
"Mbak Santi, mbak Marni, ini donat buat kalian ya. Sekalian siapin ayam goreng didalam situ buat Nino" ucap Velyn menunjuk kresek yang ia bawa dan langsung pergi begitu saja.
Santi dan Marni hanya mampu mengernyit. Gelagat Velyn seperti baru saja menangis. Bisa terlihat dari matanya yang sedikit sembab. Kedua pembantu Velyn itu hanya mampu bergumam seraya menyenggol lengan satu sama lain.
"Kasian ya nyonya Velyn, padahal dia baik banget loh"
"Iya, tuan Valdo buta atau gimana sih, diliat dari foto pernikahan mereka aja jelas lebih cantikan nyonya. Udah prawan masih mau nerima duda anak satu lagi, bener-bener nggak bersyukur!" umpat kesal Santi membuat Marni membulatkan matanya seraya bersesis agar temannya satu ini tidak asal bicara.
"Heh, kalo ngomong dijaga. Ketauan dipecat lo! inget kita itu cuma kerja disini" Santi memutar bola matanya kala Marni mengatakan hal demikian. Tentu saja Marni tidak terlalu perduli. Kalau saja Marni tau bagaimana Velyn disiksa oleh Valdo, dan sempat hampir kehilangan nyawanya karena mengalami hipotermia akibat tidur diluar rumah, Marni pasti juga akan membenci tuannya itu.
Santi masih menatap kepergian punggung Velyn yang terlihat dari celah dinding dapur ketika langkahnya menaiki anak tangga. Punggung Velyn yang sebenarnya sudah tidak kuat lagi menanggung semua beban dalam rumah tangganya, ia paksakan hanya demi kebahagiaan orangtuanya.
***
Velyn merebahkan tubuhnya diatas bath tub dengan air hangat serta busa menyelimuti tubuhnya. Rambutnya yang panjang kini tertutupi oleh pekatnya busa yang sedikit mengotori anak rambutnya.
Rasanya ia tak mau menemui Valdo dulu. Berapa kali kepercayaan yang Velyn berikan dikhianati terus menerus. Padahal Velyn sudah berulangkali memberikannya kesempatan. Namun apa yang Velyn dapatkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Malahan Valdo menuduhnya telah berselingkuh darinya. Lalu apa yang ia lakukan selama seminggu ini, mencari selingkuhan?!. Velyn benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Valdo.
__ADS_1
Setelah selesai berendam kini akhirnya Velyn memberanikan diri untuk keluar. Velyn hanya mengenakan handuk kimono seraya sedikit menunduk dan menatap kearah seluruh penjuru kamar.
Ia menghela nafas lega kala lelaki yang ingin ia hindari itu tak berada disana. Velyn kemudian bergerak menuju lemari besar disamping ranjang, tangannya hendak membuka lemari yang menampilkan baju-bajunya tergantung didalam sana. Namun sebuah tangan menahan lengannya, seketika membuat Velyn sedikit terkejut dan menatap pria yang kini tiba-tiba berdiri disampingnya seraya menunjukkan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"Kamu mau ngapain mas?!" tanya Velyn dengan wajahnya yang ketakutan itu, disusul tarikan dari tenaga Valdo yang membuat Velyn hanya mampu terdiam dan menurut.
Valdo kini beralih duduk diatas ranjang, ia masih menunggu Velyn untuk bikut duduk disampingnya. Namun ekspresi ketakutan itu masih bisa ditangkap olehnya. Velyn mengernyit, ia menatap mata Valdo yang kini mengisyaratkannya agar duduk disampingnya.
Velyn akhirnya menurut saja, ia mendaratkan bokongnya disisi ranjang tepat disamping Valdo yang menatapnya dengan pandangan yang masih sama seperti tadi. Tiba-tiba saja tangan Valdo bergerak menyelinap dan membuka paksa kimono yang dikenakan Velyn, membuat gadis itu terkejut dan menjauh dari tubuhnya.
"Mau apa kamu mas?!" sejujurnya Velyn masih trauma dengan kejadian semalam. Ia menatap tajam pada Valdo yang kini tampak diam seraya menarik lengan Velyn dengan paksa.
"Mas!"
Penolakan Velyn tadi kini berubah dengan pasrah saat Valdo perlahan membuka kimono yang dikenakan Velyn dari belakang. Valdo sedikit terkejut saat melihat goresan dan bekas ****** dipunggung Velyn yang kini berubah membiru akibat ulah brutalnya semalam.
Pantas saja baju Velyn sampai robek-robek dan hampir tak berbentuk. Ternyata emosi Valdo ia tumpahkan begitu saja pada wanita yang kini sedikit memiringkan tubuhnya, menutupi bagian sensitif yang sudah pernah ia nikmati sebelumnya.
"Maaf, semalam aku-"
__ADS_1
"Nggak perlu dijelasin mas, meskipun aku penasaran selama ini kamu ngapain aja diluar sana, tapi aku nggak pengen denger. Aku tau kepergian kamu berhubungan dengan Lisa. Itu urusan kamu" Valdo terperanjat kala Velyn mengatakan hal demikian. Seraya masih mengobati ruam dipunggung Velyn, Valdo masih terdiam tanpa kata. Ia bingung mau menjelaskannya darimana.
"Terus, siapa cowok yang anter kamu tadi? apa kamu udah nemuin pengganti setelah kita cerai nanti?" mata Velyn mulai berkaca, sebelumnya Valdo tidak pernah mau membahas perceraian. Bahkan jika Velyn menyinggung sedikit tentang surat kesepakatan itu Valdo selalu mengelak.
Mata Velyn menengadah, kini ia mulai mengerti. Mungkin Valdo memang telah siap untuk berpisah darinya, tak ayal Valdo seminggu ini susah payah mencari keberadaan Lisa.
"Tiga bulan lagi. Kenapa aku nggak boleh berhubungan sama orang lain kalau kenyataannya bentar lagi kita bakalan bercerai?"
"Velyn!" suara Valdo mendadak meninggi, dengan jemarinya yang menutup salep ditangannya seraya menatap wanita yang kini memunggungi tubuhnya. Velyn buru-buru menutup tubuhnya lagi setelah ia rasa punggungnya sudah mendingan. Namun ia masih enggan untuk menatap Valdo yang kini ikut tersulut emosi akibat perkataannya barusan.
"Makasih mas, aku mau ganti baju dulu" ujar Velyn seraya bangkit. Namun sebelum langkahnya tergerak, tiba-tiba saja langkahnya terhenti oleh tarikan tangan dari Valdo yang mencengkeram lengannya. Membuat Velyn terjatuh dipangkuan Valdo.
Sekarang terlihat sudah mata berkaca dan memerah milik wanita dipangkuannya ini. Valdo tau Velyn pasti tersakiti oleh tanda tanya dan juga perlakuannya semalam.
"Lepasin aku mas!" Velyn memberontak, membuat Valdo mencengkeram pinggang wanita dipangkuannya itu dengan sekuat tenaga.
"Nggak akan! aku nggak mau lepasin kamu. Lyn aku mohon, kasih aku waktu buat siap cerita"
"Cukup mas! aku jijik sama kamu!" teriak Velyn lantang dengan air matanya yang kini terjatuh berlinang, membuat Valdo merenggangkan pelukannya dan berhasil membuat Velyn lepas dari pangkuannya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Lyn?!" tanya Valdo tak kalah keras membuat Velyn mengusap kasar air matanya.
"Aku nggak tau apa yang kamu lakuin diluar sana mas! tapi tiba-tiba kamu pulang dan-" Velyn tak kuat lagi, ia terisak seraya menutup mulutnya. Velyn meraih baju yang berada di lemarinya asal, ia kemudian buru-buru keluar dari kamar untuk menghindar dari Valdo.