
.
.
.
.
.
Erland baru saja menanda tangani beberapa kontrak kerja yang ada di mejanya.
namun kali ini focusnya teralihkan karna rindunya bersama Anna.
sejak malam itu keduanya tak lagi saling menghubungi, Erland kembali berfikir apa tindakannya sudah salah hingga membuat jarak antar keduanya.
Untuk kali ini Erland tidak habis fikir bagaimana caranya Anna telah mengambil alih segala hati dan fikirannya.
setelah beberapa tahun dia lewati hanya untuk melupakan mantan kekasihnya.
berbagai macan cara dia lakukan dengan tujuan untuk melupakan wanita itu.
namun logikanya tak habis fikir dengan mudahnya kedatangan Gianna Tahalea mengalihkan segala jiwa dan seisinya.
Erland tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
yang dia tau dengannya dia merasa senang. bahkan lebih dari apa yang selama ini dia dapatkan.
Erland fikir ini hanya akan sementara lantaran keduanya sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain.
namun seiring berjalannya waktu mereka bersama semuanya makin membuat Erland berfikir "apa seperti ini yang di rasakan seperti orang jatuh cinta? gelisah saat jauh rindu saat tak saling menyapa bahkan dan semua itu hanya akan bisa di obati dengan pertemuan?"
"Hahha konyol sekali, setelah sekian lama aku tidak merasakan ini."
Erland melangkah ke arah sofa panjang itu.
dia mecoba meluruskan otot ototnya dengan berbaring di sana. sembari mencoba memejamkan mata itu.
"aku merindukanmu"
kalimat itu yang terucap dalam lirih suara serak Erland. sebelum akhirnya bayangan itu teralihkan oleh suara pintu yang terbuka.
"Oh maaf tuan Erland, maaf mengganggu istirahatmu" ujar Andre.
namun Andre juga bingung tidak biasanya Erland terlihat begitu lusuh hari ini, selama dia bekerja dengan Erland, Erland tidak pernah bermalas malasan seperti saat ini.
Dan mengapa Erland harus berbaring disana sedang dia ruang lain sudah disiapkan kamar pribadi nya.
__ADS_1
"Ada apa?" tegas Erland saat mata itu masih terpejam.
"ku fikir anda memerlukan waktu untuk istirahat tuan jadi mungkin aku bicarakan nanti saja"
"apa setelah ini masih ada rapat?"
"tidak ada jadwal anda kosong setelah ini"
"baiklah aku akan pergi."
Tidak ada 5 detik Erland segera bangkit dari tidurnya dan meninggalkan Andre yang masih berdiri disana.
"hahha ku fikir hari ini penijauan proyek akan dialihkan lagi kepadaku harusnya aku tidak mengatakan jadwal kosong" fikir Andre.
♡♡♡♡
Anna sedang mengechek beberapa kontrak kerja miliknya, Anna fikir beberapa waktu akan menyita banyak pekerjaan.
terlepas dari segala lembar kontrak yang ada, Anna merasa lelah dengan dunianya saat ini.
"Apa saatnya aku beranjak dari zona nyaman"
fikirnya saat ini beberapa usaha yang dia pegang sudah maju, bahkan beberapa waktu yang lalu Anna baru saja menggelar opening cabang rumah makan miliknya.
Beberapa waktu Anna termenung sendiri di kamar, sebelum lamunan itu teralihkan oleh suara bel.
♡♡♡
pasalnya beberapa hari mereka tidak berkomunikasi apa lagi bertemu membuat keduanya sama sama gugup di buatnya.
"Erland? untuk apa kau datang kesini?"
"apa kau tidak menginginkan kehadiranku?"
Tidak ada jawaban dari lawan bicara. membuat Erland berbalik badan dan hendak pergi dari sana.
namun baru beberapa langkah Erland merasakan tangan mungil yang berada di pergelangannya.
"masuklah" kata itu yang di dengar.
Erland segera masuk kedalam berada di belakang Anna yang lebih dulu ada di depan.
Erland kembali terkejut saat tiba-tiba Anna membalikan badannya dengan tangan yang terlipat di dada.
"untuk apa datang kesini?"
"hanya ingin bertemu" ujar Erland dengan santainya sembari mendudukan diri di sofa
__ADS_1
"huft" elak Anna dengan membuang pandangan
"apa disini tidak ada makanan?" tanya Erland
"tidak"
"apa kau onta yang menyimpan makanan di punuk?"
"iya"
"baiklah"
Erland beranjak dari duduknya, sorot mata Anna mengikuti kemana Erland bergerak.
Erland berjalan kearah dapur, Dia membuka pintu lemari ice itu dan melihat beberapa pasokan sayur dan buah disana.
Erland berfikir "apa yang akan aku buat?"
Anna datang menghampir dan berdiri disamping Erland dengan menyenderkan badannya di pintu kulkas itu.
"mau apa kau hah?"
"ayok kita masak bersama"
"hah orang sepertimu bisa masak juga?" Ujar Anna dengan wajah sinisnya.
"ku melihat wajah orang yang meremehkan ku"
"memang" guma Anna lirih.
seketika Erland menarik tangan mungil itu kearah kompor.
"mari kita buktikan" ujar Erland sinis.
.
.
.
.
.
.
♡♡♡♡
__ADS_1