
.
.
.
.
.
Gianna merasa tubuhnya tertimpa ranting membutnya sesak bernafas.
Hal itu membuat Anna membuka matanya namun pandangannya teralihkan dengan lengan yang mengingkar di perutnya.
"astaga ternyata ini yang membuatku susah bernafas."
Namun Anna enggan mengganggu Erland dengan pelan Anna membetulkan posisi tidurnya.
dia merabah nakas untuk mencari ponselnya.
Anna melihat angka di layar ponselnya yang menujukan angka 04:24
"Astaga masih pagi."
Anna memperhatikan beberapa notifikasi yang masuk pada ponselnya.
Pandangannya teralihkan oleh nama Ambar disana.
Ambar :"kapan loe pulang 4 hari lagi gua married."
begitu pesan yang terlihat.
Anna menepuk dahinya pelan "Astaga saya lupa!!" ujar Anna sembari tertawa.
Anna melihat sekilas kearah Erland yang masih terlalap disampingnya.
Anna mencoba turun dari tempat itu untuk berpindah tempat ke balkon.
Tanpa pikir panjang Anna menekan call untuk menelfon Ambar disebrang sana.
"Ku harap kau akan mengangkatnya."
dua kali Anna memanggil baru saja terdengar suara Amabr disana.
"bisakah kau tidak mengganggu waktu tidurku." Suara Ambar disana
"bisakan kau menjawab panggilanku lebih cepat."
"Ada apa? " lanjut Anna
"loe yang nelfon gua"
"oh iya lupa."
__ADS_1
"tapi loe yang ngechat gua duluan."
Ambar hanya terdiam disana
"Ambar kau tidur?"
"cepetan mau ngomong apa ngantuk nih" lanjut Ambar dengan nada yang lebih keras.
"Hari ini aku akan pulang jadi kau tidak perlu hawatir aku akan datang di acaramu itu."
"Ah baguslah."
Belum Anna menjawab pernyataan Ambar namun Ambar sudah lebih dulu memutuskan panggilan keduanya.
"Astaga tidak sopan"Ujar Anna
Anna merasa dirinya sudah tidak mengantuk lagi fikirnya dia ingin mandi lebih awal.
Suara gemricik air membuat tidur Erland merasa terganggu.
Erland mengingat rencana nya hari ini membuatnya tidak lagi memejamkan mata.
dia kemudian mengechek ponselnya, ternyata notif Andre sudah ada disana.
"semuanya sudah siap Tuan."
"Kebetulan sekali Anna sudah bangun jadi aku tidak perlu sudah sudah membangunkan." guma Erland.
Tak lama Anna membuka pintu kamar mandi itu.
"Astaga Erland kau sudah bangun."
"Aku terganggu olehmu."
Anna mengingat dia menyalakan air keran.
"Maafkan aku Erland."
"Tidak apa sayang, justru itu keuntungan untukku."
"keuntungan apa?"
Erland beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Anna.
"Erland apa jangan dekat dekat."
Semakin dekat jarak keduanya membuat Anna tidak bisa bernafas tenang.
hanya hitungan detik saja Erland dapat membawa Anna dalam gendongannya dengan satu kali hempasan tangan.
Erland membawa Anna kedalam kamar mandi dan mendudukanya di atas meja marmer itu.
tak perlu waktu lama keduanya sudah terhanyut dalam ciuman dalam.
__ADS_1
Anna tidak dapat mengendalikan diri dengan mudah ketika sudah bersama dengan Erland, begitupun dengan Erland.
sampai akhirnya keduanya mengawali pagi dengan kegiatan yang panas.
♡♡♡♡
Anna memandangi langit langit kamar dengan selimut menutupi tubuhnya.
"sayang jangan kau tidur lagi kita akan pergi hari ini" suara Erland dari luar kamar
"kau bilang take off jam 10 ini masih jam 6 Erland." tanya Anna
Jawab Erland Hening.
tidak lama Erland masuk membawa satu gelas susu untuk Anna.
"Minum untuk penguat bayi kita." ujar Erland menyerahkan
"Terimakasi" Anna mencoba bangkit dari tidurnya.
"Awalnya aku fikir kita harus berangkat jam 8 tapi kau bilang ingin menemui ibu Ambar bukan?"
"Ya aku ingin menemuinya."
"Tapi sebelum itu kita harus pergi sarapan pagi."
Keduanya bersiap siap untuk pergi ke resto yang telah Erland pesan.
Erland turun ke lantai bawah sebelumnya Erland pergi melihat Anna dari kejauhan untuk memastikan Dia jauh dari Anna.
ternyata Anna masih sibuk mengenakan pakaian.
Erland segera turun kelantai bawah setelah dia merasa aman.
Mengambil ponsel sembari menunggu jawaban Andre.
"Siapkan hellikopter kita akan berangkat sekarang."
"Baik tuan, 5 menit kita akan sampai."
"Bagus."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡