
.
.
.
.
.
Gavin dan sang ibu tengah berbincang bersama di dalam kamar pribadi Gavin.
mereka sengaja membicarakan hal ini di tempat yang sepi dan aman supaya tidak ada orang lain yang dapat mendengar pembicaraan mereka.
"bagaimana Gavin? mama fikir Anna sudah mengetahui masalah ini" Ujar Gavin pada putra semata wayangnya.
Gavin hanya duduk diam di kursi itu sembari memutar logika dan fikirannya.
"sejak kecil aku tau persis bagaimana tumbuh kembang perempuan itu."
"mana berani dia melakukan sesuatu hal semacam itu tanpa pegangan orang yang mungkin berpangaruh dalam segala hal." lanjut gavin
"ya kau lihat saja dia menyewa para intelejen untuk menyelidiki kita." ujar Jihan frustasi
"tapi mom bagaimana mungkin dia berani melakukan itu tanpa pegangan dan dukungan orang lain."
Jihan ikut berfikir "yang di omongin gavin benar, anak itu tidak mungkin melakukan hal semacan itu jika tidak ada orang yang berpengaruh di belakangnya." ujar Jihan dalam hati.
"mam aku baru ingat satu hal" Guma itu membuat Jihan sadar dalam lamunan.
"apa?!" jawabnya.
"Aku ingat jika Anna dekat dengan saingan bisnis perusahan kita."
"siapa?"
__ADS_1
"Erland Hernandez"
Mendengar nama itu membuat Jihan sontak kaget lantaran dia tidak menyangka dan antara tidak percaya dengan yang Gavin ungkapkan.
"hahhaa kau bercanda gavin?" Ujar Jihan dengan tertawa remeh.
"Mam I'am not kidding!" tegas Gavin
"kamu serius Gavin?"
"beberapa kali aku melihat mereka bersama" ujar Gavin sinis.
"dan ku fikir itu mereka bukan sekedar dekat."
"Astaga aku tidak menyangka Anak tiriku pintar juga dalam mencari pasangan."
"ku fikir pun begitu."
"hello gavin Erland Hernandez bukanlah orang sembarangan saham dia dimana-mana, hotel dan perusahan dinegara ini sebagian besar adalah miliknya, dan belum lagi dengan usaha nya di luar sana. astaga konyol sekali" Ujar Jihan dengan menepuk lirik telapak tangannya antara kagum dan menghina Anna dalam mendekati laki laki.
"tenang saja sayang setelah kau mendepatkan apa yang kita incar kau buktikan kau bisa menggeser posisi Erland disana."
Mendengar itu Gavin hanya tersenyum sinis karna sejak dulu itulah yang di inginkan Gavin.
♡♡♡
Kini di meja itu sudah berisikan empat orang karna Anna telah berhasil membujuk kedua anak perempuan itu bergabung bersama.
Anna dan Erland melihat keduanya makan dengan lahap membuat Anna merasa terharu di buatnya.
"apa kalian suka dengan makanan ini?" ujar Anna
"suka kaak, suka banget ga pernah kita makan kaya gini." ujar Diva.
Mendengar kalimat itu Anna merespon dengan melirik Erland sekilas yang tengah terdiam melihat mereka. Anna pun tersenyum kepada Erland saat sorot mata mereka bertatap.
__ADS_1
"yaudah kalian makan yang banyak ya biar kenyang biar nanti pulang dari sini kalian bisa tidur nyenyak." Ujar Anna
Namun setelahnya Anna mengucapkan itu Diva seketika menghentikan gerakan makannya. melihat itu Anna menjadi terheran dan bertanya.
"kenapa kok ga dilanjutin makannya, udah kenyang ya?"
"engak kok kak, Diva jadi inget ibu aja.. Dari pada semua ini di makan sama Diva sama Denis lebih baik Diva bungkus bawa pulang aja .. Diva tau mungkin mama dirumah belum makan." Ujar Diva dengan ruat wajah Sedihnya, melihat raut wajah Diva Anna ikut merasakan sedih.
"Engak papa kalian makan yang kenyang nanti kalian bisa bungkus bawa pulang untuk ibu kalian " Ujar Erland mengelus kepala Denis.
Mendengar itu Anna ikut senyum bahagia begitupun dengan kedua bocah itu.
"Makasi yaa Om baikkk" ujar Denis.
Seketika senyum Erland memudar setelah anak itu menyebut dirinya "Om".
Anna pun mendengar kalimat itu rasanya ingin tertawa namun berusaha mengnutupi dengan membuang wajahnya dan menutupi senyum manisnya dengan telapak tangan mulusnya.
Erland melihatnya hanya memandangi wanita itu.
Anna menyadari tatapan Erland, namun nyatanya sorotan sinis Erland tidak membuat Anna jera pada kenyatannya Anna tetap mengeledek Erland dengan suara lirihnya yang menggoda Erland.
"hai omm" ujar Anna lirih.
Erland hanya melihat kelakuan Anna dengan sinis.
"Daddy Sugar" lanjut Anna dengan menaikan satu alisya dan tertawa lirih.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡