
Mata Velyn yang tertutup kain hitam membuatnya melangkah dengan di tuntun lengan Andra yang membawanya ke suatu tempat. Angin malam yang berhembus, membawa anak rambutnya tergerai.
"Duduk ya"
"Ini dimana sih Ndra?" tanya Velyn saat Andra memegang pundaknya lalu menekannya untuk memberikan perintah duduk si sebuah kursi.
"Kita udah sampai kok, kamu siap?" Velyn tersenyum dan mengangguk tak sabar, pria itu perlahan membuka kain yang menutup mata Velyn membuat wanita itu membuka matanya perlahan. Velyn hanya mampu melongo, melihat pemandangan roof top di malam hari itu, setelah itu suara riuh kembang api saling bersautan, membuatnya melihat langit malam yang cerah, di lantai juga terdapat hiasan mawar merah bertuliskan 'happy birthday Arvelyna'. Padahal Velyn sendiri tidak ingat dengan hari ulangtahunnya hari ini, ia terlalu memikirkan lamaran Andra hingga membuatnya melupakan hari istimewanya sendiri.
"Happy birthday sayang" ujar Andra seraya berlutut dan mencium jemari Velyn dengan satu kecupan yang lembut. Ruangan itu benar-benar dipenuhi oleh hiasan bunga mawar merah di mana-mana, seolah hari itu menjadi hal yang paling istimewa dalam hidup Velyn. Dengan sekuat tenaga Velyn menahan air matanya, padahal selama menikah Valdo saja tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi kali ini ia sangat bahagia, karena orang yang paling ia cintai memberikannya kejutan seindah ini untuknya.
"Andra! thank you"
"Wait! aku punya kado spesial untuk kamu" Alexa mengangkat dagunya saat Andra bangkit lalu memberikan sebuah kotak berwarna merah padanya.
"Ya ampun sayang, kamu udah ngasih kejutan kaya gini aja aku udah seneng banget loh. Kamu mau ngasih aku apa lagi?"
"Buka aja, nggak asik dong kalau aku cuma ngasih kejutan tanpa kado" Velyn tersenyum bangga, ia tak pernah menyangka jika Andra sampai melakukan hal sejauh ini untuknya. Baginya, hadirnya Andra dan ketulusannya sudah menjadi hadiah terbaik bagi Velyn sepanjang hidupnya, meski ia pernah berpikir bahwa hidupnya sudah tidak lagi berarti dan hampir menyerah. Mata Velyn membulat ia terkesima dengan kalung berlian yang berada di dalam kotak itu.
"I-ini pasti mahal banget kan? Ndra? aku nggak bisa-"
"Nggak ada yang lebih mahal ketika melihat kamu bahagia sayang. Waktu aku lihat kalung itu, rasanya aku pengen liat kamu bahagia terus. Tawa kamu, senyum kamu, bahkan tangis kamu, jangan ada lagi kesedihan, jadikan semua itu kebahagiaan" Velyn tersenyum, ia tersenyum bangga pada pria dihadapannya. Sejak awal, tiada yang lebih tulus daripada Andra. Pria itu mencintai Velyn apa adanya dan tanpa syarat. Dimulai dari penampilannya yang gendut, sampai ia kurus kering kerontang akibat penyakit yang di deritanya, hanya Andra yang tetap peduli dan mengatakan bahwa ia selalu cantik setiap waktu.
__ADS_1
Meski Velyn sempat ragu, namun jemari Andra yang tiba-tiba meraih kalung itu dan memakaikannya pada leher Velyn membuat mata gadis itu berkaca.
"Sayang" suara lembut itu membuat Velyn membalikkan tubuhnya, saat Andra menunjukkan meja makan malam romantis ia paham jika Andra ingin memberikan kenangan indah untuknya. Perlahan Velyn melangkah dengan tuntunan jemari Andra yang lembut meraih jemari kecilnya. Tangan Andra menarik kursi Velyn lalu pria itu ikut duduk berhadapan dengan kekasihnya.
Mata Velyn melirik sebuah amplop putih yang tergeletak di atas piring. Ia menatap Andra dengan pandangan bertanya, namun Andra hanya tersenyum dan memberi isyarat untuk membuka amplop putih itu. Alexa tak bisa berkata-kata lagi, apa lagi yang akan diberikan Andra untuknya? rumah? mobil? atau apartemen. Bayangan itu melintas begitu saja di pikirannya, padahal ia tidak menginginkan apapun dari Andra.
"Apa sih Ndra? jangan berlebihan dong" kata Alexa seraya tersenyum dan membuka amplop itu. Alexa menelan salivanya saat ia membaca dengan cermat surat yang ia buka. Air matanya tanpa sadar menetes, ia kembali menutup sepucuk surat itu, ia kemudian melihat Andra yang tersenyum dengan air matanya yang tanpa sadar ikut menetes. Velyn tidak dapat berkata lagi, air matanya seakan terus menerus menetes dengan deras.
"Ini beneran?" tanya Velyn dengan suaranya yang serak bergetar akibat tangisnya yang pecah begitu saja, sedangkan Andra hanya mengangguk dan ikut menangis, tanpa aba-aba Velyn langsung berangsur bangkit dan memeluk Andra yang ikut bangkit.
"Hiks hiks hu hu hu" Andra hanya bisa mengelus punggung Velyn karena ia masih tidak percaya dengan rencana Tuhan. Surat yang dibaca Velyn membuat siapa saja pasti tak akan menyangka jika kepasrahan dan juga penderitaan Velyn yang tiada habisnya akhirnya membuahkan hasil. Kesembuhan Velyn dari kanker, kehidupan pernikahan yang hendak ia jalani bersama orang yang sangat mencintainya membuat Velyn sangat amat bahagia.
Kertas putih yang menyatakan kesembuhan Velyn dari kanker telah mengubah segalanya, pikirannya dan hatinya hanya memikirkan bagaimana ia akan hidup dengan bahagia bersama orang yang paling ia cintai.
Setahun kemudian...
Tubuh atletis pria yang memakai kemeja berwarna putih itu meraih tas yang berada dari dalam lemari, ia kemudian menarik dasi yang sudah dipersiapkan untuknya dan hendak memakainya. Namun tiba-tiba, sebuah jemari lembut tiba-tiba meraih dasi itu dan mengalungkannya pada leher Andra sebelum ia sempat mengenakannya sendiri.
"Kan aku udah bilang, setiap kali kamu siap-siap kerja, aku yang bakal masangin dasi buat kamu" ujar Velyn menggoda saat ia dengan cantik masih memakai baju tidur seksi setelah bangun dari tidurnya. Andra tersenyum sumringah melihat istrinya begitu antusias menggodanya, ia kemudian meraih pinggang Velyn dan menyatukan tubuh mereka.
"Kamu mau goda aku lagi ya?" Velyn lalu menarik dasi yang baru saja selesai ia pasangkan untuk Andra, membuat wajah mereka semakin mendekat dan hanya menyisakan jarak beberapa inci saja.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa?" bisik Velyn dengan suara seraknya membuat Andra langsung mencium bibir Velyn brutal. Andra langsung mendorong tubuh Velyn hingga tubuh istrinya itu ambruk di atas ranjang dengan kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Dengan cepat Andra langsung melonggarkan sabuknya dan membuka celananya untuk menyatukan tubuh mereka.
"Ah! mas Andra!" Velyn mendesah panjang, entah berapa kali mereka melakukannya pagi itu. Padahal pernikahan mereka sudah berumur satu tahun, tapi rasanya masih saja seperti pacaran. Velyn langsung memeluk tubuh Andra saat pria itu sudah mencapai batas pelepasannya.
"Maaf ya, aku bikin kamu telat lagi" ucap lirih Velyn saat pria itu sudah membetulkan celana panjangnya kembali, membuat Andra tersenyum simpul dan mencium puncak kepala istrinya.
"Nggak apa-apa, aku kan bos-nya. Telat tiap hari pun aku rela kok kalau kaya gini" ujar Andra membuat Velyn hanya mampu mengulum senyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut yang kini menyelimuti tubuhnya.
Andra kemudian mendekat kearah Velyn lalu menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh wanita itu. Velyn begitu terkejut saat tiba-tiba tangan Andra menyentuh perutnya dan menciumnya dengan sekali kecup.
"Mas Andra!"
"Sudah setahun kita nunda buat punya momongan, semoga benih yang aku tanam segera membuahkan hasil ya sayang" ujar Andra seraya mencium puncak kepala istrinya. Selama ini mereka memang menunda untuk memiliki momongan, dan akhirnya selama seminggu ini mereka habiskan untuk membuat cinta setiap ada kesempatan. Tak lupa Velyn juga rutin menandai masa suburnya agar ia lekas hamil. Sama halnya dengan Andra, Velyn benar-benar tidak sabar untuk memiliki buah hati mereka berdua.
"Hem, bunda pasti juga pengen cepet-cepet nimang cucu"
"Iya sayang, sabar ya. Kamu jangan lupa berdoa juga, biar keinginan kita cepat terkabul" Velyn mengangguk semangat saat suaminya mengatakan demikian seraya tersenyum padanya. Wanita itu langsung beranjak bangkit saat suaminya hendak berangkat bekerja. Velyn segera mengganti bajunya dengan benar ketika Andra menunggunya di depan pintu kamar, saat wanita itu keluar kamar jemarinya menggenggam erat jemari Andra dan langsung mengekor padanya untuk berjalan kearah teras.
"Nah, aku berangkat dulu ya sayang, kamu hati-hati dirumah" Velyn mengangguk dengan senyumnya yang manis, ia kemudian memeluk tubuh Andra dengan erat seraya membenamkan wajahnya pada pelukan pria itu. Wangi aroma mentol dari wanita itu membuatnya teringat kembali saat mereka masih pacaran dulu, saat pria itu pertama kali menolongnya dari para berandal kampus. Kini dosen yang ia hormati sudah menjadi suaminya yang sangat teramat mencintainya. Tanpa sadar Andra sudah membalas pelukan istrinya dan mencium pucuk dahi Velyn saat ingatannya mulai berangan kembali.
"Jangan lupa sarapan ya nanti di kantor, aku udah siapin nasi goreng kesukaan kamu" ucap Velyn seraya mengangkat kepalanya menatap sang suami yang segera mengangguk disusul kecupan di pipi wanita itu.
__ADS_1
"Iya sayang, pasti. Makasih ya, tunggu aku pulang oke?" Velyn berangsur melepaskan pelukannya ia kemudian meraih jemari Andra untuk mengecup punggung tangan suaminya itu. Andra tersenyum dan berjalan kearah mobil yang sudah disiapkan oleh supir pribadi Andra, saat Andra sudah masuk kedalam mobil pun, pria itu masih sempat-sempatnya membuka kaca jendela mobil dan melongok untuk menatap wajah istrinya.
Hari-hari Velyn dilalui dengan perasaan bahagia, karena keinginannya dan cita-citanya menjadi ibu rumah tangga di dalam keluarga bahagia kini tercapai, meski sebelumnya ia sempat tidak percaya diri untuk melanjutkan hidupnya. Ya, pilihan Velyn kali ini tidak lagi salah, ia benar-benar yakin bisa menjalaninya dengan Andra yang selalu dan akan terus mencintainya hingga tua. Bahkan Andra tidak pernah sedikitpun tidak mencintainya, dari awal pria itu melihat keadaan Velyn yang bertubuh gendut hingga kurus kering kerontang di rumah sakit, cinta itu tidak luntur sama sekali bahkan semakin bertambah di setiap harinya.