
.
.
.
.
.
♡♡♡♡♡
Gianna mendudukan dirinya di kursi hijau sembari meminum secangkir kopi.
Raganya ada di sana namun pikirannya entah kemana.
"Aku rindu Indonesia" gumanya.
tiba tiba suara ketukan itu terdengar dari luar pintu.
memaksa tubuh Anna yang telah nyaman disana untuk bangkit.
Anna menghampiri pintu itu sebelum akhirnya dia melihat ibunya disana.
"Ibu?? " Ujar Anna
Arra yang mendengar itu tersenyum.
"bolehkan ibu masuk? " tanyanya.
Anna mempersilahkan dengan tubuh menghindar memberi peluang.
Arra masuk ke dalam kamar itu.
melihat sekitar kamar yang tampak rapi dan wangi.
"kamu pandai membersihkan ruangan"
"aku tidak menyukai tempat kotor. " ujarnya
Arra masih melihat sifat yang tidak banyak berubah dari Anna sejak kecil.
yang berbicara hanya seperlunya saja.
"Bagaimana dengan kandungan mu? "
"kami baik. "
"tidak terasa kau akan menjadi seorang ibu Anna?"
Anna hanya mengangguk disana, karna dia sadar memang itu kenyataan nya.
"lalu apa kau masih memikirkan kannya? " tanya Arra ragu.
"memikirkan? "
tanya Anna yang merasa bingung dengan ibunya.
"Kau masih memikirkan Erland?"
Anna sempat diam disana.
"Sampai kapan pun dia tidak akan lepas di memori ku. " ujar Anna sembari duduk di soffa menghadap jendela kaca.
Arra menarik nafasnya dalam
"Maafkan ibu jika harus mengungkit ini Anna. " ujar Arra yang tidak enak hati bagaimana pun Arra dapat merasakan apa yang Anna rasakan.
Anna hanya mengangguk.
"ibu tau kamu sangat menyayanginya"
__ADS_1
Anna hanya mengelus pelan perutnya.
"tapi apa kamu tidak ingin membuka hati untuk orang lain"
Anna merasa kaget dengan ucapan ibunya.
"Jika ibu datang hanya untuk membicarakan itu, Ana mohon untuk tidak banyak berbicara mengenai apa yang aku rasakan jadi sebaiknya ibu keluar. " ujar Anna dengan dingin.
Arra tidak bisa berbuat apa apa dia merasa salah.
♡♡♡♡
Fernando.
"kau lihat ini sayang, aku baru saja membeli cincin berlian yang sejak lama aku idamkan. " ujar Victoria yang kini tenang duduk di meja kerja Nando.
Nando hanya diam disana dia tidak perduli dengan apa yang di ucapkan oleh wanita itu.
Nando membiarkan dia menggunakan semua isi cardnya supaya dia bisa segera terlepas dari wanita itu dan terbebas dari perjanjian gila.
"sayang jadi bagaimana dengan cicin pernikahan kita dan kita belum mempersiapkan gaun pengantin, pernikahan kita akan digelar 3 bulan lagi. " ujarnya.
Nando yang mendengar itu teringat.
"3 bulan bukan waktu yang lama lagi" ujarnya dalam hati.
"Terserah. urus semua perlengkapan aku hanya ingin Terima beres. " ujar Nando sembari beranjak dari kursi itu dan melangkah pergi.
Peter yang melihat bos nya keluar dari ruangan itu seger menyusul
"Tuan anda mau kemana? " tanya Peter yang mengikuti pergerakan Nando pergi kearah lift itu.
"biarkan aku sendiri "
"ttttt aapii tuan? " suara Peter yang ingin menahan tapi terlanjur pintu itu tertutup.
"Dimana Nando? " Ujar Victoria
♡♡♡♡
Nando melajukan mobilnya kencang.
dengan focus nya yang terbagi.
" 3 bulan?? "
"yah 3 bulan"
"apa dengan waktu 3 bulan aku mampu membuatnya jatuh cinta? " tanya Nando
"sedangkan aku rasa dia akan sulit aku miliki. "
namun dalam waktu yang sama tiba tiba terdengar suara dentungan keras di bagian mobilnya.
Nando melirik kearah belakang dan ternyata kaca belakang bocil nya sudah retak terkena peluruh.
Anna melihat lingkungan sekitar sebagian orang sudah panik.
dan Nando melihat arah samping yang memperlihatkan mobil hitam dengan pengendara yang telah mengarahkan pistol ke arah Nando.
"sial siapa yang berani menggangguku"
Nando segera mengambil pistol nya di bagian belakang jas.
dan membuka kaca mobil sebagai awal pertempuran nya.
"Hai kau tuan Orlando senang bertemu denganmu"
Nando melihat wajah itu dia tau musuhnya ada dimana mana.
"Dan inilah saatnya" ujar Nando sinis.
__ADS_1
memberikan satu tembakan namun meleset.
"sial" Ucap nando
"tidak semudah itu" ujar dia
Hingga satu peluruh nyaris mengenai Nando namun ternyata dia salah memberikan peluang bagi musuh yang ternyata kini tanganya sudah mengucur darah.
"sial" Nando mulai merasakan panas karna peluruhan itu telah masuk kedalam kulitnya.
Nando tidak ingin menyiakan kesempatan saat mobil hitam itu melaju arah kiri dan Dor.
Nando mengarahkannya tepat di kepala lelaki itu.
yang akhirnya membawa mobil hitam itu melaju dengan tidak terkendali dan terpelanting disana serta terguling.
Nando pun sudah tidak bisa mengendalikan laju mobilnya warna dia sudah cukup lelah menahan perih lengannya.
yang akhirnya mobil Nando berhenti dengan arah menabrak mobil hitam itu.
Nando berusaha membuka pintu mobil.
dia melihat sekeliling tempat sangat sepi.
ini kesempatan bagi Nando untuk pergi melarikan diri.
Hingga disuatu gang kecil di pusat kota.
dia sudah tidak kuasa untuk berdiri.
yang akhirnya dia menjatuhkan badannya di sebuah tembok untuk menjadi sandaran nya.
Nando menekan tombol Log di Ponselnya.
tanpa menunggu lama panggilan itu tersambung
"Tuan? " ujar Peter.
" Aku beri kau pekerjaan"
"Apa tuan? "
"Blacklist semua Bukti CCTV dan semua yang menjadi barang bukti di tempat ini."
"Ditempat mana tuan? " ujar Peter yang bingung
"Akan aku kirim tempatnya. "
"baik tuan. "
"Dan satu lagi hapus semua mengenai berita sampai ".
" Baik tuan, ada lagi? "
Tutttt tuuutt tuttt
panggilan itu telah berakhir bahkan dengan Peter yang masih berharap bosnya berbicara.
Nando menarik nafasnya pelan dia sudah merasa panas sekujur tubuhnya.
.
.
.
.
.
♡♡♡♡♡
__ADS_1