup mulutnya, ia bahkan sampai menjatuhkan berkas yang dibawanya tadi tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Pak Valdo?! Pak Adrian!"
"Diam!" teriak kedua pria itu bersamaan membuat asisten Valdo memundurkan langkahnya seraya segera menelfon security untuk memisahkan mereka berdua.
"Gue nggak bakalan maafin lo kalo sampek lo sentuh istri gue bangsat!" teriak Valdo seraya memukul wajah Adrian yang kini dapat ia lumpuhkan dengan tubuh besarnya.
"Gue yang harusnya nyingkirin lo dari kehidupan Velyn! lo itu nggak pantes buat dia! dia terlalu baik, tapi lo yang nggak tau diri-"
Brukkk
Satu pukulan mendarat dipipi Adrian membuat pria itu benar-benar marah kali ini. Adrian segera mendorong tubuh Valdo, membuat lelaki itu akhirnya berganti dibawahnya.
"Jauhin istri gue Velyn kalo lo nggak mau mati!" teriak Valdo membuat Adrian hendak memukul wajahnya, namun sebelum itu seseorang menarik tangannya membuat pertengkaran mereka terhenti.
***
"Hay Lyn?" suara pria dari belakang tubuh wanita itu membuat ia berhenti dari langkahnya. Velyn membalikkan tubuhnya saat seorang pria memakai jas almamater tersenyum kearahnya.
"Siapa ya?" tanya Velyn seraya menatap pria itu yang seolah malu hendak memperkenalkan diri padanya.
"Aku Randi, anak programmer semester empat"
"Nggak kenal tuh" Velyn segera berbalik dan melangkah kembali, namun langkahnya terhenti saat pria itu tiba-tiba menyeimbangkan langkahnya dengan Velyn, membuat wanita itu mengacuhkan Randi beberapa kali.
"Makanya aku mau ngajak kamu kenalan, aku udah lama lo merhatiin kamu. Gimana kalau kita makan siang bareng? aku yang traktir deh" ucap pria itu membuat langkah Velyn terhenti, dan membuat senyum terulas diwajah pria itu tercetak jelas akibat senang dengan sikap Velyn yang membalas senyumnya.
"Maaf ya, saya sudah punya suami" ucap tegas Velyn membuat pria itu tertawa dengan kencang membuat Velyn memutar bola matanya tak peduli.
"Kamu bercandanya nggak lucu ya ternyata, kalau mau menghindar dari aku nggak perlu bikin alasan yang nggak masuk akal kaya gitu. Mana ada sih cewek yang nggak suka sama ketua sema yang ganteng dan terkenal jenius. Jangan bilang kamu mau main tarik ulur?"
"Ngomong apaan sih?" Velyn segera menghindar dari pria itu. Oh jadi pria itu yang sedang viral beberapa hari ini karena ketampanannya dan menjadi buah bibir karena mahasiswa itu akhirnya mengalahkan teman satu angkatannya menjadi ketua sema. Banyak yang bilang bahwa pria itu begitu tampan, sampai menjadi idaman para mahasiswi termasuk teman-temannya. Padahal menurut Velyn masih kalah jauh tampan suaminya dibanding pria yang kini mengejarnya saat ini.
"Eh Lyn, tunggu dong. Harusnya kamu itu bersyukur aku bisa deketin kamu tanpa kamu harus kaya cewek lain yang datang dan nembak aku secara langsung" ujar pria itu membuat Velyn semakin tak perduli dengan omong kosongnya saat ini.
"Saya cukup bersyukur karena saya sudah dikaruniai suami tampan bahkan lebih dari anda" Randi tercengang, semakin didekati Velyn semakin menjauh saja. Bukannya kesal, entah mengapa Randi malah semakin tertarik dengan kepribadian perempuan lain yang selalu menempel padanya.
Randi tersenyum penuh makna, meskipun Velyn masih menyadari keberadaan pria itu yang menguntitnya tapi ia justru mengabaikannya. Toh Velyn juga sering seperti ini di kampusnya terdahulu. Ia sudah biasa dengan tatapan buaya para pria yang mengejarnya. Namun satupun dari mereka tidak ada yang membuat Velyn tertarik, kecuali Andra. Pria itu dewasa, dengan sekali perhatian Velyn cukup mengetahui jika kepribadiannya tidak main-main.
Velyn melangkahkan kakinya dengan cepat, ia tak mau berurusan dengan pria itu. Namun belum sempat ia keluar dari gedung kampus, tiba-tiba saja ia tak sengaja terjatuh, membuat tubuhnya hampir ambruk.
"Velyn!" suara pria itu yang hendak menolong Velyn terhenti, begitupun dengan Velyn yang kini terkejut oleh tangan kokoh yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Velyn mencium aroma parfum ini, aroma parfum yang tidak asing baginya selama kurang lebih satu tahun ini.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" suara itu masih sama hangatnya, walau keadaan dan juga status mereka seolah merenggang. Velyn bangkit kemudian menatap kedua netra coklat itu, ia menelan ludahnya seraya membetulkan bajunya yang sedikit berantakan.
"Siapa kamu? kenapa kamu ngejar-ngejar istri saya?" tiba-tiba saja wajah Randi terlihat pucat dan gemetar. Jadi, Velyn benar-benar sudah menikah? bahkan ia sampai tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Namun setelah melihat suaminya secara langsung, sepertinya Randi tidak bisa menandingi pria pilihan Velyn ini.
Pandangan tajam seolah hendak membunuh mangsanya, Randi bisa saja melakukan hal bodoh jika ia nekat untuk mendekati wanita yang kini menggenggam erat jemari pria yang menatapnya tajam itu.
"Aku nggak kenal sama dia, kita pulang aja yuk mas" ajak Velyn membuat Valdo tersenyum kearahnya dan mengangguk. Sebelum ia pergi Valdo sempat menatap Randi dengan datar, seolah memberikan peringatan untuk tidak mengulanginya lagi. Valdo sebenarnya tau jika pria itu dengan sengaja tengah menggoda Velyn, apalagi dilihat dari gelagatnya saja pria yang tidak tau diri itu hendak mengajak istrinya berkencan.
Setelah Adrian sepertinya ada banyak musuhnya diluar sana yang tidak terlihat oleh mata. Tak ayal banyak yang menyukai Velyn karena memang wanitanya sangat cantik dan baik hati.
"Makasih ya udah bantuin aku tadi" Velyn melepaskan genggamannya setelah keluar dari gedung kampus itu, membuat Valdo menatap Velyn seraya mengernyitkan dahinya.
"Itu memang sudah tugas aku sebagai seorang suami buat melindungi kamu kan?" Velyn menggeleng, ia tersenyum dan melangkah mendahului Valdo yang terlihat mengikuti langkahnya dari belakang. Sejuju
ketika berhadapan dengan Valdo, hati Velyn seolah teriris dan amat sakit, namun tidak ada solusi lain selain menghadapinya sendiri. Velyn hanya bisa mengatur nafasnya untuk tidak tersengal begitu berbicara dengan orang yang paling ia cintai.
"Velyn? apa kamu mau menghindar terus dari aku? apa kita nggak bisa bicara serius?" Velyn membalikkan tubuhnya, ia tersenyum lalu mengangguk.
"Boleh"
__ADS_1