
.
.
.
.
♡♡♡♡
Nando tengah mengancing kemeja menghadap cermin besar itu.
Nando melihat sekilas seseorang mendatanginya di belakang sana.
Victoria mengikatkan lenganya di pinggang Nando.
Nando hanya diam tidak memperdulikanya.
"sayang kita sudah satu minggu menikah, tapi kau tidak pernah menyentuh ku" Ujar Victoria dengan ucapan manjanya.
Nando memperhatikan cermin itu memperlihatkan dirinya kini telah rapi dengan setelah kemeja.
dia menyingkir dari pelukan Victoria dan beralih mengambil jas.
Victoria kesal karena di abaikan.
namun dia tidak menyerah.
"biar aku yang memasang dasinya" ujar Victoria yang mengambil alih sekarang.
Nando tetap diam disana.
"kau masih memikirkan wanita itu bukan?" ujar Victoria
"Bukan urusanmu"
"kapan terakhir kau menghubungi nya tanpa sepengetahuan ku? "
"kemarin sore"
Victoria kaget di buatnya.
bahkan dia berani memberi tahu itu.
"kau bahkan tidak pernah membalas pesanmu"
__ADS_1
"untuk apa aku tidak ada kepentingan bersamamu"
"tapi kau suamiku"
"Hanya sebuah formalitas nyatanya kita tidak selayaknya suami istri bukan? "
Kalimat itu yang menghentakan kaki Victoria saat Nando akan meninggalkan ruangan itu.
dan Nando berhenti di ujung sana.
"berhentilah berharap aku akan menyentuhmu itu tidak akan pernah terjadi."
"kau akan lihat Nando aku tidak akan pernah berhenti. "
Nando berbalik arah kembali menghadap Victoria.
"kau mungkin bisa menyentuh tubuhku tapi tidak hatiku" ujar Nando yang kemudian berlalu pergi.
Peter membungkukan tubuhnya saat melihat siapa yang datang.
"selamat pagi tuan"
Nando hanya berlalu memasuki Tempat itu.
"apa kita akan pergi ke kantor langsung? "
Dan Peter tau dimana itu berada.
Nando menaruh seikat bunga mawar di atas makam Ayahnya.
dia sana dia dapat melihat kedua orang tuanya berada di tempat istirahat yang sama.
Nando memandangi kedua pasangan itu yang mana telah meninggalkanya sendirian.
sejenak melamun melihat makan keduanya mengingatkannya saat keduanya masih hidup.
mereka hidup bahagia saling memberikan cinta.
bahkan selalu menujukan itu pada Nando.
betapa dia melihat kehangatan antara ayah dan ibunya.
Nando menarik nafasnya dalam
"dad, aku telah menjalankan perjanjian yang telah engkau buat dulu, dimana aku harus menikahi putri dari Tuan Petra, namun jika dady tau bukan ini yang aku inginkan. Aku tidak lagi mencintainya kau ingat dad aku pernah bercerita dulu bahwa aku bertemu seorang wanita di imajinasiku, sepuluh tahun aku mencari nya dad bahkan seluruh isi ruangan ku dipenuhi wajahnya dan kau pernah bilang bukan aku akan menemukanya, tapi semua orang tidak pernah percaya aku menemukanya. satu harapanku agar dady tau aku menemukanya dan mencintainya. pernikahan diatas perjanjian ini membuatku harus meninggalkanya, ini berat untuku dad tapi aku tau ini yang kau harapkan saat aku dewasa. hari hariku sangat merindukan nya sama seperti saat engkau merindukan momy dahulu. kau tau bukan perasaanku dad, dia bernama Gianna Dad nama yang cantik bukan."
__ADS_1
Peter memperhatikan Bosnya di samping mobil bersama dengan dirinya menikmati rokok di jarinya.
Peter tau jika Bosnya menemui makan kedua orang tuanya artinya ada sesuatu yang tengah menyelimuti pikiran dan hatinya.
karna Peter sudah lama mengenal bosnya.
dan di tempat Kedua orang tuanya beristirahat disitulah Nando banyak mengadu permasalahan dunia.
Peter terus memperhatikan majikanya itu.
yang perlahan kini dia berjalan untuk turun.
"Tuan"
"pergi ke kantor"
"siap Tuan"
Dalam Mobil Nando terus termenung dan memilih untuk berdiam diri.
"apa Asia kini tengah malam? "
"Saya rasa begitu mengingat berbeda waktu cukup lama dengan kita" ujar Peter disana.
Diam Nando merindukan Anna disana.
dia ingin sekali menghubungin Anna dan mendengarkan suaranya namun dia tidak ingin menggangu waktu Anna beristirahat.
Nando bisa menebak dia telah melalui hari panjang bersama Hector.
Membuka ponsel itu yang memperlihatkan foto keduanya.
Nando merasa bersalah karna dia telah kehilangan waktu bersama Hector.
"Apa kau merindukan dady son? " Ujarnya dalam hati sengusap layar ponsel.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡