
Malam semakin larut, kini Velyn kembali ke kamarnya. Tak lupa gadis itu meminum obat yang diberikan dokter padanya tadi. Velyn sedikit melirik ponselnya yang dari tadi berdering menampilkan chat yang begitu banyak.
Gadis itu mengernyit, ia meraih ponselnya seraya mengecek pesan chat yang membuatnya terkejut sekaligus hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Bagaimana tidak, bahkan miss call dari Valdo lebih dari sepuluh kali, dan chatnya saja menumpuk menanyakan kabarnya yang tak kunjung membalas pesan. Velyn duduk di sisi ranjang, ia menghela nafasnya untuk bersiap menelfon Valdo balik agar dirinya tak khawatir.
"Halo kak"
"Velyn? kamu dimana? udah sampe rumah belum? gimana tadi hasil pemeriksaannya?" Velyn sedikit menahan senyumnya. Sejak kapan panggilan lo-gue dari Valdo berubah menjadi aku kamu. Dan terdengar dari suaranya saja Valdo terlihat khawatir.
Velyn benar-benar tak mengerti dengan sikap pria satu ini. Sepertinya Velyn juga gagal mengenal Valdo itu pria seperti apa, karena nyatanya pria yang ia hadapi ini sering berubah-ubah peran.
"Kakak tenang aja, aku baik aja kok. Tadi aku belum sempet bales karena udah giliran aku dipanggil. Dan Alhamdulillah, aku nggak apa-apa cuma kecapean aja. Tumben kakak nelfon kaya gini? ada apa? khawatir ya?" Velyn mencoba untuk menggoda pria satu ini. Meskipun begitu, disebrang sana Valdo juga merasakan apa yang Velyn katakan.
Valdo yang hendak mengatakan hal penting itu kini jadi melupakan masalahnya. Wajahnya berubah merona. Valdo begitu gugup, sebenarnya ia ingin mengatakan permasalahannya pada Velyn. Tapi entah mengapa, mendengar suara Velyn saja rasanya begitu berat untuk melakukannya.
Valdo mengepalkan jemarinya, ia duduk diatas ranjang seraya mengacak rambutnya. Bagaimana mungkin Valdo akan mengatakan hal sekejam itu pada Velyn. Valdo benar-benar hilang akal, entah dirinya belum siap atau memang ia tak akan mengatakannya saja pada Velyn.
"Iya Lyn, aku khawatir sama kamu" dengan serius Valdo mengatakannya. Padahal bukan itu maksudnya, meskipun sejujurnya ia juga khawatir. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu semua.
Velyn mendadak tertegun, ia terpaku oleh kata-kata Valdo. Khawatir? tapi kenapa? mendadak wajah Velyn berubah menjadi merah bak tomat. Ia menutup mulutnya tak percaya akan perkataan Valdo yang begitu serius.
__ADS_1
"Aku seneng denger suara kamu" tambah Valdo membuat Velyn menutup mulutnya tak percaya. Jika seperti ini bagaimana Velyn akan melupakan hal perihal cinta?. Velyn semakin tak mengerti, apa mungkin Valdo sudah?.
"Kak, aku-aku mau tidur duluan ya. Selamat malam."
"Tidur yang nyenyak ya Lyn, malam juga."
Velyn buru-buru mematikan ponselnya sepihak, ia menggenggam ponsel itu erat-erat. Sejenak bayangan Valdo melintas dikepalanya. Ia mengingat waktu tiba di rumah sakit itu. Matanya yang tegas dan bulat, hidungnya yang bangir, alis tebal mempesona. Velyn bisa gila jika hanya memikirkannya begitu saja. Gadis itu buru-buru merangkak naik keranjangnya, ia menaruh ponsel diatas nakas. Sebelum Velyn memejamkan matanya, ia menatap langit-langit kamar seraya menyembunyikan wajahnya yang merona dibawah selimutnya.
Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Velyn mencoba untuk menghapus bayangan Valdo, ia menggeleng seraya memeluk bonekanya dan mencoba untuk memejamkan matanya.
***
Valdo berjalan keluar kamarnya, ia membuka pintu yang penuh dengan hiasan bintang dan bulan memenuhi tulisan Nino disana. Pria itu perlahan berjalan, takut jika membangunkan sang buah hati.
"Nino, papa janji, papa bakal jemput mama pulang. Bentar lagi kamu akan tau siapa mama kandung kamu sebenarnya" Valdo mengangkat pandangannya, ia menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya kasar.
Seharusnya ia tadi tak mengatakan hal yang membuat Velyn salah paham padanya. Valdo hanya takut jika bayangan di pikirannya tak sama dengan kenyataan nanti. Ia hanya ingin Velyn bahagia, ia tak mau Velyn menikah dengan dirinya yang seorang duda dan itu pun karena keterpaksaan.
Ditambah lagi kebahagiaan Nino adalah yang utama. Meskipun hati Valdo selalu nyaman pada Velyn, meskipun entah mengapa Velyn selalu terbayang di fikirannya, namun ia tak mau egois.
Valdo bangkit, ia berjalan menuju jendela luar seraya menatap langit berbintang. Apa yang seharusnya ia lakukan? Valdo bimbang. Ia tak bisa menghentikan pernikahan ini sebelum menemukan istrinya itu.
__ADS_1
***
Velyn berjalan keluar kampusnya, seperti biasa gadis itu memakai earphone untuk mendengarkan musik seraya membaca buku novel yang belum sempat ia selesaikan.
"Lyn! tunggu!" Velyn masih tak menggubris panggilan dari gadis yang kini berlari kearahnya. Tampaknya ia masih fokus dan menikmati musik yang ia dengarkan.
"Eh buset! ni anak dipanggil kagak denger" celetuk Oca yang kini menepuk pundak Velyn membuat gadis itu menghentikan langkahnya seraya melepaskan earphone yang ia pakai. Velyn terkekeh melihat Oca yang kini menampakkan wajah kesalnya. Bisa Velyn tebak dari bulir keringat yang kini membasahi keningnya, pasti gadis tomboi ini baru saja berlari kearahnya.
"Sorry, sorry, gue kan lagi dengerin musik" Velyn berjalan beriringan bersama Oca, mereka menuju halte untuk menunggu giliran angkot maupun bus yang lewat.
"Eh Lyn, gue ada kabar heboh lo" Velyn hanya melirik Oca yang kini tampak antusias hendak bercerita. Pasti gosip lagi, batin Velyn yang kini tersenyum miring.
Gadis itu tampak acuh dan kembali berkutat pada buku juga musiknya yang telah menjadi hobi baginya selama ini. Namun tiba-tiba saja, Oca menarik earphone yang terpasang ditelinganya seraya menatap Velyn tambah kesal. Velyn hanya terkekeh, memang susah punya teman yang suka bergosip ria seperti Oca ini.
"Iya, iya gue dengerin gosip lo nih" Velyn menutup bukunya, ia kini fokus pada Oca yang tampak serius menatapnya.
"Lyn, pak Andra mau nikah sama Angelita Lyn, terus gue gimana?!" rengek gadis itu membuat Velyn menelan ludahnya. Ternyata Andra menepati janjinya, mendengar hal itu entah mengapa Velyn kini biasa-biasa saja. Mungkin karena sebelumnya ia sudah tau.
"Ya bagus dong, jadi kalian para fansnya pak Andra harus bubar jalan, and say good bye" ujar Velyn seraya terkekeh, membuat mata Oca yang semula sedih kini menjadi kesal kembali. Padahal kan dia sangat mengagumi sosok dosen tampan itu. Tapi rasanya hati Oca remuk begitu saja.
"Lyn! Lo kok gitu sih! pak Andra itu cinta mati gue tau Lyn" kata Oca seraya menampakkan wajah menangis yang ia buat-buat disamping Velyn yang kini meliriknya dengan malas itu. Benar-benar lebay Oca ini, kalau saja Oca tau bahwa Velyn yang membuat keadaan Andra jadi seperti ini, pasti Oca akan menjadi malaikat maut bagi kehidupan Velyn yang sejahtera.
__ADS_1
"Ya gimana ya Ca, namanya juga jodoh. Sejauh apapun lo lari, sekuat apapun lo perjuangin dia, kalo bukan jodoh ya nggak bisa jadi satu. Lagian lo aneh-aneh aja, cari cowok itu yang pasti-pasti, yang pasti bisa lo deketin jangan cuma bisa lo kagumin" hanya kata itu yang dapat Velyn katakan pada sahabatnya. Sebelumnya Velyn juga tak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini. Sebelumnya ia dan Andra juga sama-sama berharap untuk menjadi satu, tapi takdir memang tak bisa dihindari.
Velyn hanya bisa mendoakan untuk Andra dan Angelita, semoga keduanya bisa membina rumah tangga dengan baik dan tidak salah jalan lagi.